www.dewalotto.com

www.dewalotto.com
Bandar Online Terbesar Terbonafit Terpercaya dengan Permainan Terlengkap All You Can Play in Dewalotto

Senin, 08 Oktober 2018

Prediksi togel - Senin 08 Oktober 2018


 >>>SINGAPOREPOOLS<<<


ANGKA MAIN : 8 2 3 0
TOP 2D : 08 12 23 30 48
CADANGAN 2D : 58 62 73 80 98                    
TOP SHIO : Naga Babi Ular 
COLOK BEBAS : 0 2 3  
AS : 3 4 5 
KOP : 7 8 9
KEPALA : Kecil  / Ganjil
EKOR : Kecil / Ganjil



Satu weekend, aku lagi browsing parfum disalah satu mal besar. aku memang ditugaskan kantor buat nyari parfum yang akan dihadiahkan buat para istri customer besar perusahaan, jadi belinya gak sedikit. Budget untuk beli parfum dah di approve, list alternatif merek parfum juga sudah ditangan, jadi tinggal nyari parfumnya dan tentu saja spgnya. Wah spgnya cantik dan sexy semuanya, sampe aku binun milihnya, akhirnya lis alternatif merek parfum a kantongin, aku milih spgnya yang paling ok aja dan mo ngasi aku bonus ekstra mengingat aku ordenya gede banget.

Karena cape juga muterin konter parfum tapi belum nemu spg yang sesuai selera, aku numpang duduk di konter salah satu kosmetik. Spg kosmetik tu tipe ibu2 banget, jadi aku gak selera, biar disana ada juga dijual parfum yang semerk dengan kosmetiknya. Si embak spg si diem aja ketika aku bilang mo numpang duduk. Tiba2 dari belakangku ada seorang yang nyodorin kertas kecil beraroma parfum, aku menoleh, wah kaget juga aku. Spgnya cantik, aku suka banget liat wajahnya, bodinya maknyus banget. pakeannya seksi banget deh, tank top ketat sepinggang dan celana ketat juga, sehingga aku bisa melihat lekuk liku bodynya yang proporsional dan mengundang selera lelaki yang melihatnya, termasuk aku. “Wah kamu seksi sekali, sampai pusernya kelihatan, mangnya gak pake seragam ya”. Karena tank topnya sepinggang, maka kalau dia bergerak pinggangnya tersingkap dan nampaklah pusernya. Dia hanya tersenyum saja : “Kita gak disuru pake seragam kok om, cobain om parfumnya”, sambil menyodorkan kertas kecil yang beraoma parfum yang ditawarkan. “Buat dicium2”. “Kalo mo nyium yang nawarin bole gak”. “Ih si om belon blanja dah genit”. “Kalo dah blanja bole genit?” “Tergantung blanjanya om, kita ke kounterku yuk, gak enak nawarin dikonter orang”. Di konternya aku memberikan daftar alternatif merek parfum yang harus kubeli. “Wah banyak banget om, beli merk aku aja ya om, ntr aku kasi bonus deh”. “Bonusnya apaan?” “Kan tadi om pengen nyium”. “Cuma nyium doangan”. “Itu permulaannya kan om, masak langsung to the point apartment. aku baru off jam 5an om, ntar jemput aku ya”. Wah dah pro ni spg urusan bonus rupanya. “Nama kamu sapa”. “Ampe lupa, aku Ana om”. “Ya udah, nanti jam 5an aku jemput na disini ya”. Sorenya aku jemput dia, Ana dah nunggu ditempat yang kita sepakati yaitu di warung kopi yang ada di mal itu. “An, teknisnya gimana aku beli parfumnya”. “Gini om, kan ini jumlahnya gede, besok Ana ksi daftar om ke kantor, biar kantor yang kasi penawaran ke kantor, langsung ke nam om aja ya”. “Ok, terus?” “Ya om tinggal kasi SPK nya aja ke Ana, diambil di kantor juga bole om. Kalo dah ada spknya barang tinggal dianter, kasi faktur pembelian dan om bayar deh, gampang kan, dan yang penting Ana dapet komisi gede kalo gol”.

“Makanya ana kan dapet komisi gede, terus bonus buat aku apa”. “Om mo bawa Ana kemana aja, Ana ikut deh om”. “Dah magrib ni, mo makan dulu ya, biar gak usah nyari makan lagi nantinya”. “Mangnya mo all night ya om”. Aku cuma tersenyum dan menggandeng dia keluar wrung kopi menuju ke food court. “An, kamu yang pesenin ya”. “Om sukanya makanan apa”. “apa aja deh sesuka kamu, ni duitnya”. “Ntar juga ditagih ma yang nganter om”. Ana pun keliling memesan makanan dan minuman buat aku dan dia sendiri. Ketika pesanan dateng, aku mebayar semua bonnya. “Suka gak om pilihan Ana”. “Suka banget An, yang pilihin juga aku suka banget kok”. “Ih si om, dah gak sabar ya”. “Ya nih An, dah pengen banget”. “Dah ngaceng ya om”, ana berbisik. “Dari tadi, pertama ngeliat kamu juga udah, abis seragamnya seksi gitu”. “Sengaja kali om, kantor ngebebasin kita berpakean, gak kaya kounter laennya kudu pake seragam. Kan jadi daya tarik sendiri ya om, buktinya ana dapet paus ari ini. Target Ana sebulan langsung gol om kalo order om masuk, pasti jadi kan om”. “Ya pasti lah, kan Ana dah mo ngasi bonusnya duluan”. “Gak apa lah om, kalo spk dah ditangan, Ana mau kok ngasi bonus ulangan ma om”. “Sampe segitunya An”. “Daripada pausnya jatuh ketangan yang laen”. “Yang laen gak ada yang sesuai seleraku kok An”. Dia tersenyum mendengarnya. “Kamu selalu ngasi bonus kaya gini ke cistomer lelaki ya An”. “Ya tergantung besar order dan orangnya Ana suka pa enggak. Ada yang minta mentahnya juga kok om”. “Apanya yang mentah?” Duit dari diskonnya”. “Ooo”. “O tu taun ini dah gak bulet lagi lo om, kotak2” katanya sembari tertawa berderai. “Bisa aja kamu. Jadi kamu suka toh ma aku”. Ana hanya tersenyum. ana memang menyenangkan untuk diajak ngobrol, mudahan juga menyenangkan diranjang, mana orangnya cantik dan seksi lagi. Selesai makan, kami beranjak k gedung parkir. Dimobil dia bertanya, “Om, Ana mo dibawa ke aman?” “Ke apartmen ya An’.

“Wah asik dong”. “Mangnya biasanya kalo ngasi bonus ke customer dibawa kemana An”.

“Ke hotel lah om, maennya ya paling diranjang, disofa atawa di kamar mandi. Kalo diapartmen kan bisa dimana ya om”.

LIar juga fantasi ni anak. Mobil meluncur menuju ke apartmen yang letaknya gak jauh dari mal tadi. Sesampai di aprtmen mobil langung masuk ke basement dan parkir di tempat yang menjadi hak ku. Aku menggandeng Ana ke lift, di dalam lift aku memeluknya. “om sering ya ke apartment ini, suka bawa abg ya”, tanyanya sambil tersenyum. “Sekarang lagi bawa abg”, jawabku. “Kamu kan masih tergolong abg juga kan”.

Di apartment, kami duduk di sofa, aku mengambilkan minuman dan menyalakan TV. Kami tak banyak bicara karena perhatian tertuju ke tv. Akhirnya aku pindah duduk di sampingnya, menghadapkan tubuhnya ke arahku dan meletakkan tangan kananku di atas perutnya sambil memasukkan telunjuk ke pusernya yang tersingkap. lehernya kucium, terus menyusur ke pipi. Tubuhku bergeser merapat, bibirnya kulumatnya dengan lembut. Dia juga mengulum bibirku lebih kuat.

Sedang menikmati bibirnya dengan mulutku, tangan kususupkan kedalam tank topnya dan meremas lembut toketnya yang masih terbungkus bra. Dia terengah jadinya, rupanya tindakanku sudah menaikkan suhu napsunya. Bibirku mulai meneruskan jelajahannya, sambil melepaskan tank topnya, lehernya kukecup, kujilat kadang kugigit lembut. sambil terus meremas-remas toketnya. Kemudian tanganku menjalar ke punggungnya dan kulepas kaitan bra nya sehingga toketnya bebas dari penutup. Bibirku terus menelusur di permukaan kulitnya. Dan mulai pentil kirinya kusentuh dengan lidah dan kuhisap. Terus pindah ke pentil kanan. Dan tanganku satunya mulai turun dan memainkan pusernya, dia makin terengah, rupanya napsunya makin berkobar karena elusan tanganku.

Kemudian tanganku turun lagi dan menjamah selangkangannya. Lama hal itu kulakukan sampai akhirnya kubuka ristsluiting celananya dan kutarik celananya ke bawah, Tinggalah CD mininya yang tipis yang memperlihatkan jembutnya yang lebat, saking lebatnya jembutnya muncul di kiri kanan dan dibagian atas dari cd mini itu.

Jembutnya lebih terlihat jelas karena CDnya sudah basah karena cairan no noknya yang sudah banjir. Kubelai celah no noknya dengan perlahan. Sesekali kusentuh i tilnya, ketika kuelus pahanya otomatis mengangkang sehingga aku bisa mengakses daerah no noknya dengan leluasa. Tubuhnya terasa bergetar, kemudian CDnya yang sudah basah itu kulepaskan. Diamengangkat pantatnya agar aku bisa melepas pembungkus tubuhnya yang terakhir. Jariku mulai sengaja memainkan i tilnya. Kemudian masuk ke no noknya. Aku terus bergantian menjilati pentil kiri dan kanan dan sesekali kuhisap, dan terus jilatanku menjalar ke perutnya, akhirnya sampailah ke no noknya.

Kali ini kucium jembutnya yang lebat dan kubuka bibir no noknya dengan dua jari. Kadang bibir no noknya kuhisap, kadang i tilnya, namun yang membuat dia tak tahan adalah saat lidahku masuk di antara kedua bibir no noknya sambil menghisap itilnya. Hanya dalam beberapa menit dia benar-benar tak tahan. Dan.. dia mengejang dan dengan sekuatnya dia berteriak sambil mengangkat pantatnya sehingga i tilnya merapat dengan mulutku. Dia meremas-remas rambutku, rupanya dia merasakan nikmatnya nyampe, hanya dengan bibir dan lidahku.

Aku terus mencumbu no noknya, hingga napsunya bangkit kembali dengan cepat. “om, Ana sudah pengen dien tot.” katanya memohon sambil membuka pahanya lebih lebar. Aku pun bangkit, mengangkat badannya yang sudah lemes dan kubawa ke kamar. Di kamar, dia kubaringkan di tempat tidur ukuran besar dan aku mulai membuka bajuku, kemudian celanaku. Dia nampak terkejut melihat kon tolku yang besar dan panjang nongol dari bagian atas CDku. Kemudian aku juga melepas CDku. Sementara itu dia terbaring menunggu. kon tolku yang besar dan panjang dan sudah maksimal ngacengnya, tegak hampir menempel ke perut. Dan saat aku pelan-pelan menindihnya, dia membuka pahanya makin lebar dan memejamkan matanya. Aku mulai mendekapnya sambil terus mencium bibirnya, kurasakan kon tolku mulai menyentuh bibir no noknya. Sebentar kuusap-usapkan dan pelan sekali bibir no noknya kudesak menyamping dengan kon tol besarku. Mili per mili. Pelan sekali kon tolku terus masuk . Dia mendesah tertahan karena rasa yang luar biasa nikmatnya. Terus.. Terus.. Akhirnya kon tolku menyentuh bagian dalam no noknya, maka secara refleks dia merapatkan pahanya. Aku terus menciumi bibir dan lehernya. Dan tanganku tak henti-henti meremas-remas toketnya. kon tol besarku mulai kuenjot halus dan pelan.

Nafasnya cepat sekali memburu, terengah-engah. Dia rupanya merasakan nikmat luar biasa karena gerakan kon tolku. Aku tahu bahwa dia semakin hanyut. Maka makin gencar kulumat bibirnya, lehernya dan toketnya kuremas makin kuat. Dengan tusukan kon tolku yang agak kuat, kupepet i tilnya dengan menggoyang goyangnya, dia menggelepar, tubuhnya mengejang, tangannya mencengkeram kuat-kuat sekenanya. no noknya terasa menegang, berdenyut dan mencengkeram kuat-kuat. Rupanya dia benar-benar mencapai puncak kenikmatan yang belum pernah dialaminya. “om, Ana nyampe om”, teriaknya dengan kuat. Setelah selesai, pelan pelan tubuhnya lunglai, lemas. Sudah dua kali dia nyampe dalam waktu relatif singkat. Aku membelai rambutku yang basah keringat. Dia membuka matanya, aku tersenyum dan menciumnya lembut sekali, tak henti hentinya toketnya kuremas-remas pelan.

cerita sex,cerita dewasa,cerita mesum,cerita ngentot, ngentot artis, cerita bokep
Tiba tiba, dengan serangan cepat bibirnya kulumat dengan kuat dan diteruskan ke leher serta toketnya kuremas-remas lebih kuat. Napsunya naik lagi dengan cepat, saat kembali aku memainkan kon tolku semakin cepat. Uhh, sekali lagi dia nyampe, yang hanya selang beberapa menit, dan kembali dia berteriak lebih keras lagi. Aku terus memainkan kon tolku dan kali ini aku ikut menggelepar, wajahku menengadah.

Satu tanganku mencengkeram lengannya dan satunya menekan toketnya. Dia makin meronta-ronta tak karuan. Puncak kenikmatan diikuti ngecretnya pejuku dengan kuat di dalam no noknya, menyembur berulang kali. Terasa banyak sekali peju kental dan hangat menyembur dan memenuhi no noknya, peju yang keluar seolah menyembur seperti air yang memancar kuat.

Setelah selesai, aku memiringkan tubuhku sambil tetap meremas lembut toketnya sambil mencium wajahnya. “An, kamu luar biasa, no nokmu peret dan nikmat sekali” pujiku sambil membelai toketnya. “om juga hebat. Bisa membuat Ana nyampe beberapa kali, dan baru kali ini Ana bisa nyampe dan merasakan kon tol raksasa. Hihi..”. “Oo gitu ya An, jadi kamu suka dengan kon tolku?” godaku sambil membelai belai wajahnya. “Ya om, kon tol om nikmat, besar, panjang dan keras banget”, jawabnya. Aku tidak langsung mencabut kon tolku, tapi mengajak mengobrol sembari kon tolku makin mengecil.

Dan tak henti-hentinya aku menciumi nya, membelai rambutnya dan toketnya. Peju yang bercampur dengan cairan no noknya mengalir keluar. Setelah cukup mengobrol dan saling membelai, pelan-pelan kon tol yang telah menghantarkan dia ke awang awang itu kucabut sambil kucium lembut sekali. Tak lama kemudian tertidurlah dia dalam pelukanku.

Dia tidur nyenyak sekali. Ketika dia terbangun, dah sekitar tengah malam. Kubelai rambutnya, kurang lebih setengah jam kami berbaring berdampingan. Aku lalu mengajaknya mandi karena badan kami basah dan lengket karena keringat abis bertempur tadi. . Kubimbing dia ke kamar mandi, saat berjalan masih ada sisa peju yang mengalir di pahanya, mungkin saking banyaknya aku ngecret didalam nonoknya. Dalam bathtub yang berisi air hangat, dia duduk di atas pahaku. Aku mengusap-usap punggungnya. Aku memeluknya sangat erat hingga dadaku menekan toketnya. Sesekali aku menggeliatkan badanku sehingga pentilnya bergesekan dengan dadaku yang dipenuhi busa sabun. Pentilnya mulai mengeras.

Pangkal pahanya yang terendam air hangat tersenggol2 kon tolku. Hal itu menyebabkan napsuku mulai berkobar kembali. Dia kutarik sehingga menempel lebih erat ke tubuhku. Aku menyabuni punggungnya. Sambil mengusap-usapkan busa sabun, tanganku terus menyusur hingga tenggelam ke dalam air. Aku mengusap-usap pantatnya dan kuremas. kon tolku pun mulai tegang ketika menyentuh no noknya. Terasa bibir luar no noknya bergesekan dengan kon tolku.

Dengan usapan lembut, tanganku terus menyusuri pantatnya. Aku mengusap beberapa kali hingga ujung jariku menyentuh lipatan daging antara lubang pantat dan no noknya. “om nakal!” desahnya sambil menggeliat mengangkat pinggulnya. Dia menggeliatkan pinggulnya. Aku mengecup lehernya berulang kali sambil menyentuh bagian bawah bibir no noknya. Tak lama kemudian, aku semakin jauh menyusur hingga akhirnya lipatan bibir luar no noknya kuusap-usap. Aku berulang kali mengecup lehernya. Sesekali kujilat, sesekali menggigit dengan gemas. “Aarrgghh..Sstt.. Sstt..” rintihnya berulang kali. Lalu dia bangkit dari pangkuanku. Tapi ketika berdiri, kedua lututnya goyah. Dengan cepat aku pun bangkit berdiri dan segera membalikkan tubuhnya. Aku tak ingin dia terjatuh. Aku menyangga punggungnya dengan dadaku. Lalu kuusapkan kembali cairan sabun ke perutnya. Keatas, meremas dengan lembut toketnya dan pentilnya kujepit2 dengan jempol dan telunjuk.

Pentil kiri dan kanan kuremas bersamaan. Lalu aku mengusap semakin ke atas dan berhenti di lehernya. “om, lama amat menyabuninya” rintihnya sambil menggeliatkan pinggulnya. kon tolku semakin keras dan besar, makin dalam terselip dipantatnya.

Dia meremas bijiku dengan gemas. Aku menggerakkan telapak kananku ke arah pangkal pahanya. Sesaat aku mengusap usap jembut lebatnya, lalu mengusap no noknya berulang kali. Jari tengahku terselip di antara kedua bibir luar no noknya. Aku mengusap berulang kali. i tilnya pun menjadi sasaran usapanku. “Aarrgghh..!” rintihnya ketika merasakan kon tolku makin kuat menekan pantatnya. Dia jongkok merendam nonoknya ke dalam air. Dibersihkannya celah diantara bibir no noknya dengan mengusapkan 2 jarinya.

Ketika dia menengadah kon tolku telah berada persis didepannya. kon tolku telah ngaceng berat. “om, kuat banget sih om, baru aja ngecret di no nok Ana sekarang sudah ngaceng lagi”, katanya sambil meremas kon tolku, lalu diarahkan ke mulutnya.

Dikecupnya ujung kepala kon tolku. Tubuhku bergetar menahan nikmat ketika dia menjilati kepala kon tolku. Aku meraih bahunya karena tak sanggup lagi menahan napsu. Setelah berdiri, kaki kirinya kuangkat dan kuletakkan di pinggir bath tub. Dia kubuat menungging sambil memegang dinding di depannya dan aku menyelipkan kepala kon tolku ke celah di antara bibir no noknya. “Argh, aarrgghh..,!” rintihnya.

Aku menarik kon tolku perlahan-lahan, kemudian mendorongnya kembali perlahan-lahan pula. Bibir luar no noknya ikut terdorong bersama kon tolku. Perlahan-lahan kutarik kembali kon tolku, aku bertanya “Enak An?”. “Enaak banget om”,jawabnya.

Aku mengenjotkan kon tolku dengan cepat sambil meremas bongkah pantat nya dan juga toketnya. “Aarrgghh..!” rintihnya ketika kon tolku kembali menghunjam no noknya. Dia terpaksa berjinjit karena merasa kon tolku seolah membelah no noknya karena besarnya. Terasa no noknya sesek kemasukan kon tolku yang besar dan panjang itu. Kupegang pinggulnya dengan erat dan kon tol kukeluar masukkan dengan cepat dan keras. Terdengar ‘cepak-cepak’ setiap kali pangkal pahaku berbenturan dengan pantatnya. “Aarrgghh.., om.., Ana nyampe..!” Dia lemas ketika nyampe lagi untuk kesekian kalinya. Aku juga tidak dapat menahan pejuku lebih lama lagi. “Aarrgghh.., An”, kataku sambil menghunjamkan kon tolku sedalam-dalamnya.

“om.., sstt, sstt..” katanya karena berulangkali merasa tembakan pejuku dino noknya. “Aarrgghh.., An, enaknya!” bisikku ditelinganya. “om.., sstt.., sstt..! Nikmat sekali ya dien tot om”, jawabnya. Aku masih mencengkeram pantatnya sementara kon tolku masih nancep dino noknya. Beberapa saat kami diam di tempat dengan kon tolku yang masih menancap di no noknya. Kemudian aku membimbingnya ke shower, menyalakan air hangat dan kami berpelukan mesra dibawah kucuran air hangat.

Setelah selesai aku keluar duluan, sedang dia masih menikmati shower. Selesai mandi, dengan rambut yang masih basah dan masih bertelanjang bulat, dia keluar dari kamar mandi. Aku sudah mengambilkan soft drink dingin dari lemari es. Ditenggaknya sekali abis. “Haus ya An, laper lagi gak?” “Mangnya ada makanan om?” “Ada si piza tapi sisa. Gak apa kan”. “Gak apa om, gak basi kan”. “Ya enggaklah say, aku angetin dulu di micro wave ya, masih banyak kok, cukuplah buat kamu. aku mah gak laper, aus iya”. Aku menyiapkan pizanya. Dia duduk di mejadekat sofa. Dia kupersilakan minum dan makan sambil mengobrol, diiringi lagu lembut. Setelah makan, aku memintanya duduk di pangkuanku. Dia menurut saja.

Sambil mengobrol, dia kumanja dengan belaianku. Akhirnya setelah selesai makan, kuraih dagunya, dan kucium bibirnya dengan hangatnya, dia mengimbangi ciumanku. Dan selanjutnya aku mulai meremas-remas lembut toketnya, kemudian menelusuri antara dada dan pahanya. Dia sadar bahwa sesuatu yang didudukinya terasa mulai agak mengeras. Ohh, dia langsung bangkit. Dia bersimpuh di depanku dan ternyata kon tolku sudah mulai ngaceng, walau masih belum begitu mengeras.

Kepala kon tolku sudah mulai sedikit mencuat keluar dari kulupnya lalu diraihnya, dibelai dan kulupnya ditutupkan lagi. Dia suka melihatnya dan sebelum penuh tegangnya langsung dikulumnya kon tolku. Dia memainkan kulup batang yang tebal dengan lidahnya. Ditariknya kulup ke ujung, membuat kepala kon tolku tertutup kulupnya dan segera dikulum, dimainkannya kulupku dengan lidahnya, dan diselipkannya lidahnya ke dalam kulupku sambil lidahnya berputar masuk di antara kulup dan kepala kon tolku. Enak rasanya. Tapi hanya bisa sesaat, sebab dengan cepatnya kon tolku makin membengkak dan aku mulai menggeliat dan berdesis menahan kenikmatan permainan lidahnya dan membuat mulutnya semakin penuh.

“om, hebat ya sudah ngaceng lagi, kita lanjut yuk om”, katanya, yang juga sudah terangsang.

Aku makin tak tahan menerima rangsangan lidahnya. Maka dia kutarik ke tempat tidur. Kakinya kubuka sambil tersenyum dan aku langsung menelungkup di antara pahanya. “Aku suka melihat no nok kamu An” ujarku sambil membelai jembutnya yang lebat. “Mengapa?” “Sebab jembutmu lebat dan cewek yang jembutnya lebat napsunya besar, kalau dien tot jadi binal seperti kamu, juga tebal bibirnya”. Aku terus membelai jembut dan bibir no noknya. Kadang-kadang kucubit pelan, kutarik-tarik seperti mainan. Bibir no noknya kubuka, dia makin terangsang dan makin banyak keluar cairan dari no noknya. Aku terus memainkan no noknya seolah tak puas-puas, kadang kadang kusentuh sedikit i tilnya. Pinggulnya mulai menggeliat, kemudian diangkatnya pinggulnya, langsung kusambut dengan bibirku.

Kuhisap lubang no noknya yang sudah penuh cairan. Lidahku ikut menari kesana kemari menjelajah seluruh lekuk no noknya, dan saat kuhisapnya i tilnya dengan ujung lidah, dia berteriak.. “Aauuhh!! Ayo dong om, Ana pingin dien tot lagi” ujarnya sambil menarik bantal. Aku langsung menempatkan tubuhku makin ke atas dan mengarahkan kon tol gedeku ke arah no noknya.

Kupegang kon tolku dan kuselipkan di antara bibir no noknya. Pegangan kulepas saat kepala kon tolku mulai menyelinap di antara bibir no noknya dan menyelusup ke lubang no noknya. Pelan-pelan kutekan dan kucium bibirnya lembut. Dia merapatkan pahanya supaya kon tolku tidak terlalu masuk ke dalam. Aku langsung menjepit kedua pahanya hingga terasa sekali kon tolku menekan dinding no noknya. kon tolku semakin masuk.

Belum semuanya masuk, kutarik kembali seolah akan dicabut hingga tak sadar pinggulnya naik mencegah agar tidak lepas. Beberapa kali kulakukan sampai akhirnya dia berteriak-teriak sendiri. Setelah puas menggodanya, dengan hentakan agak keras, kupercepat gerakan memainkan kon tolku. dengan hentakan keras kon tol kugoyang goyangkan, sambil meremas toketnya, kuciumi lehernya. Akhirnya dia mengelepar-gelepar. Dan sampailah dia kepuncak. Dia berteriak. Aku menyerangnya terus dengan dahsyatnya, sehingga tak habis-habisnya dia melewati puncak kenikmatan.

Lama sekali. Dia memohon, tak kuat menerima rangsangan lagi, benar benar terkuras tenaganya dengan orgasme berkepanjangan. Akhirnya aku pelan-pelan mengakhiri serangan dahsyatku. Dia terkulai lemas sekali, keringatnya bercucuran. Tubuhnya kutindih serta lehernya kembali kucumbu. Kupeluk tubuhnya dan kembali kuremas toketnya. Pelan-pelan kon tol mulai kuenjotkan.

Aku terus menelusuri permukaan tubuhnya. Dadaku merangsang toketnya setiap kali bergeseran mengenai pentilnya. Dan kon tol kupompakan dengan sepenuh perasaan, lembut sekali, bibirku menjelajah leher dan bibirnya. Lama kelamaan tubuhnya yang semula lemas, mulai terbakar lagi. Dia berusaha menggeliat, tapi tubuhnya kupeluk cukup kuat, tangannya mulai menggapai apa saja yang bisa didapat. Aku makin meningkatkan cumbuanku dan memompakan kon tolku makin cepat. Gesekan di dinding no noknya makin terasa. Dan kenikmatan makin memuncak. Leherku kugigit agak kuat dan kumasukkan seluruh batang kon tolku serta kugoyang-goyang untuk meningkatkan rangsangan di i tilnya. Maka jebol lah bendungannya, dia mencapai puncak kembali. Kembali dia berteriak sekuatnya menikmati ledakan orgasme yang lebih kuat, dia meronta2. Dia menggigit pundakku.

Sesaat aku menurunkan gerakanku, tapi saat itu kubalik tubuhnya hingga dia yang di atas. Dia terkulai di atas tubuhku. Dengan sisa tenaganya dia mengeluarkan kon tolku dari no noknya. Diraihnya kon tolku. Tanpa pikir panjang, kon tol yang masih berlumuran cairan no noknya sendiri dikulum dan dikocoknya. Pinggulnya kuraih hingga dia telungkup di atasnu dengan posisi terbalik. Kembali no noknya yang berlumuran cairan jadi mainanku, dia makin bersemangat mengulum dan menghisap sebagian kon tolku. Kupeluk pinggulnya hingga sekali lagi dia orgasme. Kuhisap i tilnya sambil ujung lidahku menari cepat sekali. Tubuhnya mengejang dan menjepit kepalaku dengan kedua pahanya dan dirapatkannya pinggulnya agar bibir no noknya merapat ke bibirku. Dia tidak bisa berteriak tapi karena mulutnya penuh, dan tanpa sadar dia menggigit agak kuat kon tolku dan dicengkeramnya dengan kuat saat dia masih menikmati orgasme. “An, aku mau ngecret An, di dalam no nokmu ya”, kataku sambil menelentangkan dia. “Ya, om”, jawabnya. Dia kunaiki dan dengan satu hentakan keras, kon tolku yang besar sudah kembali menyesaki no noknya. Aku langsung memain kon tolku keluar masuk dengan cepat dan keras. Dalam beberapa enjotan saja tubuhkupun mengejang.

Pantatnya dihentakkannya ke atas dengan kuat sehingga kon tolku nancap semuanya ke dalam no noknya dan akhirnya crot .. crot ..crot, pejuku muncrat dalam beberapa kali semburan kuat. Aku menelungkup diatasnya sambil memeluknya erat2. “An, nikmat sekali ngen tot sama kamu, no nok kamu kuat sekali cengkeramannya ke kon tolku”, bisikku. “Ya om, Ana juga nikmat sekali, tentu saja cengkeraman no nok Ana terasa kuat karena kon tol om kan gede banget. Rasanya sesek deh no nok Ana kalau om neken kon tol om masuk semua. Kalau ada kesempatan, Ana dien tot lagi ya om”, jawabnya. “Pasti”, lalu bibirnya kucium dengan mesra.

Minggu, 07 Oktober 2018

Prediksi togel - Minggu 07 Oktober 2018


 >>>SINGAPOREPOOLS<<<


ANGKA MAIN : 7 4 0 1
TOP 2D : 07 10 24 31 47
CADANGAN 2D : 57 60 74 81 97
TOP SHIO : Kerbau Kambing Kelinci
COLOK BEBAS : 0 1 4  
AS : 0  1 2
KOP : 3 5 6
KEPALA : Kecil  / Ganjil
EKOR : Kecil / Ganjil



Membayangkan keduanya lagi bercinta membuat saya terangsang sendiri sehingga saya coba mempercepat pekerjaan saya yang masih setumpuk. Namun baru jam setengah tujuh malam saya bisa merampungkannya. Secepat kilat saya pacu mobil saya menuju rumah. Dibenak saya hanya ada keinginan untuk melakukan threesome dengan istri saya dan Rido. Hari sudah mulai gelap saat saya sampai.

Teras rumah saya sudah terang benderang oleh temaramnya lampu yang dinyalakan. Hana keluar menyambut saya. Ia menyapa saya dengan senyuman yang sangat manis dan manja. Kami berciuman sejenak sebelum saya tarik masuk tubuhnya. Saat itu ia hanya mengenakan gaun tidur model kimono dari bahan satin yang dihiasi renda renda dibagian dadanya. Putting susunya tampak menyembul dan tercetak jelas pada gaun itu sehingga dengan mudah saya tebak kalau ia tidak mengenakan pakaian dalam. Masih tersisa peluh didahinya sebagaimana seseorang yang habis berolah raga atau bekerja keras.

“Habis kerjaaa keras nih!” sindirku.

“Ah, kamu bisa aja” sahutnya dengan pipi yang tersipu.

“Rido dimana, Na?”

“Kayaknya lagi mandi”

Saya tarik tangannya menuju sofa yang ada diruangan tengah. Mengajaknya berciuman sebentar sebelum saya lanjutkan bertanya,

“Lelaki itu hebat, Na?”.

Ia tidak menjawab hanya membeliakkan mata kearah saya.

“Berapa kali kamu klimaks? Enam? delapan?” sambungku yang juga tidak dijawabnya.

Kembali saya lumat bibirnya dan mulai menggerayangi bagian dadanya. Hana menolak dengan halus karena ia ingin saya mandi terlebih dahulu sementara ia akan menyiapkan makan malam. Saya setuju.

Selesai mandi saya keluar menuju ruang tengah dengan mengenakan kimono mandi dan celana dalam saja. Rido dan istri saya sudah ada di meja makan menunggu saya. Kemudian kami bersantap malam sambil berbincang-bincang mengenai banyak topic. Setelah selesai Hana memunguti piring-piring kotor untuk dibawanya kedapur sementara saya dan Rido melangkah ke ruang tengah. Saya duduk di sofa panjang sedang ia duduk disofa single diseberang saya.

“Gimana istriku, Do?” tanya saya dengan nada sengaja saya pelankan agar tidak terdengar oleh Hana yang masih sibuk mencuci piring.

“Luar biasa, Roy! Elu bener-bener suami yang sangat beruntung punya bini secantik dia.“

“Berapa kali kalian ngelakuinnya?”

“Mungkin lima atau enam kali, engga ingat… soalnya “V” bini elu sungguh sangat nikmat kenyal dan pulen. Belum lagi servisnya yang benar-benar luar biasa. Aku jadi ketagihan berat padanya!”

“Sialan kalian! Lagi ngomongin gue yaaa!” omel Hana yang mendadak telah beridiri di samping saya. Ia lalu saya tarik duduk disebelah saya.

“Rido bilang aku suami yang beruntung punya bini sesempurna kamu, Say…” Ujarku.

“Biasa lelaki kalau ada maunya pasti ngumbar rayuan maut”

“Bukan gitu Na, tapi emang kamu istri yang sangat sempurna” lanjutku seraya menempelkan bibir kebibirnya.

Istri saya kembali menolak saya dengan halus karena ia mengusulkan untuk lebih dulu menonton dvd porno yang saya beli tempo hari. Saya kembali setuju. Dan dengan santai kami nikmati adegan-adegan penggugah nafsu itu bertiga. Belum sampai selesai film yang kami tonton ketika saya lihat Hana mulai tidak tenang duduknya. Berkali-kali ia geser-geser dan ubah-ubah posisi kakinya, sepertinya ada sesuatu yang aneh dipangkal pahanya.

Saya ciumi lehernya sambil merabakan tangan pada tonjolan buah dadanya yang masih terbalut kimono satinnya. Kali ini istri saya tidak menolak. Bahkan ia sangat menikmati ciuman dan remasan saya. Putingnya menjadi semakin mengeras dan semakin menyembul. Dengan sangat gampang saya tarik lepas tali pengikat kimononya kemudian menyibakkan ujung-ujungnya kekanan kekiri. Saya tatap dengan penuh kekaguman kedua payudaranya yang montok dan ranum sebelum saya jilat-jilat serta saya hisapi. Ketika saya selipkan tangan pada pangkal pahanya saya temukan sebuah celah yang sudah sangat becek penuh lendir birahi.

“Uuuhhhh…” Desahnya perlahan namun terdengar sangat nikmat.

Hana meraih kepala saya lalu mengiringnya kearah selakangannya. Saya pun menurut. Sembari bergerak saya ciumi setiap bagian tubuhnya yang saya lewati. Perutnya, pusarnya, bulu-bulu kemaluannya yang lebat, dan bongkahan vaginanya yang membulat sempurna bak cangkang penyu. Saya telusuri bibir liang yang telah terkuak lebar itu kemudian saya julurkan lidah menggelitik kelentitnya yang telah sangat menonjol. Istri saya menggerinjal serta melenguh sangat nikmat setiap saya melakukannya.

Rido bangkit mendekati kami dengan tubuh yang sudah bertelanjang bulat. Batang kemaluannya yang hitam panjang dan kekar itu terlihat sudah sangat tegang. Mendongak minta jatah. Ia mengajak istri saya berciuman. Tanganya mulai meremas remas buah dada istri saya sementara tangan istri saya telah menggenggam batang kemaluannya. Saya julurkan lidah dan saya benamkan berulang kali pada liang yang tanpa ujung itu. Saya tusuk-tusukkan sambil menikmati setiap aliran lendir asmaranya. Desah mulut Hana menjadi semakin keras terdengar.

Rido bangkit menyodorkan kemaluannya kemulut Hana. Batang sepanjang dua puluhan centi itu disambut istri saya dengan lidah yang terjulur. Lalu dengan sangat lahap istri saya mulai mengulumnya. Saya sibakkan kimono mandi saya dan memelorotkan celana dalam saya. Saya genggam dan saya urut-urut otot sepanjang lima belas centi yang meyembul diantara paha saya sambil menyaksikan istri saya sedang melumat penis hitam Rido yang panjang itu penuh nafsu. Saya menjadi semakin terangsang dan ingin segera menyetubuhi istri saya. Saya angkat kedua kakinya kemudian saya dorong batang kemaluan saya kedepan membenamkannya dengan penuh perasaan kedalam liang syahwatnya.

Sambil menikmati setiap gesekan lembut dengan dinding-dinding dalam vaginanya. Inci demi inci. Sekonyong-konyong saya disergap berjuta-juta gelombang kenikmatan selama proses pemasukan itu. Bermula dari ujung penis saya lalu menjalar kebatangnya, lalu menyebar keseluruh bagian tubuh saya. Selanjutnya saya coba mengeksplorasi kenikmatan yang lebih besar dengan tak henti-hentinya menggali, menggali, dan menggali liang itu lebih dalam lagi. Sementara itu istri saya masih asyik mengulum black banana yang ada dalam genggaman tangannya.

Hana terus menerus mengerang nikmat saat tubuhnya bergoyang maju mundur diombang ambingkan gelombang birahi yang saya ciptakan. Kemudian ia mengejan. Seluruh otot ditubuhnya berkontraksi hebat saat dirinya dilanda puncak ketegangan. Ia menjerit panjang pada saat badai orgasme tiba-tiba meledak dan menyambar dirinya!. Cairan kenikmatannya memancar dan melumasi seluruh batang kemaluan saya yang masih terbenam disana.

Kami berganti posisi. Saya duduk disofa sedangkan Hana menyodorkan mukanya keselangkangan saya, ia menghisapi dengan lahap batang kemaluan saya yang masih basah kuyub oleh lendir orgasmenya. Giliran Rido yang menyetubuhi istri saya dari belakang. Benda sepanjang sembilan inci itu digerakkan keluar masuk dengan sangat cepat. Terdengar suara “plok! plok! plok!” setiap kali zakar Rido menepuk nepuk pantat istri saya.

“Ooouughttt… ooochh…” desah istri saya tanpa melepaskan batang kemaluan saya dari mulutnya.

Dan setiap kali istri saya mendesah lebih keras Rido melesakkan batang kemaluannya lebih dalam lagi. Rido tidak membiarkan dirinya segera mencapai puncak. Ia menarik diri lalu menelentangkan tubuh istri saya diatas sofa. Ia buka kedua kaki istri saya lalu menaikkannya keatas bahunya sambil membenamkan kembali batang kemaluannya. Keduanya bergerak dalam irama yang selaras melaju dengan pasti menuju ke puncak tertinggi. Istri saya tampak begitu menikmati setiap hujaman kemaluan Rido. Ia menyambut dengan goyangan pinggulnya yang menghentak-hentak. Denyutan nikmat yang diciptakan Hana membuat Rido tambah bersemangat. Ia percepat gerakan keluar masuknya seperti sedang memacu seekor kuda balap. Terdengar napas keduanya terengah engah saling mengerang dan melenguh penuh nikmat.

Beberapa menit kemudian istri saya kembali memekik penuh kepuasan sambil mendekap erat tubuh Rido. Sementara itu Rido masih memompa dengan sangat cepat berusaha secepatnya mencapai klimaks. Beberapa detik sebelum terjadinya pancaran klimaks, Rido mencabut penisnya kemudian menghampiri wajah istri saya. Ia merancap dengan sangat cepat sampai terdengar lenguhannya yang keras ketika ujung batang kemaluannya menyemburkan cairan kental berwarna putih pekat yang sengaja diarahkan kebibir Hana. Setelah mereda, istri saya kembali menjilati ujung kemaluan Rido sampai bersih.

Saya sejak tadi hanya bisa berdiri menyaksikan pergulatan keduanya sambil mengurut-urut batang kemaluan saya sendiri. Melihat celah vagina Hana yang menganga dan mengkilap karena lendir birahinya membuat saya sangat terangsang dan ingin memasukinya. Selanjutnya saya tancapkan dengan sangat bernafsu. Meskipun liang senggama itu kini terasa sedikit longgar namun tetap saja mampu memberi rasa nikmat yang luar biasa. Saya lumat liang itu dengan sangat bergairah.

Hana kembali menggoyang pinggulnya membuat liang vaginanya bertambah nikmat ribuan kali. Saya semakin kesetanan saat menyetubuhinya. Apa yang saya lakukan rupanya menyebabkan menyalanya kembali gairah istri saya. Sehingga kini kami berdua saling menuntut kepuasan puncak dengan saling menggesek dan meraba. Sekian menit kemudian saya percepat gerakan pinggul saya saat terasa desakan sangat kuat diujung penis saya. Istri saya memekik dengan keras ketika ia lebih dahulu sampai di puncak. Nyaris bersamaan saya rasakan ujung penis saya bergetar hebat. Sehingga saya coba menekan pinggul lebih dalam lagi. Akhirnya batang kemaluan saya menggelepar-gelepar sembari memuntahkan cairan kenikmatan dalam jumlah yang sangat banyak diantara himpitan liang vagina Hana. Saking banyaknya hingga meluber keluar dan meleleh diatas sofa.

Setelah membersihkan diri, kami melanjutkan permainan didalam kamar. Secara bergantian saya dan Rido menggarap vagina Hana. Malam itu belasan kali istri saya mencapai klimaks disertai jeritan panjang penuh kepuasan.


Sabtu, 06 Oktober 2018

Prediksi togel - Sabtu 06 Oktober 2018


>>>SINGAPOREPOOLS<<<


ANGKA MAIN : 3 0 6 2
TOP 2D : 03 10 26 32 43
CADANGAN 2D : 53 60 76 82 93
TOP SHIO : Monyet Tikus Ular
COLOK BEBAS : 0 2 3 
AS : 3 5 6
KOP : 7 8 9
KEPALA : Besar / Genap
EKOR : Kecil / Genap



Siang itu, ponselku berbunyi, dan suara merdu dari seberang sana memanggil.
“Di, kamu ke rumahku duluan deh sana, saya masih meeting. Dari pada kamu kena macet di jalan, mendingan jalan sekarang gih sana.”
“Oke deh, saya menuju rumah kamu sekarang. Kamu meeting sampai jam berapa?”
Yah, sore sudah pulang deh, tunggu aja di rumah.
Meluncurlah aku dengan motor Honda ke sebuah rumah di salah satu kompleks di Jakarta. Vina memang kariernya sedang naik daun, dan dia banyak melakukan meeting akhir-akhir ini. Aku sih sudah punya posisi lumayan di kantor. Hanya saja, kemacetan di kota ini begitu parah, jadi lebih baik beli motor saja dari pada beli mobil. Vina pun tak keberatan mengarungi pelosok-pelosok kota dengan motor bersamaku.
Kebetulan, pekerjaanku di sebuah biro iklan membuat aku bisa pulang di tengah hari, tapi bisa juga sampai menginap di kantor jika ada proyek yang harus digarap habis-habisan. Vina, pacarku, mendapat fasilitas antar jemput dari kantornya. Jadi, aku bisa tenang saja pergi ke rumahnya tanpa perlu menjemputnya terlebih dulu.
Sesampai di rumahnya, pagar rumah masih tertutup walau tidak terkunci. Aku mengetok pagar, dan keluarlah Marta, kakak Vina, untuk membuka pintu.
“Loh, enggak kerja?” tanyaku.
“Nggak, aku izin dari kantor mau ngurus paspor,” jawabnya sambil membuka pintu pagarnya yang berbentuk rolling door lebar-lebar agar motorku masuk ke dalam.
“Nyokap ke mana?” tanyaku lagi.
“Oh, dia lagi ke rumah temannya tuh, ngurusin arisan,” kata Marta, “Kamu mau duduk di mana Dodi? Di dalam nonton TV juga boleh, atau kalau mau di teras ya enggak apa juga. Bentar yah, saya ambilin minum.”
Setelah motor parkir di dalam pekarangan rumah, kututup pagar rumahnya. Aku memang akrab dengan kakak Vina ini, umurnya hanya sekitar dua tahun dari umurku. Yah, aku menunggu di teras sajalah, canggung juga rasanya duduk nonton TV bersama Marta, apalagi dia sedang pakai celana pendek dan kaos oblong.
Setelah beberapa lama menunggu Vina di teras rumah, aku celingukan juga tak tahu mau bikin apa. Iseng, aku melongok ke ruang tamu, hendak melihat acara televisi. Wah, ternyata mataku malah terpana pada paha yang putih mulus dengan kaki menjulur ke depan. Kaki Marta ternyata sangat mulus, kulitnya putih menguning.
Marta memang sedang menonton TV di lantai dengan kaki berjelonjor ke depan. Kadang dia duduk bersila. Baju kaosnya yang tipis khas kaos rumah menampakkan tali-tali BH yang bisa kutebak berwarna putih. Aku hanya berani sekali-kali mengintip dari pintu yang membatasi teras depan dengan ruang tamu, setelah itu barulah ruang nonton TV. Kalau aku melongokkan kepalaku semua, yah langsung terlihatlah wajahku.
Tapi rasanya ada keinginan untuk melihat dari dekat paha itu, biar hanya sepintas. Aku berdiri.
“Ta, ada koran enggak yah,” kataku sambil berdiri memasuki ruang tamu.
“Lihat aja di bawah meja,” katanya sambil lalu.
Saat mencari-cari koran itulah kugunakan waktu untuk melihat paha dan postur tubuhnya dari dekat. Ah, putih mulus semua. Buah dada yang pas dengan tubuhnya. Tingginya sekitar 160 cm dengan tubuh langsing terawat, dan buah dadanya kukuh melekat di tubuh dengan pasnya.
“Aku ingin dada itu,” kataku membatin. Aku membayangkan Marta dalam keadaan telanjang. Ah, ‘adikku’ bergerak melawan arah gravitasi.
“Heh! Kok kamu ngeliatin saya kayak gitu?! Saya bilangin Vina lho!,” Marta menghardik.
Dan aku hanya terbengong-bengong mendengar hardikannya. Aku tak sanggup berucap walau hanya untuk membantah. Bibirku membeku, malu, takut Marta akan mengatakan ini semua ke Vina.
“Apa kamu melotot begitu, mau ngancem?! Hah!”
“Astaga, Marta, kamu.. kamu salah sangka,” kataku tergagap. Jawabanku yang penuh kegamangan itu malah membuat Marta makin naik pitam.
“Saya bilangin kamu ke Vina, pasti saya bilangin!” katanya setengah berteriak. Tiba-tiba saja Marta berubah menjadi sangar. Kekalemannya seperti hilang dan barangkali dia merasa harga dirinya dilecehkan. Perasaan yang wajar kupikir-pikir.
“Marta, maaf, maaf. Benar-benar enggak sengaja saya. saya enggak bermaksud apa-apa,” aku sedikit memohon.
“Ta, tolong dong, jangan bilang Vina, kan cuma ngeliatin doang, itu juga enggak sengaja. Pas saya lagi mau ngambil koran di bawah meja, baru saya liat elu,” kataku mengiba sambil mendekatinya.
Marta malah tambah marah bercampur panik saat aku mendekatinya.
“Kamu ngapain nyamperin saya?! Mau ngancem? Keluar kamu!,” katanya garang. Situasi yang mencekam ini rupanya membuatku secara tidak sengaja mendekatinya ke ruang tamu, dan itu malah membuatnya panik.
“Duh, Ta, maaf banget nih. Saya enggak ada maksud apa-apa, beneran,” kataku.
Namun, situasi telah berubah, Marta malah menganggapku sedang mengancamnya. Ia mendorong dadaku dengan keras. Aku kehilangan keseimbangan, aku tak ingin terjatuh ke belakang, kuraih tangannya yang masih tergapai saat mendorongku. Raihan tangan kananku rupanya mencengkeram erat di pergelangan tangan kirinya. Tubuhnya terbawa ke arahku tapi tak sampai terjatuh, aku pun berhasil menjaga keseimbangan. Namun, keadaan makin runyam.
“Eh! kamu kok malah tangkep tangan saya! Mau ngapain kamu? Lepasin enggak!!,” kata Marta.
Entah mengapa, tangan kananku tidak melepaskan tangan kirinya. Mungkin aku belum sempat menyadari situasinya. Merasa terancam, Marta malah sekuat tenaga melayangkan tangan kanannya ke arah mukaku, hendak menampar. Aku lebih cekatan. Kutangkap tangan kanan itu, kedua tangannya sudah kupegang tanpa sengaja. Kudorong dia dengan tubuhku ke arah sofa di belakangnya, maksudku hanya berusaha untuk menenangkan dia agar tak mengasariku lagi. Tak sengaja, aku justru menindih tubuh halus itu.
Marta terduduk di sofa, sementara aku terjerembab di atasnya. Untung saja lututku masih mampu menahan pinggulku, namun tanganku tak bisa menahan bagian atas tubuhku karena masih mencengkeram dan menekan kedua tangannya ke sofa. Jadilah aku menindihnya dengan mukaku menempel di pipinya. Tercium aroma wangi dari wajahnya, dan tak tertahankan, sepersekian detik bibirku mengecup pipinya dengan lembut.
Tak ayal, sepersekian detik itu pula Marta meronta-ronta. Marta berteriak, “Lepasin! Lepasin!” dengan paraunya. Waduh, runyam banget kalau terdengar tetangga. Yang aku lakukan hanya refleks menutup mulutnya dengan tangan kananku. Marta berusaha memekik, namun tak bisa. Yang terdengar hanya, “Hmm!” saja. Namun, tangannya sebelah kiri yang terbebas dari cengkeramanku justru bergerak liar, ingin menggapai wajahku.
Hah! Tak terpikir, posisiku ini benar-benar seperti berniat memperkosa Marta. Dan, Marta sepertinya pantas untuk diperkosa. Separuh tubuhnya telah kutindih. Dia terduduk di sofa, aku di atasnya dengan posisi mendudukinya namun berhadapan. Kakinya hanya bisa meronta namun tak akan bisa mengusir tubuhku dari pinggangnya yang telah kududuki. Tangan kanannya masih dalam kondisi tercengkeram dan ditekan ke sofa, tangan kirinya hanya mampu menggapai-gapai wajahku tanpa bisa mengenainya, mulutnya tersekap.
Tubuh yang putih itu dengan lehernya yang jenjang dan sedikit muncul urat-urat karena usaha Marta untuk memekik, benar-benar membuatku dilanda nafsu tak kepalang. Aku berpikir bagaimana memperkosanya tanpa harus melakukan berbagai kekerasan seperti memukul atau merobek-robek bajunya. Dasar otak keparat, diserang nafsu, dua tiga detik kemudian aku mendapatkan caranya.
Tanpa diduga Marta, secepat kilat kulepas cengkeraman tanganku dari tangan dan mulutnya, namun belum sempat Marta bereaksi, kedua tanganku sudah mencengkeram erat lingkaran celana pendeknya dari sisi kiri dan kanan, tubuhku meloncat mundur ke belakang.
Kaki Marta yang meronta-ronta terus ternyata mempermudah usahaku, kutarik sekeras-kerasnya dan secepat-cepatnya celana pendek itu beserta celana dalam pinknya. Karena kakinya meronta terus, tak sengaja dia telah mengangkat pantatnya saat aku meloncat mundur. Celana pendek dan celana dalam pink itu pun lolos dengan mudahnya sampai melewat dengkul Marta.
Astaga! Berhasil!
Marta jadi setengah bugil. Satu dua detik Marta pun sempat terkejut dan terdiam melihat situasi ini. Kugunakan kelengahan itu untuk meloloskan sekalian celana pendek dan celana dalamnya dari kakinya, dan kulempar jauh-jauh. Marta sadar, dia hendak memekik dan meronta lagi, namun aku telah siap. Kali ini kubekap lagi mulutnya, dan kususupkan tubuhku di antara kakinya. Posisi kaki Marta jadi menjepit tubuhku, karena dia sudah tak bercelana, aku bisa melihat vaginanya dengan kelentit yang cukup jelas. Jembutnya hanya menutupi bagian atas vagina. Marta ternyata rajin merawat alat genitalnya.
Pekikan Marta berhasil kutahan. Sambil kutekan kepalanya di sandaran sofa, aku berbisik,
“Marta, kamu sudah kayak gini, kalau kamu teriak-teriak dan orang-orang dateng, percaya enggak orang-orang kalau kamu lagi saya perkosa?”
Marta tiba-tiba melemas. Dia menyadari keadaan yang saat ini berbalik tak menguntungkan buatnya. Kemudian dia hanya menangis terisak. Kubuka bekapanku di mulutnya, Marta cuma berujar sambil mengisak,
“Dodi, please.. Jangan diapa-apain saya. Ampun, Di. saya enggak akan bilang Vina. Beneran.”
Namun, keadaan sudah kepalang basah, syahwatku pun sudah di ujung tanduk rasanya. Aku menjawabnya dengan berusaha mencium bibirnya, namun dia memalingkan mukanya. Tangan kananku langsung saja menelusup ke selangkangannya. Marta tak bisa mengelak.
Ketika tanganku menyentuh halus permukaan vaginanya, saat itulah titik balik segalanya. Marta seperti terhipnotis, tak lagi bergerak, hanya menegang kaku, kemudian mendesis halus tertahan. Dia pun pasti tak sengaja mendesah.
Seperti mendapat angin, aku permainkan jari tengah dan telunjukku di vaginanya. Aku permainkan kelentitnya dengan ujung-ujung jari tengahku. Marta berusaha berontak, namun setiap jariku bergerak dia mendesah. Desahannya makin sulit ditutupi saat jari tengahku masuk untuk pertama kali ke dalam vaginanya. Kukocokkan perlahan vaginanya dengan jari tengahku, sambil kucoba untuk mencumbu lehernya.
“Jangan Dod,” pintanya, namun dia tetap mendesah, lalu memejamkan mata, dan menengadahkan kepalanya ke langit-langit, membuatku leluasa mencumbui lehernya. Dia tak meronta lagi, tangannya hanya terkulai lemas. Sambil kukocok vaginanya dan mencumbui lehernya, aku membuka resleting celanaku. “Adik”-ku ini memang sudah menegang sempurna sedari tadi, namun tak sempat kuperlakukan dengan selayaknya. Karena tubuhku telah berada di antara kakinya, mudah bagiku untuk mengarahkan penisku ke vaginanya.
Marta sebetulnya masih dalam pergulatan batin. Dia tak bisa mengelak terjangan-terjangan nafsunya saat vaginanya dipermainkan, namun ia juga tak ingin kehilangan harga diri. Jadilah dia sedikit meronta, menangis, namun juga mendesah-desah tak karuan. Aku bisa membaca situasi ini karena dia tetap berusaha memberontak, namun vaginanya malah makin basah. Ini tanda dia tak mampu mengalahkan rangsangan.
Penisku mengarah ke vaginanya yang telah becek, saat kepala penis bersentuhan dengan vagina, Marta masih sempat berusaha berkelit. Namun, itu semua sia-sia karena tanganku langsung memegangi pinggulnya. Dan, kepala penisku pun masuk perlahan. Vagina Marta seperti berkontraksi. Marta tersadar,
“Jangan..” teriaknya atau terdengar seperti rintihan.
Rasa hangat langsung menyusupi kepala penisku. Kutekan sedikit lebih keras, Marta sedikit menjerit, setengah penisku telah masuk. Dan satu sentakan berikutnya, seluruh penisku telah ada di dalam vaginanya. Marta hanya memejamkan mata dan menengadahkan muka saja. Ia sedang mengalami kenikmatan tiada tara sekaligus perlawanan batin tak berujung. Kugoyangkan perlahan pinggulku, penisku keluar masuk dengan lancarnya. Terasa vagina Marta mengencang beberapa saat lalu mengendur lagi.
Tanganku mulai bergerilya ke arah buah dadanya. Marta masih mengenakan kaos rumah. Tak apa, toh tanganku bisa menyusup ke dalam kaosnya dan menyelinap di balik BH dan mendapati onggokan daging yang begitu kenyal dengan kulit yang terasa begitu halus. Payudara Marta begitu pas di tanganku, tidak terlalu besar tapi tidak juga bisa dibilang kecil. Kuremas perlahan, seirama dengan genjotan penisku di vaginanya. Marta hanya menoleh ke kanan dan ke kiri, tak mampu melakukan perlawanan. Pinggulnya ternyata mulai mengikuti goyangan pinggulku.
Aku buka kaos Marta, kemudian BH-nya, Marta menurut. Pemandangan setelah itu begitu indah. Kulit Marta putih menguning langsat dengan payudara yang kencang dan lingkaran di sekitar pentilnya berwarna merah jambu Pentil itu sendiri berwarna merah kecokelatan. Tak menunggu lama, kubuka kemejaku. Aktivitas ini kulakukan sambil tetap menggoyang lembut pinggulku, membiarkan penisku merasai seluruh relung vagina Marta.
Sambil aku bergoyang, aku mengulum pentil di payudaranya dengan lembut. Kumainkan pentil payudara sebelah kanannya dengan lidahku, namun seluruh permukaan bibirku membentuk huruf O dan melekat di payudaranya. Ini semua membuat Marta mendesah lepas, tak tertahan lagi.
Aku mulai mengencangkan goyanganku. Marta mulai makin sering menegang, dan mengeluarkan rintihan, “Ah.. ah..”
Dalam goyangan yang begitu cepat dan intens, tiba-tiba kedua tangan Marta yang sedang mencengkeram jok kursi malah menjambak kepalaku.”Aaahh,” lenguhan panjang dan dalam keluar dari mulut mungil Marta. Ia sampai pada puncaknya. Lalu tangan-tangan yang menjambak rambutku itu pun terkulai lemas di pundakku. Aku makin intens menggoyang pinggulku. Kurasakan penisku berdenyut makin keras dan sering.
Bibir Marta yang tak bisa menutup karena menahan kenikmatan itu pun kulumat, dan tidak seperti sebelum-sebelumnya, kali ini Marta membalasnya dengan lumatan juga. Kami saling berpagut mesra sambil bergoyang. Tangan kananku tetap berada di payudaranya, meremas-remas, dan sesekali mempermainkan putingnya.
Vagina Marta kali ini cukup terasa mencengkeram penisku, sementara denyut di penisku pun semakin hebat.
“Uhh,” aku mengejang. Satu pelukan erat, dan sentakan keras, penisku menghujam keras ke dalam vaginanya, mengiringi muncratnya spermaku ke dalam liang rahimnya.
Tepat saat itu juga Marta memelukku erat sekali, mengejang, dan menjerit, “Aahh”. Kemudian pelukannya melemas. Dia mengalami ejakulasi untuk kedua kalinya, namun kali ini berbarengan dengan ejakulasiku. Marta terkulai di sofa, dan aku pun tidur telentang di karpet. Aku telah memperkosanya. Marta awalnya tak terima, namun sisi sensitif yang membangkitkan libidonya tak sengaja kudapatkan, yaitu usapan di vaginanya.
Ternyata, dia sudah pernah bercinta dengan kekasihnya terdahulu. Dia hanya tak menyangka, aku-pacar adiknya malah menjadi orang kedua yang menyetubuhinya.
Grreekk. Suara pagar dibuka. Vina datang! Astaga! aku dan Marta masih bugil di ruang tamu, dengan baju dan celana yang terlempar berserakan..




Kamis, 04 Oktober 2018

Prediksi togel - Kamis 04 Oktober 2018


>>>SINGAPOREPOOLS<<<

ANGKA MAIN : 9 7 1 8
TOP 2D : 09 17 21 38 49
CADANGAN 2D : 59 67 71 88 99
TOP SHIO : Kambing Naga Babi
COLOK BEBAS : 1 7 8
AS : 0 1 2
KOP : 4 5 6
KEPALA : Kecil / Ganjil
EKOR : Besar / Genap


Namaku Erick, tentunya bukan nama asli dong. Aku tinggal di suatu kota yang kebetulan sering dijuluki sebagai kota kembang pengalamanku ini terjadi mungkin kira- kira 2 tahun yang lalu. Sebut saja Indi , dia adalah tunangan temanku yang bernama Edi yang tinggal di Jakarta, yang mana pada waktu itu Edi harus keluar kota untuk keperluan bisnisnya. Oh ya, Edi ini punya adik laki-laki yang bernama Deni, dimana adiknya itu teman mainku juga. Kalau tidak salah, malam itu adalah malam minggu, kebetulan pada waktu itu aku lagi bersiap-siap untuk keluar.

Tiba-tiba telpon di rumahku berbunyi, ternyata dari Deni yang mau pinjam motorku untuk menjemput temannya di stasiun kereta api. Dia juga bilang nitip sebentar tunangan kakaknya, karena di rumah lagi tidak ada siapa-siapa. Aku tidak bisa menolak, lagi

pula aku ingin tahu tunangan temanku itu seperti bagaimana rupanya. Tidak lama kemudian Deni datang, karena rumahnya memang tidak begitu jauh dari rumahku dan langsung menuju ke kamarku.

“Hei Rick..! Aku langsung pergi nih.. mana kuncinya..?” kata Deni. “Tuh.., di atas meja belajar.” kataku, padahal dalam hati aku kesal juga bisa batal deh acaraku. “Oh ya Rick.., kenalin nih tunangan kakakku. Aku nitip sebentar ya, soalnya tadi di rumah nggak ada siapa-siapa, jadinya aku ajak dulu kesini. Bentar kok Rick..,” kata Deni sambil tertawa kecil. “Erick..,” kataku sambil menyodorkan tanganku. “Indi..,” katanya sambil tersenyum. “Busyeett..! Senyumannya..!” kataku dalam hati. Jantungku langsung berdebar- debar ketika berjabatan tangan dengannya.

Bibirnya sensual sekali, kulitnya putih, payudaranya lumayan besar, matanya, hidungnya, pokoknya, wahh..! Akibatnya pikiran kotorku mulai keluar. “Heh..! Kok malah bengong Rick..!” kata Deni sambil menepuk pundakku. “Eh.. oh.. kenapa Den..?” kaget juga aku. “Rick, aku pergi dulu ya..! Ooh ya Ndi.., kalo si Erick macem-macem, teriak aja..!” ucap Deni sambil langsung pergi. Indi hanya tersenyum saja. “Sialan lu Den..!” gerutuku dalam hati.

Seperginya Deni, aku jadi seperti orang bingung saja, serba salah dan aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Memang pada dasarnya aku ini sifatnya agak pemalu, tapi kupaksakan juga akhirnya. “Mo minum apa Ndi..?” kataku melepas rasa maluku. “Apa aja deh Rick. Asal jangan ngasih racun.” katanya sambil tersenyum. “Bisa juga bercanda nih cewek, aku kasih obat perangsang baru tau..!” kataku dalam hati sambil pergi untuk mengambil beberapa minuman kaleng di dalam kulkas.

Akhirnya kami mengobrol tidak menentu, sampai dia menceritakan kalau dia lagi kesal sekali sama Edi tunangannya itu, pasalnya dia itu sama sekali tidak tahu kalau Edi pergi keluar kota. Sudah jauh-jauh datang ke Bandung, nyatanya orang yang dituju lagi pergi, padahal sebelumnya Edi bilang bahwa dia tidak akan kemana-mana.

“Udah deh Ndi.., mungkin rencananya itu diluar dugaan.., jadi Kamu harus ngerti dong..!” kataku sok bijaksana. “Kalo sekali sih nggak apa Rick, tapi ini udah yang keberapa kalinya, Aku kadang suka curiga, jangan-jangan Dia punya cewek lain..!” ucap Indi dengan nada kesal. “Heh.., jangan nuduh dulu Ndi, siapa tau dugaan Kamu salah,” kataku. “Tau ah.., jadi bingung Aku Rick, udah deh, nggak usah ngomongin Dia lagi..!” potong Indi. “Terus mau ngomong apa nih..?” kataku polos. Indi tersenyum mendengar ucapanku. “Kamu udah punya pacar Rick..?” tanya Indi. “Eh, belom.. nggak laku Ndi.. mana ada yang mau sama Aku..?” jawabku sedikit berbohong. “Ah bohong Kamu Rick..!” ucap Indi sambil mencubit lenganku. Seerr..!

Tiba- tiba aliran darahku seperti melaju dengan cepat, otomatis adikku berdiri perlahan- lahan, aku jadi salah tingkah. Sepertinya si Indi melihat perubahan yang terjadi pada diriku, aku langsung pura-pura mau mengambil minum lagi, karena memang minumanku sudah habis, tetapi dia langsung menarik tanganku. “Ada apa Ndi..? Minumannya sudah habis juga..?” katak u pura-pura bodoh. “Rick, Kamu mau nolongin Aku..?” ucap Indi seperti memelas. “Iyaa.., ada apa Ndi..?” jawabku. “Aku.., Aku.. pengen bercinta Rick..?” pinta Indi.

“Hah..!” kaget juga aku mendengarnya, bagai petir di siang hari, bayangkan saja, baru juga satu jam yang lalu kami berkenalan, tetapi dia sudah mengucapkan hal seperti itu kepadaku. “Ka.., Kamu..?” ujarku terbata-bata. Belum juga kusempat meneruskan kata- kataku, telunjuknya langsung ditempelkan ke bibirku, kemudian dia membelai pipiku, kemudian dengan lembut dia juga mencium bibirku. Aku hanya bisa diam saja mendapat perlakuan seperti itu.

Walaupun ini mungkin bukan yang pertama kalinya bagiku, namun kalau yang seperti ini aku baru yang pertama kalinya merasakan dengan orang yang baru kukenal. Begitu lembut dia mencium bibirku, kemudian dia berbisik kepadaku, “Aku pengen bercinta sama Kamu, Rick..! Puasin Aku Rick..!” Lalu dia mulai mencium telinganku, kemudian leherku, “Aahh..!” aku mendesah. Mendapat perlakuan seperti itu, gejolakku akhirnya bangkit juga. Begitu lembut sekali dia mencium sekitar leherku, kemudian dia kembali mencium bibirku, dijulurkan lidahnya menjalari rongga mulutku.

Akhirnya ciumannya kubalas juga, gelombang nafasnya mulai tidak beraturan. Cukup lama juga kami berciuman, kemudian kulepaskan ciumannya, kemudian kujilat telinganya, dan menelusuri lehernya yang putih bak pualam. Ia mendesah kenikmatan, “Aahh Rick..!” Mendengar desahannya, aku semakin bernafsu, tanganku mulai menjalar ke belakang, ke dalam t- shirt-nya. Kemudian kuarahkan menuju ke pengait BH-nya, dengan sekali sentakan, pengait itu terlepas.

Kemudian aku mencium bibirnya lagi, kali ini ciumannya sudah mulai agak beringas, mungkin karena nafsu yang sudah mencapai ubun- ubun, lidahku disedotnya sampai terasa sakit, tetapi sakitnya sakit nikmat. “Rick.., buka dong bajunya..!” katanya manja. “Bukain dong Ndi..,” kataku. Sambil menciumiku, Indi membuka satu persatu kancing kemeja, kemudian kaos dalamku, kemudian dia lemparkan ke samping tempat tidur. Dia langsung mencium leherku, terus ke arah puting susuku. Aku hanya bisa mendesah karena nikmatnya, “Akhh.., Ndi.” Kemudian Indi mulai membuka sabukku dan celanaku dibukanya juga.Akhirnya tinggal celana dalam saja.

Dia tersenyum ketika melihat kepala kemaluanku off set alias menyembul ke atas.Indi melihat wajahku sebentar, kemudian dia cium kepala kemaluanku yang menyembul keluar itu. Dengan perlahan dia turunkan celana dalamku, kemudian dia lemparkan seenaknya. Dengan penuh nafsu dia mulai menjilati cairang bening yang keluar dari kemaluanku, rasanya nikmat sekali. Setelah puas menjilati, kemudian dia mulai memasukkan kemaluanku ke dalam mulutnya. “Okhh.. nikmat sekali,” kataku dalam hati, sepertinya kemaluanku terasa disedot-sedot. Indi sangat menikmatinya, sekali- sekali dia gigit kemaluanku. “Auwww.., sakit dong Ndi..!” kataku sambil agak meringis.

Indi seperti tidak mendengar ucapanku, dia masih tetap saja memaju- mundurkan kepalanya. Mendapat perlakuannya, akhirnya aku tidak kuat juga, aku sudah tidak kuat lagi menahannya,”Ndi, Aku mau keluar.. akhh..!” Indi cuek saja, dia malah menyedot batang kemaluanku lebih keras lagi, hingga akhirnya, “Croott.. croott..!” Aku menyemburkan lahar panasku ke dalam mulut Indi. Dia menelan semua cairan spermaku, terasa agak ngilu juga tetapi nikmat.

Setelah cairannya benar-benar bersih, Indi kemudian berdiri, kemudian dia membuka semua pakaiannya sendiri, sampai akhirnya dia telanjang bulat. Kemudian dia menghampiriku, menciumi bibirku. “Puasin Aku Rick..!” katanya sambil memeluk tubuhku, kemudian dia menuju tempat tidur. Sampai disana dia tidur telentang. Aku lalu mendekatinya, kutindih tubuhnya yang elok, kuciumi bibirnya, kemudian kujilati belakang telinga kirinya. Dia mendesah keenakan, “Aahh..!” Mendengar desahannya, aku tambah bernafsu, kemudian lidahku mulai menjalar ke payudaranya.

Kujilati putingnya yang sebelah kiri, sedangkan tangan kananku meremas payudaranya yang sebelah kiri, sambil kadang kupelintir putingnya. “Okkhh..! Erick sayang, terus Rick..! Okhh..!” desahnya mulai tidak menentu. Puas dengan bukit kembarnya, badanku kugeser, kemudian kujilati pusarnya, jilatanku makin turun ke bawah. Kujilati sekitar pangkal pahanya, Indi mulai melenguh hebat, tangan kananku mulai mengelus bukit kemaluannya, lalu kumasukkan, mencari sesuatu yang mungkin kata orang itu adalah klitoris. Indi semakin melenguh hebat, dia menggelinjang bak ikan yang kehabisan air.

Kemudian aku mulai menjilati bibir kemaluannya, kukuakkan sedikit bibir kemaluannya, terlihat jelas sekali apa yang namanya klitoris, dengan agak sedikit menahan nafas, kusedot klitorisnya. “Aakkhh.. Rick..,” Indi menjerit agak keras, rupanya dia sudah orgasme, karena aku merasakan cairan yang menyemprot hidungku, kaget juga aku.

Mungkin ini pengalaman pertamaku menjilati kemaluan wanita, karena sebelumnya aku tidak pernah. Aku masih saja menjilati dan menyedot klitorisnya. “Rick..! Masukin Rick..! Masukin..!” pinta dia dengan wajah memerah menahan nafsu. Aku yang dari tadi memang sudah menahan nafsu, lalu bangkit dan mengarahkan senjataku ke mulut kemaluannya, kugesek-gesekkan dulu di sekitar bibir kemaluannya. “Udah dong Rick..! Cepet masukin..!” katanya manja. “Hmm.., rupanya ni cewek nggak sabaran banget.” kataku dalam hati. Kemudian kutarik tubuhnya ke bawah, sehingga kakinya menjuntai ke lantai, terlihat kemaluannya yang menyembul. Pahanya kulebarkan sedikit, kemudian kuarahkan kemaluanku ke arah liang senggama yang merah merekah. Perlahan tapi pasti kudorong tubuhku.

“Bless..!” akhirnya kemaluanku terbenam di dalam liang kemaluan Indri. “Aaakkhh Rick..!” desah Indi. Kaget juga dia karena sentakan kemaluanku yang langsung menerobos kemaluan Indi. Aku mulai mengerakkan tubuhku, makin lama makin cepat, kadang- kadang sambil meremas- remas kedua bukit kembarnya. Kemudian kubungkukkan badanku, lalu kuhisap puting susunya. “Aakkhh.., teruss.., Sayangg..! Teruss..!” erang Indi sambil tangannya memegang kedua pipiku. Aku masih saja menggejot tubuhku, tiba- tiba tubuh Indi mengejang, “Aaakkhh.. Eriicckk..!” Ternyata Indi sudah mencapai puncaknya duluan.

“Aku udah keluar duluan Sayang..!” kata Indi. “Aku masih lama Ndi..,” kataku sambil masih menggenjot tubuhku. Kemudian kuangkat tubuh Indi ke tengah tempat tidur, secara spontan, kaki Indi melingkar di pinggangku. Aku menggenjot tubuhku, diikuti goyangan pantat Indi. “Aakkhh Ndi.., punya Kamu enak sekali.” kataku memuji, Indi hanya tersenyum saja. Aku juga heran, kenapa aku bisa lama juga keluarnya. Tubuh kami berdua sudah basah oleh keringat, kami masih mengayuh bersama menuju puncak kenikmatan. Akhirnya aku tidak kuat juga menahan kenikmatan ini. “Aahh Ndi.., Aku hampir keluar..,” kataku agak terbata-bata.

“Aku juga Rick..! Kita keluarin sama- sama ya Sayang..!” kata Indi sambil menggoyang pantatnya yang bahenol itu. Goyangan pantat Indi semakin liar. Aku pun tidak kalah sama halnya dengan Indi, frekuensi genjotanku makin kupercepat, sampai pada akhirnya, “Aaakkhh.., Ericckk..!” jerit Indi sambil menancapkan kukunya ke pundakku. “Aakhh, Indii.., Aku sayang Kamuu..!” erangku sambil mendekap tubuh Indi. Kami terdiam beberap saat, dengan nafas yang tersenggal-senggal seperti pelari marathon.

“Kamu hebat sekali Rick..!” puji Indi. “Kamu juga Ndi..!” pujiku juga setelah agak lama kami berpelukan. Kemudian kami cepat- cepat memakai pakain kami kembali karena takut adik tunangannya Indi keburu datang.


Rabu, 03 Oktober 2018

Prediksi togel - Rabu 03 Oktober 2018


 >>>SINGAPOREPOOLS<<<


ANGKA MAIN : 6 5 0 3
TOP 2D : 06 15 20 33 46
CADANGAN 2D : 56 65 70 83 96
TOP SHIO : Monyet Tikus Ular
COLOK BEBAS : 0 3 5
AS : 3 4 5 
KOP : 7 8 9
KEPALA : Kecil / Ganjil
EKOR : Kecil / Ganjil



Bermula dari kebiasaanku setiap pagi saya naik bus dari terminal dikawasan Jakarta timur. Sampai suatu hari ada seorang wanita yang naik bersamaan dengan saya. Saya perhatikan wanita ini tampak biasa saja, usianya saya perkirakan sekitar 21an, tetapi dengan setelan blazer dan rok mini yang ketat warna biru tua, sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih. Hari itu dia naik bersama saya dan diluar dugaan saya, dia duduk disamping saya padahal ada bangku lain yang kosong.
Tapi okelah saya anggap itu adalah wajar tapi sungguh saya tidak berani menegur, kadang kala saya melirik ke arah pahanya yang putih dan sedikit di tumbuhi bulu-bulu halus dipermukaannya. Hal ini membuat saya betah duduk bersama dia selain juga wanginya membuat saya sangat bangga bisa duduk berdampingan dengan beliau. Begitulah hingga hari ketiga hal yang sama terjadi lagi dan kali ini saya coba mau menguji keberuntunganku, maka saya mulai menegur.
“Selamat pagi mbak”, tegurku padanya.
“Pagi juga”, si mbak cantik menjawab dengan senyum yang cantik dimata saya, lalu saya buka omongan.
“Kayaknya udah 3 hari berturut-turut kita barengan terus ya ? Ngomong-ngomong mbak mau turun dimana sih..?”, tanyaku.
“Di Sarinah mas”, jawabnya.
“Apa mbak kerja disana ?”, tanyaku basa-basi.
“Oh tidak, saya kerjanya dekat Sarinah”, jawabnya sekenanya.
Lalu terjadilah percakapan biasa meliputi kemacetan lalu lintas.
“Kalau kamu kerjanya dimana ?”, tanyanya.
“Saya kerjanya dibagian komputer mbak”
“Ohh pas banget, kantor saya juga banyak pakai komputer. Bole dong minta kartu nama kamu, barangkali butuh teknisi komputer saya bisa hubungi kamu”
Maka sayapun memberikan kartu nama saya. Tapi waktu saya minta kartu namanya, dia tidak kasih dengan alasan tidak punya. Ternyata hari ini adalah hari baik saya dengan segera saya tau namanya “Anis” . Setelah dari itu, kami selalu bersama tiap pagi dan telepon pun mulai berdering dengan segala basa basi.
Suatu ketika, saya tidak melihat dia selama 5 hari berturut, saya sempat menunggu sampai telat tiba dikantor, saya hubungi telepon dikantornya juga tidak masuk. Akhirnya dia telepon juga katanya sakit. Tepatnya hari Senin kita kembali bbertemu, kali ini tanpa mengenakan seragam hanya memakai celana jeans dan kaos T-shirt sehingga dadanya yang montok itu tampak jelas membuat perhatian orang-orang disekitar kami. Kali ini dia ajak saya untuk bolos.
“Mas saya butuh bantuan nih”, katanya.
“Ya, apa yang bisa saya bantu ?”
“Mas, kalau bisa hari ini nggak usah ke kantor ya, temenin saya ke Bogor yuk ? Ya, kalau mas nggak keberatan sih”
Saya berpikir sejenak, lalu saya tanya lagi lagi.
“Memang kamu mau nggak kerja hari ini ?”
“Saya sedang ada masalah nih mas, ya agak pribadi sih… kira-kira bisa nggak mas ?”
Saya nggak pikir lagi, saya jawab langsung,
”Iya saya temenin deh…”, dalam hati sih, wah kasian ini customer saya yang udah pada di janjiin.
Dengan alasan keperluan keluarga saya ijin tidak masuk, saya jalan sama Anis kerumah temannya di Bogor. Setiba disana saya dikenalin sama temannya bernama Dewi, mereka bicara berdua dibelakang, sementara saya diruang depan seorang diri. Setelah itu mereka kembali lagi dan kita ngobrol bersama sama. Rupanya si Dewi punya janji dengan temannya kalau mau pergi jadi kita tinggal berdua saja dirumah itu, sambil ngobrol di karpet dan nonton TV, dengan manja Anis tiduran di pahaku, sambil bercerita macem-macem dan aku menjadi pendengar yang baik.
“Capek nggak mas ditidurin pahanya gini..?”, tanya Anis tiba-tiba.
“Ah nggak apa apa kok mbak…”, dalam hati sih pegel juga nih, udah itu batang kemaluan saya agak sedikit bangun gara-gara saya ngintipin dadanya yang montok dan putih. Dia pakai BH yang cuma separo  jadi gundukan daging di dadanya agak menonjol.
diluar dugaan dia tanya lagi , tapi kali ini nanyanya nggak tahu lagi iseng kali,
“Burungnya nggak keganggu kan ditidurin sama saya ?”, tanyanya mengejutkanku.
“Keganggu sih nggak, cuman agak bangun”, jawabku sekenanya.
”Biarin deh, bangunin aja pengen tahu, kayak apa sih…”, dia tersenyum sambil memegang batang kemaluan saya.
“Ya sudah bangunin saja…”, jawab saya pasrah sambil berharap hal itu beneran.
“Ah yang bener mas ?,kalau gitu buka dong biar aku bangunin…”
“Jangan disini mbak, nanti kalau mbak Dewi datang gawat…”
“Oh… tenang aja si Dewi pulang ntar sore, dia temen baik saya, saya sering nginap disini, dia juga suka nginap dirumah saya…”, katanya menyakinkanku.
“Ayo dong dibuka, katanya burungnya pengen dibangunin…”
Dalam keadaan duduk dan menyandar didinding ditambah lagi Anis yang tiduran tengkurap dikaki saya, jadi agak sedikit repot juga saya buka jeans saya. Cuma saya plorotin sampai batas paha saja.
”Ini sih masih tidur ya ? biar saya bangunin ya mass…”, katanya sambil mengenggam batang kemaluan saya.
Lalu mulai di kocok dan tangan yang sebelah lagi mengelus bagian kepala, membuat saya merasa geli tapi enak. Lalu ketika batang kemaluan saya mulai mengeras, dia makin mendekatkan wajahnya dan mulai mejilat dengan ujung lidahnya disekitar bagian bawah kepala kemaluan saya. Sekali-kali digigitnya kecil. Hal ini membuat saya merem melek.
“Mbak buka T-shirtnya dong…”, kataku
“Lho kenapa mas ?”, tanyanya.
“Pengen lihat saja…”, jawabku.
Lalu sambil tersenyum dia bangun dan mulai membuka ikat pinggang, kancing celana dan retsleting celana jeansnya. Sehingga perut bagian bawahnya tampak putih dan sedikit tampak batas celana dalamnya, lalu dia tarik T-shirt keatas dan dilepaskan. Sehingga dengan jelas saya lihat pemandangan indah dari dadanya yang montok uk 36, dan selanjutnya dia mulai menurunkan celana jeansnya. Sekarang tinggal pakai BH dan celana dalam saja.
“Oh… sungguh menakjubkan CD-nya yang mini sekali, betapa indah tubuh wanita ini montok dan sekel”, pikirku dalam hati.
Setelah itu kembali dia tiduran keposisi semula, tapi kali ini dia tidak hanya memainkan batang kemaluan saya, tetapi sudah mulai dimasukkan kedalam mulutnya. terasa lidahnya bermain diatas kepala kemaluan saya. Oh… nikmatnya, sambil membuka baju, saya mencoba mengangkat pantat saya agar lebih masuk. Rupanya dia tahu maksud saya, dia masukin full sampai ke tenggorokannya. Saya tidak pernah mengukur batang kemaluan saya sendiri tapi didalam mulutnya diujung batang kemaluan saya terasa sudah mentok dan masih tersisa diluar kira kira 2 ruas jari orang dewasa. Hingga membuat Anis sempat tersendak sesaat.
Aku pun segera berputar lalu merebahkan badan sehingga posisi sekarang 69, saya biarkan dia mempermainkan kemaluan saya. Sementara saya ciumin paha bagian dalam Anis yang mulus dan putih, sambil meremas bagian pantatnya yang masih tertutup celana dalamnya yang mini. Pelan-pelan saya tarik celana dalamnya, sampai terlihat dengan jelas bulu lebat disekitar kemaluannya yang kontras dengan warna kulitnya yang putih, begitu lebatnya sampai ada bulu yang tumbuh disekitar lubang duburnya.
Oh indah sekali panorama yang ada didepan saya, dan saya pun mulai menjilat vaginanya yang wangi sebab keliatannya dia rajin pakai shampo khusus untuk vagina. Pada saat itu terdengar suara merintih yang lirih,
“Oohhh… mas aku nggak tahan nih… Aaahhhh…”, desahnya tampak bersemangat.
Lubang kemaluannya mulai berlendir, buah dadanya mengeras. Akhirnya saya bangun dan langsung membalikkan tubuhnya, saya lepaskan juga BHnya, sehingga tampak tubuhnya yang montok dalam keadaan bugil. Saya perhatikan dari atas sampai bawah tampak sempurna sekali, putih, mulus, bulu kemaluannya tampak lebat. Waktu saya perhatikan itu, tangannya terus memegang batang kemaluan saya. Akhirnya saya renggangkan kedua pahanya dan saya angkat sehingga tampak jelas lubang vagina dan anusnya. Lalu saya tarik pelan-pelan batang kemaluan saya dari mulutnya dan merubah posisi. Saya peluk dia sambil menciumi bibir, leher, serta telinganya hal ini membuat dia terangsang.
“Mas… masukin saja mas… Aku sudah ga tahan mass…”, katanya dengan lirih.
Lalu saya bangun dan saya pandang dia, dan saya atur posisi kedua kakinya dilipat sehingga pahanya menempel di dadanya. Lalu saya jongkok dan saya pegang batang saya dan saya arahkan ke vaginanya, lalu saya tempelkan kepala kemaluan saya dan saya tekan sedikit demi sedikit, dan dia mulai merintih. Tangannya mencekram tanganku dengan kuat, matanya memejam, kepalanya bergoyang kiri dan kanan dan vaginanya basah kuyup. Hal ini membuat kepala pelirku basah, dan aku mulai berirama keluar masuk, tetapi hanya sebatas kepalanya saja. Kini dia mulai mencoba menggoyangkan pinggangnya dan mencoba menekan agar batang pelirku masuk total tapi aku bertahankan posisi semula dan mempermainkan terus. Akhirnya karena tidak tahan dia pun memohon
“Mas… Oohhh… masukin aja mas… Aahhh… nggak kuat nih mas…”, pintanya.
Akhirnya mulai aku mendorong batang kemaluanku perlahan tapi pasti, dengan posisi jongkok dan kedua kakinya berada diatas pundakku. Aku mulai menciumi dengkulnya yang halus itu, mbak Anis pun mulai menggoyangkan pinggangnya keatas dan kebawah. Kira kira 10 menit kemudian dia mulai merenggang dan gerakannya tidak stabil.
“Mas… Oohhhh… Ssshhh…”, rintihnya sambil membusungkan dadanya, tampak putingnya menonojol.
“Ayo mas… akhhh… terus… mas…”
Aku pun mulai memompa dengan irama lebih cepat sesekali dengan putaran sehingga bulu kemaluanku mengenai bagian klitorisnya, hal ini yang menyebakan mbak Anis “Orgasme” atau klimax, dan terasa cairan hangat menyiram batang kemaluanku, tubuhnya mengejang hebat.
“Mas… Ohhhhh… pssttt… Akh…”, nafasnya memburu. Cerita Semi
Sesaat kemudian dia terdiam, akupun menghentikan goyanganku, aku tarik pelan-pelan batang kemaluanku dan setelah dicabut tampak ada bekas cairan yang meleleh membasahi permukaan vaginanya. Nafas mbak Anis pun tampak ngos-ngosan seperti orang habis lari. Akupun duduk terdiam dengan kemaluanku masih tegang berdiri, mbak Anis pun tersenyum. Sembari tiduran diatas kedua pahaku dengan rambutnya terurai dia memandangi batang kemaluanku yang masih berdiri, tangannya memegang kemaluanku.
“Mas ini enak sekali… diapaiin sih kok bisa segede begini ?”, tanyanya padaku.
“Ah… ini sih ukuran normal orang asia…”, jawabku.
“Tapi ini termasuk besar juga lho mas…”, katanya.
Aku hanya terdiam sambil aku mengambil sebatang rokok, dan aku menyulutnya, dan kulihat mbak Anis tetap mempermainkan batang kemaluanku.
“Kasih kesempatan 5 sampai 10 menit lagi ya mas, biar saya bisa nafsu lagi…”, katanya sambil mempermainkan batang kemaluanku.
Aku hanya menjawab dengan hanya menganggukan kepala dan terdiam.
Ronde kedua dimulai di rebahkan badanku lalu dia ambil posisi diatas badanku dia kangkangin kedua paha di pegangnya batang kemaluanku yang masih keras dan tegang lalu dimasukan kedalam lubang vaginanya. Dia pun mulai melakukan gerakan naik dan turun, seperti penunggang kuda. Kedua buah dadanya berayun-ayun lalu secara reflek aku pegang kedua putingnya dan aku pilin-pilin, membuat mbak Anis terangsang hebat, kira hampir 1/2 jam kemudian aku merasakan spermaku akan segera keluar. Segera aku balikkan tubuhnya dan aku pompa kembali vaginanya dengan nafsu. Mungkin mbak Anis merasakan batang kemaluanku berdenyut menandakan aku sudah ingin menyemprotkan sprema ku.
“Diluar aja ya mas… aku pengen liat mass…”, mbak Anis merintih tidak karuan.
”Aduh… mas… ohhh… enak mass… akhhh… masss…”
Akhirnya mbak Anis kembali orgasme, membuat vaginanya basah, hal ini membuat aku makin enak, akhirnya aku tak bisa menahan lebih lama spermaku yang sudah di ujung batang penisku siap menyemprotkan semuanya. Segera aku tarik batang kemaluanku, tangan kananku mengocok batang kemaluanku sendiri dan tangan kiri menekan pangkal batang kemaluanku sendiri. Pada saat itu mbak Anis memasukan salah satu jarinya kelubang anusku membuat spermaku muncrat banyak sekali berhamburan diatas dada, perut, dan diatas rambut kemaluannya. Akupun segera berbaring disampingnya, istirahat sebentar, lalu kekamar mandi, untuk mandi bersama.
Dikamar mandi kami saling menyabuni, sambil aku meremas-remas kedua buah dadanya yang basah oleh sabun, mbak Anispun memainkan batang kemaluanku yang masih setengah tidur tapi masih aja mengeras, lama-lama aku tegang lagi karena permainan tangan mbak Anis dengan sabunnya.
“Mbak, tadi kok minta dikeluarin di luar kenapa ?”
“Iya… saya senang kalau melihat kemaluan laki-laki yang akan segera mengeluarkan sperma…”
“Mas ini bangun lagi ya ?, tanyanya ketika melihat batang kemaluanku kembali mendongak keatas.
“Boleh masukin lagi nggak ?”, jawabku hanya mengangguk dan kembali bertanya.
“Tapi dari belakang ya mas…”, dia menjawab sambil membalikan badan yang masih penuh sabun dan posisi setengah membungkuk.
Kedua tangannya berpegang di sisi bak kamar mandi dan kedua kakinya direnggangkan sehingga tampak jelas sekali lubang vaginanya, juga lubang anusnya. Aku jongkok dibelakangnya sambil mempermainkan lidahku di sekitar vagina dan kedua pantatnya, lama-lama kudengar desahan suara diantara gemericik air yang mengalir ke bak mandi. Segera kuambil sabun sebanyak mungkin aku gosok di batang kemaluanku, lalu aku genggam batang kemaluanku dan kepala kemaluanku kutempel di permukaan lubang vaginanya. Terdengar desahan dan mulai menggerakkan batang kemaluanku maju mundur, nikmat sekali dan mbak Anispun tampak menikmati dengan menggerakkan pinggulnya kekanan dan kekiri. Kurang lebih 10menit mbak Anis kembali kepuncak kenikmatan, lendir hangat kembali membasahi batang kemaluanku.
”Keluar lagi mbak ?”
Ia hanya menganggukan kepalanya, lalu pelan-pelan kembali kugerakan batang kemaluanku maju mundur sambil menunggu mbak Anis terangsang lagi. Kulihat lubang duburnya yang agak mencuat keluar, lalu kucoba kumasukan jari telunjukku kedalam duburnya setelah aku beri sedikit sabun, terdengar sedikit rintihan
“Ssstt… ah mas pelan-pelan”
Rintihan yang membuat aku semakin nafsu tiba-tiba aku ingin sekali mencoba untuk menikmati lubang duburnya yang keliatannya masih “Perawan” itu.
Kutarik pelan batang kemaluanku yang masih basah dan licin itu akibat lendir dari lubang kemaluan mbak Anis. Seketika itu kutempelkan kepala kemaluanku yang mengeras dipermukaan duburnya, kupegang batang kemaluaku sehingga kepalanya mengeras, aku mencoba menekan batang kemaluanku, karena licin oleh sabun maka kepala kemaluanku segera melesak kedalam.
“Akhhh… aduh masss… sssttt… ohh…”
aku berhenti sesaat, dan dia bertanya,
“Kok dimasukin disitu mas…?”, tanyanya.
“Sakit nggak mbak….?, kualihakan dengan pertanyaan kepadanya.
Mbak Anis diam saja, dan aku melanjutkan sambil berdiri agak membungkukkan badan tangan kiriku melingkar diperutnya menahan badannya yang mau maju, dan tangan kananku berusaha memegang vaginanya mencari klitorisnya. Hal ini membuat dia terangsang hebat, dan kutekan terus sampai masuk penuh, terasa olehku otot anusnya menjepit batang kemaluanku. Permainan ini berlangsung 1/2 jam lamanya, dan kembali aku tak mampu menahan spermaku didalam duburnya sambil kupeluk tubuhnya dari belakang aku tekan batang kemaluanku sedalam mungkin. Tubuhku bergetar dan mengeluarkan cairan sperma dalam duburnya, kubiarkan sesaat batang kemaluanku didalam anusnya sambil tetap memeluk tubuhnya dari belakang, dan tubuh kami masih berlumuran dengan sabun. Kami melepaskan nafas kecapaian lalu kami selesaikan dengan saling menyirami tubuh kami, lalu berpakaian dan duduk kembali menunggu mbak Dewi pulang, mbak Anispun tertidur di sofa karena kecapaian.
Ketika mulai senja ku lihat mbak Dewi pulang dan aku membukakan pintu, beliau bertanya,
“Mana si Anis ?”, dia bertanya.
Saya menunjukkan kepada mbak Anis yang sedang tertidur pulas karena kecapaian.
“Oh lagi tidur… capek kali ya ?, aku hanya diam saja dan mbak Dewi masuk kamarnya.
Tiba tiba aku ingin kencing dan aku kekamar mandi melewati kamarnya mbak Dewi. Secara nggak sengaja aku melihat dari antara daun pintu yang tidak rapat, mbak Dewi sedang ganti baju, aku lihat dia hanya mengenakan celana dalam saja, tubuhnya bagus , putih bersih dan sangat berbentuk. Aku sesaat terpana dan ketika ia mengenakan baju, aku buru buru kekamar kecil untuk buang air kecil, dan waktu keluar dari kamar mandi, mbak Dewi tengah menunggu depan pintu. sambil tersenyum dia bilang
“Tadi ngintip ya ?”, tanyanya sambil tersenyum kepadaku.
“Boleh liat semuanya nggak ?”, tanyaku kembali sambil tersenyum kepadanya.
“Boleh aja, tapi nggak sekarang, nggak enak sama…” sambil menunjukkan tangannya kearah ruang tamu.
Aku paham maksudnya, lalu dia masuk kamar mandi sambil tangannya menyempatkan meremas kemaluanku, aku segera kembali keruang tamu dan membangunkan mbak Anis.
Akhirnya aku dan mbak Anis sering melakukan hubungan sex dengan berbagai style di motel, villa, kadang-kadang dirumahku sendiri. Ketika aku ingin kerumahnya beliau selalu melarang dengan berbagai alasan, ternyata mbak Anis ini sudah bersuami dan memiliki seorang anak, ini membuat aku sangat kecewa.
Disaat aku mulai benar benar mencintainya, dan mbak Anispun sebenarnya menginginkan hal yang sama, tapi beliau sudah terikat oleh tali perkawinan, hanya saja dia tidak pernah merasakan nikmatnya hubungan sex dengan sang suami. Saat jumpa denganku dia cukup lama mengambil keputusan untuk menjadikan diriku sebagai kekasihnya , katanya bersama saya dia menemukan apa yang dia inginkan . Hubungan kami berlangsung setahun lebih sampai beliau pindah bersama suami ke Surabaya. Tapi aku yakin suatu hari aku pasti ketemu lagi. Oh mbak Anis sayangku, ternyata kamu milik orang lain, hingga saat ini aku masih berharap ketemu lagi. Setiap pagi aku masih setia menunggu kamu, walau tidak ketemu tapi kenanganmu masih tersisa dalam hatiku.

Senin, 01 Oktober 2018

Prediksi togel - Senin 01 Oktober 2018


 >>>SINGAPOREPOOLS<<<


ANGKA MAIN : 8 2 7 9
TOP 2D : 08 12 27 39 48
CADANGAN 2D : 58 62 77 89 98
TOP SHIO : Kambing Ayam Babi
COLOK BEBAS : 2 7 8
AS : 0 1 2
KOP : 3 5 6
KEPALA : Besar / Ganjil
EKOR : Besar / Ganjil



Sebenarnya sudah lumrah saat ini seorang cowok perawatan di dalam salon kecantikan, begitu juga aku karena seringnya mendengar kalau teman-teman kampusku melakukan perawatan di salon kecantikan akhirnya akupun tergiur untuk melakukan hal serupa, padahal sudah banyak yang bilang kalau aku sudah memiliki wajah keren dan postur tubuh yang cukup atletis.

Tapi hal itu masih aku anggap kurang untuk mendukung penampilanku, namaku Dimas dan usiaku baru 21 tahun. Di kampus aku sudah mempunyai pasangan kekasih Rere namanya, dia salah satu temanku juga mulai dari aku sekolah SMA dan hubungan kami sudah terjalin hampir 5 tahun. Selama itu juga belum pernah aku melakukan perselingkuhan karena bersama Rere aku sudah melakukan adegan seperti dalam cerita seks.

Bahkan hal itu beberapa kali sudah kami lakukan. Hingga hal itu juga yang membuatku untuk tetap setia pada Rere karena diapun begitu setia dan pengertian padaku. Pokoknya banyak yang bilang kalau aku dengannya sama persis seperti hubungan suami istri karena kami berdua memang selalu mesra baik di kampus maupun di luar kampus apalagi kami pasangan yang jauh berbeda.

Dari segi materi Rere jauh lebih berada di banding aku, tapi dia masih saja mencintai aku bahkan hingga 5 tahun ini. Kami sering menghabiskan waktu bersama di rumahnya karena Rere mempunyai orang tua yang jarang berada di rumahnya, mereka terlalu sibuk dengan pekerjaaanya bahkan tidak jarang mereka tidak pulang dari luar negeri maupun luar kota.

Tapi siapa sangka akhirnya akupun tidak jauha beda dengan laki-laki pada umumnya, aku berselingkuh dari Rere gadis yang selama ini sudah banyak melakukan adegan cerita seks denganku. Semua berawal ketika aku pergi ke salon kecantikan langgananku, karena memang aku sudah beberapa kali melakukan perawatan wajah di sini karena problem jerawat yang aku punya.

Ada seorang wanita yang masih muda tapi lebih tua jika di banding denganku, aku memanggilnya mbak Giska. Dengan umur yang sudah menginjak 27 tahun tapi dia masih terlihat layaknya anak muda sekarang, mungkin karena memang siempunya salon membuat dia pintar dan rutin merawat diri. Kulitnya terlihat mulus dan lembut di tambah dengan putih bersih.

membuat orang yang memandangnya akan merasa takjub. Apalagi mbak Giska sering memberikan senyuman manis pada setipa orang yang berpapasan dengannya apalagi dia pelanggan salonnya. Tidak terkecuali juga aku, karena seringnya pergi kesana akhirnya akupun mengenalnya bahkan tidak jarang mbak Giska sendiri yang merawat perawatanku biasanya asistennya.

Hari itu aku datang agak sore pada salonnya karena sebelumnya aku telah janjian dulu. Dan akhirnya aku sampai juga di salon itu pada waktu salon hampir tutup, asisten salon tersebut langsung menghampiri aku dan bilang kalau salon akan tutup tapi aku bilang kalau aku ada janji dengan mbak Giska yang punya salon, akhirnya diapun menyuruhku untuk menunggu karena mbak Giska baru ada tamu di ruangannya.

Setelah beberapa lama kemudian akhirnya dia keluar dengan seorang wanita yang terlihat emosi. Begitu juga mbak Giska, tapi dia langsung menyuruh semua karyawannya untuk pulang dan menyuruhku untuk masuk, katanya biar dia sendiri melakukan perawatanku. Akupun masuk dan langsung berbaring pada tempat perawatan biasa aku memakainya dan diruangan itu hanya ada satu tempat tidur.

Mbak Giska langsung membersihkan wajahku kemudian dia terus melakukan bagian dari perawatan ini. Namun begitu dia membuka masker yang telah kering dari wajahku diapun membersihkan wajahku dengan air hangat tapi belum lagi melakukan pemijatan wajah dia sudah mencium wajahku dari atas. Aku yang semula menutup mata langsung saja membukanya.

Tapi dengan tangannya mbak Giska menutup mataku. namun dia kembali mencium bibirku sambil berbisik lirih “Dimas bisa tidak kamu peluk mbak sekarang… ” Aku kembali membuka mataku dan aku lihat dia menatapku dengan penuh nafsu. Bagai dalam adegan cerita seks akupun menggangguk dan dia lkangsung merangakak naik ke atas tubuhku yang masih melekat pakaianku.

Akhirnya dia menunduk sambil terus melumat bibirku ” Ooouuugghh… aaaaaggggghhhh…. aaaaaaaggghhh… ” Akupun tidak tinggal diam saja, aku pegang tetek mbak Giska yang belum seberapa besarnya, tapi dengan lemnbut aku remas juga tetek itu, dan aku lihat dia menggelinjang pada akhirnya. Kini tagannya sudah bisa membuka pakaian yang menempel padaku.

Tanpa membutuhkan waktu lama akhirnya dia melihat kontolku yang berdiri tegak. Dengan sekali hentak aku dapat memasukkan kontolku tapi ketika aku melihat mbak Giska menyuruhku untuk melakukan oral terlebih dahulu akupun mencabut kontolku kembali dan langsung melumat bibir memekknya, dia tersentak dengan langsung memegang rambutku dan menjambaknya dengan lembut.

Aku memainkan lidahku dalam memeknya dan kusapu bersih klitorisnya, saat itulah aku mendengar mbak Giska mendesah sambil menggeliat bagai cacing kepanasan aku lihat ” Oooouuuugghh… aaaaagggghh.. Dimas… aaaagggh… nggak salah .. aku pilih kamu sayang… aaaaaaggghh… ” Katanya padaku sambil terus menjambak rambutku dengan mesranya.

Diapun bangun setengah duduk dan saat itu lah dia melihat permainan oralku. Sambil mengggigit bibirnya Mbak Giska terlihat begitu sange karena dia langsung menarik tubuhku dan berkata ” Sudah Dimas.. ayo lakukan sayang… aaaagggggghhhhh…… ” Akhirnya kembali aku menindih tubuhnya dan menancapkan kontolku pada lubang memeknya yang tercium begitu wangi.

Aku yakin mbak Giska sering melakukan perawatan pada memeknya, sekali tekan aku sudah dapat menerobos memkknya dan akupun menggoyang pinggulku saat itu. Kembali mbak Giska mendesah ” OOooouuugghh… ooouuuuggghh… Dimas… aaaaggghh… ” Desahan mbak Giska membuatku semakin ingin memberikan permainan yang tidak akan pernah dia lupakan sebelumnya.

Dengan memiringkan pantatnya akupun menancapkan kontolku dari arah belakang pantatnya, tapi pas masuk dalam memeknya. Dan akupun bergerak maju mundur pada memeknya, terlihat mbak Giska menjerit kenikmatan dan tidak berapa lama kemudian akupun menjerit karena kami berdua sama-sama mencapai puncak kepuasan, tubuhku lunglai di atas tubuh mbak Giska tapi dia terus mendekapnya.