>>> SINGAPOREPOOLS <<<
ANGKA MAIN : 5 1 6 9
Top 2D : 05 11 26 39 45
Cadangan 2D : 55 61 76 89 95
TOP SHIO : Monyet Ayam Anjing
COLOK BEBAS : 1 5 6
AS : 0 2 3
KOP : 4 5 6
KEPALA : Besar / Ganjil
EKOR : Besar / Ganjil
Malam sudah semakin larut, jam
menunjukkan pukul 02.00 kurang lima menit. Aku masih terjaga di tempat tidurku.
Rasanya waktu berjalan sangat lambat sekali. Mungkin benar kata orang, menunggu
adalah pekerjaan yang membosankan. Yah, aku memang sengaja bergadang, ada
sesuatu yang membuatku melakukan hal itu.
Bermula dua satu minggu yang lalu
ketika aku tak sengaja bangun pagi sekali, sekitar pukul lima lebih sedikit.
Biasanya aku baru bangun sekitar jam sembilan, kebetulan aku masuk sekolah pada
siang harinya. Tapi pagi itu entah kenapa rasa kantuk langsung hilang begitu
aku membuka mata. Terpaksa aku keluar dari kamar, dan kulihat suasana rumah
juga masih lengang dan sepi. Ayah tentu masih tidur, begitu juga dengan Raden,
adikku yang duduk di kelas 2 SMP. Mungkin ibu sudah bangun karena harus
menyiapkan sarapan pagi. Akhirnya aku memutuskan untuk berenang saja, kebetulan
air kolam renang biasanya hangat pada pagi hari. Aku pun berjalan menuju kolam
renang di belakang rumah. Terdengar suara orang sedang berenang. Aku pun
penasaran dan mencoba mendekat, cuaca yang masih remang-remang membuat sosok
yang sedang berenang itu terlihat samar-samar. Tetapi begitu sosok tersebut keluar
dari kolam renang, aku kini dapat melihatnya dengan jelas karena lampu di
pinggir kolam renang masih nyala.
Sosok tubuh seorang wanita keluar
dari kolam renang. Yang membuatku terkejut karena sosok tersebut telanjang
bulat. Payudaranya yang bulat dan terlihat masih kencang begitu indah dibasahi
oleh air. Dan saat sosok itu menghadap ke arahku aku bertambah terkejut,
menyadari kalau sosok tersebut adalah ibuku sendiri. Tubuh ibu yang montok dan
mulus berkilat terpantul oleh sinar lampu. Kemaluan ibu terlihat bersih tanpa
selembar rambut yang menempel di sana. Tapi aku dapat melihat bibir kemaluan
ibu yang sudah menggelambir di sisi-sisinya. Melihat sosok ibu yang telanjang
bulat dengan air membasahi tubuhnya, aku hanya sibuk meneguk ludah berulang
kali. Sebelumnya aku tidak mempunyai pikiran apapun terhadap ibu. Tapi
menyaksikan pemandangan erotis itu tanpa terasa pikiran kotor pun terbentuk di
otakku. Aku sudah biasa melihat tubuh telanjang cewek, karena aku sering
bercinta dengan pacarku. Tapi tubuh telanjang ibuku memberi rangsangan lain
terhadap diriku.
Umur ibuku mungkin sudah tidak muda
lagi, mendekati angka 35 tahun. Namun tubuh telanjangnya seakan menegaskan ibu
tak kalah menggairahkannya dengan gadis 25-an. Aku langsung buru-buru
menyingkir begitu ibu menuju tempatku berdiri. Aku pergi menuju dapur, dan
kulihat ibu ngeloyor pergi ke kamar mandi. Kelihatannya ibu mau membersihkan
diri. Rasa penasaran yang amat sangat membuatku mencoba mengintip dari lubang
kunci kamar mandi. Tapi tidak dapat kutemukan sosok ibu. Aku pun pergi ke kamar
dengan sejuta perasaan yang menggunung. Tiba-tiba saja terbersit keinginan
untuk bercinta dengan ibu kandungku tersebut. Dan itulah mengapa aku masih
terjaga pada malam hari ini. Hampir satu minggu ini kegiatanku adalah mengintip
ibu pagi-pagi di kolam renang. Semakin lama keinginan untuk bercinta dengan ibu
semakin kuat. Dan malam ini adalah kesempatanku, karena kebetulan ayah sedang
pergi ke luar kota (berangkat tadi sore) selama tiga hari.
Saat jam menunjukan pukul 02:00
tepat, aku pun keluar dari kamar. Suasana rumah gelap dan sepi, aku berjalan
pelan-pelan takut Raden bangun karena kamarnya di sebelahku persis. Tujuanku
adalah kamar ibuku yang terletak di lantai bawah. Aku berharap cemas kalau
pintu kamar ibuku dikunci, tapi aku langsung tersenyum senang karena pintu
kamar ibu tak terkunci. Kamar ibu gelap karena lampu tidak dinyalakan, aku
menekan saklar dan ruangan kamar pun terang benderang. Sosok ibuku kutemukan di
kasur sedang tidur nyenyak sekali, seperti sleeping beauty. Pakaian yang
dikenakannya adalah gaun tipis berwarna pink sebatas lutut. Gairahku langsung
naik melihat ibu tidur terlentang dengan gaun tipis. Tubuhnya yang mulus
menerawang dari balik gaun. Celana dalam dan BH ibu pun kelihatan. Dengan hati-hati
aku mendekati tubuh ibuku. Aku sejenak memandangi wajahnya yang ayu, bibirnya
yang tipis dan kecil, hidung ibu yang mancung dan rambut ibu yang hitam dan
pendek seleher.
Tanganku gemetaran saat mencoba
meraba kaki ibu mulai dari betis sampai pahanya. Aku takut ibu terbangun, tapi
kulihat ibu tidur sangat nyenyak. Kusingkap gaun ibuku sampai sebatas perut,
berkali-kali aku meneguk ludah menjerit tertahan dan bertambah keras berontak
merasakan kepala batang kemaluanku di ujung lubang kemaluannya. Tapi aku tak
peduli, aku paksakan batang kemaluanku untuk masuk ke dalam kemaluan ibu.
Karena vagina ibu belum begitu basah dan ditambah batang kemaluanku yang
lumayan besar, aku kesulitan menembus kemaluan ibu. Dengan susah payah aku
akhirnya berhasil memasukkan batang kemaluanku seluruhnya ke dalam liang vagina
ibuku. Aku membiarkan sejenak batang kemaluanku bersemayam di kemaluan ibu.
Konsentrasiku terpecah pada gerakan ibu yang semakin keras memberontak. Kedua
tangan ibu berusaha memukuliku dan mencakar serta menjambak rambutku.
Kuikat kedua tangan ibuku dengan
kaus singletku. Sementara mulutnya kubungkam dengan sarung bantal. Kini aku
bisa berkonsentrasi penuh pada kemaluan ibu yang sudah diisi oleh batang
kemaluanku. Aku bergerak maju-mundur dengan lambat karena kemaluan ibu yang
tidak menerima batang kemaluanku. Tapi aku tak peduli. Gerakan ibu yang terus
berontak sedikit demi sedikit membantu pergerakanku. Aku dapat merasakan
nikmatnya daya cengkeram vagina ibuku, begitu kuat dan enak. Lama kelamaan
kemaluan ibu mulai mengeluarkan cairan sehingga batang kemaluanku lebih leluasa
bergerak keluar masuk. Aku makin bersemangat dan mempercepat gerakanku. Leher
ibuku yang jenjang dan mulus kuciumi dengan penuh nafsu sementara kepala ibuku
terus menggeleng tanda menolak.
Aku mencabut batang kemaluanku dari
kemaluan ibu, sekilas ibu agak terdiam. Aku langsung membalikkan tubuh ibu, dan
dari arah belakang aku kembali menusukkan batang kemaluanku ke lubang vagina
ibuku. Pantat ibu yang bulat dan padat memberi sensasi tersendiri saat aku
memasukkan batang kemaluanku. Apalagi bunyi selangkanganku yang bertemu dengan
pantat ibuku, begitu indah kedengarannya. Lama menyetubuhi ibuku dari belakang
tak membuatku mencapai puncak klimaks, sementara kulihat ibu sudah capai untuk
memberontak dan hanya terlihat pasrah dengan wajah yang memerah berlumuran air
mata. Kuterlentangkan lagi tubuh ibuku, gaun bagian atas kupelorotkan ke bagian
perut. BH ibu kurenggut dan kedua payudaranya menjadi sasaranku. Puting susu
ibu kuhisap-hisap seperti waktu aku masih bayi, kadang kugigit dengan lembut.
Permukaan payudara ibu kujilati samapai mengkilat. Aku turun ke bawah, kali ini
kembali lidahku menjilati kemaluan ibuku yang sudah basah kuyup. Lidahku keluar
masuk dengan cepat, sesekali klitoris ibuku kujilati dan kugigit. Perbuatanku
itu semakin membuat kemaluan ibu bertambah basah dan menarik, rupanya ibu
sedikit menikmati seks oral dariku. Kurasakan pantat ibu sedikit bergoyang saat
lidahku sibuk dengan kemaluannya.
Setelah puas untuk pemanasan kedua,
aku kembali memasukkan batang kemaluanku lagi ke dalam lubang kemaluan ibuku.
Pantatku naik-turun dengan cepat, dan batang kemaluanku pun keluar masuk tanpa
kesulitan. Yang mengherankan pantat ibuku kembali bergoyang seakan-akan
membantu mengimbangi gerakan naik-turun pantatku. Kedua kaki ibuku pun menekuk
bertumpu pada kedua kakiku. Kulihat wajah ibu, matanya sayu dan merah, wajahnya
semakin merah dan kelihatan tambah cantik serta penuh nafsu. Nafas ibuku
ngos-ngosan, apalagi karena mulutnya kubungkam dengan sarung bantal. Ibuku
menyadari aku sedang memandangi wajahnya, mata ibu kelihatan aneh. Ada rasa
marah dan nikmat terpancar dari matanya. Iseng kucabut sarung bantal dari mulut
ibuku. Kupikir ibuku akan teriak, ternyata yang keluar dari mulut kecilnya
hanya desahan. Aku bertambah semangat dan langsung menciumi bibir tipis ibuku.
Lidah ibuku menyelusup masuk ke mulutku begitu bibir kami bertemu. Kami
berciuman lama sekali, dan pergerakan pantat kami tak juga berhenti. Bahkan
kini aku dapat merasakan daya cengkeram kemaluan ibu semakin kuat, dan goyangan
pantat ibu semakin keras.
Suasana ini membuatku akhirnya
merasakan puncak kenikmatan yang kuinginkan. Aku menenggelamkan batang
kemaluanku dalam-dalam di lubang vagina ibu saat air maniku muncrat. Tubuh ibu
juga menegang dan mengejan seperti orang kena ayan beberapa kali. Kami
berpelukan sesaat menikmati puncak kenikmatan dan beberapa kali batang
kemaluanku merasakan berdenyutnya vagina ibuku yang basah kuyup dibanjir air
maniku.
Ruangan kamar hening agak lama, aku
tak juga beranjak dari tubuh ibuku. Batang kemaluanku pun masih bersemayam
dengan nyaman di kemaluan ibuku. Tiba-tiba kudengar ibu berbicara. “Robby, jika
kamu lakukan ini sekali.. lagi, ” suara ibu sedikit mendesah akibat kelelahan.
“Ibu akan bunuh kamu, kamu mengerti..” Aku cuma tersenyum, dan mencium lembut
bibir ibu dan bangkit dari tubuhnya. Kulepas ikatan di tangannya, dan dengan
santai pergi dari kamar ibuku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar