www.dewalotto.com

www.dewalotto.com
Bandar Online Terbesar Terbonafit Terpercaya dengan Permainan Terlengkap All You Can Play in Dewalotto

Kamis, 17 Januari 2019

Prediksi togel - Kamis 17 Januari 2019


>>> SINGAPOREPOOLS <<<


ANGKA MAIN : 1 0 3 8
Top 2D : 01 11 20 33 48 
Cadangan 2D : 51 60 73 88 93
TOP SHIO : Kelinci Tikus Monyet
COLOK BEBAS : 0 3 8
AS : 1 2 4
KOP :  0 6 7
KEPALA  : Kecil / Genap
EKOR : Besar / Ganjil



Aku hampir saja tidak ingin mengenal ataupun mendekati wanita lagi setelah mengalami kegagalan menjalin hubungan dengan seorang wanita. Aku begitu mencintainya karena itu hubungan kami berjalan hinggga hampir empat tahun lamanya, Asti namanya saat aku ingin meminangnya dia bilang kalau masih ingin fokus pada kuliahnya dan akupun berusaha mengerti mungkin karena aku sudah merasa dewasauntuk segera menikah.

Karena saat itu aku sudah berusia 27 tahun sedangkan Asti masih 19 tahun, karena aku sudah bekerja dan kamipun sering melakukan hubungan intim layaknya dalam cerita sex. Akupun tidak jarang ikut andil membiayai kuliah Asti, karena bagaimanapun juga kelak dia akan menjadi istriku, pikirku waktu itu. Bahkan akupun begitu dekat dengan keluarganya, karena itu aku menganggap serius hubungan kami.

Di tambah kedua orang tua Asti begitu terbuka padaku, dan mereka sudah menganggapku sebagai menantu. Tidak jarang mereka membutuhkan tenaga dan bantuan dariku, dan aku suka melakukan hal itu. Keluargaku juga begitu sayang pada Asti bahkan mereka bilang kalau aku beruntung mempunyai pacar seperti Asti yang begitu cantik dan masih muda lagi, akupun semakin cinta padanya.

Sampai akhirnya ketika dia lulus kuliah dan menadapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan berkat aku yang mencarikannya. Namun akhirnya aku tahu kalau dia sudah selingkuh dariku, cerita sex yang sering kami lakukan berdua tidak lagi menjadi tanggung jawabku untuk menikahinya. Karena Asti sendiri yang memutuskan aku tepat di depan pria yang bersamanya waktu itu.


Aku masih tidak percaya kalau gadis yang aku kenal dengan baik selama ini, merupakan gadis yang hanya materialistis. Dan bukan hanya itu saja karena keluarganyapun sama, setelah memergoki Asti selingkuh dan memutuskan aku saat itu juga, akupun konfirmasi secara baik-baik pada keluarganya namun jawaban mereka sungguh membuatku kecewa, mereka bilang kalau tidak dapat memaksa kehendak mereka pada ASti.

Pada suatu hari aku sedang berjalan sendirian menyusuri pantai salah satu tempat pariwisata. Kemudian aku melihat seorang gadis yang sedang sendirian juga di tepi pantai sore itu, awalnya aku tidak memperhatikannya tapi karena dia mendekat akupun mencoba menjulurkan tangan menjabat tangannya sambil bertanya namanya ” Kamu siapa ..kenapa sendirian di sini.. ” Dia tersenyum.

Dia menjawab namun tetap dengan bibir yang menyungging senyum manis “Namaku Della mas..aku memang suka suasana pantai gini..” Tidak perlu lama aku mengenal Della untuk lebih dekat karena hari itu juga, senja telah berganti malam dan kami masih berada di tempat itu, udara dingin mulai terasa menusuk kulit kami namun kami segan untuk beranjak dari sana.

Namun tubuh kami menyiratkan kalau kami butuh kehangatan waktu itu, dan benar saja Della begitu agresif memainkan bibirnya dalam mulutku. Mungkin karena dia masih muda hingga begitu bergairah meskipun aku belum menggerayangi bagian tubuhnya “Ooooouuuggggghhhh….. ooouugggghh…. mas…. aaaayooo…. doong… aaagggggghh…” Terus saja dia bermain dengan lumatan bibirnya.

Merasa kasihan dengan Della yang begitu agresif akupun membalasnya dengan mesra juga, aku kulum bibirnya dalam mulutku sambil menggerayangi tubuhnya dengan sentuhan lembut tanganku. Saat itu juga aku mendengar desahan Della yang begitu menggairahkan kurasa. Semakin berani aku melepas baju yang dia pakai, meskipun kami berada di tepi pantai yang agak jauh dari lampu pantai.

Sehingga tubuh kami sudah dalam telanjang di atas pasir, saat itu juga aku tidak tahan untuk segera memasukkan kontolku dalam memeknya. Della melebarkan pahanya lalu dengan cepat aku celupkan kontolku dalam kemaluannya “Aaaggghhh…. aaagggggghh…. aaaaagggghhhh…. aaaagggghh… sa.. yang… aaaggghh.. ” Desah Della setelah aku memulai menggerakkan tubuhku.

Semakin lama aku semakin cepat juga memompa tubuhnya, apalagi aku agak takut kalau-kalau ada orang yang melihat perbuatan mesum kami “Oooouuggghhhh… aaagggghh… sa… yang… aaaaggghhhh… aaaaggggghh…. saaaa.. yang…..”Della menggelinjang ke kanan dan ke kiri menikmati setiap gerakan tubuhku padahal aku baru saja mengenal gadis ini namun sudah melakukan adegan seperti dalam cerita sex.

Dengan gerakan yang semakin menekankan kontolku, namun dengan tangan yang semakin keras meremas kedua toketnya akupun membenamkan wajahku untuk mencium bibirnya kembali “Oouuuggghhh…ooouuuggghh… aaaagggggggghhh…. aaaaggg.. eeeeuuummmppphhh….. eeeeuummpppphhh… aaaggghh…”  Dengan mempercepat gerakanku di atas tubuhnya akhirnya.

Layaknya pemain dalam cerita sex akupun menumpahkan spermaku pada lubang memek Della hingga memenuhi kemaluannya itu. Dengan mesra aku dekap tubuhnya yang masih terlentang telanjang di atas pasir pantai, begitu juga denganku. Kami berdua layaknya pemain dalam adegan cerita sex, yang tidak menghiraukan keadaan sekeliling dan aku menatap tajam mata gadis binal yang baru aku kenalini.


Rabu, 16 Januari 2019

Prediksi togel - Rabu 16 Januari 2019


>>> SINGAPOREPOOLS <<<


ANGKA MAIN : 2 4 7 9
Top 2D : 03 12 24 37 49
Cadangan 2D : 52 64 77 89 91
TOP SHIO : Kuda Kambing Monyet
COLOK BEBAS : 4 7 9
AS : 2 3 6
KOP : 4 5 8
KEPALA  : Besar / Genap
EKOR : Besar / Ganjil



Lima bulan sudah aku bekerja sebagai seorang pembantu rumahtangga di keluarga Pak Umar. Aku memang bukan seorang yang makan ilmu bertumpuk, hanya lulusan SD saja di kampungku. Tetapi karena niatku untuk bekerja memang sudah tidak bisa ditahan lagi, akhirnya aku pergi ke kota jakarta, dan beruntung bisa memperoleh majikan yang baik dan bisa memperhatikan kesejahteraanku.

Ibu umar pernah berkata kepadaku bahwa beliau menerimaku menjadi pembantu rumahtangga dirumahnya lantaran usiaku yang relatif masih muda. Beliau tak tega melihatku luntang-lantung di kota besar ini. “Jangan-jangan kamu nanti malah dijadikan wanita panggilan oleh para calo WTS yang tidak bertanggungjawab.” Itulah yang diucapkan beliau kepadaku.

Usiaku memang masih 18 tahun dan terkadang aku sadar bahwa aku memang lumayan cantik, berbeda dengan para gadis desa di kampungku. Pantas saja jika Ibu umar berkata begitu terhadapku.

Namun akhir-akhir ini ada sesuatu yang mengganggu pikiranku, yakni tentang perlakuan anak majikanku Mas Anto terhadapku. Mas Anto adalah anak bungsu keluarga Bapak umar. Dia masih kuliah di semester 4, sedangkan kedua kakaknya telah berkeluarga. Mas Anto baik dan sopan terhadapku, hingga aku jadi aga segan bila berada di dekatnya. Sepertinya ada sesuatu yang bergetar di hatiku. Jika aku ke pasar, Mas Anto tak segan untuk mengantarkanku. Bahkan ketika naik mobil aku tidak diperbolehkan duduk di jok belakang, harus di sampingnya. Ahh.. Aku selalu jadi merasa tak Enak. Pernah suatu malam sekitar pukul 20.00, Mas anto hendak membikin mie instan di dapur, aku bergegas mengambil alih dengan alasan bahwa yang dilakukannya pada dasarnya adalah tugas dan kewajibanku untuk bisa melayani majikanku. Tetapi yang terjadi Mas Anto justru berkata kepadaku, “Nggak usah, Sarni. Biar aku saja, ngga apa-apa kok..”


“Nggak.. nggak apa-apa kok, Mas”, jawabku tersipu sembari menyalakan kompor gas.

Tiba-tiba Mas Anto menyentuh pundakku. Dengan lirih dia berucap, “Kamu sudah capek seharian bekerja, Sarni. Tidurlah, besok kamu harus bangun khan..”

Aku hanya tertunduk tanpa bisa berbuat apa-apa. Mas Anto kemudian melanjutkan memasak. Namun aku tetap termangu di sudut dapur. Hingga kembali Mas Anto menegurku.

“Sarni, kenapa belum masuk ke kamarmu. Nanti kalau kamu kecapekan dan terus sakit, yang repot kan kita juga. Sudahlah, aku bisa masak sendiri kalau hanya sekedar bikin mie seperti ini.”

Belum juga habis ingatanku saat kami berdua sedang nonton televisi di ruang tengah, sedangkan Bapak dan Ibu Umar sedang tidak berada di rumah. Entah kenapa tiba-tiba Mas Anto memandangiku dengan lembut. Pandangannya membuatku jadi salah tingkah.

“Kamu cantik, Sarni.”
Aku cuma tersipu dan berucap,
“Teman-teman Mas Anto di kampus kan lebih cantik-cantik, apalagi mereka kan orang-orang kaya dan pandai.”
“Tapi kamu lain, Sarni. Pernah tidak kamu membayangkan jika suatu saat ada anak majikan mencintai pembantu rumahtangganya sendiri?”
“Ah.. Mas Anto ini ada-ada saja. Mana ada cerita seperti itu”, jawabku.
“Kalau kenyataannya ada, bagaimana?”
“Iya.. nggak tahu deh, Mas.”

Kata-katanya itu yang hingga saat ini membuatku selalu gelisah. Apa benar yang dikatakan oleh Mas Anto bahwa ia mencintaiku? Bukankah dia anak majikanku yang tentunya orang kaya dan terhormat, sedangkan aku cuma seorang pembantu rumahtangga? Ah, pertanyaan itu selalu terngiang di benakku.

Tibalah aku memasuki bulan ke tujuh masa kerjaku. Sore ini cuaca memang sedang hujan meski tak seberapa lebat. Mobil Mas Anto memasuki garasi. Kulihat pemuda ini berlari menuju teras rumah. Aku bergegas menghampirinya dengan membawa handuk untuk menyeka tubuhnya. cerita seks 2013

“Bapak belum pulang?” tanyanya padaku.
“Belum, Mas.”
“Ibu.. pergi..?”
“Ke rumah Bude Mami, begitu ibu bilang.”

Mas Anto yang sedang duduk di sofa ruang tengah kulihat masih tak berhenti menyeka kepalanya sembari membuka bajunya yang rada basah. Aku yang telah menyiapkan segelas kopi susu panas menghampirinya. Saat aku hampir meninggalkan ruang tengah, kudengar Mas anto memanggilku. Kembali aku menghampirinya.

“Kamu tiba-tiba membikinkan aku minuman hangat, padahal aku tidak menyuruhmu kan”, ucap Mas Anto sembari bangkit dari tempat duduknya.
“Santi, aku mau bilang bahwa aku menyukaimu.”
“Maksud Mas Apa bagaimana?”

“Apa aku perlu jelaskan?” sahut Mas Anto padaku.

Tanpa sadar aku kini berhadap-hadapan dengan Mas Anto dengan jarak yang sangat dekat, bahkan bisa dikatakan terlampau dekat. Mas Anto meraih kedua tanganku untuk digenggamnya, dengan sedikit tarikan yang dilakukannya maka tubuhku telah dalam posisi sedikit terangkat merapat di tubuhnya. Sudah pasti dan otomatis pula aku semakin dapat menikmati wajah ganteng yang rada basah akibat guyuran hujan tadi. Demikian pula Mas Anto yang semakin dapat pula menikmati wajah bulatku yang dihiasi bundarnya bola mataku dan mungilnya hidungku.

Kami berdua tak bisa berkata-kata lagi, hanya saling melempar pandang dengan dalam tanpa tahu rasa masing-masing dalam hati. Tiba-tiba entah karena dorongan rasa yang seperti apa dan bagaimana bibir Mas Anto menciumi setiap lekuk mukaku yang segera setelah sampai pada bagian bibirku, aku membalas pagutan ciumannya. Kurasakan tangan MasAnto merambah naik ke arah dadaku, pada bagian gumpalan dadaku tangannya meremas lembut yang membuatku tanpa sadar mendesah dan bahkan menjerit lembut. Sampai disini begitu campur aduk perasaanku, aku merasakan nikmat yang berlebih tapi pada bagian lain aku merasakan nikmat yang berlebih tapi pada bagian lain aku merasakan takut yang entah bagaimana aku harus melawannya. Namun campuran rasa yang demikian ini segera terhapus oleh rasa nikmat yang mulai bisa menikmatinya, aku terus melayani dan membalas setiap ciuman bibirnya yang di arahkan pada bibirku berikut setiap lekuk yang ada di bagian dadaku. Aku semakin tak kuat menahan rasa, aku menggelinjang kecil menahan desakan dan gelora yang semakin memanas.

Ia mulai melepas satu demi satu kancing baju yang kukenakan, sampailah aku telanjang dada hingga buah dada yang begitu ranum menonjol dan memperlihatkan diri pada Mas Anto. Semakin saja Mas Anto memainkan bibirnya pada ujung buah dadaku, dikulumnya, diciuminya, bahkan ia menggigitnya. Golak dan getaran yang tak pernah kurasa sebelumnya, aku kini melayang, terbang, aku ingin menikmati langkah berikutnya, aku merasakan sebuah kenikmatan tanpa batas untuk saat ini.

Aku telah mencoba untuk memerangi gejolak yang meletup bak gunung yang akan memuntahkan isi kawahnya. Namun suara hujan yang kian menderas, serta situasi rumah yang hanya tinggal kami berdua, serta bisik goda yang aku tak tahu darimana datangnya, kesemua itu membuat kami berdua semakin larut dalam permainan cinta ini. Pagutan dan rabaan Mas Anto ke seluruh tubuhku, membuatku pasrah dalam rintihan kenikmatan yang kurasakan. Tangan Mas Anto mulai mereteli pakaian yang dikenakan, iapun telanjang bulat kini. Aku tak tahan lagi, segera ia menarik dengan keras celana dalam yang kukenakan. Tangannya terus saja menggerayangi sekujur tubuhku. Kemudian pada saat tertentu tangannya membimbing tanganku untuk menuju tempat yang diharapkan, dibagian bawah tubuhnya. Mas Anto dan terdengar merintih.

Buah dadaku yang mungil dan padat tak pernah lepas dari remasan tangan Mas Anto. Sementara tubuhku yang telah telentang di bawah tubuh Mas Anto menggeliat-liat seperti cacing kepanasan. Hingga lenguhan di antara kami mulai terdengar sebagai tanda permainan ini telah usai. Keringat ada di sana-sini sementara pakaian kami terlihat berserakan dimana-mana. Ruang tengah ini menjadi begitu berantakan terlebih sofa tempat kami bermain cinta denga penuh gejolak.

Ketika senja mulai datang, usailah pertempuran nafsuku dengan nafsu Mas Anto. Kami duduk di sofa, tempat kami tadi melakukan sebuah permainan cinta, dengan rasa sesal yang masing-masing berkecamuk dalam hati. “Aku tidak akan mempermainkan kamu, Sarni. Aku lakukan ini karena aku mencintai kamu. Aku sungguh-sungguh, Sarni. Kamu mau mencintaiku kan..?” Aku terdiam tak mampu menjawab sepatah katapun.

Mas Anto menyeka butiran air bening di sudut mataku, lalu mencium pipiku. Seolah dia menyatakan bahwa hasrat hatinya padaku adalah kejujuran cintanya, dan akan mampu membuatku yakin akan ketulusannya. Meski aku tetap bertanya dalam sesalku, “Mungkinkah Mas Anto akan sanggup menikahiku yang hanya seorang pembantu rumahtangga?”

Sekitar pukul 19.30 malam, barulah rumah ini tak berbeda dengan waktu-waktu kemarin. Bapak dan Ibu umar seperti biasanya tengah menikmati tayangan acara televisi, dan Mas Anto mendekam di kamarnya. Yah, seolah tak ada peristiwa apa-apa yang pernah terjadi di ruang tengah itu.

Sejak permainan cinta yang penuh nafsu itu kulakukan dengan Mas Anto, waktu yang berjalanpun tak terasa telah memaksa kami untuk terus bisa mengulangi lagi nikmat dan indahnya permainan cinta tersebut. Dan yang pasti aku menjadi seorang yang harus bisa menuruti kemauan nafsu yang ada dalam diri. Tak peduli lagi siang atau malam, di sofa ataupun di dapur, asalkan keadaan rumah lagi sepi, kami selalu tenggelam hanyut dalam permainan cinta denga gejolak nafsu birahi. Selalu saja setiap kali aku membayangkan sebuah gaya dalam permainan cinta, tiba-tiba nafsuku bergejolak ingin segera saja rasanya melakukan gaya yang sedang melintas dalam benakku tersebut. Kadang aku pun melakukannya sendiri di kamar dengan membayangkan wajah Mas Anto. Bahkan ketika di rumah sedang ada Ibu umar namun tiba-tiba nafsuku bergejolak, aku masuk kamar mandi dan memberi isyarat pada Mas Anto untuk menyusulnya. Untung kamar mandi bagi pembantu di keluarga ini letaknya ada di belakang jauh dari jangkauan tuan rumah. Aku melakukannya di sana dengan penuh gejolak di bawah guyuran air mandi, dengan lumuran busa sabun di sana-sini yang rasanya membuatku semakin saja menikmati sebuah rasa tanpa batas tentang kenikmatan.

Walau setiap kali usai melakukan hal itu dengan Mas Anto, aku selalu dihantui oleh sebuah pertanyaan yang itu-itu lagi dan dengan mudah mengusik benakku: “Bagaimana jika aku hamil nanti? Bagaimana jika Mas Anto malu mengakuinya, apakah keluarga Bapak Umar mau merestui kami berdua untuk menikah sekaligus sudi menerimaku sebagai menantu? Ataukah aku bakal di usir dari rumah ini? Atau juga pasti aku disuruh untuk menggugurkan kandungan ini?” Ah.. pertanyaan ini benar-benar membuatku seolah gila dan ingin menjerit sekeras mungkin. Apalagi Mas Anto selama ini hanya berucap: “Aku mencintaimu, Sarni.” Seribu juta kalipun kata itu terlontar dari mulut Mas Anto, tidak akan berarti apa-apa jika Mas Anto tetap diam tak berterus terang dengan keluarganya atas apa yang telah terjadi dengan kami berdua.

Akhirnya terjadilah apa yang selama ini kutakutkan, bahwa aku mulai sering mual dan muntah, yah.. aku hamil! Mas Anto mulai gugup dan panik atas kejadian ini.

“Kenapa kamu bisa hamil sih?” Aku hanya diam tak menjawab.
“Bukankah aku sudah memberimu pil supaya kamu nggak hamil. Kalau begini kita yang repot juga..”
“Kenapa mesti repot Mas? Bukankah Mas Anto sudah berjanji akan menikahi Sarni?”
“Iya.. iya.. tapi tidak secepat ini Santi. Aku masih mencintaimu, dan aku pasti akan menikahimu, dan aku pasti akan menikahimu. Tetapi bukan sekarang. Aku butuh waktu yang tepat untuk bicara dengan Bapak dan Ibu bahwa aku mencintaimu..”

Yah.. setiap kali aku mengeluh soal perutku yang kian bertambah usianya dari hari ke hari dan berganti dengan minggu, Mas Anto selalu kebingungan sendiri dan tak pernah mendapatkan jalan keluar. Aku jadi semakin terpojok oleh kondisi dalam rahim yang tentunya kian membesar.

Genap pada usia tiga bulan kehamilanku, keteguhkan hatiku untuk melangkahkan kaki pergi dari rumah keluarga Bapak umar. Kutinggalkan semua kenangan duka maupun suka yang selama ini kuperoleh di rumah ini. Aku tidak akan menyalahkan Mas Anto. Ini semua salahku yang tak mampu menjaga kekuatan dinding imanku.

Subuh pagi ini aku meninggalkan rumah ini tanpa pamit, setelah kusiapkan sarapan dan sepucuk surat di meja makan yang isinya bahwa aku pergi karena merasa bersalah terhadap keluarga Bapak Umar.

Hampir setahun setelah kepergianku dari keluarga Bapak umar, Aku kini telah menikmati kehidupanku sendiri yang tak selayaknya aku jalani, namun aku bahagia. Hingga pada suatu pagi aku membaca surat pembaca di tabloid terkenal. Surat itu isinya bahwa seorang pemuda Anto mencari dan mengharapkan isterinya yang bernama Sarni untuk segera pulang. Pemuda itu tampak sekali berharap bisa bertemu lagi dengan si calon isterinya karena dia begitu mencintainya.

Aku tahu dan mengerti benar siapa calon isterinya. Namun aku sudah tidak ingin lagi dan pula aku tidak pantas untuk berada di rumah itu lagi, rumah tempat tinggal pemuda bernama Anto itu. Aku sudah tenggelam dalam kubangan ini. Andai saja Mas Anto suka pergi ke lokalisasi, tentu dia tidak perlu harus menulis surat pembaca itu. Mas Anto pasti akan menemukan calon istrinya yang sangat dicintainya. Agar Mas Anto pun mengerti bahwa hingga kini aku masih merindukan kehangatan cintanya. Cinta yang pertama dan terakhir bagiku.


Senin, 14 Januari 2019

Prediksi togel - Senin 14 Januari 2019


>>> SINGAPOREPOOLS <<<


ANGKA MAIN : 0 3 6 5
Top 2D : 02 10 23 36 45 
Cadangan 2D : 50 63 76 85 97
TOP SHIO : Ayam Kambing Ular
COLOK BEBAS : 3 6 5
AS : 0 1 2
KOP : 3 8 9
KEPALA  : Besar / Genap
EKOR : Kecil / Ganjil



Tante Neta adalah wanita dewasa yang bersebelahan apartemennya dengan apartemen keluargaku. Namaku Ivan aku seorang pelajar SMA swasta di kota besar ini, dan aku merupakan anak tunggal dari kedua orang tuaku sebenarnya kami masih baru tinggal disini karena aku berasal dari kota Samarinda awalnya dan pindah ke kota ini karena pekerjaan Papaku yang menuntutnya untuk pindah ke kota ini.

Apartemen ini menjadi pilihan keluargaku karena dengan menempati apartemen ini kedua orang tuaku berharap dapat bekerja dengan tenang karena sudah ada pengamanan di tempat ini. Jadi mereka tidak cemas jika harus meninggalkan aku seorang diri di dalam apartemen, karena mereka kira aku masih memerlukan pengawasan mereka tidak pernah menganggap kalau aku sudah beranjak dewasa.

Kedua orang tuaku sama-sama bekerja jadi mereka tidak mengetahui kalau aku sudah sering menonton film dewasa, bahkan untuk menghilangkan rasa bosan dalam aprtemen aku sering membaca cerita dewasa ataupun melakukan mesum dengan mengajak pacarku ke sini. Tapi hingga saat ini aku belum juga di ketahui oleh kedua orang tuaku, karena jika mengajak teman atau pacarku sewaktu tidak ada orang tuaku.

Tapi aku tidak menyangka kalau ada seseorang yang memperhatikan tingkah atau kelauanku. Dia tidak lain adalah tante Neta wanita yang berada di sebelah apartemenku, sebenarnya akupun sering emmperhatikan tante Neta karena dia memiliki tubuh yang begitu seksi dan juga bokongnya begitu montok atau semok. Setiap dia berjalan selalu membuat mata menatap pada bokong semoknya itu.


Teman-temanku saja jika bermain kesini selalu menyakan tentang tante Neta bahkan mereka mengintip jika tante Neta keluar dari apartemennya. Tapi bukannya marah jika mereka menggodanya tante Neta malah tersenyum sambil terus melenggang di depan kami, bahkan aku lihat sepertinya dia sengaja melakukan hal itu layaknya pemain dalam film dewasa yang bertubuh seksi.

Sampai akhirnya akupun dekat dengan tante Neta dia sering mengajakku makan siang bareng. Dan aku tidak tahu apa pekerjaan tante Neta karena aku lihat dia hampir tiap hari berada di apartemennya dan tidak aku lihat ada orang lain disana. Tapi sejauh ini aku belum pernah menanyakan hal yang aku anggap masalah pribadi tersebut karena aku tidak mau di bilang terlalu ikut campur urusan orang lain.

Namun akhirnya tanpa aku bertanya lebih dulu tante Neta mencurahkan hatinya padaku. Saat itu aku memang melihat dia begitu sedih dan aku rasa dia butuh seorang teman karena itu dia langsung menghubungi aku ketika aku baru pulang dari sekolah, sampai-sampai akupun makan siang di sana terus kembali tante Neta mengeluh kesah padaku dan akupun siap mendengarkannya.

Hari itupun tanpa terasa aku sudah berada lama di dalam apartemennya, sampai akhirnya aku telah berani menyentuh bibir tante Neta diapun membalas ciumanku dengan mesranya. Tanganku mulai menggerayangi tubuh tante Neta bahkan sampai dia menggelinjang menikmatinya lalu berkata ” Ayo Ivan teruskan sayang……. ” Pintanya padaku sambil terus mendesah .

Dengan perlahan aku tetap melakukan adegan oral sex padanya, dengan merebahkan tubuhnya di atas sofanya akupun mencoba memasukan satu jariku pada lubang memeknya diapun kembali menggelinjang ” OOouuughhh… aaaaagghhh… ivan.. jangan permainkan tante… aaaaggghh… E… van…. aaaagghhh… ” Semakin menggila aku memainkan jariku dalam memeknya.

Agar tante Neta tidak lagi mendesah terlalu keras akupun memainkan lidahku dalam mulutnya. Dia menyambut dengan begitu buasnya ” OOouugghh… aaaaggggghh… ivan… tante… nggak ku..at.. lagi… aaaaaaggggghhhh….. ” Katanya dan aku mengerti kalau dia saat itu memang benar-benar ingin melakukan hal itu dan segera aku merangkak naik ke atas tubuhnya.

Layaknya pemain dalam film dewasa akupun memasukkan kontolku yang sudah berdiri tegak dari tadi ke dalam memek tante Neta. Begitu kontolku menyelinap masuk diapun merintih berulang kali ” Ooooouuggghhh… uuuuuffffsss…. aaaggggghhh… aaaaaaaagggggghhhhh….. aaaaggghhh…. ” Terus saja aku memainkan kontolku dalam memeknya bahkan sesekali aku putar kontolku dalam memek tante Neta.

Dia membalikkan tubuhku dan layaknya menunggangi kuda tante Neta berada di atas tubuhku. Diapun melakukan gerakan yang sama pada tubuhku ” Eeeeuummpppggghh… aaaaggghhhh…. aaaggggghhh… begi.. ni sa..yang… aaaagghh… ” Katanya berusaha memberi tahu aku cara dia melakukan adegan film dewasa itu dan aku tidak tionggal diam dengan kedua tanganku.

Akupun meremas tetek tante Neta yang menggelantung di depan mataku ” I..van.. jangan keras.. ke…ras… sayang….. aaaggghhhh… aaaggghhhh… ” Begitu lihainya tante Neta  menggoyang pinggulnya bahkan terasa ada yang beda di waktu aku melakukan adegan layaknya film dewasa ini dengan gadis lain yang biasa aku ajak melakukan hubungan intim ini.

Tante Neta semakin gencar memutar dan menggoyang pinggulnya membuatku akhirnya mencapai puncak klimaks ” Aaagghhhh… aaaagggghhh… aku nggak kuat tante… aaaaaggghhh….. aaaggh.. ” Tumpah sudah spermaku dalam memek tante Neta , karena dia begitu lihainya memutar bokong semoknya dan membuatku mencapai puncak lebih dulu tapi tante Neta memalukku dengan mesranya.


Minggu, 13 Januari 2019

Prediksi togel - Minggu 13 Januari 2019


>>> SINGAPOREPOOLS <<<


ANGKA MAIN : 1 5 2 7
Top 2D : 02 11 25 32 47
Cadangan 2D : 51 65 72 87 90
TOP SHIO : Harimau Naga Ular
COLOK BEBAS : 5 2 7
AS : 1 0 6
KOP : 5 4 3
KEPALA  : Kecil / Genap
EKOR : Besar / Ganjil



Udah lama aqu berteman dgn teman kantor yang bernama Berli, dia cantik tubuhnya juga proposional. Aaqu dan dia sangat akrab dan kompak dalam bekerja , antara aqu dan Berli tidak ada hubungan istimewa hanya teman kantor saja, tapi status itu berubah saat tanpa sengaja aqu dan Beril di tunjuk kepada kepala kantor untuk mengurusi kegiatan kantor yang berada di luar kota.

Sangat mendadak apa yang di perintahkan karna pada saat itu aqu tak bisa menyiapkan apa apa hanya pakaian yang menempel di tubuhku, ternyata dari tugas tersebut  kami mendapat penginapan tapi yang memaksa, kami hanya di beri 1 kamar untuk berdua, aqu memohon untuk di beri satu kamar lagi dan dgn alasan agar anggaran tidak membengkak terpaksa kami tidur bersama di satu kamar.

Hari sudah malam ketika kami sampai di Bogor. Akhirnya, kami memutuskan untuk menerima kenyataan dan tidur dalam satu kamar selama beberapa malam.

Karna lelah setelah menempuh perjalanan, malam pertama kami lewati dgn aman. Aqu tidur di lantai dgn beralaskan selimut, sementara Berli tidur di tempat tidur. Meskipun badan pegal-pegal ketika bangun, aqu tak tega untuk meminta Berli bertukar posisi di malam berikutnya. Mungkin karna kesibukan kami mnegerjakan tugas negara sehingga kami tak sempat berfikiran macam-macam pada pertama itu.

Pada malam kedua, kami mengalami sebuah masalah pelik. Kami hanya punya satu stel pakaian yang harus kami kenakan lagi di pagi harinya. Kami tidak mungkin tidur dgn memakai pakaian kami satu-satunya itu. Dgn kata lain, kami harus tidur tanpa pakaian. Di kamar hotel hanya ada satu kimono, jadi aqu berikan kimono itu kepada Berli, sedang aqu tidur hanya memakai celana dalam, sedang Berli tidur dgn kimono hotel.

Karna dingin, malam itu aqu terbangun karna kebelet kencing. Ternyata di kamar mandi, Berli juga sedang kencing. Aqu mengetuk pintu kamar mandi beberapa kali, karna aqu sudah sangat tidak tahan. Berli akhirnya membuka pintu kamar mandi.

Ternyata dia belum memakai celana dalamnya dan hanya dipegangnya saja, sementara aqu langsung menerobos masuk dan membebaskan “burung” sakti ku dari sarangnya dan aliran air kencing dgn lancar memancar dari ujungnya.

Aqu bahkan belom sempet cebok, Bud,” kata Berli. Dia akhirnya masuk ke dalam bilik shower dan membersihkan vaginanya di sana. Aqu terkesiap melihat Berli yang sedang membasuh vaginanya dgn santai tak jauh dari tempat aqu berdiri. Kontan saja penisku mengeras. Berli yang sudah selesai cebok dan hendak keluar dari bilik shower terperanjat melihat “burung sakti” ku yang sudah terbangun.

Lumayan gede juga penis lo, Bud “ Berli bilang sambil tersenyum”

Knpa? Lo mao coba?” kataqu sambil mengacungkan penis ku ke arah Berli.

Boleh pegang, gak?”

Jangankan pegang, diemut juga boleh …”

Berli berjalan mendekat dan meraih penisku dan mulai mengelus-elusnya. Penisku tambah mengeras. Kemudian Berli berjongkok dan memasukkan penisku ke mulutnya. Rasa hangat dari mulut Berli menjalar dari penisku ke seluruh tubuh.

Aqu memejamkan mata sambil menikmati rangsangan dari mulut Berli. Kuraih kepala Berli dan kubelai rambutnya. Berli terus mengocok penisku dgn mulutnya. Bunyi kecipak yang timbul karna pergesekan antara penisku dgn lidah dan bibir Berli sungguh sangat menggairahkan. Setelah sepuluh menit mendapat pelayanan istimewa dari Berli dgn mulutnya, penisku mulai berdenyut dan akhirnya aqu tumpahkan spermaqu di dalam mulut Berli.

Seluruh spermaqu ditelan Berli yang kemudian menjilati penisku untuk membersihkan sisa-sisa spermaqu. Sebelah tangan Berli tak pernah lepas dari vaginanya. Selama melaqukan oral, Berli terus memainkan klitorisnya dan sesekali measukkan jari-jarinya ke vaginanya.

Luar biasa! Lo hebat banget … “Gak nyangka aqu”,” “kataqu memuji Berli”.

Udah lama aqu gak ngemut penis dan nelan peju. Suami aqu gak pernah mau aqu emut penisnya. Kita lanjutin di tempat tidur yuk … ,” kata Berli sambil menggandeng tanganku. Sesampai di tempat tidur, kami mencopot semua pakaian yang tersisa di tubuh kami. Karna aqu baru saja ejaqulasi, aqu butuh waktu untuk menegangkan kembali penisku. Untuk itu, aqu lahap toket Berli sambil aqu mainkan klitorisnya dgn tanganku.

Berli mendesis dan melenguh sepanjang aqu menjalankan pelayananku. Ketika penisku sudah kembali tegang, aqu pun bersiap untuk memasukkannya ke dalam vagina Berli. Hanya dgn sekali sentak, penisku masuk seluruhnya ke dalam vagina Berli yang sudah basah kuyup dgn liurku dan cairan vaginanya.

Aahhhhhh …. Ayo genjot, Bud …”

Oke … Vagina lo masih lumayan sempit, Berrrr… Enak banget,” kata ku sambil mulai genjotanku. Kami pun ber-ah-uh-ria seperti yang layaknya dilaqukan oleh pasangan yang sedang bersetubuh di film-film biru.

Aaaahhhhhh …. Sssshhhhhh …. Buuuuud ……Penis lo gede banget siiiiiih …. Enaaaaaak …. Masukkin yang deleeem doooooong …” Berli meracau karna kenikmatan.

Vagina lo juga sempit banget, Berrrr … Penis aqu kayak lo remes-remes … Nah, kayak gitu ….. Enak, liiiii… Lagi …. Lagi ….,” aqu pun ikut meracau.

Tubuh kami menyatu dan peluh kami bercampur. Setelah berpacu dalam nafsu selama kurang lebih setengah jam, kami pun merasa bahwa kami sudah mendekati puncak. Tubuh Berli mengejang. Dia memeluk tubuhku erat-erat Otot-otot di dalam vaginanya mencengkeram penisku. Dia mencapai orgamse dan reaksinya membuat aqu juga orgasme. Aqu tumpahkan spermaqu di dalam vaginanya.

Hooooossshhhhh …. Eeeenaaaaakkk bangeeeet …. Lo emang luar biasa, Bud. “ kata Berli sambil megap-megap mengatur nafas setelah mendapat orgasme terhebat dalam hidupnya. Kami pun tidur di atas tempat tidur masih dalam keadaan telanjang sampai pagi.

Paginya, kami mandi bersama di bilik shower. Kami sempat juga main “quickie”. Aqu minta Berli untuk berdiri menghadap tembok dan aqu sodok vaginanya dari belakang. Berli tak hanya diam saja.

Tangannya sibuk memainkan klitorisnya sendiri sehingga dia bisa cepat mencapai orgasme. Kalau tidak ingat bahwa hari itu kami harus menjalankan tugas, mungkin kami akan bertempur terus sampai kami berdua jatuh pingsan kelelahan.

Semenjak hari itu, semuanya berubah buat kami berdua. Pertemanan kami tidak lagi sekadar teman sejawat, tapi telah meningkat menjadi sex partners. Setiap kali ada kesempatan, kami pergunakan sebaik-baiknya untuk saling memberikan kepuasan seksual. Di kantor, kami sering melaqukannya pada saat jam makan siang. Biasanya kami melaqukannya di ruang kerja aqu atau di toilet eksekutif.

Sabtu, 12 Januari 2019

Prediksi togel - Sabtu 12 Januari 2019


>>> SINGAPOREPOOLS <<<


ANGKA MAIN : 6 8 4 3
Top 2D : 01 16 28 34 43
Cadangan 2D : 56 68 74 83 94
TOP SHIO : Babi Anjing Tikus
COLOK BEBAS : 8 4 3
AS : 6 0 1 
KOP : 8 2 5
KEPALA  : Kecil / Genap
EKOR : Kecil / Ganjil



Namaku Mona, umurku 24 tahun, aku sudah menikah dan mempunyai satu anak lelaki, Berikut ini aku ingin berbagi pengalaman tentang hubunganku dengan adik kandungku sendiri. Kejadian ini terjadi dua tahun yang lalu ketika aku berusia 22 tahun dan adikku berusia 18 tahun.

Kami adalah 3 bersaudara, kakakku Diana telah menikah dan ikut suaminya, sedangkan aku dan adikku tinggal bersama orang tua kami. Aku sendiri berperawakan sedang, tinggiku 160cm berat badan 52kg, orang bilang aku montok, terutama pada bagian pinggul/pantat. Payudaraku termasuk rata-rata 34 saja. Kulitku yang putih selalu menjadi perhatian orang-orang bila sedang berjalan keluar rumah. Aku mempunyai seorang pacar berusia 2 tahun diatasku, dia adalah kakak kelas kuliahku.

Aku dan pacarku berpacaran sudah 2 tahun lebih, dan selama itu paling jauh kami hanya melakukan petting, saling raba, saling cium dan saling hisap…. Pacarku sangat ingin menerobos memekku jika saat petting, tapi aku sendiri tidak ingin hal itu terjadi sebelum kami menikah, jadi aku mengeluarkan air maninya dengan cara swalayan, yaitu mengocok kontolnya. Aku juga kerap dipaksa menghisap kontol pacarku yang mana sebenernya aku agak jijik melakukannya.

Keseringan petting dengan pacarku membuatku menjadi haus akan belaian lelaki dan selalu ingin disentuh, sehari saja tidak dibelai rasanya tersiksa sekali… entah kenapa aku jadi ketagihan… Sampai akhirnya aku sendiri melakukannya dengan tanganku sendiri dikamarku sendiri. Sering aku meraba-raba payudaraku sendiri dan mengusap-usap memekku sendiri sampai aku orgasme.


Inilah kesalahan ku, aku tidak menyadari kalau selama ini adikku Dani sering mengintip aku… ini aku ketahui setelah dia mengakuinya saat berhasil membobol keperawananku, kakaknya sendiri. Awal mulanya, ketika itu aku, mamaku dan adikku Dani pergi ke supermarket 500m dekat rumah. Karena belanjaan kami banyak maka kami memutuskan untuk naik becak.

Saat itu aku memakai celana panjang ketat setengah lutut, dan karena kami hanya naik satu becak, aku memutuskan untuk di pangku adikku, sedangkan mamaku memangku belanjaan. Diperjalanan yang hanya 500m itu, ketika aku duduk di pangkuan adikku, aku merasakan sesuatu bergerak-gerak dipantatku, aku sadar bahwa itu kontol adikku, keras sekali dan berada di belahan pantatku.

Aku membiarkannya, karena memang tidak ada yang bisa kulakukan. Bahkan ketika di jalan yang jelek, semakin terasa ganjalan dipantatku. Karena aku juga sangat rindu belaian pacarku yang sudah 3 hari tidak ke rumah, diam-diam aku menikmatinya. Sejak kejadian itu, aku sering melihat dia memperhatikan tubuhku, agak risi aku diperhatikan adikku sendiri, tapi aku berusaha bersikap biasa. Suatu hari, aku dan pacarku melakukan petting di kamarku…

Aku sangat terangsang sekali… dia meraba dan membelai-belai tubuhku. Sampai akhirnya pacarku memaksakku membuka celana dalamku dan memaksaku untuk mengijinkannya memasukkan kontolnya ke memekku. Tentu saja aku keberatan, walaupun aku sangat terangsang tapi aku berusaha untuk mempertahankan keperawananku.

Dalam ketelanjanganku aku memohon padanya untuk tidak melakukannya. Dan anehnya aku malah berteriak minta tolong. Hal ini didengar oleh adikku Dani, dia langsung menerobos kamarku dan mengusirnya, saat itu juga pacarku ketakutan, karena memang badan adikku jauh lebih besar. Aku langsung menutupi tubuhku yang telanjang dan aku yakin adikku melihat ketelanjanganku. Dan pacarku sendiri langsung memakai pakaiannya dan pamit pulang.

Sejak itu, pacarku jadi jarang ke rumah. Dari selentingan teman-temanku, pacarku katanya mempunyai teman cewek lain yang sering jalan dengannya. Tentu saja aku sedih mendengarnya, tapi aku juga merasa beruntung tidak ternodai olehnya. Suatu malam aku berbincang-bincang dengan adikku, aku berterima kasih padanya karena dia telah menggagalkan pacarku menodaiku.

Aku kaget ketika adikku ngomong bahwa, aku nggak bisa menyalahkan pacarku karena memang bodyku sexy sekali dan setiap laki-laki pasti ingin merasakan tubuhku. Ketika kutanya, jika setiap lelaki, apakah adikku juga ingin merasakan tubuhku juga… dia menjawab: “Kalau kakak bukan kakakku, ya aku juga pengen, aku kan juga lelaki” aku sangat kaget mendengar jawabannya tapi aku berusaha itu adalah pernyataan biasa, aku langsung aja tembak,

“emang adik pernah nyobain cewe?” dia bilang “ya, belum kak”…. itulah percakapan awal bencana itu. Malam harinya aku membayangkan bercinta dengan pacarku, aku merindukan belaiannya… lalu aku mulai meraba-raba tubuhku sendiri… tapi aku tetap tidak bisa mencapai apa yang aku inginkan… sekilas aku membayangkan adikku… lalu aku memutuskan untuk mengintip ke kamarnya…

Malam itu aku mengendap-endap dan perlahan-lahan naik keatas kursi dan dari lubang angin aku mengintip adikku sendiri, aku sangat kaget sekali ketika melihat adikku dalam keadaan tak memakai celana dan sedang memegang alat vitalnya sendiri, dia melakukan onani, aku terkesima melihat ukuran kontolnya, hampir 2 kali pacarku, gila kupikir, kok bisa yah sebesar itu punya adikku…

Dan yang lebih kaget, di puncak orgasmenya dia meneriakkan namaku… Saat itu perasaanku bercampur baur antar nafsu dan marah… aku langsung balik kekamarku dan membayangkan apa yang baru saja aku saksikan.

Pagi harinya, libidoku sangat tinggi sekali, ingin dipuaskan adikku tidak mungkin, maka aku memutuskan untuk mendatangi pacarku. Pagi itu aku langsung kerumah pacarku dan kulihat dia sangat senang aku datang… ditariknya aku ke kamarnya dan kami langsung bercumbu… saling cium saling hisap dan perlahan-lahan baju kami lepas satu demi satu sampai akhirnya kami telanjang bulat.

Gilanya begitu aku melihat kontolnya, aku terbayang kontol adikku yang jauh lebih besar darinya… seperti biasa dia menyuruhku menghisap kontolnya, dengan terpaksa aku melakukannya, dia merintih-rintih keenakkan dan mungkin karena hampir orgasme dia menarik kepalaku.

“Jangan diterusin, aku bisa keluar katanya” lalu dia mula menindihiku dan dari nafasnya yang memburu kontolnya mencari-cari lubang memekku… begitu unjung kontolnya nempel dan baru setengah kepalanya masuk, aku kaget karena dia sudah langsung orgasme, air maninya belepotan diatas memekku… “Ohhhhh…” katanya. Dia memelukku dan minta maaf karena gagal melakukan penetrasi ke memekku.

Tentu saja aku sangat kecewa, karena libidoku masih sangat tinggi. “Puaskan aku dong… aku kan belum…” rengekku tanpa malu-malu. Tapi jawabannya sangat menyakitkanku… “Maaf, aku harus buru-buru ada janji dengan siska” katanya tanpa ada rasa ngga enak sedikitpun. Aku menyembunyikan kedongkolanku dan buru-buru berpakaian dan kami berpisah ketika keluar dari rumahnya.

Diperjalanan pulang aku sangat kesal dan timbul kenginanku untuk menyeleweng, apalagi selama diperjalanan banyak sekali lelaki yang menggodaku dari tukang becak, kuli bangunan sampai setiap orang di bis. Begitu sampai rumah aku memergoki adikku yang akan pergi ke sport club, dia mengajakku untuk ikut dan aku langsung menyangupinya karena memang aku juga ingin melepaskan libidoku dengan cara berolah raga.

Di tempat sport club, kami berolah raga dari senam sampai berenang dan puncaknya kami mandi sauna. Karena sport club tersebut sangat sepi, maka aku minta adikku satu kamar denganku saat sauna. Saat didalam adikku bilang “kak, baju renangnya ganti tuh, kan kalau tertutup gitu keringatnya ngga keluar, percuma sauna” “Abis pake apa” timpalku, “aku ngga punya baju lagi”

“Pake celana dalem sama BH aja kak, supaya pori-porinya kebuka” katanya, Pikirku bener juga apa katanya, aku langsung keluar dan menganti baju renangku dengan BH dan celana dalam, sialnya aku memakai celana dalam G-string putih sehabis dari rumah pacarku tadi… Tapi “ah, cuek aja.. toh adikku pernah liat aku telanjang juga”. Begitu aku masuk, adikku terkesima dengan penampilanku yang sangat berani… kulihat dia berkali-kali menelan ludah, aku pura-pura acuh dan langsung duduk dan menikmati panasnya sauna.

Keringat mencucur dari tubuhku, dan hal itu membuat segalanya tercetak didalam BH dan celana dalamku… adikku terus memandang tubuhku dan ketika kulihat kontolnya, aku sangat kaget, dan mengingatkanku ke hal semalam ketika adikku onani dan yang membuat libidoku malah memuncak adalah kepala kontolnya muncul diatas celana renangnya.

Aku berusaha untuk tidak melihat, tapi mataku selalu melirik ke bagian itu, dan nafasku semakin memburu dan kulihat adikku melihat kegelisahanku. Aku juga membayangkan kejadian tadi pagi bersama pacarku, aku kecewa dan ingin pelampiasan. Dalam kediaman itu aku tidak mampu untuk bertahan lagi dan aku memulainya dengan berkata:

“Ngga kesempitan tuh celana, sampe nongol gitu” “Ia nih, si otong ngga bisa diajak kompromi kalo liat cewe bahenol” katanya “Kasian amat tuh, kejepit. Buka aja dari pada kecekik” kataku lebih berani “Iya yah…” katanya sambil berdiri dan membuka celananya… Aku sangat berdebar-debar dan berkali-kali menggigit bibirku melihat batang kemaluan adikku yang begitu besar.

Tiba-tiba adikku mematikan mesin saunanya dan kembali ke tempatnya. “Kenapa dimatiin” kataku “Udah cukup panas kak” katanya Memang saat juga aku merasa sudah cukup panas, dan dia kembali duduk, kami saling memandang tubuh masing-masing. Tiba-tiba cairan di memekku meleleh dan gatal menyelimuti dinding memekku, apalagi melihat kontol adikku.

Akal warasku datang dan aku langsung berdiri dan hendak keluar, tapi adikku malah mencegahku “nanti kak”. “Kan udah saunanya ” timpalku, aku sangat kaget dia berada tepat di depanku dengan kontol mengacung ke arahku, antara takut dan ingin. “Kakak udah pernah gituan belum kak” kata adikku “Belum” kataku,

“emang kamu udah..?” lanjutku “Belum juga kak, tapi pengen nyoba” katanya “Nyoba gimana???? Nantikan juga ada saatnya” kataku berbalik kearah pintu dan sialnya kunci lokerku jatuh, ketika aku memungutnya, otomatis aku menunggangi adikku dan buah pantatku yang besar menempel di kontolnya. Gilanya aku malah tetap diposisi itu dan menengok ke arah adikku.

Dan tak kusangka adikku memegang pinggulku dan menempelkan kontolnya dibelahan pantatku yang hanya tertutup G-string. “Oh kak…. bahenol sekali, aku pengen nyobain kak” katanya dengan nafas memburu. “Aw… dik ngapain kamu” timpalku tanpa berusaha merubah posisiku, karena memang aku juga menginginkannya. “Pengen ngentot kakak” katanya kasar sambil menekan batangnya kepantatku.

Aku menarik pantatku dan berdiri membelakanginya, “Aku kan kakakmu Dani, inget dong” Adikku tetap memegang pinggulku “tolong kak.. asal nempel aja.. ngga usah dimasukkin, aku ngga tahan banget” “Tolong kak. Aku di suruh ngapain juga mau kak, asal bisa nempelin aja ke memek kakak”. Katanya memelas. Pikiranku buntu, aku juga punya libido yang tak tertuntaskan tadi pagi.. dan membayangkan pacarku menunggangi siska, libidoku tambah naik..

“Persetan dengan pacar brengsek” batinku. “Jangan disini” pintaku. “Sebentar aja kak, asal nempel aja 1 menit” katanya meremas pinggulku. “Kakak belum siap” kataku. “Kakak nunggang aja, nanti aku panasin” katanya. Bagai terhipnotis aku menuruti apa katanya, sambil memegang grendel pintu, aku menungganginya dan dengam pelan-pelan dia membuka G-stringku dan melemparkannya.

Dan dia jongkok di belakangku dan gilanya dia menjulurkan lidahnya menjilat memekku dari belakang… “Oh… ngapain kamu dik…” kataku tanpa melarangnya. Dia terus menjulurkan lidah dan menjilati memekku dari belakang.. ohhhh… gila pikirku… enak banget, pacarku saja ngga mau ngejilatin memekku, adikku sendiri dengan rakus menjilati memekku

“Gila kamu dik, enak banget, belajar dimana” rintihku… Tanpa menjawab dia terus menjilati memekku dan meremas remas bokongku sampai akhirnya lama-lama memekku basah sekali dan bagian dalam memekku gatal sekali… Tiba-tiba dia berdiri dan memegang pinggulku.. “Udah panas kak” katanya mengarahkan kontolnya kepantatku dan memukul-mukul kepala kontolnya kepantatku….

“udah….” kataku sambil terus menunggang dan menoleh ke arah adikku… “Jangan bilang siapa-siapa yah dik” kataku. Adikku berusaha mencari lubang memekku dengan kepala kontolnya yang besar… dia kesulitan… “Mana lubangnya kak..” katanya. Tanpa sadar aku menjulurkan tangan kananku dan menggengam kontolnya dan menuntun ke mulut goaku… “Ini dik” kataku begitu tepat di depannya,

“gesek-gesek aja yah dik”. “Masukin dikit aja kak” katanya menekan kontolnya. “aw… dik, gede banget sih” kataku, “pelan-pelan….”. Begitu kepala kontolnya membuka jalan masuk ke memekku, adikku pelan-pelan menekannya.. dan mengeluarkannya lagi sedikit sedikit… tapi tidak sampai lepas… terus ia lakukan sampai membuat aku gemas…

“Oh.. dik…. enak…. dik…. udah yah…” kataku pura-pura…. “Belum kak…. baru kepalanya udah enak yah….” “Memang bisa lebih enak…???” kataku menantang. Dan…. langsung menarik pinggulku sehingga batang kontolnya yang besar amblas ditelan memekku”

Aku merasakan perih luar biasa dan “aw…. sakit dik…” teriakku. Adikku menahan batangnya didalam memekku …. “Oh…kak…nikmat banget…..” dan secara perlahan dia menariknya keluar dan memasukannya lagi, sungguh sensasi luar biasa. Aku merasakan nikmat yang teramat sangat, begitu juga adikku…

“Oh, kak… nikmat banget memekmu..” katanya. “Ssssshhhh… ia dik… enak banget” kataku. Lima belas menit dia menggenjotku, sampai akhirnya aku merasakan orgasme yang sangat panjang dan nikmat disusul erangan adikku sambil menggengam pinggulku agar penetrasinya maksimum.

“Oh.. kak.. aku keluar.. nikmat banget…” katanya Sejenak dia memelukku dari belakang, dan mulai mencabut kontolnya di memekku… “Makasih kak” katanya tanpa dosa dan memakaikan celanaku lagi. Aku bingung bercampur menyesal dan ingin menangis. Aku langsung keluar dan membersihkan diri sambil menyesali diri..

“kenapa adikku????” Dalam perjalanan pulang adikku berulang-ulang minta maaf atas perbuatannya di ruangan sauna… Aku hanya bisa berdiam merenungi diriku yang sudah tidak perawan lagi… Kejadian itu adalah awal petualangan aku dan adikku, Karena dua hari setelah itu kembali kami besetubuh, bahkan lebih gila lagi.. kami bisa melakukannya sehari 3 sampai 5 kali sehari semalam.

Setahun sudah aku di tunggangi adikku sendiri sampai ada seorang kaya, kenalan bapakku melamarku, dan kami menikah. Untungnya suamiku tidak mempermasalahkan keperawananku. Akhirnya aku di karunia seorang anak dari suamiku, bukan dari adikku.. karena aku selalu menjaga jangan sampai hamil bila bersetubuh dengan adikku.

Sampai sekarang aku tidak bisa menghentikan perbuatanku dengan adikku, yang pertama adikku selalu meminta jatah, dilain pihak aku juga sangat ketagihan permainan sex nya.


Rabu, 09 Januari 2019

Prediksi togel - Rabu 09 Januari 2019


>>> SINGAPOREPOOLS <<<


ANGKA MAIN : 2 7 1 4
Top 2D : 03 12 27 31 44 
Cadangan 2D : 52 67 71 84 95
TOP SHIO : Babi Kerbau Naga
COLOK BEBAS : 7 1 4
AS : 2 0 5
KOP : 7 3 6
KEPALA  : Kecil / Genap
EKOR : Kecil / Ganjil



Pada dasarnya, gua ini orang yang senang bergaul. Gua orang yang gemar berada dalam sebuah komunitas atau perkumpulan. Baik yang positif yang rada negative. Hehe.

Gua ini orangnya supel. Suka pelempuan~

Tapi, seperti halnya kebanyakan masyarakat urban, masyarakat kelas menengah ngehek, gua justru luput menjalin hubungan dengan tetangga sekitar.

Gua gak tau siapa-siapa tetangga yang tinggal bahkan disebelah rumah gua sendiri. Tapi sebetulnya, selain karena memang gua yang kurang peduli juga karena sebelah rumah gua itu kontrakan rumah toko (ruko) yang penghuninya sering berganti seiring musim yang sedang terjadi.

Kalo musim hujan, biasanya ruko diisi sama tukang bakso. Kalo musim kemarau, diisi sama tukang cendol. Gua gak tau bakal diisi sama tukang apa kalo di Indonesia ada musim salju. Besar kemungkinan diisi sama tukang jamu.

Suatu hari, dirumah gua menggelar sebuah pertemuan yang dihadiri ratusan orang. Karena rumah gua gak cukup untuk menampung ratusan orang (rumah gua cuma cukup menampung 99 orang. Hehe) maka terpaksa harus menggelar tiker sampai keluar rumah, yaitu jalanan komplek yang sekaligus menjadi jalanan umum masyarakat sekitar menuju jalan raya utama.

Gua baru sampai rumah jam 8 malam dan cukup kaget melihat rumah gua bak studio JKT48. Gua pikir omongan nyokap dipagi hari, “Nanti malem ada acara dirumah..” cuma acara rutin macem pengajian atau arisan warga, ternyata lebih dari pada itu.

Karena enggan, “permisi-permisi..” untuk masuk ke dalem rumah, gua pun akhirnya menunggu acara selesai disebelah rumah. Diruko tukang jamu, eh, ruko tukang bakso.

Satu jam berlalu sambil ngobrol ngalor-ngidul sama kang bakso yang tau muka tapi tidak tau nama gua, begitu pun dengan gua sendiri. Akhirnya kami pun berkenalan. Dan akhirnya kang bakso yang bernama Mas Mujiono ini gua pake. Yakali!

Mas Muji, begitu biasa dia disapa, usianya hampir 50 tahun. Dia baru punya satu anak perempuan, namanya Ria. Usianya tak lebih dari 10 tahun. Sedang lucu-lucunya. Waktu gua ngobrol sama Mas Muji, Ria beberapa kali keluar masuk menggali perhatian gua yang sebelumnya, saat pertama kali melihat dia, gua menggodanya. Anak kecil tau sendiri kalo digodain, maunya terus dan terus.

Karena tak kuat menahan kencing, gua pun meminta izin Mas Muji untuk pakai kamar mandinya. Mas Muji kemudian mempersilahkan gua setelah sebelumnya masuk ke dalam. Besar kemungkinan dia sedang membersihkan kamar mandinya agar “layak dipinjam”.

Ruko Mas Muji ini memiliki tiga ruangan/petak. Petak pertama tempatnya berjualan, petak kedua kamar tidur, dan petak terakhir dapur serta kamar mandi. Lebarnya 4 meter dan panjang 10 meter. Yang berminat ngontrak silahkan pm. Lah!

Saat masuk kedalam, menuju kamar mandi, ada istri Mas Muji, sedang menonton tv. Karena gua diantar Mas Muji, gua pun hanya sepintas lalu melihat istrinya yang sedang ‘diusel-usel’ sama Ria.

Setelah selesai buang hajat, (yap, abis kencing, mendadak gua mau boker) gua pun keluar kamar mandi. Saat baru saja keluar dari area dapur memasuki area kamar tidur, Ria (kembali) ngajak bercanda. Dia sembunyi dibalik tembok, kemudian seperti seolah-olah mengagetkan gua sembari memeluk sekitaran kaki dan paha gua sambil tertawa cekakakan.

Mas Muji yang sedang melayani pembeli terdengar memperingatkan buah hatinya itu untuk tidak mengganggu. Tapi apakah gua merasa terganggu? Tentu tidak. Kejadian itu gua manfaatkan untuk melihat dengan seksama sosok istri Mas Muji.

“Wow..” Gerak mulut gua saat melihatnya. Istri Mas Muji kemudian meminta Ria untuk kembali anteng atau duduk dikasur. Gua sempat tersenyum dan menganggukkan kepala saat saling menatap dengan istri Mas Muji. Dia pun balas tersenyum dan mengangguk.

Mas Muji ini sepertinya punya aji-ajian dari mbah dukun. Karena kalo dicari alasan logis perempuan muda, cantik, dan bahenol macam istrinya ini mau ‘diajak’ susah menjalani hidup sama dia, gua gak nemuin.

Istrinya Mas Muji ini cuantik, rek!

Untuk bersanding sama lelaki umur 50 tahunan yang berprofesi sebagai kang bakso, istrinya malah bisa dibilang cantik banget.

Bukan bermaksud merendahkan tukang bakso, tapi wajarnya perempuan cantik yang umurnya terpaut 20 tahun dengan seorang lelaki, cuma akan menikah sama kang korupsi, kang tender, atau kang-kang lainnya yang punya harta melimpah. Lah Mas Muji?

Nama istri Mas Muji ini tak lain dan tak bukan adalah Teh Lilis. Dia dipanggil “Teh” karena lahir dan besar di … Ambon. What? Hehe.

Teh Lilis ini aseli Ciamis. Dia berkenalan dengan Mas Muji diarea wisata pantai daerahnya. Selang sebulan perkelanannya itu, Teh Lilis dilamar dan kemudian dinikahi lalu dibojong Mas Muji ke Jakarta.

Ini yang tadi gua bilang kalo Mas Muji punya aji-ajian. Saat berkenalan dan hendak mempersunting Teh Lilis, usaha bakso Mas Muji hanyalah sekala gerobak dorong yang mana tidak mempunyai pelanggan tetap. Mas Muji mengumpulkan keuntungannya berdagang selama lebih dari 10 tahun untuk menikah dan mencari peruntungan lebih besar dengan mengontrak toko, bahasa kitanya, mangkal. Agar punya pelanggan tetap dan usaha berkembang.

Laba selama 10 tahun itulah modal Mas Muji menemui orang tua Teh Lilis dan memboyongnya ke ibu kota. Kalo Mas Muji gak punya aji-ajian, rasanya orang tua Teh Lilis enggan menyerahkan buah hatinya yang cantik nan montok itu.

Sejarah singkat diatas, disponsori langsung oleh Mas Muji sendiri Keabsahan dan keakuratannya jelas terverifikasi serta dapat di pertanggungjawabkan. Ngok!

Tidak ada hal istimewa yang terjadi setelah perkenalan dengan tetangga sebelah rumah gua ini. Semua kembali normal seperti biasanya, seiring selesainya acara yang berlangsung dirumah gua. Janganlah kalian berharap gua langsung doggiestlye sama Teh Lilis disaat Mas Muji menggodok gilingan baksonya, jangan! Semua berjalan seperti hari-hari sebelumnya.

Awal mula perkenalan langsung gua sama Teh Lilis adalah saat gua hendak keluar rumah. Waktu itu gua memarkirkan kendaraan disebelah rumah atau lebih tepatnya didepan ruko Mas Muji karena lupa membawa pulpen. Ou, ouw. Jangan sepelekan pulpen. Googling, ‘lost your pen’ untuk keterangan lebih lanjut.

Karena masih pagi, warung Mas Muji masih tutup. Itu kenapa gua santai aja parkir didepan rukonya. Sekembalinya mengambil pulpen, gua ketemu Ria sama ibunya yang mau berangkat ke sekolah. Gua pun dengan tulus ikhlas tanpa niat kotor mengajak mereka bareng.

Sebenarnya jarak antara area sekolahan sama rumah gua tidaklah jauh-jauh amat. Bahkan tidak lebih dari 2 km. Tapi atas dasar perputaran ekonomi, masyarakat sekitar rumah gua lebih memilih naik ojek ketimbang jalan kaki. “Bagi-bagi rejeki..” begitu alasan dari keengganan berjalan kaki masyarakat urban saat ini.

Teh Lilis awalnya sempat menolak karena mungkin malu atau segan. Tapi karena Ria langsung setuju dan naik ke dalam kendaraan, Teh Lilis tak bisa berbuat apa-apa.

Teh Lilis tampak malu dan kaku, dia membatasi gerak Ria di dalam mobil. Gua sesekali mnggoda Ria dan meng-gpp-kan usaha Teh Lilis meredam tingkah random anaknya. “Gpp, Mba.. Ih, si Mba, kaya gak pernah kecil aja..”

“Bapaknya mana? Masih tidur ya?” Kata gua, bertanya pada Ria yang tampak antusias (mau gua sebut ‘norak’ ga tega) mencet-mencet dan melihat monitor didepannya. Ria hanya menjawab sepintas lalu tanpa melihat kearah gua, “Iya..” katanya.

Teh Lilis yang menyadari tingkah anaknya menggelengkan kepala dan tersenyum malu. Karena anaknya tak menggubris, gua pun lalu mengajak berbicara ibunya. Eaaa. Kalo kata pepatah, “Habis jatuh tertiban janda”

Kalo kata orang jawa, malahane.

“Mba, siapa namanya?”
“Lilis..”
“Aslinya juga satu daerah sama Mas Muji?”
“Oh, ngga. Saya mah dari Ciamis..”
“Ooh, urang sunda. Teteh, dong ya, manggilnya..”
“Hehe, iya..”

Lagi-lagi kalian jangan berharap gua langsung akan meng-wot-kan Teh Lilis didalam mobil. Karena tak lama dari obrolan perkenalan diatas, kami tiba diarea sekolahan. Lagipula masih ada anak dibawah umur.

Setelah kami berpisah semuanya kembali normal seperti biasanya lagi. Tak ada niat kotor, tak ada pikiran mesum, meski bertemu dan bertukar senyum dengan Teh Lilis di hari-hari berikutnya.

Sampai akhirnya, awal mula kemesuman yang kalian tunggu-tunggu hadir juga.

Gua kedatangan tamu dari jauh, seorang teman lama. Kolega gua dalam usaha membawa cewe-cewe mabuk ke dalam gubuk.

Namanya Udjo. Saat ini dia sudah tinggal diluar kota bersama istri, anak, dan ibu mertuanya. Sepaket.

Gua mengajak Udjo makan bakso ditempat Mas Muji karena enggan menambah kemacetan ibu kota diakhir pekan. Entah karena akhir pekan atau habis hujan, ruko Mas Muji kebanjiran pembeli.

“Alhamdulillah, ya Mas kebanjiran pembeli, bukan kebanjiran air got!” Kata gua, coba mencairkan raut sibuk Mas Muji sehingga membuatnya tertawa. Karena ramai, tentu saja, Teh Lilis membantu suaminya melayani pembeli.

Saat itulah, Udjo memberi kode dengan menyolek-nyolek paha gua. Semacam isyarat yang berbunyi, “Bro, Anjirr. Bininya cakep bener nih tukang bakso!”
Gua hanya tersenyum dan sesekali menghentikan colekan Udjo. “Lu kata gua sabun!” kata gua juga dalam bahasa isyarat. Isyarat laraswati~

Gua sama Udjo pun terlibat obrolan tanpa suara saat menunggu baksonya datang. Kalian tau macam mana obrolan tanpa suara, kan? Taulah, pasti. Haha.

Gua menyikut Udjo saat dia mulai ekstrim memandang Teh Lilis yang entah sedang mengambil kembalian atau mencuci mangkok. “Lah, elu mah enak, mau ngeliatin dia pake muka mesum macam apa juga gak masalah. Gua, yang gak enak!” Kata gua saat kembali berbincang dirumah.

“Tapi asli, bro. Itu tadi mbanya boleh tuh, asli. Lah, lakinya aja udah aut, bro!”
“Aut?” Tanya gua, gak ngerti.
“Iya, aut. Tua, bego!” Jawabnya menjelaskan sambil tertawa.

Gua pun tertawa dan mencoba mengalihkan topik pembicaraan. Tapi Udjo seperti sudah dirasuki iblis mesum piaraan gua sendiri. Dia berkata dengan begitu yakin, “Kalo gua jadi lu, bro. Gua sikat tuh bininya kang bakso! Asli!”
“Sikat, ndasmu sempal!” Balas gua menyudahi kemesuman yang ada.


Udjo benar-benar menginspirasi gua untuk menggagahi Teh Lilis. Dia seolah memberikan gua keyakinan kalo Teh Lilis pasti mau diajak selingkuh. “Asli, pasti mau!” begitu kata Udjo, dengan keyakinan tingkat wali.

Dan, iblis pun menyusun situasi mesum untuk gua.

Malam itu gua sampe rumah sudah sangat larut, sekitar jam 1an. Gua ngeliat Teh Lilis sedang belanja diwarung klontong milik orang Madura, yang pernah gua tanya, “Buka 24 jam ya pak?” Dijawab, “Ngga, cuma sampe pagi kok..” Okee.. Makasih pak.. ~

Setelah markir kendaraan, gua bergegas ke warung klontong itu yang jaraknya tak jauh dari rumah gua.

“Eh, Teh Lilis.. Belum tidur, Teh?”
“Oh, iyaa..” Jawabnya malas. Duh, gak ada peluang nih, batin gua.

“Beli apaan, Teh..” Tanya gua lagi.
“Hah? Ituh, tau nih, bapaknya Ria. Minta makan mie..” Jawabnya setengah terkejut. Teh Lilis tampak murung dan melamun. Gua memandanginya dengan seksama. Baru ngeliatin dia aja, dada gua udah berdebar. Kaki gua gemeter. Dan, yap! Iblis berbisik, “tuh bos, dia nyebut Mas Muji “Bapaknya Ria” bos, bukan “Suamiku”. Itu artinya bisa digoyang imannya, bos! Lanjut, bos!”

“Beli apa mas?” Tanya Teh Lilis? Bukan! Tanya orang Madura. Membuyarkan lamunan gua menatap Teh Lilis.

“Oh. Rokok pak.. Lupa saya. Sama kopi juga deh..”
“Seduh sekalian kopinya?”
“Gak usah, pak. Eh, tapi kalo airnya baru mendidih, boleh deh..”

Tak disangka, Teh Lilis ikut bicara.

“Jam segini malah mau ngopi, mas. Gak tidur emangnya?”
“Hehe, iya Teh. Masih ada kerjaan..”
“Emang, Mas kerjanya dimana?” Tanyanya lagi. Sambil bayar gua ngomong, “Kenapa? Teteh mau ikut? Hehe.” dengan pandangan menggoda. Teh Lilis sesaat kaget, lalu tertawa.

“Duluan, Teh..” Kata gua, kemudian cabut dari warung. Teh Lilis masih menunggu belanjaannya. Dan tak lama, dia pun bergegas pulang.

Teh Lilis cuma berjarak 3 langkah dibelakang gua. Gua sengaja memperlambat jalan gua. Teh Lilis dilema, antara mau duluin gua atau ikutan jalan lambat. Dia milih opsi pertama, mungkin karena sudah ditungguin suaminya.

“Ayo, mas..” Katanya saat berada disebelah gua sesaat mendahului.

“Oh, iya Teh..” Balas gua, sok cuek dengan akting mainan gejet. Dalam hati bergejolak, “minta-ngga-minta-ngga..” Akhirnya gua memilih, Ngga! Haha, cupu banget gua. Minta nomornya aja takut! Yaiyalah, takut. Bini orang, sob!

Tapi iblis punya rencana lain. Saat berada didepan ruko/rumah Teh Lilis, dia kembali bersuara sebelum masuk. Seolah memberikan kode, kalo dia mau kok diajak selingkuh.~

“Awas, Mas, kesandung! Hehe” godanya, yang melihat gua jalan sambil menatap layar gejet. Gua sok cool, menengok kearahnya dan hanya tersenyum. Ingin rasanya ngomong, “Teh, minta nomor teleponnya, Teh..” Tapi itu namanya main kotor. Kemungkinan didenger Mas Muji besar, jadi gua urung melakukannya.

Sampai kamar, gua menyusun rencana dan tidur. Kopi yang gua beli dan udah diseduh, yang hanya menjadi kamuflase itu pun tak tersentuh. “Biarlah jadi rejeki semut..” Batin gua, lalu tidur.


Pagi-pagi sekali gua bersiap menjalankan aksi. Hemm, seperti apa aksi gua? Stay tune, gaes!

Pagi-pagi sekali gua sudah berada di area sekolahan tempat Ria sekolah.

Iblis benar-benar sudah menguasai diri gua. Entah dimana keberadaan malaikat.

Rencananya, gua akan mulai mendekatkan diri sama Teh Lilis saat dia menunggu Ria. Dan, melihat umur Teh Lilis yang gak tua-tua amat, dugaan gua dia pasti gak akan ikut nunggu Ria sambil ngerumpi sama ibu-ibu lain yang juga mengantar anaknya.

Tapi dugaan tinggal dugaan. Teh Lilis ikut membaur dengan ibu-ibu. Iblis memberi celah dengan tidak adanya ibu-ibu yang berada di sekitar Teh Lilis yang gua kenal. Jadi, besar kemungkinan juga gak ada yang mengenal gua. Tinggal kemudian gua mencari celah untuk “dilihat” Teh Lilis.

Mulai dari bersiul kearah Teh Lilis, sampai melambai-lambaikan tangan, dia tetap tak sadar keberadaan gua. Tiba-tiba saja ide muncul saat melihat bocah sd keluar dari salah satu kelas (bukan kelasnya Ria), gua langsung mengiming-imingin jajanan dan mengantarnya kembali ke kelas seolah-olah gua adalah sodaranya.

Teh Lilis sedikit kaget melihat keberadaan gua. Gua mengangguk dan tersenyum kearahnya. Setelah si bocah masuk kelas, gua menghampiri Teh Lilis.

“Nganter? Siapa?” Katanya, membuka pembicaraan.
“Oh, iya. Keponakan Teh..”
“Oohh..” Responnya sambil beranjak dari tempat duduk hendak membeli jajanan.

Gua sih yakin kalo dia cuma ngasih peluang ke gua, semacem kode minta ditelanjangin. Atau minimal ini settingan iblis.

“Nungguin sampe pulang, Teh?” Tanya gua. Dia gak gak menjawab, hanya mengangguk. Raut wajahnya tampak risih. Seketika gua bagai tersambar petir. “Anjir, gua cuma kegeeran nih..” Batin gua.

“Teh..” Sapa gua lagi. Pantang menyerah.
“Iya..” Jawabnya, masih dengan raut wajah risih dan cenderung was-was. Gua langsung menyodorkan hp dan minta nomor teleponnya. Dang! Hp gua gak direspon.

Tapi dia malah bilang, “Nomor Mas aja berapa?” sambil mengeluarkan hpnya dan gua pun pamit duluan setelah memberikan nomor hp.

Gua sih ga yakin dia bakal ngontek gua, tapi atas dasar positive thinking untuk kelakuan negative, gua menunggu kontak Teh Lilis. Tak sampai satu jam, ada pesan masuk ke hp gua.

“Ada apa ya, Mas? Maaf, saya risih ngobrol ditempat umum. Takut dikira macem-macem. Lilis.”

Hhhuuaaa.. Teh Lilis. Macam orang dulu aja ngirim Short Messages Service. Hehe

“Hehe, kalo gitu saya Teh yang minta maaf. Ga ada apa-apa Teh, mau kenal aja. Mau ngobrol-ngobrol. Kalo smsan gini masih risih ga, Teh? Hehe”

“Ya kalo sms gini ga risih. Kan gak ada yang liat. Mau kenal? Kan udah kenal. Ngobrol kok sama ibu-ibu sih Mas, sama yang masih gadis aja atuh.”

“Duh, Teh. Kalo sama gadis mah ribet Teh, ambekan. Dikit2 ngambek. Hehe. Teh Lilis tiap hari nungguin Ria?”

“Yah Mas, ibu-ibu juga sering ngambek kok. Namanya juga perempuan. Heee. Iya, tiap hari nungguin. Mas tadi anter anaknya ponakan? Kok baru liat.”

“Hehe, ngga Teh. Sebenernya cuma alesan buat ketemu Teteh aja ”

“Hmm. Mas, tolong jangan nelepon saya yah klo saya lagi dirumah. Takut bapaknya Ria tau nanti malah nyangka macet-macet.”

Pesan terakhir Teh Lilis gak gua bales, tapi gua berinisiatif langsung meneleponnya. Teh Lilis terasa begitu segan dan risih saat menerima telepon gua. Tapi meski begitu, dia juga tak memadamkan percikan untuk digoda. Gua sebagai lelaki normal yang abnormal tentu saja tak melewatkan peluang begitu saja.

Gua mencoba membuatnya nyaman berbicara sama gua. Pelan-pelan Teh Lilis mulai ‘biasa’ dan enjoy dalam berbicara. Sesekali dia bercerita juga bertanya. Nah, kedua hal tersebut adalah koentji sebuah pedekate berhasil atau tidak.

Akhirnya Teh Lilis menyudahi obrolan via telepon itu karena jam pulang Ria sudah tiba. Gua longok jam tangan, ‘pukul 09:50 WIB’.

Diakhir obrolan gua sempet ngomong, “Kalo lagi suntuk sms saya aja, Teh. Siapa tau malah tambah suntuk..” seraya tertawa. Teh Lilis juga tertawa lepas saat menutup teleponnya.


Gua pulang kerumah waktu banci pun belum dandan. Pikiran gua dipenuhi strategi-strategi menelanjangi Teh Lilis.

Dan sepertinya, Teh Lilis ini memang minta ditelanjangi. Dia sms gua gak lama setelah gua sampai rumah.

“Tumben Mas jam segini udah pulang? Gak jalan-jalan dulu sama pacarnya? Lagi marahan ya.. Hehehe”

Gua sempat kaget mendapati sms Teh Lilis, karena pas gua liat sebelum masuk rumah, Teh Lilis lagi momong Ria di dekat Mas Muji. Mas Muji sendiri sedang melayani pembeli yang gak banyak-banyak amat dan gak sedikit juga.

“Hehe, bisa aja Teteh. Lagi nonton tv apa masih di depan Teh? Tadi saya lihat kan Teteh di depan.”

“Iya, lagi nonton tv. Udah ga di depan, banyak pembeli. Lagi sekalian nidurin Ria.”

“Nidurin Ria? Mau juga dong Teh, ditidurin. Ahahaha. Becanda, Teh. Loh, banyak pembeli kok gak bantuin Mas Muji?”

“Hmm. Untung cuma becanda. Bantuin kok, tapi sambil nonton tv. Heee.”

“Owgitu..”

Biajingan, gua keabisan ide sampe cuma begitu doang bales smsnya. ‘Owgitu..’ Sms macam apa itu? Macem lagi wasapan atau bbman aja. Padahal di sms tersedia 140 karakter. Eh, bener apa ngga ya? Bodo, ah. Haha.

Tapi ditengah keputusasaan balesan sms gua, Teh Lilis memainkan perannya.

“Besok nganter lagi Mas?”

“Nganter, bareng aja Teh.”

“Gak ah. Ngerepotin.”

“Yah, Teh. Timbang gitu aja ngerepotin.”

“Heeeehe. Boleh deh kalo gak ngerepotin.”

“Eh, sebenernya emang ngerepotin sih Teh. Kecuali kalo abis nganter trus Teteh nungguin Ria-nya diluar sama saya, baru gak ngerepotin.”

“Hmm. Keluar kemana Mas?”

“Gak usah jauh-jauh Teh. Biar jam setengah sepuluh udah sampe sekolahan lagi. Kemana aja, yang penting bisa ngobrol-ngobrol.”

“Gak ah. Takut ada yang liat Mas.”

“Ya kalo gitu, kita pergi ketempat yang gak ada orang liat. Hehe.”

“Mas bisa aja. Udahan dulu ya, Mas. Jangan sms lagi.”

Huhu. Yes!


Besoknya, seperti yang sudah dismskan semalem, gua nganter Ria dan Teh Lilis dengan bergaya seolah-olah gak janjian.

Teh Lilis sempat bertanya, “Keponakannya mana Mas?” waktu perjalanan ke sekolah. Tapi gak gua jawab, karena pun dia nanya dengan raut wajah menggoda. Jiguri.

Setelah sampai sekolahan, Teh Lilis mengantar Ria ke kelas. Gua kemudian meneleponnya, memberitau kalo gua nunggu diseberang jalan utama sekolahan. Teh Lilis hanya membalas dengan suara, “Hmm.. He’em.. Iya. Iya. He’em..”

Tak sampai 20 menit, Teh Lilis sudah masuk ke dalam mobil yang gua parkir di minimarket. Gua sedang berada di dalam membeli ‘perlengkapan perang’.

Mobil sengaja menyala dan gak gua kunci, Teh Lilis menjalankan semua perintah gua. Nice.

“Kemana Mas?” Tanya Teh Lilis waktu gua baru masuk mobil.

“Kemana ya?” Kata gua sambil memandanginya dari atas sampai bawah, tanpa ada gangguan sedikitpun. Muka Teh Lilis seketika memerah. Kemudian memalingkan pandangannya.

Teh Lilis hanya memakai celana piama. Celana tidur dipadu dengan daster sedengkul dan jaket. Badannya yang bahenol terlihat dari balik pakaian yang berbahan lemas itu. Meski jaket blazernya coba menutupi.

Gua mulai nakal dengan menyentuh bagian rusuknya. Teh Lilis reflek bergoyang. Sekali, dua kali, sampai akhirnya Teh Lilis menghadap gua, lalu meraup wajah gua. Seperti sedang menampar, tapi tanpa tenaga.

“Bajingan, berani nyentuh gua nih ibu-ibu..” Batin gua. Gua pun langsung memanfaatkan dengan memegang tangannya. Teh Lilis membeku. Gua berdebar tak karuan.

“Yang penting, cabut dulu aja Teh dari sini..” Kata gua kemudian sambil keluar parkiran dan gas pol entah kemana.

Dijalan, gua menimang-nimang tempat tujuan. Teh Lilis gak banyak bicara, cenderung sedikit grogi. Raut wajahnya juga tampak khawatir. Entah khawatir gua apa-apain atau khawatir perbuatan nekatnya ini ketahuan Mas Muji.

Di depan gerbang hotel, gua berhenti dan memandang Teh Lilis. Satu, dua, tiga detik, Teh Lilis tak kunjung memandang balik. Gua menggoyangkan jari di lingkaran stir.

Teh Lilis memandang balik. Raut wajahnya bukan sekedar bertanya “Ngapain berhenti didepan hotel?” tapi juga, “..Kalo mau masuk, ya masuk.”

Gua tersenyum lebar. Teh Lilis menghembuskan nafas panjang. Iblis berdendang dijok belakang. Malaikat terbelenggu didalem bagasi.


“Mas ngapain kita kesini?” Tanya Teh Lilis saat sudah duduk dibibir kasur hotel.

“Ngapain ya Teh enaknya? Hehe. Ngobrol aja Teh..” Jawab gua sambil merebahkan badan dikasur. Teh Lilis membelakangi gua.

“Kan, kalo ngobrol disini gak bakal ada yang liat Teh..”

Teh Lilis sesekali menengok kebelakang, melihat posisi pewe gua. “Sini, Teh, nontonnya sambil rebahan. Kaya waktu saya pertama ngeliat Teteh, kan lagi nonton tv sambil tiduran gini..” Goda gua.

Teh Lilis kembali menengok dan tertawa malu. “Saya duduk, sih waktu itu. Gak tiduran. Dibilangin bapaknya Ria, mau ada yang numpang kamar mandi.”

Didalam kamar, hampir selama setengah jam, hanya gua habiskan dengan ngobrol gak jelas. Sama-sama malu. Sama-sama grogi. Tapi lambat laun, Teh Lilis mulai santai dan berkeliling kamar hotel.

Duduk dimeja rias. Ke kamar mandi. Buka-buka kulkas dan baca majalah. Sesekali mendekat ke arah gua untuk bertanya sesuatu yang ada dikamar hotel. Gua pun justru larut dengan menyia-nyiakan waktu yang ada sambil glesoran dikasur.

Madep kanan, madep kiri, tungkerep, telentang. Glesoran gak karuan.

Sampai akhirnya gua bertanya sesuatu, “Eh, Teh. Kok umurnya bisa beda jauh sih sama Mas Muji?”

Teh Lilis yang sedang duduk didepan meja rias sambil baca majalah kemudian berdiri. Mukanya seketika kesal. “Saya mau balik ke sekolahan, Mas..” Katanya.

Doh, ngambek!

Teh Lilis lalu berjalan menuju pintu, gua langsung beranjak dari kasur dan menahannya.

Kemudian gua minta maaf kalo ada sesuatu yang menyinggung. Teh Lilis tak bergeming. Gua sedikit menarik tangannya. Yang terjadi kemudian sungguh diluar perkiraan.

Gua hanya menarik tangannya pelan untuk mendapat perhatiannya yang sebelumnya enggan memandang gua. Tapi reaksi Teh Lilis seperti baru saja di uppercut Muhammad Ali.

Dia merobohkan badannya yang secara otomatis menimpa badan gua yang lalu terjatuh dikasur.

Sesaat kami saling pandang. Kedua tangan Teh Lilis berada didada gua, sedikit menopang tubuhnya.

Gua lalu melingkarkan tangan gua dibadannya. Teh Lilis tak bereaksi. Masih memandangi gua. Gua salah tingkah. Muka Teh Lilis sedikit berubah menjadi sangat serius. Sesekali dia memejam.

Kemudian gua meraih kedua tangannya. Badan Teh Lilis sepenuhnya menindih badan gua. Payudaranya yang montok mendarat tepat didada gua. Muka Teh Lilis makin berubah saat gua menggoyangkan badannya. Bibirnya bergerak-gerak seperti ingin melumat atau berkata sesuatu.

Gua melepaskan jaket blazzernya. Ariel sudah tegangan tinggi. Kaki Teh Lilis lurus diatas gua.

Gua lalu meremas bokongnya agar kakinya terbuka. Dan, yap, Teh Lilis mengangkang diatas gua dengan wajah horny.

Ariel yang sudah tegangan tinggi terasa bersentuh dengan bagian vagina Teh Lilis. Gua menggoyangkan pinggul naik-turun sambil meremas bokongnya. Sebentar saja, Teh Lilis sudah mengikuti irama goyangan.

“Sssstttt..” Desisnya sambil memejamkan mata. Giginya seperti sedang menggigit sesuatu. Gua makin kencang meremas bokongnya.

Tiap gua remas dan bergoyang, Teh Lilis berdesis sambil mengatur nafas. “Sssssttt..”

Tangan gua masuk ke dalam celana piamanya. Mudah saja buat gua karena hanya berbahan kolor. Setelah didalam celana, tangan gua gak meremas bokongnya, tapi langsung menyentuh vaginanya dari atas.

Teh Lilis langsung mencengkram wajah dan melumat bibir gua. “Eemmm…” Desah gua.

Sambil berciuman, saling melahap satu sama lain, gua menarik-narik kancut Teh Lilis. Teh Lilis bergeliat sambil menggoyangkan sendiri pinggulnya. “Sssssttt…hhuuu..” Desahnya kali ini.

Gua lalu mulai meremas payudaranya. Teh Lilis memberi ruang dengan sedikit mengangkat tubuhnya yang berada diatas gua. Sebentar saja, gua langsung membuka tali branya dan mengangkat daster serta branya.

Payudara montok Teh Lilis menggantung diatas wajah gua. Dia menahan tubuhnya dengan kedua tangan dikasur. Setelah menikmati aroma tubuhnya, gua mulai mengulum puting payudara Teh Lilis.

Dari payudara yang satu, ke yang lain. Secara adil gua kulum dan remas payudaranya. Teh Lilis menggoyangkan badannya saat gua sedang melahap salah satu payudaranya.


Sambil menjilati putingnya, gua kembali meremas bokongnya.

Teh Lilis makin menikmati kebejatannya. Dia membuka celananya pake satu tangan dengan gerakan yang dinamis, tanpa mengganggu gua yang sedang melahap payudaranya. “Ssssttt.. Aahh..” Desahnya.

Gua lalu membalikkan badan. Teh Lilis telentang sambil bergeliat saat gua melepas celana. “Dasternya, buka Teh..” Kata gua saat hendak menjilati vaginanya yang masih tertutup. Teh Lilis membuka dasternya dan tapi kemudian menarik wajah gua dan memberikan ciuman dahsyat. Dia mencium sambil menyedot.

Gua memasukkan tangan ke dalam kancutnya dan menyentuh vaginanya. Teh Lilis makin melumat bibir gua. Lalu gua memaikan jari dimulut vaginanya. Basah!

Vagina Teh Lilis sudah basah saat gua melepaskan kancutnya, dan saat hendak menjilati, lagi-lagi dia menarik kepala gua. Gua pun akhirnya hanya mengocok vaginanya dengan jari sambil menjilati payudaranya. “Aaaahhhh.. Sssttt.. Aaaauuggghh..” Desahnya.

Kemudian gua memasukkan satu lagi jari ke dalam vaginanya. Teh Lilis mengerang sambil mencengkaram leher gua. Gua melepaskan cengkramannya sambil mempercepat gerakan jari mengocok vaginanya.

Untuk mendapatkan hasil maksimal, gua menegakkan dudukan badan. Yang tadinya sedikit membungkuk mengulum payudara, menjadi duduk tegap disamping badan Teh Lilis yang bergeliat keenakan.

Pemandangan dari sini adalah yang terbaik saat sesi porplei, bro.. Haha. You, know lha.

Teh Lilis tak dapat menyembunyikan raut wajah malu bercampur nafsu saat gua sengaja mengocok vagina sambil memperhatikannya. “Enak, Teh..” Kata gua.

Entah pertanyaan bodoh macam apa itu. Sialnya, itu pertanyaan yang sering diajukan lelaki saat sedang memberikan nikmat ke wanita yang sesang dieksekusi.

Teh Lilis menutupi wajahnya dengan bantal saat tak kuasa mendesah. Dia mendesah dibalik bantal. Gua langsung menyingkirkan bantal. Wajah Teh Lilis tampak sudah tak perduli. Dia benar-benar menikmati gerakan jari-jari gua.

“Aaahhh, aaakkhhh, hhhaaaahhh..” Desahnya sambil meremas salah satu payudaranya. Payudara yang lain, gua bantu meremas.

Sesaat gua bertanya-tanya. “Ini orang udah punya anak kok pentilnya masih bagus?” Sambil memilin dan meremas buah dadanya.

Sesekali gua kembali melumat pentil dan payudaranya. “Aaaakkkhhh…” Desahnya, panjang. Kemudian gua makin cepat mengocok vaginanya. Teh Lilis coba merangkul leher gua, tapi tak bisa karena gua menghindar. Ia lalu mencengkram sprei kasur dengan kedua tangan yang berada diatas kepalanya. Melihat pemandangan seperti itu, gua makin semangat mengocok.

Akhirnya Teh Lilis memuncratkan cairan dari vaginanya. Badannya bergeliat tak karuan. Ia menahan gerakannya sambil mengatur nafas.

Teh Lilis terkujur lemas dengan badan sedikit miring. Kedua kakinya menutup vaginanya.

Gua lalu mengeluarkan Ariel dan mendekatkan ke wajahnya. Gua ‘memukul-mukul’ wajah Teh Lilis dengan pentungan hansip itu. Lalu mulai menggerayangi mulutnya. Teh Lilis urung membuka mulut, dia tampak sedang masih mengumpulkan tenaga.

Gua terus berusaha sambil kembali meremas payudaranya. Lalu membuka kakinya yang menutupi vagina. Teh Lilis kembali terlentang dengan posisi sedikit mengangkang. Gua memberikan sentuhan-sentuhan ringan ke sekujur badannya.

Kemudian setelah menjilati payudaranya, gua menciumi bagian pahanya. Posisi gua masih dengan Ariel yang berada di wajah Teh Lilis. Gua lalu merebahkan badan disamping dengan posisi terbalik. 69!

Dengan posisi menyamping, gua mulai melumat vagina Teh Lilis. Dia langsung meremas Ariel. Lalu gua mengangkat badannya menindih badan gua dalam posisi sempurna 69.

Gua menjilati vagina Teh Lilis yang terasa asin. Teh Lilis urung melahap Ariel sampai gua memasukkan satu jari kedalam vaginanya. “Oouugghh..” Desahnya, lalu melahap Ariel.

Ariel terasa hangat dan basah.

Bokong Teh Lilis bergerak-gerak diatas wajah gua. Vaginanya tepat berada dimulut gua. Sementara Ariel keluar masuk mulutnya.

Teh Lilis makin menikmati tugasnya. Sesekali dia menyedot Ariel dalam-dalam, lalu menjilati dan mengulum bola dragonbol. “Ahhh, enak teh..” Kata gua. Kali ini bukan pertanyaan, ini pernyataan.

Teh Lilis tiba-tiba menegakkan badannya.

Sambil mengocok Ariel, dia merangkak naik dan mengurung Ariel kedalam vaginanya. Jleb!

“Aahh, Fak!” Respon gua, tak menyangka dia langsung ke topik utama.

Teh Lilis membelakangi gua dengan kedua tangan memegang sandaran punggung kasur. Ariel terlihat timbul tenggelam dari bokong Teh Lilis yang gua liat dari belakang.

Gua memegang bokong Teh Lilis, membantunya bergerak naik-turun, maju-mundur. “Sssssstttt, mmaaasss… Aaahhhh” Desah desis Teh Lilis yang makin cepat menggenjot.

Lalu gua bangun dari tidur dan memeluk Teh Lilis dari belakang. Sambil meremas payudaranya, gua menciumi punggungnya.

Teh Lilis makin beringas, dia merangkul gua dengan posisi membelakangi. Nikmat sekali. Lalu Teh Lilis meminta berciuman, dengan senang hati gua melayaninya. Kedua tangan Teh Lilis yang setengah merangkul leher gua, membuat ketiaknya tampak menggairahkan. Sesekali gua memberikan kecupan ke ketiaknya.

Meski tidak harum, tapi juga tidak bau. Yang penting, tidak ada bulunya!


Badan Teh Lilis yang bahenol tak dapat gua tahan lebih lama berada diatas paha gua.

Gua lalu* memintanya berdiri, dan mengambil posisi doggy tanpa melepas Ariel yang betah didalam vagina Teh Lilis.

Teh Lilis berdiri dengan lututnya, masih dengan posisi membelakangi gua.

Gua sedikit membungkukkan punggungnya, sambil meremas payudara. Teh Lilis bergeliat saat lehernya gua kecup-kecup.

“Keluarin didalem, Teh?” Tanya gua saat bergerak lambat menikmati ciuman.

“Jangan dikeluarin dulu..” Bisiknya, manja.

Gua kemudian menghadapkan wajahnya kearah jam dinding sambil melumat bibirnya.

Dia yang paham maksud gua lalu mendorong bokong gua agar masuk lebih dalam. Gua lalu berakselerasi tingkat tinggi.

“Plak! Plak! Plak!” Suara yang keluar, diikuti desahan Teh Lilis, “Aaakkhhh, aaaaakkhh, Maasss.. Sssttt..”

Tak butuh lama dari serangan terakhir, Ariel memuntahkan ludah naga didalam vagina Teh Lilis.

“Oouugghhh…” Desah gua, panjang.

Teh Lilis langsung membenamkan wajahnya dikasur dengan posisi nungguing. Tampak sperma gua secara perlahan keluar dari dalam vagina Teh Lilis. “Sssstttt.. Hhhaaaahhh..” Desisnya.

Setelah sepertinya sperma sudah banyak yang keluar, Teh Lilis merobohkan badannya, tidur tungkerep.

Lalu bersuara pelan, “Ria udah aku titipin sama temen. Nanti langsung aku jemput dirumahnya..”