>>> SINGAPOREPOOLS <<<
ANGKA MAIN : 2 7 3 4
Top 2D : 02 13 27 34 43
Cadangan 2D : 53 64 72 87 94
TOP SHIO : Kuda Kerbao Ayam
COLOK BEBAS : 2 3 4
AS : 0 1 5
KOP : 6 8 9
KEPALA : Kecil / Ganjil
EKOR : Kecil / Genap
Sudah ada tiga bulan suamiku
mengikuti pendidikan untuk mendapatkan alih golongan. Terasa aku begitu
gersang. Aku butuh sentuhan seorang laki-laki, terlebih pada malam seperti ini.
Haruskah aku mencarinya? Tapi bagaimana caranya?
Malam itu aku tak bisa berbuat
apa-apa selain berusaha menghilangkan kebutuhanku akan seks. Jam sudah
menunjukkan pukul 01.00. Sebentar lagi ayam akan berkokok. Tapi mataku belum
juga terpejam. Aku keluar dari kamarku, hanya mengenakan daster miniku. Aku ke
kamar mandi karena kamar mandi kami hanya satu dari type rumah 45 itu.
Karena udara sangat gerah, aku
hanya memakai daster mini yang tipis, tanpa celana dlaam dan Bra. AKu mau
keluar dari kamar mandi, aku mendengar ada orang menuangkan air dari termos.
Mungkin mau membuat teh atau kopi. Dari suaranya aku tau, dia adalah Marwan.
Adikku yang tingal bersamaku sejak setahun lalu. cerita sedarah.
“Kamu belum tidur, Mar..?”
tanyaku.
“Belum. Masih banyak tugas yang
belum selesai. Besok harus kumpul,” jawabny tenang. Tatapannya tenang, namun
terasa sangat tajam ke sekujur tubuhku. Marwan memakai celana pendek saja,
bertelanjang dada. Aku terkesiap melihat dadanya yang bidang. Marwan berusia 20
tahun, mahasiswa arsitektur. Usiaku lima tahun di atasnya.
Lampu memang terang berderang di
dapaur kami. Pakaianku yang tipis tanpa kusadari, membuatnya terus tak
berkedip. Saat aku sadar kalau tubuhku dari balik daster mini yang tipis
pelepas gerah itu, membuatnya matanya tak berkedip, justru sebaliknya aku
menjadi semakin bergairah. Tapi…
Marwan adalah adikku. Adik
kandungku. Tapi aku sangat membutuhkan sentuhan laki-laki. Tiga hari ini, aku
begitu membutuhkannya. Tapi kali ini, aku begitu sangat dan sangat
membutuhkannya. Tubuhku sedikit menghangat. Gairah seks ku sangat tinggi malam
itu. Tanpa ragu kudekati adikku. Kurangkul dia dari belakang dan merapatkan
tetekku ke punggungnya. Entah darimana datangnya keberanianku itu.
“Mbaaakkk….”
Hanya itu yang terdengar dari
mulutnya. Aku meneruskan elusanku ke dadanya dari belakang, sembari
menggesek-gesekkan tetekku ke pungungnya. AKu begitu menikmatinya. Dasterku
memang sangat tipis dan longgar. Kuciumi tengkuknya dan Marwan hanya mendesah
saja, tidak menolakku.udah tak perduli, apakah dia menolak atau tidak.
Tanganku terus meraba perutnya
dan menyelusup ke dalam celananya. Baeru saja tanganku memasuki celana
pendeknya, aku mengetahui, kalau Marwan tidak memakai celana dalam. Langsung
tanganku menyentuh jembutnya dan terus makin ke bawah mengelus kontolnya.
cerita sedarah.
“Mbaaakkk…”
Kulepaskan kancing celana dan
memelorotkan celana itu sampai ke bawah.
“Ayo lepaskan dahagi Mbak, dik.
Mbak sangat membutuhkannya malam ini,” [pintaku menghiba. Kulepas pelukanku
sesaat dan kulepas dasterku. AKu sudah bertelanjang bulat dihadapannya dan celananya
sudah kulepas dari tubuhnya.
Kuhadapkan tubuhnya dan aku
memaluknya. Tetekku begitu rapat ke dadanya. Kujilati tengkuknya dan
kubelai-belai tubuhnya dengan lembut. cerita sedarah.
“Ayo…dong…”
“Di sini?” tanyanya. Aku mengerti
apa maksudnya. Dengan cepat kutarik tangannya ke kamarnya, agar dua anakku yang
masih sangat kecil tidur bersamaku di kamar tidurku tidak terganggu. Cepat
kututup pintu. Langusng kupeluk dirinya dan kulumat bibirnya dengan buas. AKu
sudah tak perduli siapa dia, adik kandungku sendiri.
Aku tahu, vaginaku sudah sangat
basah. Kuraba kontolnya yang juga sudah mengeras.
Marwan membalas ciumanku. Lidahku
diisapnya dengan lembut dan dipermainkannya dalam mjulutnya. Aku senang sekali.
Ternyata aku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku merasakan sekujur tubuhnya
menghangat.
“Ayo Mar, dimasukkan cepat. Aku
sudah sangat….”
Adikku secepatnya membimbingku ke
tempat tidurnya berukuran 3 kaki. Aku sudah terlentang. Ingin aku kontolnya
yang keras itu menghunjam-hunjam vaginaku dengan kuat. Tapi Marwan, justru
mengangkangkan kedua pahaku dan mulutnya menjilati vaginaku.
Lidahnya bermain-main di lubang
vaginaku. Aku tak mampu menahan rasa nikmatku. Kujepit kepalanya dengan kedau
kakiku dengan sekuat-kuatnya. Aku orgasme. Kuremas kepalanya sekuat-kuatnya dan
aku mendesah panjang. Lidahnya masih juga terus bermain di vaginaku.
Tak lama aku lemas. Kuserahkan
segalanya kepadala adikku, apa maunya. Marwan melapas jilatannya dari vaginaku.
Kini aku sudah ditindihnya. Perlahan dan pasti, dia mencucukkan kontolnya yang
keras ke dalam vaginaku.
Oh…terasa kontol itu memenuhi
rongga vaginaku. Hangat dan keras. Gesekannya begitu mengairahkan. Leherku
dijilatinya dan tetekku dielus-elusnya. Perlakuannya itu, membuatkua bergairah
kembali. Perlahan, kuimbangi permainannya.
“Sudah lama aku menginginkan
ini…” bisik Marwan adikku ke telingaku.
“Kenapa kamu tidak bilang…?”
bisikku pula di sela-sela ayunan kedua kakiku menggoyang kontolnya dalam
vaginaku.
“Aku takut, Mbak…”
“Ya…sudah, mulai malam ini aku
menjadi milikmu. Kita boleh melepaskan keindahan dan kenikmatan ini sepuas-puasnya
jika ada kesempatan,” bisikku.
Marwan terus mempermainkan
kontolnya keluar-masuk dalam liag vaginaku. Aku merasakan tubuhku berada di
awang-awang. Tinggi dan penuh sensasi.
“Mbaaakkk…” rintihnya.
“Terus sayang. Mbak sudah mau
sampai,” bisikku memohon.
Adikku memompa tubuhku lebih
cepat dan lebih agresif lagi.
Dipeluknya aku kuat-kuat dan
ditekannya sekuat-kuatnya ke dalam vaginaku. AKu merasakan ujung kontol itu,
sudah kandas di ujung lubang vaginaku. AKu menjepit kembali pinggangnya dengan
kedua kakiku sekuat-kuatnya dan membalas pelukannya sekuat-kuatnya pula.
“Ah….. Mbaaaakkkkk…”
“Diiiikkkkk…. kita sampaiiiii,”
balasku. AKu merasakan begitu hangatnya semprotran spermanya ke dalam tubuhku.
Begitu jauh semprotan itu.
“Dik… Mbak pasti hamil ni. Mbak
merasakan spermamu begitu jauh ke dalam liangku. Ke dalam peranakanku. Ini
pasti anakmu dik,” kataku penuh optimis. Aku tahu, beratus kali aku bersenggama
dengan Mas Dibyo suamiku. Saat aku akan hamil, aku tahu sperma itu akan membuahiku.
Aku merasakan saat tubuhku hangat dan terasa seperti meriang, tapi nafsu seks
ku sangat tingi, saat itu aku pasti hamil. Terlebih ketika sperma itu
menyemprot ke dalam tubuhku, aku merasakan jauh ke dalam dan tubuhku
menerimanya dengan kehangatan dan rasa nikmat yang tiada tara.
“Mbak pasti hamil dik…” kataku
pula.
“Lalu bagaimana, Mbak…?”
“Tak apa, seminggu lagi mas mu
akan pulang, dik. Begitu pulang, kami akan bersetubuh. Tapi pasti aku hamil
karean persetubuhan kita malam ini,” kataku.
“Kalau begitu, aku gak perlu
takut dong, Bak. Anak ini, buah cinta kita dan rahasia kita,” katanya membujukku.
Aku tersenyum. Aku setuju. Aku sangat menikmatinya. Ternyata dia sudah lama
menginginkan persegtubuhan denganku. Berarti aku tidak berdosa.
Malam itu, sebelum tidur, kami
melakukannya sekali lagi. Menunggu suamiku datang beberapa hari lagi, akhirnya
kami memutuskan, setiap malam kami melakukannya.
Benar apa yang kurasakan. Begitu
aku periksa ke didokter, dokter menyalami suamiku.
“Isteri pak dibyo hamil dua
minggu,” kata dokter. AKu tersenyum seakan kehamilan itu adalah kehamilan dari
suamiku. Suamiku juga tersenyum.
Ketika pulang, di atas mobil
sumiku berkata:” kamu sudah tau kalau aku adalah lelaki sejati. Baru saja aku
pulang, ternyata aku menghamilimu, ” katanya bangga dan tersenyum.
Kubalas senyumannya dengan manis
menunjuukan rasa simpatiku atas kebanggannya.
“Mas memang seorang suami yang
hebat,” kataku bangga dan tersenyum semakin mungkin. Di tariknya terngkukku
sembari menyetir dan diciumnya bibirku. Aku membalas ckiumannya.
“Jaga bayi kita baik-baik,” katanya
mengingatkan. Kembali aku tersenyum.
Di rumah, secara diam-diam aku
menyerahkan hasil tes ku kepada adikku Marwan.
“Anakmu berada dalam rahumku,”
bisikku dan aku tersenyum sembari mengedipkan mata.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar