www.dewalotto.com

www.dewalotto.com
Bandar Online Terbesar Terbonafit Terpercaya dengan Permainan Terlengkap All You Can Play in Dewalotto

Minggu, 08 April 2018

Prediksi Togel Minggu 08 April 2018...


>>> SINGAPOREPOOLS <<<


ANGKA MAIN : 5 8 9 2
Top 2D : 05 18 29 32 45 
Cadangan 2D : 58 69 72 85 92
TOP SHIO : Kerbao Kuda Ayam
COLOK BEBAS : 2 8 9
AS : 0 1 3
KOP : 4 6 7
KEPALA  : Besar / Ganjil
EKOR : Kecil / Genap

Pijat memang terbukti mampu meregangkan otot yang kaku dan menyegarkan tubuh. Makanya suamiku setiap malam minggu mendatangkan tukang pijat langgannya kerumahku. Namun setelah mengenal Pak Agus, semua menjadi berubah.

Tidak suamiku saja yang tambah segar akan service Pak Agus, aku pun menuai kepuasan tiada tara dengan kehadiran dia di rumahku. Hingga perselingkuhan itu pun terjadi. Berikut cerita panas dari kisah pribadiku yang lebih lengkap.

Aku adalah seorang isteri dari seorang karyawan swasta. Aku punya anak dua. Yang kedua kelas satu. Aku sering nungguin anakku yang kedua di sekolahnya, terutama waktu olah raga.

Guru olah raga anakku bernama Pak Agus. Ia suka sekali bercanda dan berhumor. Tubuhnya tinggi, kurang lebih 175 cm dan berbadan besar dan kekar. Warna kulit agak hitam. Ia baru saja bercerai dengan isteri 4 bulan yang lalu. Jadi ia seorang duda. Selain ia guru olah raga, ia pun pintar memijat. Banyak guru lain minta dipijet olehnya.

Ketika olah raga seperti biasanya ia memakai celana training. Sambil menunggu anakku aku memperhatikan ia yang sedang olah raga bersama murid-murid kelas dua. Begitu aku memperhatikan diantara selangkangannya aku lihat tonjolan yang memanjang dan besar. Aku berkata dalam hatiku, wuh panjang dan besar sekali barangnya.

Suamiku hobi dipijat. Tukang pijat langganannya selama ini adalah pemijat tunanetra.

“Guru olah di sekolah anak kita pintar memijat, ngerti urat lagi katanya. Coba saja mas!” kubilangi suamiku.

“Boleh juga kita panggil ke sini malam minggu depan. Mau enggak dia ngurut malam-malam?”

“Enggak tahu ya .. Coba aku tanyakan besok ya.”

Keesokan harinya aku pergi ke sekolahan dan bertemu dengan Pak Agus.

“Pak, mau enggak mijetin suami saya?” tanyaku. “Tapi kalo bisa malam hari, Pak.”

“Boleh juga asalkan ongkosnya mahal,” katanya sambil bercanda.

Setelah suamiku pulang kantor sambil makan malam aku ceritakan padanya bahwa Pak Agus mau.

“Boleh panggil ke sini tapi malam sekitar jam 22.00,” kata suamiku.

Sampai waktu yang ditentukan Pak Agus datang ke rumahku. Ia ngobrol dengan suamiku sambil bercanda sehingga baru saja kenal suamiku merasa akrab dengannya. Aku duduk di dekat suamiku menemaninya. Kemudian suamiku menyuruhku merapikan kamar depan dekat ruang tamu.

Mulailah suamiku dipijet oleh Pak Agus sambil ngobrol ngalor-ngidul. Pak Agus banyak ngebanyol karena memang ia hobi bercanda. Aku nonton TV sambil tiduran di sofa ruang tamu ngedengerin obrolan Pak Agus dan suamiku.

Suamiku mulai bercerita agak serius dengan suara pelan-pelan.

“Aku ini tidak kuat dalam dalam hubungan seksual. Kenapa, ya? Jadinya isteriku suka marah-marah kalau hubungan intim. Kalau Pak Agus bagaimana dengan isteri Anda?”

“Saya sekarang duda sudah 4 bulan. Kalau dulu sebelum cerai saya kebalikan bapak. Ia kewalahan dengan kemampuan saya sampai ia minta cerai.”

“Wah, hebat kamu ini, Pak.”

Pak Agus yang biasanya suka bercanda mulai berbicara serius.

“Mungkin Bapak terlalu lelah, atau mungkin punya Bapak terlalu kecil dan pendek. Bapak urut yang membesarkan dan memanjangkan saja. Saya hanya bisa mengeraskan saja. Kalau memanjangkan dan membesarkan aku tidak bisa,” katanya pada suamiku.

“Wah, tukang urut yang memanjangkan dan membesarkan itu banyak yang bohong,” kata suamiku.

“Ada yang bener, Pak. Ada teman saya berhasil dari 13 menjadi 17 cm dan menjadi besar lagi,” kata Pak Agus berusaha meyakinkan.

“Pak Agus pernah nyoba enggak?” tanya suamiku selanjutnya.
“Saya tidak perlu karena punya saya sudah sangat panjang dan besar. Panjangnya 19 cm dan besarnya 4,5 inch,” jawab Pak Agus sambil tertawa. “Kalau punya bapak berapa?”

“Punya saya panjangnya 12 cm besarnya 2,5 inch.”

Mendengar obrolan suamiku dan Pak Agus aku berkata dalam hatiku.

“Wuh… besar dan panjang sekali punya Pak Agus, pantesan tonjolannya panjang dan besar dan itu belum bangun. Apalagi kalau barangnya sudah bangun.”

Aku jadi berkhayal, kalau seandainya…. Wah, nikmat sekali…

Setelah mereka selesai aku pura-pura tidur. Kemudian suamiku membangunkan aku.

“Bagaimana, Mas? Cocok enggak pijetan Pak Agus?” tanyaku setelah Pak Agus pulang.

“Wah bagus sekali, lebih bagus daripada langganan saya. Sekarang saya mau langganan sama Pak Agus saja. Saya sudah bilang kalau saya mau pijet tiap malam minggu.”

“Kalau kamu mau juga, boleh coba malam minggu depan. Pijetannya bagus kok. Badanku rasanya enteng dan enak sekali,” kata suamiku

“Aku mau, tapi malu mas, nanti ia cerita di sekolahan.”

“Ya enggak sih, nanti kita bilangin jangan cerita-cerita pada orang lain.”

Keesokan harinya saya ketemu Pak Agus. Sambil tersenyum, ia langsung bertanya padaku.

“Bagaimana Bu? Cocok enggak Bapak dengan pijetan saya?” tanya Pak Agus padaku.

“Cocok sekali… Malam minggu depan bapak disuruh suamiku pijet lagi. Bahkan suamiku mau langganan.”

“Ya.. Bapak sudah bilang sama saya.”

Setelah suamiku menawarkan untuk diurut oleh Pak Agus, hatiku tidak karuan, membayangkan bermacam-macam, bercampur takut dan ingin merasakan sesuatu. Karena memang aku jarang menemukan kepuasan dengan suami. Selain punya suamiku lemes, barang kecil dan pendek dan tidak tahan lama.

Hampir-hampir setiap malam aku membayangkan penis punya Pak Agus. Aku berkata dalam hati, barang Pak Agus pasti kehitam-hitaman, besar dan panjang. Biasanya orang yang agak hitam itu kuat, mana badannya tinggi, besar dan kekar. Pokoknya sangat jantan. Kayak apa kalau badan yang besar itu menindiku dan memelukku keras-keras, sementara badanku langsing seperti ini, dan tinggiku hanya 155 cm. Apa kuat aku ditindih badan raksasa itu.

Apa bisa masuk barang sebesar itu ke lobangku yang kecil ini. Apa tidak mentok kesakitan bila barang yang keras dan panjang ditekan ke lobangku dengan tenaga yang raksasa. Pokoknya aku membayangkan antara takut dan ingin merasakan.

Kata teman-temanku barang gede dan panjang itu sangat nikmat sekali. Saking nikmatnya, katanya sampai ngeyut ke ubun-ubun.

Malam ini malam minggu, Pak Agus akan datang. Hatiku berdebar-debar. Jam menunjukkan 21.30. Tak lama kemudian Pak Agus datang. Suami mempersilahkan masuk, dan bilang padanya bahwa aku mau juga dipijet malam minggu ini, dan suamiku minta tidak bercerita macam-macam ke orang lain. Pak Agus menjawab, “Ya, tidak dong, Pak.”

Suamiku mulai diurut. Kurang lebih jam 23.00 suamiku selesai diurut. Sekarang giliran aku yang akan diurut. Aku pakai kain sarung. Suamiku tiduran di sofa di ruang tamu sambil nonton TV.

Aku mulai tengkurep, hatiku dag-dig-dug. Pak Agus mulai menyingkap kain sarungku di bagian betis dan memegang betisku sambil mengurut pelan-pelan, aku merinding merasakan urutan Pak Agus, karena sebelumnya aku membayangkan sesuatu yang nikmat.

Kini Pak Agus membisu seribu bahasa tidak seperti biasanya suka bercanda dan berhumor, mungkin menikmati pandangan terhadap betisku yang mulus. Maklum ia menduda 4 bulan. Semakin merinding dan berdebar-debar hatiku ketika Pak Agus meletakkan kakiku ke pahanya.

Sambil mengurut ia maju sedikit-sedikit sehingga kakiku menyentuh ke bagian selangkangannya sehingga terasa kakiku menyentuh benjolan yang mulai mengeras. Dengan suara pelan dan terpatah-patah Pak Agus bertanya.

“Paha ibu mau diurut?”

“Ya pak, memang di bagian itu agak terasa nyilu-nyilu. Pelan ya, Pak,” aku pun menjawab dengan suara pelan.

Pak Agus mulai menyingkap pelan-pelan sarungku sampai di bawah sedikit pinggulku. Ketika Pak Agus mengurut pahaku sampai ke selangkanganku, aku merintih dengan suara pelan-pelan takut kedengaran suamiku. Pak Agus pun terasa meningkat rangsangannya terasa dari sentuhan tangannya yang kadang-kadang mengurut sambil mengelus dan meremas pahaku apalagi ketika sampai di selangkanganku.

Semakin timbul sensasi yang luar biasa ketika Pak Agus membuka kain sarungku di bagian atas pinggulku dan memelorotin cdku sedikit ke bawah. Kini ia mulai mengurut sambil meremas-remas pinggulku, dan rangsanganku semakin tinggi, aku merintih dengan suara pelan. Dan Pak Agus tahu kalau merangsang, aku juga tahu kalau Pak Agus juga merangsang.

Aku berkata dalam hatiku: sebelum aku diurut dalam posisi terlentang, aku akan pamit sama Pak Agus untuk buang air kecil sambil aku ingin melihat apakah suami sudak tertidur atau belum.

Ketika Pak Agus menyuruhku terlentang, aku berkata kepadanya: “Aku mau ke kamar mandi dulu untuk buang air kecil.” Ketika keluar kamar aku lihat suamiku tertidur pulas mungkin karena lelah seharian dan habis diurut.

Di kamar mandi aku berkata dalam hati. Kalau nanti sarungku disingkap sampai ke selangkanganku dalam posisi terlentang, pasti Pak Agus akan melihat bulu jembutku. Ia akan semakin merangsang. Aku menginginkannya meraba vaginaku dan memasukkan jarinya ke lobang vaginaku.

Setelah masuk ke kamar, aku bilang bahwa suamiku tertidur lelap. Ketika mendengar kataku Pak Agus semakin bersemangat. Kini aku terlentang di hadapan Pak Agus. Dan Pak Agus tidak was-was lagi ia membuka sarungku sampai ke selangkanganku. Aku memenjamkan mata sambil menggigit bibirku.

Kini Pak Agus tidak memijat lagi tetapi ia mengelus-elus dan meremas-rema pahaku dengan gemesnya. Kini ia melihat bulu jembutku dan mengelus-elus bibir vaginaku, dan semakin tidak tahan rasanya aku ingin memegang barangnya Pak Agus sambil penasaran tapi malu. Pak Agus semakin berani menusukkan jarinya ke lobang vaginaku yang sudah membasah dengan ledir.

Aku mulai memberanikan diri meraba selangkangan Pak Agus. Dan Pak Agus membuka resleting celananya. Sambil aku melirik ke selangkangannya, Pak Agus mengeluarkan rudalnya. Aku terkejut astaga besar dan panjang sekali. Warnanya kehitam-hitaman, nampak urat-uratnya mengeras, dan kepala rudal jauh lebih besar lagi dari batangnya. Aku menggenggamnya tapi genggamanku tidak muat saking besar.

Sambil mengelus-elusnya, aku bayangkan kalau rudal yang kepalanya sangat besar ini dimasukkan ke lobangku. Apakah tidak robek lobang vaginaku dan jebol lobang rahimku. Sensasiku semakin meningkat. Perasaanku bercampur ingin menikmati dan takut robek dan jebol.

Pak Agus kini semakin ganas mengocok lobang vaginaku dengan jarinya, dan aku sangat ingin ditindihi dan disetubuhi tapi takut kalau suami bangun kalau mendengar jeritanku. Sambil mengocok Pak Agus menciumi pipiku. Pelan-pelan ia lalu mengecup bibirku, semakin lama ia semakin ganas mencipoki, aku pun terangsang berat.

Kemudian ia memelukku dan menindihku sambil berusaha menyingkap sela-sela samping CD-ku untuk memasukkan rudalnya, tapi tidak berhasil masuk. Kemudian ia menekan lagi.

“Aduh…” jeritku sambil menggigit bibirku tidak tahan.

Tekanan kedua kalinya ini tidak berhasil memasukkan rudalnya ke lobang vaginaku. Kemudian ia menekan lagi dengan tenaga yang super keras dan hampir masuk, tapi terdengar suara suamiku mengegok. Pak Agus dan aku pun kaget terbangun dan menutupkan sarungku ke seluruh tubuh. Dan aku mengakhiri pijetan.

Kemudian aku membangunkan suamiku. Pak Agus pun pamit pulang karena memang sudah larut malam. Kemudian aku mengajak suami masuk kamar, aku sudah tidak tahan. Barang suami juga mengeras tidak seperti biasanya. Kini aku menyalurkan rangsanganku dengan suami sambil membayangkan disetubuhi Pak Agus. Malam minggu itu aku benar-benar merasakan puncak orgasme yang luar biasa tidak seperti biasanya, juga suamiku.

“Ma… Malam ini tidak seperti biasanya. Urutan Pak Agus memang luar biasa membuat kita benar-benar mencapai puncak kenikmatan yang luar biasa. Kita minggu depan urut lagi ya, Ma…” kata suamiku.

Hari-hari aku hidup dalam bayangan: Kalau malam minggu depan suamiku tidak ada di rumah, aku akan menyiapkan minyak pelumas agar dioleskan ke lobang vaginaku. Aku membayangkan barang Pak Agus yang besar dimasukkan sambil melelukku, menyepokiku dan menggenjotku. Membayangkannya saja sangat nikmat apalagi benar-benar dimasukkan. Sambil rasa khawatir kalau lobangku nanti robek dan lobang rahimku jebol.

Kini malam minggu datang, hatiku berdebar-debar membayangkan sesuatu yang besar dan panjang, membayangkan lobang vaginaku membengkak lebar, dan lobang rahim diterobos barang besar. Pak Agus datang memakan pakaian yang serasi nampak sangat gagah dan manis. Ketika suami ngobrol dengan Pak Agus telpon berdering. Ternyata teman suamiku mengajak ke luar kota untuk mengurus bisnisnya.

“Ya nanti setelah dipijet,” jawab suamiku.

Malam minggu ini aku semakin yakin bahwa aku akan disetubuhi dengan Pak Agus.

“Ma… saya nanti setelah diurut akan pergi ke luar kota,” kata suamiku padaku.

“Jadi, saya tidak usah dipijat, habis tidak ada Mas.”

“Tidak apa-apa pijet saja, Pak Agus orangnya baik, aku sudah percaya kok.”

Mendengar pernyataan suamiku, hatiku girang karena sebentar lagi pasti aku disetubuhi oleh Pak Agus yang berhari-hari aku membayangkannya.

Setelah suamiku selesai diurut ia mandi. Dan Aku bilang pada Pak Agus, “Tunggu dulu ya pak, minum-minum dulu kopinya. Aku mau menyiapkan pakaian bapak untuk ke luar kota.” Setelah suamiku menyiapkan semua yang akan dibawa ke luar kota, ia pamit ke Pak Agus. Aku mengantarkan sampai pintu gerbang.

Begitu Bapak berangkat hujan turun rintik-ritik. Aku masuk ke ruang tamu dan bilang sama Pak Agus, “Tunggu dulu ya pak, aku pakaian dulu.” Aku memakai sarung dan kaos… dan sengaja aku tidak memakai BH dan celana dalam.

Begitu aku keluar, sorotan mata Pak Agus menatap payudaraku, aku tersenyum. Aku duduk di kursi sebentar. Aku bayangkan bahwa Pak Agus duda selama 4 bulan, berarti ia tidak berhubungan selama 4 bulan. Aku yakin ia tidak jajan sembarangan. Aku begitu yakin malam minggu ini aku akan digenjot berkali-kali dan berjam-jam. Memang aku ingin sekali berhubungan badan sepuas-puasnya.

Sekarang aku memilih kamar untuk urut di bagian belakang, agar jeritanku yang keras nanti tidak terdengar oleh siapapun. Aku mengajak Pak Agus ke kamar belakang, dan hujan turun cukup deras sehingga cuaca dingin mengantarkan impianku, dan tidak akan terdengar suara apa pun kecuali jeritanku, bunyi cipokan yang mengganas, dan bunyi lobang vaginaku yang digenjot oleh kepala rudal besar dan tenaga yang super keras.

Kini aku beduaan yang sama mengharapkan kepuasan seksual dengan sepuas-puasnya. Pak Agus membuka kain sarungku dan tinggal kaos yang menutupi payudaraku. Ia meremas-remas pahaku. Aku mengelinjang-gelinjang. Kemudian Pak Agus membuka celananya. Rudalnya tegang, membesar dan memanjang.

Uratnya mengeras dan kepala rudalnya membesar sekali. Ia menciumi pahaku terus ke bibir vaginaku. Aku sudah tidak tahan karena mulai tadi sudah merangsang karena membayangkan kenikmatan yang sebentar lagi akan aku rasakan.

Ia membuka bajunya dan kaosku. Kini kami berdua telanjang bulat. Hujan turun makin lebat, jam menunjukkan 23.00. Ia meremas-remas tetekku sambil mengocokkan jarinya ke lobang vaginaku.

“Pak, masukkan… aku sudah tidak tahan.”

“Aku juga tidak tahan, aku sudah 4 bulan tidak pernah berhubungan badan, aku ingin malam minggu ini benar-benar puas, mungkin aku main sampai pagi,” timpal Pak Agus.

“Aku juga pak… Aku serahkan semua tubuhku pada Pak Agus. Tapi, oleskan minyak pelumas yang kusiapkan ini ke lobang vaginaku dan ke rudal Bapak agar aku tidak merasakan sakit.”

Aku siapkan parfum dan minyak pelumas yang harum.

“Bu… lobang Ibu kecil sekali,” katanya begitu ia mengoleskan minyak pelumas dicampur dengan ludahnya.

Kini Pak Agus mengangkangkan pahaku lebar-lebar. Pelan-pelan ia menindihiku. Aduh rasanya berat sekali. Ia arahkan rudal besar dan panjang itu lobang vaginaku. Ia menekan, tapi tak berhasil masuk. Kedua kalinya ia menekan lagi dan tidak juga berhasil masuk, aku menjerit kesakitan.

“Pertama rasanya agak sakit, karena lobang ibu kecil sekali, dan barang saya besar sekali, jauh tidak ngimbang,” katanya merayuku.

Ketiga kalinya ia mengolesi lobangku dengan minyak pelumas banyak sekali sampai meleleh ke lobang anusku, ia campur air ludahnya. Ia mengolesi juga rudalnya dicampur dengan ludahnya, kemudian ia menekan rudal besar, panjang, hitam dan keras sekali. Ia menekannya dengan tenaga yang super keras, akhir masuklah kepala rudal besar itu, dan aku pun menjerit kesakitan.

Ia terdiam, menahan sejenak, sambil menindihiku dan menciumiku, merayu dan berbisik ke telingaku.

“Ditahan sakit dahulu ya, nanti Ibu akan merasakan kenikmatan yang luar biasa.”

Aku mengangguk.

“Tahan ya, Bu, aku akan tekan lagi agar masuk semua,” bisiknya lagi.

Ia menekannya dengan tenaga yang keras, aku tidak tahan.

“Aduh.. sakit, Pak,” Jeritku tertahan sambil menggigit bibir.

Akhirnya barang itu trot… bleees… masuk semua. Rasanya rudal itu masuk menembus ke lobang rahimku. Kini beralih dari rasa sakit ke rasa nikmat yang luar biasa.

“Pak .. rasanya nikmat sekali.”

Semakin ganaslah Pak Agus menggenjotnya. Nyaring sekali bunyi lobang vaginaku akibat genjotan yang luar biasa. Nikmatnya luar biasa terasa sampai ke ubun-ubun, aku menggigil, meraung-raung kenikmatan.

“Aah… uuuh… uuh… aku… aku… mau mencapai puncak, Pak…”

Pak Agus menekan keras-keras. Aku pun mencapai puncak kenikmatan yang luar biasa yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Pak Agus sangat kuat dan bertahan lama, ia belum mencapai orgasme. Aku sudah lemas, tapi karena Pak Agus meremas-remas kembali tetekku dan menjelati vaginaku, aku mulai merangsang lagi.

Pak Agus menyuruhku nungging. Ia menusukkan kembali rudalnya dan mengocoknya dan menggenjot dari belakang, bunyinya semakin keras, ceprok… ceprok.. ceprok… sambil ia mengelus-ngelus lobang anusku. Ia ngambil minyak pelumas dan dioleskan ke lobang anusku, jarinya ditusukkan ke lobang anusku.

“Aduh… Pak!” jeritku.

Tapi ia pintar sekali menciptakan rangsangan baru. Ia kocok lobang anusku pelan-pelang dengan jarinya, lama-lama aku merasakan nikmat.

“Enak.. Pak… Nikmat… Pak.”

Akhirnya Pak Agus menambahi minyak pelumas ke lobang anusku, dan mencabut rudalnya dari vaginaku, ia oles-oleskan kepala rudalnya ke pintu anusku.
“Hangat rasanya, nikmat Pak, nikmat Pak.”

Kemudian menusukkan tepat ke lobang anusku dan menekannya. Akhirnya barang besar itu masuk juga. Cepret… prot… ia tekan pelan-pelan hingga separuh penis itu. Ia mendorongku agar aku tengkurep. Begitu tengkurep ia menindihku, menekankan lagi sisa separuhnya. Aduh nikmat sekali rasanya di anus.

Sampai terasa ada cairan muncrat dari dalam lobang anusku. Ia terus mengocok dan menggejot semakin cepat, aku merasakan nikmat sambil menahan genjotan. Prot… prot… druuuuut. Semakin ganas ia menggenjot sampai aku terkentut-kentut dibuatnya. Akhirnya Pak Agus mencapai puncaknya dan muncratlah pejunya memenuhi lobang anusku.

Malam minggu itu aku benar-benar merasakan kenikmatan yang luar biasa. Aku disetubuhi oleh Pak Agus sampai 4 kali hingga pagi.

Pak Agus guru olah raga yang humoris. Setelah kejadian yang pertama itu aku masih sering ke sekolahan tapi aku sering menghindar untuk ketemu Pak Agus karena malu dengan kejadian yang kualami itu, kecuali banyak teman-teman.

Pada suatu ketika aku duduk berjauhan dari tempat olah raga, tapi aku melihat Pak Agus memperhatikan aku dari kejauhan, dan waktu itu kebetulan sepi tidak ada ibu-ibu yang lain. Pak Agus memandangi aku, aduh .. aku rasanya malu, kemudian ia duduk di sebelahku dan bertanya.

“Bagaimana, Bu… Masih terasa sakit dan nyelunya. Maafin aku ya, Bu..”

“Enggak kok udah enggak… Memang sehabis berhubungan badan dengan Pak Agus itu terasa lobang vaginaku terganjal oleh sesuatu sampai dua hari,” jawabku sambil tersenyum malu.

Pernah suatu malam aku diajak nonton film BF oleh suami, aku pura-pura menolaknya, tapi suamiku memaksa dengan merayuku.

“Bagus kok filmnya dan agar kita nanti lebih hangat lagi. Kebetulan film itu antara orang hitam dan wanita Jepang.”

Ketika melihat kemaluan orang hitam aku terbayang barang Pak Agus.

“Pa.. besar dan panjang sekali anunya… sampai perempuannya menggeliat-geliat, menggigit bibir, dan ngerinti-rintih, sakit kali ya, Pa ..” bisikku pada suamiku.

“Tidak justeru itu ia merasakan puncak kenikmatan.”

“Kalau punya Papa… seperti itu asyik ya, Ma ..” bisik suamiku.

“Ah, mana mungkin. Papa kan orangnya kecil dan pendek, sedangkan dia tinggi besar.”

Suamiku berbisik lagi sambil meraba barangku: “Mungkin punya Pak Agus seperti itu ya, Ma..”

“Enggak tahu ya, Pa.. Kok Papa bilang begitu?” jawabku dengan perasaan terangsang.

“Ya soalnya dia pernah cerita pada saya.”

“Apa ceritanya, Pa ..?”

“Dia kalau berhubungan badan dengan isterinya, sebelum ia cerai, isterinya sampai sambat-sambat. Padahal isterinya juga tinggi besar, bagaimana kalau isterinya kecil seperti kamu?”

“Papa… kok isterinya Pak Agus dibandingin ke Mama..” sambil kuremas barangnya dengan gemes.

“Orang hitam itu kuat dan ganas mainnya, lihat tu Ma..”

“Papa…” aku jadi merangsang suamiku.

Kemudian filmnya dihentikan kami main dengan sangat hot sekali, tapi tidak se-hot waktu main dengan Pak Agus.

Besok harinya aku semakin ingin dipijet lagi oleh Pak Agus. Aku terbayang terus, setelah nonton adegan orang hitam dengan perempuan Jepang di film itu. Malam minggu kurang tiga hari. Pikiranku membayangkan apa yang akan terjadi pada malam minggu nanti setelah aku dipijet oleh Pak Agus.

Aku masih terbayang ketika barang Pak Agus yang besar, panjang dan keras itu mulai memasuki pintu kemaluanku. Aku rasanya mau menjerit karena bercampur antara sangat nyilu dan nikmat dan hangat.

Aku masih terbayang waktu ia mengecup bibirku dengan gemes sambil mengayunkan barangnya ke lobang kenikmatanku dengan diiringi bunyi ceplak.. ceplok.. srook…

Belum hilang dari bayanganku barang yang kepala lebih dari batang bagian tengah dan pangkalnya itu ketika dicabut dari lobang vaginaku berbunyi trooot.. ceplok… Apalagi waktu barangnya dimasukkan lobang anusku yang awalnya terasa sakit lalu dengan pandainya permainan Pak Agus rasa sakit itu rasa nikmat yang sulit kubayangkan.

Kini tibalah malam minggu, malam yang kunanti-nantikan. Suamiku, sebagaimana biasanya, mempersilakan Pak Agus masuk. Sebelum memulai memijet, Pak Agus ngobrol dulu dengan suamiku. Sementara itu aku membuatkan kopi untuk mereka berdua.

Tak lama kemudian suamiku mulai diurut. Sedang enak-enaknya diurut, tiba-tiba ada telpon dari Bosnya. Aku pun memanggil suamiku.

Setelah berbicara di telepon beberapa lama dengan bosnya, ia berkata padaku bahwa ia diajak ke luar kota untuk urusan bisnis. Lalu ia memberiku uang agar diberikan ke Pak Agus nanti setelah aku selesai diurut.

Dalam hati sebetulnya aku merasa sangat terangsang. Pikiranku membayangkan bahwa aku dan Pak Agus sebentar lagi akan melakukan sesuatu yang kenikmatannya sulit aku bayangkan.

Setelah selesai diurut, suamiku mandi, sementara aku mempersiapkan pakaian untuknya. Aku mengantarkan suamiku sampai di pintu melepas keberangkatannya. Setelah itu aku menutup dan mengunci pintu.

“Sebentar ya Pak, teruskan dulu minum kopinya, aku mau ganti baju,” kataku pada Pak Agus.

Aku memakai sarung dan kaos yang tipis, tanpa memakai CD dan BH, karena aku membayangkan sebentar lagi aku akan melakukan hubungan badan yang luar biasa.

“Gaya apa saja malam minggu ini yang akan dilakukan oleh Pak Agus terhadapku?” tanyaku dalam hati sambil berganti pakaian. Kusemprotkan parfum yang istimewa ke tubuhku.

Aku keluar dari kamar utamaku kemudian duduk dulu di ruang tamu bersama Pak Agus. Pak Agus tersenyum. Aku pun membalas senyumannya dengan memberi isyarat yang ia pahami maksudnya.

Kemudian Pak Agus mengajakku ke kamar tempat urut biasanya. Sepertinya Pak Agus sudah tidak sabar lagi. Aku mulai tengkurep. Pak Agus tidak mengurutku seperti biasanya karena nafsunya yang sudah sangat menggelora.

Ia menyingkap sarungku sampai ke panggulku. Ia mengelus-elus pahaku dan meremas-remas pinggulku. Ia ciumi pahaku dan pinggulku. Aku kini sudah tak berdaya karena lama aku menyimpan nafsu birahi.

“Pak .. malam ini aku ingin benar-benar puas, seperti puasnya perempuan Jepang yang digauli oleh orang hitam di dalam film BF,” rintihku.

Pak Agus dengan nafsu yang menyala-nyala dan ganas bertanya kepadaku.

“Ibu nonton film BF? Bagaimana ceritanya?”

“Laki-lakinya seperti Pak Agus, barangnya sangat besar dan panjang. Ia dengan ganasnya mengocok perempuan Jepang sampai berkali-kali. Ia merintih-rintih, lalu ia tergeletak lemas dengan memperoleh kepuasan yang luar biasa. Pak Agus.. Aku juga malam minggu ini ingin seperti perempuan Jepang itu.”

Kemudian Pak Agus membalikkan tubuhku. Kini aku terlentang, dan Pak Agus dengan mudah membuka sarung. Memang aku sebelumnya tidak memakai CD. Ia mengangkangkan kedua kakikuku, lalu ia menciumi kemaluanku sambil meludahi lobangnya dan meremas-remas payudaraku. Kini aku tak kuasa lagi menahan nafsuku, rasanya ingin meledak.

Pak Agus membuka baju kaosnya dan celana dan CD-nya. Barang Pak Agus luar biasa tegak dan keras, besar dan panjang. Kemudian ia membuka kaosku. Kini kami berdua telanjang bulat dengan sinar yang cukup terang. Sehingga nampak jelas urat-urat kemaluan Pak Agus yang siap menerjang lobang kemaluanku.

Pak Agus merebahkan tubuhnya kemudian memelukku dengan gemes dan mengecup bibirku sambil menggigit-gigitnya, sementara penisnya dijepitkan ke antara kedua pahaku. Terasa hangat di pangkal kedua pahaku sambil barangnya bergerak-gerak. Kini Pak Agus sudah tidak sabar lagi, akupun juga. Pak Agus menindihku.

“Aduh… Pak… berat sekali badan Bapak,” kataku terengah-engah di bawah himpitan tubuhnya.

Pak Agus mengangkangkan pahaku seperti V. Ia meludahi lobangku dan barangnya agar licin dimasukkannya. Begitu banyak Pak Agus meludahi lobangku sampai meleleh ke pintu lobang anusku.

Pak Agus mengarahkan barangnya yang sangat besar, panjang dan keras itu ke lobang vaginaku yang kecil tapi montok. Ia menekannya tapi pertama dan kedua kali tidak berhasil Masuk.

“Aduh.. Pak.. Pelan-pelan, Pak,” jeritku.

“Katanya ingin puas ngerasain keganasan barangku?” Pak Agus berbisik dengan suara terengah-engah.

“Nanti, Pak.. kalau sudah masuk semua. Sekarang pelan-pelan dulu.”

Ketika ia menekan kembali, akhirnya penisnya berhasil menerobos lobang kenikmatanku. Croook… Trooot… Bleees… Kemudian ia menindihiku. Kini tubuh tinggi, besar dan kekar itu menindihi diriku yang kecil mungil. Ia mulai menggenjotku.

Mula-mula ia mengayunkan pinggulnya pelan-pelan. Makin lama makin keras dan ganas, sambil menekan. Ketika ia dengan ganasnya menekan penisnya sampai rasanya nyelu dan ngenyut, sambil memelukku dengan gemes dan ganas.

“Aduh.. Pak!” aku berteriak kecil.

Ia terus menggenjotku dengan tenaga yang kuat dan kerasa sampai aku terkentut karena menahan genjotannya. Memang nikmat sekali, nikmat yang luar biasa. Kemudian aku menggelinjang sambil merintih dan menjerit. Sroot… Aku memcapai puncak kenikmatan. Dan Pak Agus kuat sekali, ia belum juga orgasme.

“Udah dulu, Pak…” kataku dengan suaraku terengah-engah.

“Ibu tengkurep. Aku ingin masuk ke lobang belakang. Aku akan keluarkan spermaku di lobang belakangmu,” bisiknya padaku.

Aku mulai tengkurep, dan Pak Agus mulai menindihku. Ia meludahi lobang anusku sambil menusukkan jarinya. Aduh rasanya… Kemudian ia menusukkan rudalnya ke lobang anusku. Setelah empat kali tekan baru bisa masuk.

Ia menggenjot dengan ganasnya. Makin lama makin keras kocokan dan genjotannya, lalu muncratlah air hangat ke dalam lobang anusku. Aduh… nikmat lagi walaupun baru saja aku mencapai orgasme.

Sabtu, 07 April 2018

Prediksi Togel Sabtu 07 April 2018...

>>> SINGAPOREPOOLS <<<

ANGKA MAIN : 7 9 8 4
Top 2D : 07 19 28 34 48 
Cadangan 2D : 57 68 79 84 97
TOP SHIO : Kelinci Anjing Babi
COLOK BEBAS : 4 8 9
AS : 0 1 2
KOP : 3 5 6
KEPALA  : Besar / Genap
EKOR : Kecil / Genap

Kenalkan namaku Santi. Umurku 24 tahun. Statusku bersuami dengan 2 orang anak. Pekerjaanku cewe bokingan. Tetapi nanti dulu, jangan mencemoohku dulu. Saya bukan cewe bokingan kelas Kramat Tunggak apalagi Monas di Jakarta atau Gang Dolly di Surabaya.

Saya seorang cewe bokingan profesional. Oleh karena itu tarip pemakaian saya juga tidak murah. Untuk “short play” sebesar US$ 200, dengan uang muka US$ 100 dibayar saat pencatatan pesanan dan kekurangannya harus dilunasi sebelum pengguna jasa saya sebelum menaiki tubuh saya.

Jelasnya, sebelum kunci kamar tempat berlangsungnya permainan dikunci. “Short play” berlangsung 1 jam, paling lama 3 jam, tergantung stamina customer. Kalau sesudah 1 jam, sudah merasa capai, dan tidak memiliki lagi kekuatan untuk ereksi, apalagi untuk ejakulasi, artinya permainan sudah usai.

Semua kesepakatan ini tertulis dalam tata cara pemakaian tubuh atau jelasnya lagi tata cara persewaan kemaluan saya. Ini sudah penghasilan bersih, sudah merupakan “take home pay”. Saya tidak mau tahu soal sewa kamar, minum, makan malam dan sebagainya.

Semua aturan ini saya buat dari hasil pengalaman menjadi cewe bokingan selama 3 tahun (saya berniat berhenti menjadi cewe bokingan dua tahun lagi, bila modal saya sudah cukup). Saya tidak pernah diskriminasi, apakah pembeli saya itu seorang pejabat atau konglomerat. Pokoknya ada uang kemaluan saya terhidang, tak ada uang silakan hengkang.

More money more service, no money no service. Biasanya para langganan yang sudah ngefans betul pada saya masih memberi tips. Setelah persetubuhan selesai, saya akan menanyakan, “Bapak (atau Mas) puas dengan layanan saya?” Jawabnya bisa macam-macam. “Luar biasa!” mengatakan demikian sambil menggelengkan kepalanya.

Atau ada yang menganggukkan kepala, “Biasa!”. Tetapi ini yang sering, tanpa berkata sepatahpun memberikan lembaran ratusan ribuan dua atau tiga lembar. Untuk tarip “long-play atau “all night, tergantung kesepakatan saja, namun tidak akan kurang dari enam ratus dolar. Itu tentang tarip.

Sekarang tentang service. Saya akan menuruti apa saja yang diminta oleh pelanggan (customer) selama hal itu tidak merusak atau menyakiti tubuh saya atau tubuh pelanggan. Dengan mulut, oke, begitu juga mandi kucing atau mandi susu yaitu memijati tubuh pelanggan dengan buah dada saya yang putih dan montok, juga oke-oke saja. Tetapi bersetubuh sambil disiksa, atau saya harus menyiksa pasangan saya, saya akan menolak.

Tiga tahun menjadi cewe bokingan telah memberikan pengalaman hidup yang besar sekali dalam diri saya. Saya mempunyai buku catatan harian tentang hidup saya. Saya selalu menulis pengalaman persetubuhan saya dengan bermacam-macam orang, suku bangsa bahkan dengan laki-laki dari bangsa lain (Afrika, India, Perancis, dan lain-lain).

Tetapi kalau selama tiga tahun saya menggeluti profesi saya itu lahir dua orang anak manusia, (masing-masing berumur 2 tahun 3 bulan dan satunya lagi 1 tahun), tentunya saya tidak bisa bahkan tidak mungkin mengetahui siapa bapak masing-masing anak itu. Cobalah dihitung, kalau dalam seminggu saya disetubuhi oleh minimal 10 orang, dalam 1 bulan ada 30 orang yang memarkir kemaluannya di kemaluan saya (1 minggu saat menstruasi, saya libur).

Tetapi ini tidak berarti anak itu tanpa bapak. Resminya anak itu adalah anak Pak Fahri (nama samaran). Dia adalah boss tempat saya secara resmi bekerja. Seorang notaris dan sekarang sedang merintis membuka kantor pengacara. Pekerjaan resmi (pekerjaan tidak resmi saya adalah cewe bokingan) ini cocok dengan pendidikan saya. Saya, mahasiswa tingkat terakhir Fakultas Hukum salah satu universitas swasta, jurusan hukum perdata.

Tetapi nantinya saya kepingin menjadi notaris, seperti Pak Fahri ini. Sebetulnya saya ditawari Pak Fahri untuk menangani kantor pengacara yang akan didirikannya tadi. Tetapi saya tidak mau. Menurut persepsi saya (mudah-mudahan persepsi saya salah) dunia peradilan di negeri kita masih semrawut.

Mafia, nepotisme, sogok, intimidasi masih kental mewarnai dunia peradilan kita. Dari yang di daerah sampai ke Mahkamah Agung (ini kata majalah Tempo loh). Tetapi sudahlah itu bukan urusan saya. Lalu darimana saya kenal dengan Pak Fahri? Itu terjadi pada tahun pertama saya menjadi cewe bokingan.

Waktu itu saya hamil 2 bulan. Kebetulan Pak Fahri mem-booking saya. Setelah selesai menikmati tubuh dan kemaluan saya sepuasnya, saya muntah-muntah. Itu terjadi waktu saya bangun pagi. Dia bertanya apa saya hamil. Saya jawab iya. Lalu dia bertanya siapa bapaknya. “Ya entahlah”, jawab saya. Waktu itulah dia menawari pekerjaan untuk saya, kesediaan untuk secara resmi menjadi suami saya dan tentunya melegalisir bayi yang akan saya lahirkan.

Saya tidak tahu bagaimana dia mengurus tetek bengeknya di kantor catatan sipil dan bagaimana dia dapat menjinakkan isterinya. Yang jelas setelah itu tiap hari Selasa dan Kamis saya berkantor di kantor Pak Fahri. Lalu apa keuntungan Pak Fahri? Ya pasti ada. Tiap hari Selasa dan Kamis, dia akan sarapan kedua.

Mulai dari menciumi, meraba-raba badan dan buah dada, dan terakhir menyutubuhi. Kadang-kadang saya malah tidak sempat bekerja karena selalu dikerjai oleh suami saya tersebut. (Bangunan yang dipakai sebagai kamar kerja Pak Fahri dan saya terpisah dengan bangunan untuk ruang kerja stafnya).

Wajah saya memang cantik. Tinggi dan berat serasi, bahkan berat badan di atas angka ideal, namun terkesan seksi. Buah dada cukup besar, tetapi tidak kebesaran seperti perempuan yang menjalani operasi plastik dengan mengganjal buah dadanya dengan silikon.

Kata orang saya cukup seksi tetapi dari sikap dan penampilan sehari-hari juga terkesan cerdas. Singkat kata, kalau ada perempuan laku disewa Rp 1,6 juta sekali pakai, bayangkan sendiri bagaimana penampilan, penghidangan dan rasanya. Baiklah terakhir saya ceritakan tentang pengawal saya, atau bodyguard saya.

Namanya Yuda. Saya biasa memanggilnya Dik Yuda, karena memang usianya baru 21 tahun, tiga tahun lebih muda dari saya. Orangnya tinggi, atletis dengan potongan rambut cepak, dan penampilannya seperti militer.

Konon katanya, sehabis lulus SLTA Yuda pernah mengikuti tes masuk di AKMIL, tetapi jatuh pada tes psikologi tahap 2. Orangnya sopan (asli dari Klaten, Jawa Tengah) dan disiplin, dia juga sangat loyal pada saya (saya sudah sering mengetes kesetiaannya tersebut). Yuda sudah saya anggap adik sendiri.

Menjadi sopir pribadi, mengurus pembayaran kontrak, mengatur waktu kerja, melindungi dari berbagai pemerasan oknum keamanan dan sebagainya, pokoknya seperti sekretaris pribadi. Hanya saja dia tidak tinggal serumah dengan saya. Saya kontrakkan dekat dengan rumah saya. Selain itu dia masih mengikuti kuliah di Universitas Terbuka, Fakultas Hukum. Lalu berapa gajinya? Itu rahasia perusahaan.

Tetapi yang jelas, sebagai seorang penjaga putri cantik, atau penjaga “kebun wisata”, sekali waktu dia saya beri kesempatan untuk mencicipi atau menikmati keSantian “kebun” itu. Mula-mula dia memang menolak.

Itu terjadi pada suatu malam minggu di rumah. Dia saya panggil, saya minta dia memijati badan saya. Dia menurut. Saya hanya mengenakan gaun malam tipis dengan celana dalam dan BH yang siap dilepas. Mula-mula kaki saya dipijatnya pelan-pelan, enak sekali rasanya.

Rasanya tangannya berbakat untuk memijit. Kemudian naik ke betis, yang kiri kemudian yang kanan. “Dasternya ditarik ke atas saja Dik Yuda”, kata saya waktu dia mulai memijat bokong. Saya sengaja memancing nafsu seksnya sedikit demi sedikit.

Sementara nafsu saya sudah mulai terbangun dengan pemijatan pada bokong tadi. Bokong saya diputar-putar, dan nafsu seks saya semakin bertambah. Terus pemijatan pada pinggang, lalu punggung. Pada pemijatan di punggung kancing BH saya lepas, sehingga seluruh punggung dapat dipijat secara merata tanpa ada halangan.

Waktu Yuda memijat leher, dia terlhat sangat berhati-hati. Setelah saya membalikkan badan, Yuda akan memulai memijat dari kaki. Tetapi saya mengatakan agar dari atas dulu. Rupanya dia bingung juga kalau dari atas mulai darimana kepala atau leher, padahal dada saya sudah terbuka sehingga kedua bukit kembar yang putih dan kekar itu terbuka dan merangsang yang melihatnya. Belum sampai dia menjawab pertanyaan saya, saya sudah mengatakan,

“Dik Yuda, Mbak Santi dicium dulu yach!”

“Ach enggak Mbak jangan.”

“Lho kenapa? Dik Yuda nggak sayang sama Mbak ya?”

Tanpa menunggu jawaban, saya sambar leher Yuda, saya peluk kuat-kuat, saya cium bibirnya. Dengan kedua kaki saya, tubuhnya saya telikung, saya sekap. Dia terlihat gelagapan juga. Lama leher dan kepala Dik Yuda dalam dekapan saya. Rasanya seperti mengalahkan anak kecil dalam pergulatan karena Dik Yuda ternyata diam saja. Baru setelah lima menit, Dik Yuda memberikan perlawanan. Pelukan saya lepaskan.

Dia mulai mencium lembut pipi saya, turun ke dagu, lalu dada, di antara kedua buah dada saya. Disapunya dengan bibirnya semua daerah sensitif di sekitar mulut, dada dan leher. Saya menikmati benar ciuman ini. Apalagi setelah bibirnya turun ke bawah di sekitar pusat, pangkal paha dan sekitar kemaluan saya.

Tanpa saya sadari tubuh saya meliuk-liuk, mengikuti dan menikmati rangsangan erotis yang mengalir di seluruh tubuh. Kemaluan saya mulai basah, menanti sesuatu yang akan masuk. Setelah puas diciumi, saya berbisik, “Dik Yuda, masukkan sekarang kemaluannya ya! Saya sudah nggak tahan…” Dia lalu berdiri dan mulai melepaskan, baju, celana, kaus baju dan terakhir celana dalamnya.

Kini penisnya terlihat utuh putih kehitaman, dengan semburat urat-urat kecil di sekitar pangkalnya. Ujungnya seperti ujung bambu runcing, lebih panjang bagian bawah. Penis itu mencuat ke atas, membentuk sudut lebih kurang 30 derajat dengan bidang horisontal.

Pelan-pelan penis itu mulai ditelusupkan di antara bibir kemaluan saya. Setelah itu ditarik secara pelan-pelan. Kemaluannya dan kemaluan saya dapat diibaratkan dua kutub magnit, pergesekannya membangkitkan arus listrik yang merambat dari kemaluan keseluruh tubuh, juga dari kemaluannya dan memberikan rasa nikmat yang sangat kepada pasangan yang sedang ber-charging tersebut. Gosokan kemaluan Yuda yang semakin cepat membuat seluruh tubuh saya seperti terkena listrik.

Kemaluan saya terasa berdenyut meremas kemaluan Yuda. Saya orgasme, dan ini terulang lagi beberapa kali, multi orgasme. Makin lama rangsangan itu semakin meningkat. Bersetubuh dengan Yuda memang saya rasakan agak lain.

Biasanya saya bersikap meladeni kepada para pelanggan, tetapi dengan Yuda saya seperti diladeni, dipuaskan rasa haus saya. Gerakan keluar-masuk kemaluannya yang lambat, ciuman disekitar buah dada yang terkadang diselingi dengan menghisap-hisap putingnya, dan reaksi menggeliat-geliatnya tubuh saya, seperti suatu pertunjukkan “slow motion” yang mengasyikkan.

Dan ketika saraf tubuh saya tak lagi kuat menampung muatan listrik itu, saya berbisik, “Dik Yuda, tembak sekarang ya!” Dan Yuda mempercepat gesekan kemaluannya, sampai pada puncaknya kakinya mengejang. Bersama itu pula saya peluk kuat-kuat tubuh Yuda.

Inilah puncak persetubuhanku dengan Yuda. Teman-teman, sekian dulu perkenalan saya yang panjang lebar.

Kamis, 05 April 2018

Prediksi Togel Kamis 05 April 2018...


>>> SINGAPOREPOOLS <<<


ANGKA MAIN : 4 7 6 2
Top 2D : 04 17 26 32 47
Cadangan 2D : 56 62 74 87 92
TOP SHIO :  Kerbao Naga Ayam
COLOK BEBAS : 2 6 7
AS : 0 1 3
KOP : 5 8 9
KEPALA  : Besar / Genap
EKOR : Kecil / Genap

Setelah semuanya selesai, kami sepakat bahwa tiga orang lelaki harus mencari kayu bakar, sisanya tetap tinggal di perkemahan. Aku, Robby, dan Doni memilih mencari kayu bakar, sedangkan Fadli, Lia dan Wulan tetap tinggal di tenda. Baru beberapa langkah kami beranjak pergi, tiba-tiba Wulan memanggil kami, katanya dia ingin ikut kelompok kami saja (alasannya masuk akal, dia tidak enak hati sebab Fadli adalah pacar Lia, dan Wulan tidak ingin kehadirannya di tenda mengganggu acara mereka). Karena Fadli dan Lia tidak keberatan ditinggal berdua, kami (Robby, Doni, aku dan Wulan) segera melanjutkan perjalanan.

Ada beberapa hal yang perlu aku ceritakan kepada pembaca tentang dua orang teman wanita kami. Lia sifatnya sangat lembut, dewasa, pendiam dan keibuan. Sifat ini bertolak belakang dengan Wulan. Mungkin karena dia anak bungsu dan ketiga kakaknya semua lelaki, jadi Wulan sangat manja, tapi terkadang tomboy. Tapi di balik semua itu, kami semua mengakui bahwa Wulan sangat cantik, bahkan lebih cantik dari Lia.

Tidak berapa lama, sampailah kami pada tempat yang dituju, lalu kami mulai mengumpulkan ranting-ranting kering. Sambil mengumpulkan ranting, kami membicarakan apa yang sedang dilakukan Fadli dan Lia di dalam tenda. Tentu saja pembicaraan kami menjurus kepada hal-hal porno. Setelah cukup apa yang kami cari, Robby mengusulkan singgah mandi dulu ke sungai yang tidak berapa jauh dari tempat kami berada. Wulan boleh ikut, tapi harus menunggu di atas tebing sungai sementara kami bertiga mandi. Wulan setuju saja. Singkat kata, sampailah kami pada sungai yang dituju. Aku, Robby dan Doni turun ke sungai, lalu mandi di situ. Wulan kami suruh duduk di atas tebing dan jangan sekali-kali mengintip kami.

Ketika sedang asyik-asyiknya kami berkubang di air, tiba-tiba kami mendengar Wulan menjerit karena terjatuh dari atas tebing. Tubuhnya menggelinding sampai akhirnya ia tercebur ke dalam air. Cepat-cepat kami berlari mencoba menyelamatkan Wulan (kami mandi hanya menanggalkan baju dan celana panjang, sedangkan celana dalam tetap kami pakai). Robby yang pandai berenang segera menjemput Wulan, lalu menariknya dari air menuju tepi sungai. Aku dan Doni menunggu di atas. Sampai di tepi sungai, tubuh Wulan basah kuyup. Sepintas kulihat lengan Robby menyentuh buah dada Wulan. Karena Wulan memakai T-Shirt basah, aku dapat melihat dengan jelas lekuk-lekuk tubuh Wulan yang sangat menggairahkan.

Wulan merintih memegangi lutut kanannya. Aku dan Doni terpaku tidak tahu apa yang harus kami lakukan, tapi Robby yang pernah ikut kegiatan penyelamatan dengan sigap membuka ikat pinggang Wulan lalu mencopot celana jeans Wulan sampai lutut. Wulan berteriak sambil mempertahankan celananya agar tidak melorot. Sungguh, saat itu aku tidak tahu apa sebenarnya yang hendak Robby lakukan terhadap Wulan. Segalanya berjalan begitu cepat dan aku tidak menyimpan tuduhan negatif terhadap Robby. Aku hanya menduga, Robby hendak memeriksa luka Wulan. Tapi dengan melorotnya jeans Wulan sampai ke lutut, kami dapat melihat dengan jelas celana dalam wulan yang berwarna off-white (putih kecoklatan) dan berenda. Kontan penisku bangun.

Robby memerintahkan aku dan Doni memegangi kedua tangan Wulan. Seperti dihipnotis, kami menurut saja. Wulan semakin meronta sambil menghardik, “Rob, apa-apaan sih.., Lepas.., lepas! Atau saya teriak”.

Doni secepat kilat membungkam mulut Wulan dengan kedua telapak tangannya. Robby setelah berhasil mencopot celana jeans Wulan, sekarang mencoba mencopot celana dalam Wulan. Sampai detik ini, akhirnya aku tahu apa sebenarnya yang sedang terjadi. Aku tidak berani melarang Robby dan Doni, karena selain aku sudah merasa terlibat, aku juga sangat terangsang saat melihat kemaluan Wulan yang lebat ditumbuhi rambut-rambut hitam keriting.

Wulan semakin meronta dan mencoba berteriak, tapi cengkeraman tanganku dan bungkaman Doni membuat usahanya sia-sia belaka. Robby segera berlutut di antara kedua belah paha Wulan. Tangan kirinya menekan perut Wulan, tangan kanannya membimbing penisnya menuju kemaluan Wulan. Wulan semakin meronta, membuat Robby kesulitan memasukkan penisnya ke dalam lubang vaginanya. Doni mengambil inisiatif. Dia lalu duduk mengangkangi tepat di atas dada Wulan sambil tangannya terus membungkam mulut Wulan. Tiba-tiba Wulan berteriak keras sekali. Rupanya Robby berhasil merobek selaput dara Wulan dengan penisnya. Secara cepat Robby menggerak-gerakkan pinggulnya maju mundur. Untuk beberapa menit lamanya Wulan meronta, sampai akhirnya dia diam pasrah. Yang dia lakukan hanya menangis terisak-isak.

Doni melepaskan telapak tangannya dari mulut Wulan karena dia merasa Wulan tidak akan berteriak lagi. Lalu dia mencoba menarik T-Shirt Wulan ke atas. Di luar dugaan, Wulan kali ini tidak mengadakan perlawanan, hingga Doni dan aku dapat melepaskan T-Shirt dan BH-nya. Luar biasa, tubuh Wulan dalam keadaan telanjang bulat sangat membangkitkan birahi. Tubuhnya mulus, dan buah dadanya sangat montok. Mungkin ukurannya 36B.

Doni segera menjilati puting susu Wulan, sementara aku melihat Robby semakin kesetanan mengoyak-ngoyak vagina Wulan yang beberapa saat yang lalu masih perawan. Aku sangat terangsang, lalu aku mulai memaksa mencium bibir Wulan. Ugh, nikmat sekali bibirnya yang dingin dan lembut itu. Aku melumat bibirnya dengan sangat bernafsu. Aku tidak tahu apa yang sedang Wulan rasakan. Aku hanya melihat, matanya polos menerawang jauh langit di atas sana yang menguning pertanda malam akan segera tiba. Tangisnya sudah agak mereda, tapi aku masih dapat mendengar isak tangisnya yang tidak sekeras tadi. Mungkin dia sudah sangat putus asa, shock, atau mungkin juga menikmati perlakuan kasar kami.

Tiba-tiba aku mendengar Robby menjerit tertahan. Tubuhnya mengejang. Dia menyemprotkan sperma banyak sekali ke dalam vagina Wulan. Setengah menit kemudian Robby beranjak pergi dari tubuh Wulan lalu tergeletak kelelahan di samping kami. Doni menyuruhku mengambil giliran kedua. Aku bangkit menuju Vagina Wulan. Sepintas aku melihat sperma Robby mengalir ke luar dari mulut vagina Wulan. Warnanya putih kemerahan. Rupanya bercak-bercak merah itu berasal dari darah selaput dara (hymen) Wulan yang robek. Tanpa kesulitan aku berhasil memasukkan penis ke dalam vaginanya. Rasanya nikmat sekali. Licin dan hangat bercampur menjadi satu. Dengan cepat aku mengocok-ngocok penisku maju mundur. Aku mendekap tubuh Wulan. Payudaranya beradu dengan dadaku. Dengan ganas aku melumat bibir Wulan. Doni dan Robby menyaksikan atraksiku dari jarak dua meter. Beberapa menit kemudian aku merasakan penisku sangat tegang dan berdenyut-denyut. Aku sudah mencoba menahan agar ejakulasi dapat diperlama, tapi sia-sia. Spermaku keluar banyak sekali di dalam vagina Wulan. Aku peluk erat Tubuh Wulan sampai dia tidak dapat bernafas.

Setelah puas, aku berikan giliran berikutnya kepada Doni. Aku lalu duduk di samping Robby memandangi Doni yang dengan sangat bernafsu menikmati tubuh Wulan. Karena lelah, kurebahkan tubuhku telentang sambil memandangi langit yang semakin menggelap.

Beberapa menit kemudian Doni ejakulasi di dalam vagina. Setelah Doni puas, ternyata Robby bangkit kembali nafsunya. Dia menghampiri Wulan. Tapi kali ini dia malah membalikkan tubuh Wulan hingga tengkurap. Aku tidak tahu apa yang akan diperbuatnya. Ternyata Robby hendak melakukan anal seks. Wulan menjerit saat anusnya ditembus penis Robby. Mendengar itu Robby malah semakin kesetanan. Dia menjambak rambut Wulan ke belakang hingga muka Wulan menengadah ke atas. Dengan sigap Doni menghampiri tubuh Wulan. Aku melihat Doni dengan sangat kasar meremas-remas buah dada Wulan. Wulan mengiba, “Aduhh.., sudah dong Ro.., ampun.., sakit Rob”. Tapi Robby dan Doni tidak menghiraukannya.

“Oh, sempit sekali”, teriak Robby mengomentari lubang dubur Wulan yang lebih sempit dari vaginanya. Setiap Robby menarik penisnya aku lihat dubur Wulan monyong. Sebaliknya saat Robby menusukkan penisnya, dubur Wulan menjadi kempot. Tidak lama, Robby mengalami ejakulasi yang kedua kalinya. Setelah puas, sekarang giliran Doni menyodomi Wulan. Melihat itu aku jadi kasihan juga terhadap Wulan. Di matanya aku melihat beban penderitaan yang amat berat, tapi sekaligus aku juga melihat sisa-sisa ketegarannya menghadapi perlakuan ini.

Setelah Doni puas, Robby dan Doni menyuruhku menikmati tubuh Wulan. Tapi tiba-tiba timbul rasa kasihan dalam hatiku. Aku katakan bahwa aku sudah sangat lelah dan hari sudah menjelang gelap. Kami sepakat kembali ke perkemahan. Robby dan Doni segera berpakaian lalu beranjak meninggalkan kami sambil menenteng kayu bakar. Wulan dengan tertatih-tatih mengambil celana dalam, jeans, lalu mengenakannya. Aku tanyakan apakah Wulan mau mandi dulu, dan dia hanya menggeleng. Dalam keremangan senja aku masih dapat melihat matanya yang indah berkaca-kaca. Kuambil T-Shirtnya. Karena basah, aku mengepak-ngepakkan agar lebih kering, lalu aku berikan T-Shirt itu bersama-sama dengan BH-nya. Robby dan Doni menunggu kami di atas tebing sungai. Setelah Wulan dan aku lengkap berpakaian, kami beranjak pergi meninggalkan tempat itu. Robby dan Doni berjalan tujuh meter di depanku dan Wulan.

Di perkemahan, Fadli dan Lia menunggu kami dengan cemas. Lalu kami mengarang cerita agar peristiwa itu tidak menyebar. Untunglah Fadli dan Lia percaya, dan Wulan hanya diam saja.

Tepat tengah malam di saat orang lain merayakan pergantian tahun baru, kami melewatinya dengan hambar. Tidak banyak keceriaan kala itu. Kami lebih banyak diam, walau Fadli berusaha mencairkan keheningan malam dengan gitarnya.

Esoknya, pagi-pagi sekali Wulan minta segera pulang. Kami maklum lalu segera membongkar tenda. Untunglah sesampainya di kota kami, Wulan merahasiakan peristiwa ini. Tapi tiga bulan berikutnya Wulan menghubungiku dan dia dengan memohon meminta aku bertanggung jawab atas kehamilannya. Aku sempat kaget karena belum tentu anak yang dikandungnya itu adalah anakku. Tapi raut wajahnya yang sangat mengiba, membuatku kasihan lalu menyanggupi menikahinya.

Satu bulan berikutnya kami resmi menikah. Wulan minta agar aku memboyongnya meninggalkan kota ini dan mencari pekerjaan di kota lain. Sekarang “anak kami” sudah dapat berjalan. Lucu sekali. Matanya indah seperti mata ibunya. Kadang terpikir untuk mengetahui anak siapa sebenarnya “anak kami” ini. Tapi kemudian aku menguburnya dalam-dalam. Aku khawatir kebahagiaan rumah tangga kami akan hancur bila ternyata kenyataan pahitlah yang kami dapati.

Akhir Desember 1997 kami menikmati pergantian tahun baru di rumah saja. Peristiwa ini kembali menguak kenangan buruknya. Matanya berkaca-kaca. Aku memeluk dan membelai rambutnya. Beberapa menit kemudian, dalam dekapanku dia mengaku bahwa sebelum peristiwa itu terjadi, sebenarnya dia sudah jatuh cinta padaku. Dia ikut mencari kayu bakar karena dia ingin bisa dekat denganku.

Ya Tuhan, aku benar-benar menyesal. Pengakuannya ini membuat hatiku pedih tak terkira.

Rabu, 04 April 2018

Prediksi Togel Rabu 04 April 2018...


>>> SINGAPOREPOOLS <<<


ANGKA MAIN : 8 5 4 0
Top 2D : 08 15 24 30 40
Cadangan 2D : 58 60 74 85 98
TOP SHIO :  Anjing Tikus Babi
COLOK BEBAS : 0 5 8
AS : 1 2 3
KOP : 6 7 9
KEPALA  : Kecil / Genap
EKOR : Kecil / Genap

Perkenalkan namaku Evan aku mengambil jurusan manajemen yang mana tak aku kira rupannya sulitnya bukan main untuk lulus, apa mungkin aku orangnya yang bodoh atau memang di persulit oleh system kampus, yang penting seteleh sekian lama aku belajar di kampus aku mendapat pengalaman sex dengan cewek cewek kampus.

Banyak cewek cewek di kampus ini yang sering aku pakai, terutama cewek jawa karena memang banyak disini dari sana, kebanyakan cewek tersebut ngekost dan aku juga sering maen ke kostnya, aku dekati dia dengan wajah gantengku dan gombalan sedikit aku bisa merasakan setiap lubang surga duniawi.

Nah, selain para mahasiswinya, asdos-asdos yang ada di Univ ini gak kalah cantiknya. Terutama ada satu asdos yang bikin mupeng. Namanya sebut aja mba Melanie. Dia berparas sangat cantik & imut, berbodi langsing tetapi dadanya sepertinya cukup besar,

Saya tahu sebab mba Melanie pernah menunduk mengambil spidol yang jatuh, & wow, belahannya cukup dalam & dadanya kayak mangkok, sempurna banget. Ditambah lagi dengan kulitnya yang putih.

Dari hasil penelusuran aku nih, rupanya mba Melanie udah punya pacar. & pacarnya juga beberapa kali keliatan di Kampus, modelnya kayaknya uda agak tua, 30an tahun begitu lah. Sebab itu aku rasa mba Melanie udah ‘pengalaman’ deh.

Aku udah lama naksir sama mba Melanie, malah aku dengan sengaja kadang-kadang berdiri di samping ia, demi ngeliat flash sedikit behanya dari kemeja yang kebuka sedikit. Sebab mba Melanie tuh cuek, & kalau pake kemeja suka gak dikanmbang atasnya. Jadi deh pemandangan seger buat aku.

Pernah juga sekali pas mba Melanie pake baju serampangan banget. Pake beha warna oren yang cup nya longgar gitu, pas dia rada nyosor kedepan duduknya, behanya sedikit kebuka. & woow, pentil yang masih cokelat muda punya dia kelihatan jelas dari samping tempat aku berdiri.

& sayangnya kayaknya bener pikiran aku, dari warnanya yang agak pudar, berarti dia pernah digarap ama cowoknya. Sesudah hari itu, asli setiap aku ngaceng, aku pasti bayangin itu pentil cokelat muda sambil ngocok 3-5 kali crott.

Waktu itu aku ngebayangin banget, apa mungkin aku dapat ngerasain mba Melanie juga.

Rupanya permintaan aku gak lama-lama langsung deh terjawab.

Waktu itu mba Melanie lagi pake beha warna item, nyeplak di kemejanya ia. Seperti biasa aku intipin ia dari samping sambil belagak2 nanya. Wuihh, itu toket bulet merangsang banget. Pengen deh aku remes.

Tapi, loh? Kok mba Melanie aku liat duduknya gak stabil neh. Gerak-gerak gak jelas gitu. Pantatnya yang lumayan bahenol gak dapat diem, & mukanya rada mesum-mesum pink begitu.

Sontak aja ngeliat mba Melanie yang lagi in the heat gitu bikin aku ngaceng, sampe gak dapat mikir apa-apa lagi.

Aku ikutin deh mba Melanie waktu itu, dari cara ia jalan, kayaknya gak nyaman banget iantara pahanya. Minta dijilat kali, pikiran nakal aku mikir begitu.

Aku buntutin sampe mba Melanie masuk ke mobilnya. & apa yang aku liat di mobilnya bener-bener gak dapat aku percaya bok. Dia ngocok dengan amat nafsu di mobilnya sambil pegang-pegang foto, yang aku rasa itu foto cowoknya.

Jari tangan kanan dia nyusup masuk di celana jinsnya, ngocok-ngocok vaginanya pake jari, sambil cium-ciumin foto cowoknya.

Lalu foto cowoknya ditaro, tangannya satu lagi mulai masuk ke behanya, ngeremes-remes toketnya yang rupanya bulet banget, asli gak kayak toket cewek lain yang kadang udah kendor atau terlalu berotot sebab fitness, toket dia alami bulet kayak mangkok, dengan pentil coklat bulet yang pas ukurannya. Betul-betul gambaran toket sempurna deh.

Celana aku mulai sakit ketika itu, sebab penis aku asli uda ngaceng maksimum deh. & rupanya Dia melakukan kesalahan fatal. Dia lupa ngunmba pintu.

Tanpa menyianyiakan kesempatan, aku langsung tarik pintunya dengan kenceng, sehingga dia yang lagi ngocok dengan serunya langsung kaget.

Aku tutup mulutnya dengan tangan aku sebelum dia dapat tereak. “Ssst mba Melanie, ga mau diliat orang kan kalau mbamba lagi ngocok disini? Apa kata cowo mba nanti?” ancem aku.

Mba Melanie pucet sesudah aku ngomong gitu, pelan-pelan, dia kasih isyarat kalau dia gak akan teriak. “Kalau gitu mba dengerin kata-kata aku ya? Kalau mba gak mau orang lain tau.. aku udah rekam loh soalnya” kata aku, bluffing sih, sebab aku gak dapat ngerekam dari luar pake hape aku, gelap & gak kelihatan apa-apa sayangnya.

Mba Melanie manggut-manggut pasrah.

Aku lepasin tangan aku, mba Melanie gak teriak, mukanya pucet & gak berapa lama, dia kayaknya baru sadar keadaan baju dia yang berantakan.

Sebelum tangan dia sempet nutupin toketnya, aku langsung maju & pegang-pegang toketnya yang terasa lembut & kenyal di tangan aku.

Gak disangka pada ketika beginipun pentil dia masih ngaceng dengan keras, terasa di telapak tangan aku. Aku cubit pentilnya lembut, kemudian aku tarik-tarik dengan napsu.

Dengan satu tangan lagi, aku setengah gendong dia ke arah kursi penumpang, meskipun aku sendiri masuk ke kursi supir.

Untungnya jam-jam itu parkiran Univ ini lagi sepi, jadi aku bebas deh.

Mba Melanie gak mau aku cium, dia selalu menghindar ketika aku mau cium bibirnya. Gak pentinglah bibirnya pikir aku, itu biar aku sisain buat cowonya.

Jadi aku langsung serang toketnya, aku buka kemejanya yang udah setengah kebuka, & aku tarik turun behanya.

Tangan kiri aku sibuk mainin toketnya, aku puterin jari aku di area pentilnya yang udah ngeras, aku cubit-cubit & aku tarik pentilnya itu dengan gemas. Aku liat mba Melanie gigit bibir bawahnya, sambil napasnya terengah-engah, masih berusaha nahan nafsu.

Gak mau kalah, aku gigit pentil kanannya yang ngacung. “ahh…!?” teriak mba Melanie kaget, & sekaligus enak pastinya. Lalu aku tahan toketnya dengan gigi aku sembari lidah aku jilatin ujung pentilnya, mba Melanie mulai blingsatan keenakan, erangan-erangan penuh nafsu mulai keluar dari mulutnya. & aku isep kedua toketnya dengan napsu bergantian, sampai punggung mba Melanie mulai melengkung akibat orgasme yang hampir keluar.

Ngeliat itu, langsung aku berentiin serangan-serangan aku.

Tanpa sengaja mba Melanie mengeluarkan seruan kecewa. Kemudian langsung menyembunyikan mukanya dengan malu.

Aku jadi makin nafsu & sekaligus juga seneng ngeliat asdos pujaan aku ini ngerespons garapan aku.

Aku kembali menyerang kedua toketnya dengan ganas dengan mulut & tangan kiri.

Sementara, tangan kanan aku yang bebas mulai pelan-pelan ngebuka celana jeansnya, yang untungnya memang udah setengah kebuka.

Sebelum mba Melanie sadar, tangan aku langsung masuk ke celana dalem dia & menemukan bagian berambut dengan vagina yang sudah sangat basah.

Mba Melanie kaget & mencoba untuk narik tangan kanan aku dari vaginanya, tapi aku gigit pentilnya sampe mba Melanie kehilangan tenaga untuk ngelawan, sementara tangan kanan aku makin masuk ke vaginanya.

Aku elus-elus klitorisnya yang rupanya uda mengeras & limban sekali. Setiap usapan di klitorisnya bikin mba Melanie glojotan & gak kuasa menahan erangan-erangan ia. “mmff…ouhh…ahh…” erangnya. Sesudah main-main dengan klitorisnya beberapa lama, aku selusupin satu jari aku ke vagina ia. & wow, bener dugaan aku, mba Melanie udah gak perawan, jari aku dengan mudah nyelusup ke vaginanya.

Aku selipin lagi satu jari, sehingga dua jari sekarang masuk ke vaginanya, masih dapat masuk dengan mudah, wah berarti sering nih digarap, pikir aku.

Aku kocok-kocok vaginanya dengan liar, aku gesek-gesek G-Spot dia dengan jari-jari aku, sampe akhirnya aku ngerasa ada cairan panas nyemprot ke telapak tangan aku. Mba Melanie akhirnya orgasme. Badan Dia bergetar-getar gak karuan akibat orgasme, pandangannya udah kabur aku rasa, gak fokus lagi.

Pelan-pelan aku pelorotin celana jeans ia, mba Melanie udah terlalu lemas & gak sadar untuk ngelawan. & tampaklah vagina dengan jembut yang dipotong rapi. Belahan vaginanya masih berwarna pink, & sangat basah. Cairan-cairan spMelanie dari vaginanya mengalir keluar.

Aku keluarin satu kakinya dari celana jeans ia, mba Melanie masih gak sadar akan apa yang aku lakukan, dia masih terengah-engah sesudah serangan aku.

Aku buka celana aku, & keluarin lah penis aku, yang berukuran 16 centi, gak panjang sih, tapi lumayan gemuk. Aku keluarin juga kondom yang selalu terseia di dompet aku. Aku pasang ke penis aku dengan susah payah sebab nafsu yang udah sampe ubun-ubun.

Mba Melanie masih setengah sadar ketika ujung penis aku udah di depan vaginanya. Aku sibak pelan vaginanya dengan jari aku, vagina mba Melanie yang berwarna pink muda & indah bener-bener bikin penis aku berkedut-kedut gak sabar.

Ketika aku nempeling palkon aku di bibir vaginanya ia, barulah mba Melanie sadar apa yang akan aku lakukan, dengan sekuat tenaga ia dorong aku menjauh “Jangan, itu Cuma untuk cowo aku” teriaknya.

Dengan sekali sentak, aku tusukin penis aku ke vagina yang indah itu. Mba Melanie kaget bukan kepalang ketika ngerasain ada benda gede masuk ke vaginanya.

Dia ngeronta-ronta, tapi aku terus kocok penis aku di vaginanya yang super sempit banget. Dia akhirnya nyerah sesudah beberapa puluh genjotan meskipun masih berusaha banget nahan nafsunya supaya gak keliatan sama aku.

Dengan jempol, aku elus klitoris dia, yang kontan langsung buat dia ngejepit penis aku dengan erat, ngasih aku kenikmatan yang belum pernah aku rasain dengan cewek lain. Penis aku terasa diselimuti & diremas-remas dengan kenikmatan yang tiada tara.

Nafsu aku makin keubun-ubun, aku hajar penis aku ke vagina mba Melanie dengan makin ganas, sampe mba Melanie melenguh-lenguh gak karuan, gak lama aku rasain di penis aku hangat-hangat becek. Mba Melanie orgasme lagi kesekian kalinya semenjak dari awal aku garap.

Seiring dengan orgasme mba Melanie, vaginanya juga makin rapet, sehingga penis aku yang ada di dalemnya kerasa di remas-remas, nikmat banget.

Akhirnya aku crot juga, berbarengan dengan orgasme mba Melanie yang makin lama makin dahsyat. Punggungnya kali ini melengkung hampir setengah lingkaran.

Dengan penis masih ada di dalem, aku remas-remas toket mba Melanie yang pingsan sebab kelelahan.

Kemudian ide nakal aku timbul, & aku foto-fotoin keadaan mba Melanie yang masih setengah telanjang & dengan penis aku yang masih berada di dalam vagina ia.

Buat jaga-jaga kelak, pikir aku.

Kemudian aku tarik penis aku dari vaginanya, & aku liat kalau aku mengeluarkan spMelanie paling banyak dari semua pengalaman seks aku.

Sebelum aku pergi, aku rapiin baju mba Melanie sedapat aku, tentu aja sebelumnya aku lap vaginanya yang becek dengan tissue (tissuenya yang beraroma vagina ia tentu aja aku simpen buat ngocok).

Sesudah itu aku tinggalin pesan singkat ke mba Melanie untuk jangan macam-macam sebab foto-foto mba Melanie ada di tangan aku.

Senin, 02 April 2018

Prediksi Togel Senin 02 April 2018...


>>> SINGAPOREPOOLS <<<


ANGKA MAIN : 2 7 3 4
Top 2D : 02 13 27 34 43
Cadangan 2D : 53 64 72 87 94
TOP SHIO :  Kuda Kerbao Ayam
COLOK BEBAS : 2 3 4
AS : 0 1 5
KOP : 6 8 9
KEPALA  : Kecil / Ganjil
EKOR : Kecil / Genap

Sudah ada tiga bulan suamiku mengikuti pendidikan untuk mendapatkan alih golongan. Terasa aku begitu gersang. Aku butuh sentuhan seorang laki-laki, terlebih pada malam seperti ini. Haruskah aku mencarinya? Tapi bagaimana caranya?

Malam itu aku tak bisa berbuat apa-apa selain berusaha menghilangkan kebutuhanku akan seks. Jam sudah menunjukkan pukul 01.00. Sebentar lagi ayam akan berkokok. Tapi mataku belum juga terpejam. Aku keluar dari kamarku, hanya mengenakan daster miniku. Aku ke kamar mandi karena kamar mandi kami hanya satu dari type rumah 45 itu.

Karena udara sangat gerah, aku hanya memakai daster mini yang tipis, tanpa celana dlaam dan Bra. AKu mau keluar dari kamar mandi, aku mendengar ada orang menuangkan air dari termos. Mungkin mau membuat teh atau kopi. Dari suaranya aku tau, dia adalah Marwan. Adikku yang tingal bersamaku sejak setahun lalu. cerita sedarah.

“Kamu belum tidur, Mar..?” tanyaku.

“Belum. Masih banyak tugas yang belum selesai. Besok harus kumpul,” jawabny tenang. Tatapannya tenang, namun terasa sangat tajam ke sekujur tubuhku. Marwan memakai celana pendek saja, bertelanjang dada. Aku terkesiap melihat dadanya yang bidang. Marwan berusia 20 tahun, mahasiswa arsitektur. Usiaku lima tahun di atasnya.

Lampu memang terang berderang di dapaur kami. Pakaianku yang tipis tanpa kusadari, membuatnya terus tak berkedip. Saat aku sadar kalau tubuhku dari balik daster mini yang tipis pelepas gerah itu, membuatnya matanya tak berkedip, justru sebaliknya aku menjadi semakin bergairah. Tapi…

Marwan adalah adikku. Adik kandungku. Tapi aku sangat membutuhkan sentuhan laki-laki. Tiga hari ini, aku begitu membutuhkannya. Tapi kali ini, aku begitu sangat dan sangat membutuhkannya. Tubuhku sedikit menghangat. Gairah seks ku sangat tinggi malam itu. Tanpa ragu kudekati adikku. Kurangkul dia dari belakang dan merapatkan tetekku ke punggungnya. Entah darimana datangnya keberanianku itu.

“Mbaaakkk….”

Hanya itu yang terdengar dari mulutnya. Aku meneruskan elusanku ke dadanya dari belakang, sembari menggesek-gesekkan tetekku ke pungungnya. AKu begitu menikmatinya. Dasterku memang sangat tipis dan longgar. Kuciumi tengkuknya dan Marwan hanya mendesah saja, tidak menolakku.udah tak perduli, apakah dia menolak atau tidak.

Tanganku terus meraba perutnya dan menyelusup ke dalam celananya. Baeru saja tanganku memasuki celana pendeknya, aku mengetahui, kalau Marwan tidak memakai celana dalam. Langsung tanganku menyentuh jembutnya dan terus makin ke bawah mengelus kontolnya. cerita sedarah.

“Mbaaakkk…”

Kulepaskan kancing celana dan memelorotkan celana itu sampai ke bawah.

“Ayo lepaskan dahagi Mbak, dik. Mbak sangat membutuhkannya malam ini,” [pintaku menghiba. Kulepas pelukanku sesaat dan kulepas dasterku. AKu sudah bertelanjang bulat dihadapannya dan celananya sudah kulepas dari tubuhnya.

Kuhadapkan tubuhnya dan aku memaluknya. Tetekku begitu rapat ke dadanya. Kujilati tengkuknya dan kubelai-belai tubuhnya dengan lembut. cerita sedarah.

“Ayo…dong…”

“Di sini?” tanyanya. Aku mengerti apa maksudnya. Dengan cepat kutarik tangannya ke kamarnya, agar dua anakku yang masih sangat kecil tidur bersamaku di kamar tidurku tidak terganggu. Cepat kututup pintu. Langusng kupeluk dirinya dan kulumat bibirnya dengan buas. AKu sudah tak perduli siapa dia, adik kandungku sendiri.

Aku tahu, vaginaku sudah sangat basah. Kuraba kontolnya yang juga sudah mengeras.

Marwan membalas ciumanku. Lidahku diisapnya dengan lembut dan dipermainkannya dalam mjulutnya. Aku senang sekali. Ternyata aku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku merasakan sekujur tubuhnya menghangat.

“Ayo Mar, dimasukkan cepat. Aku sudah sangat….”

Adikku secepatnya membimbingku ke tempat tidurnya berukuran 3 kaki. Aku sudah terlentang. Ingin aku kontolnya yang keras itu menghunjam-hunjam vaginaku dengan kuat. Tapi Marwan, justru mengangkangkan kedua pahaku dan mulutnya menjilati vaginaku.

Lidahnya bermain-main di lubang vaginaku. Aku tak mampu menahan rasa nikmatku. Kujepit kepalanya dengan kedau kakiku dengan sekuat-kuatnya. Aku orgasme. Kuremas kepalanya sekuat-kuatnya dan aku mendesah panjang. Lidahnya masih juga terus bermain di vaginaku.

Tak lama aku lemas. Kuserahkan segalanya kepadala adikku, apa maunya. Marwan melapas jilatannya dari vaginaku. Kini aku sudah ditindihnya. Perlahan dan pasti, dia mencucukkan kontolnya yang keras ke dalam vaginaku.

Oh…terasa kontol itu memenuhi rongga vaginaku. Hangat dan keras. Gesekannya begitu mengairahkan. Leherku dijilatinya dan tetekku dielus-elusnya. Perlakuannya itu, membuatkua bergairah kembali. Perlahan, kuimbangi permainannya.

“Sudah lama aku menginginkan ini…” bisik Marwan adikku ke telingaku.

“Kenapa kamu tidak bilang…?” bisikku pula di sela-sela ayunan kedua kakiku menggoyang kontolnya dalam vaginaku.

“Aku takut, Mbak…”

“Ya…sudah, mulai malam ini aku menjadi milikmu. Kita boleh melepaskan keindahan dan kenikmatan ini sepuas-puasnya jika ada kesempatan,” bisikku.

Marwan terus mempermainkan kontolnya keluar-masuk dalam liag vaginaku. Aku merasakan tubuhku berada di awang-awang. Tinggi dan penuh sensasi.

“Mbaaakkk…” rintihnya.

“Terus sayang. Mbak sudah mau sampai,” bisikku memohon.

Adikku memompa tubuhku lebih cepat dan lebih agresif lagi.

Dipeluknya aku kuat-kuat dan ditekannya sekuat-kuatnya ke dalam vaginaku. AKu merasakan ujung kontol itu, sudah kandas di ujung lubang vaginaku. AKu menjepit kembali pinggangnya dengan kedua kakiku sekuat-kuatnya dan membalas pelukannya sekuat-kuatnya pula.

“Ah….. Mbaaaakkkkk…”

“Diiiikkkkk…. kita sampaiiiii,” balasku. AKu merasakan begitu hangatnya semprotran spermanya ke dalam tubuhku. Begitu jauh semprotan itu.

“Dik… Mbak pasti hamil ni. Mbak merasakan spermamu begitu jauh ke dalam liangku. Ke dalam peranakanku. Ini pasti anakmu dik,” kataku penuh optimis. Aku tahu, beratus kali aku bersenggama dengan Mas Dibyo suamiku. Saat aku akan hamil, aku tahu sperma itu akan membuahiku. Aku merasakan saat tubuhku hangat dan terasa seperti meriang, tapi nafsu seks ku sangat tingi, saat itu aku pasti hamil. Terlebih ketika sperma itu menyemprot ke dalam tubuhku, aku merasakan jauh ke dalam dan tubuhku menerimanya dengan kehangatan dan rasa nikmat yang tiada tara.

“Mbak pasti hamil dik…” kataku pula.

“Lalu bagaimana, Mbak…?”

“Tak apa, seminggu lagi mas mu akan pulang, dik. Begitu pulang, kami akan bersetubuh. Tapi pasti aku hamil karean persetubuhan kita malam ini,” kataku.

“Kalau begitu, aku gak perlu takut dong, Bak. Anak ini, buah cinta kita dan rahasia kita,” katanya membujukku. Aku tersenyum. Aku setuju. Aku sangat menikmatinya. Ternyata dia sudah lama menginginkan persegtubuhan denganku. Berarti aku tidak berdosa.

Malam itu, sebelum tidur, kami melakukannya sekali lagi. Menunggu suamiku datang beberapa hari lagi, akhirnya kami memutuskan, setiap malam kami melakukannya.

Benar apa yang kurasakan. Begitu aku periksa ke didokter, dokter menyalami suamiku.

“Isteri pak dibyo hamil dua minggu,” kata dokter. AKu tersenyum seakan kehamilan itu adalah kehamilan dari suamiku. Suamiku juga tersenyum.

Ketika pulang, di atas mobil sumiku berkata:” kamu sudah tau kalau aku adalah lelaki sejati. Baru saja aku pulang, ternyata aku menghamilimu, ” katanya bangga dan tersenyum.

Kubalas senyumannya dengan manis menunjuukan rasa simpatiku atas kebanggannya.

“Mas memang seorang suami yang hebat,” kataku bangga dan tersenyum semakin mungkin. Di tariknya terngkukku sembari menyetir dan diciumnya bibirku. Aku membalas ckiumannya.

“Jaga bayi kita baik-baik,” katanya mengingatkan. Kembali aku tersenyum.

Di rumah, secara diam-diam aku menyerahkan hasil tes ku kepada adikku Marwan.

“Anakmu berada dalam rahumku,” bisikku dan aku tersenyum sembari mengedipkan mata.

Minggu, 01 April 2018

Prediksi Togel Minggu 01 April 2018...


>>> SINGAPOREPOOLS <<<


ANGKA MAIN : 6 0 5 8
Top 2D : 06 10 25 38 46
Cadangan 2D : 58 60 76 85 90
TOP SHIO :  Kelinci Ayam Naga
COLOK BEBAS : 0 6 8
AS : 1 2 3
KOP : 4 7 9
KEPALA  : Besar / Ganjil
EKOR : Besar / Genap

Cerita panas berhubungan intim untuk menyembuhkan ejakulasi dini yang kualami dengan judul “ Berhubungan Intim Dengan Dokter Cantik Sebagai Terapi Seks Yang Kujalani ” yang tidak kalah serunya dan dijamin dapat meningkatkan libido seks, selamat menikmati.
Kata orang, akulah orang yang paling bahagia di dunia. Bayangkan tinggal di Surabaya yang disebut-sebut merupakan kota besar kedua di Indonesia dengan uang banyak, memiliki puluhan perusahaan dan cabang- cabangnya di seluruh Indonesia, isteri cantik dan sexy, dan semua orang mengenalku dengan baik.

Tapi dalam hati kecilku, aku merasa ada sesuatu yang kurang. Setelah menikah kurang lebih 3 tahun, kami belum dikaruniai anak. Memang kelemahannya ada pada diriku. Walaupun aku ganteng dan berbadan tinggi besar dan tegap, aku selalu mengalami kegagalan saat berhubungan intim dengan isteri. Ya, sekitar dua tahun sebelum kami menikah, aku mengalami kecelakaan lalu lintas.

Motorku ditabrak dari belakang oleh sebuah truk yang melaju dengan kecepatan tinggi dan berusaha mendahului motor yang kukendarai. Saat itu ternyata ada mobil yang muncul dari arah berlawanan, sehingga untuk menghindari “adu kambing” truk itu membanting activity ke kiri dan menabrak motorku. Aku terjungkal dan terbanting ke aspal di siang bolong. Untunglah aku tidak cedera.

Hanya kedua tanganku sedikit tergores dan pantatku sakitnya bukan main. Rupanya aku jatuh terduduk di pinggir jalan aspal dekat trotoar jalan. Seorang bapak yang ikut menyaksikan kecelakaan itu segera memapahku berdiri dan membawaku ke rumah sakit terdekat.

Sejak itu, jika aku berhubungan intim dengan Lilian, isteriku, aku selalu tidak dapat melaksanakan tugasku dengan baik. Penisku tidak bisa berdiri. Kadang bisa berdiri tapi sebentar belum juga masuk dengan pas.. eh.. sudah menyemprotkan cairan mani.

Beberapa dokter telah kudatangi. Tapi kesembuhanku belum juga muncul. Tadinya muncul ide agar aku mencoba-coba untuk “jajan” di lokalisasi. “Ah..” pikirku lagi, “Nanti malah kena AIDS atau HIV. Lebih repot lagi kan?”

Nah, suatu hari aku mendengar dari teman karibku, Hartono, bahwa di Jakarta katanya ada seorang dokter spesialis yang bisa menyembuhkan kelainan-kelainan seks dengan biaya terjangkau dan tanpa efek samping. Lalu dengan persetujuan isteriku, aku pun mengambil cuti selama seminggu untuk berangkat ke sana.
Karena punya sanak famili yang tinggal di bagian barat Jakarta, aku pun tanpa kesulitan menemukan dokter yang kucari. Tempat prakteknya ternyata terletak di lantai 18 sebuah apartemen mewah di pusat kota. Aku tadinya merasa deg-degan dan agak malu untuk naik ke sana.

Bagaimana kalau dokter itu menyarankan yang tidak-tidak kepadaku? Lalu.. apakah hasilnya akan maksimal seperti yang kuharapkan? Berbagai pertanyaan lain terus saja bergema dalam hati kecilku.

Namun bila kuingat raut wajah Lilian yang cemberut dan penuh kekecewaan bila penisku tidak bisa tegang atau baru masuk ke permukaan vaginanya, aku sudah ejakulasi.. wah.. lebih baik aku mencoba saja ke sana deh, siapa tahu ada mujizat yang terjadi. Benar kan?

Saat aku sampai di ruangan kantor yang amat mewah itu, kulihat seorang gadis cantik yang masih berumur sekitar 22-23 tahun sedang menulis sesuatu dan kemudian memandangku dengan ramah. “Mau ikut terapi, Pak?” ia bertanya dengan seulas senyum di bibirnya yang mungil.

“Ya, maaf.. Dokternya ada?” tanyaku ragu-ragu. “Hari ini kebetulan Dokter Amy Yip sedang tidak ada pasien..” ujarnya. “Dokter Amy Yip… Kok kayak nama bintang blur mandarin sih, Mbak… apa ia berasal dari Hongkong?”

“Betul sekali… Memang namanya Yip Chi Mei, ia seorang dokter spesialis terapi seksual asal Indonesia lulusan Hongkong Medical College… dan ia lebih suka dipanggil dengan nama Dokter Amy Yip.” katanya memberi penjelasan.

Setelah mengisi formulir yang berisi data-data pribadi, aku langsung diantar ke tempat prakter dokter itu. Gadis yang belakangan kuketahui bernama Sally itu kemudian mengetuk pintu ruang praktek Dokter Amy Yip. Pintu pun dibuka dari dalam. Benar saja dugaanku. Di sana berdiri seorang wanita cantik mengenakan blazer hitam dan berumur sekitar 30 tahun. Ia berambut ikal sebahu. Oh ternyata ini dokternya!

“Maaf Dok… ini ada Bapak Kuntoro dari Surabaya ingin ikut terapi… ini data-data lengkapnya.” ujar Sally sambil memberikan formulir yang sudah kuisi dan mempersilakan aku masuk ke kantor itu. Sally pun berjalan kembali ke meja kerjanya di depan ruangan itu. “Silakan masuk, Pak…” ujar dokter cantik itu. “Baik, terima kasih.” jawabku singkat.

Setelah kami duduk di dalam ruang praktek itu, Dokter Amy Yip kemudian mulai menanyakan beberapa hal yang amat pribadi padaku. Karena kupikir ia seorang dokter yang harus tahu benar keadaan dari kehidupan seks rumah tanggaku, termasuk bagaimana aku berhubungan intim, aku pun membeberkan semuanya.
Salah satu pertanyaannya adalah, “Kira-kira Bapak bisa tahan berapa absolutist dalam berhubungan intim dengan isteri?” atau, “Gaya apa yang paling Bapak sukai bila berhubungan intim dengan isteri?”

Mendengar semua jawabanku, ia pun mengangguk-angguk tanda mengerti. Lalu dengan sorot mata tajam ia memandangku serta berkata, “Pak Kuntoro, saya rasa sebaiknya kita bisa mengadakan terapi seks sekarang juga.

Di sebelah sana ada ranjang yang bisa Bapak gunakan untuk itu… Di sana saya akan menguji ketahanan Bapak untuk tidak berejakulasi selama beberapa menit… kalo memungkinkan nanti kita bisa berhubungan intim guna proses penyembuhan lebih lanjut. Gimana Pak.. apa Bapak setuju?” “Wah… ini toh yang namanya terapi seks. Kalau begini sih pasti aku mau sekali,” pikirku dalam hati.

Tanpa pikir panjang lagi aku menyahut, “Baiklah… Terserah Dokter saja, gimana baiknya…” Dalam pikiranku tiba-tiba muncul bayangan gimana kira-kira bentuk tubuh Dokter Amy Yip ini nanti kalau ia telanjang. Pikiran seperti ini langsung saja membuat penisku tiba-tiba menegang dan keras.

Kemudian kami berjalan menuju ranjang terapi yang dimaksud. Setelah aku duduk dengan bersandarkan bantal, dokter cantik itu duduk dengan santai di hadapanku. Ia kemudian dengan sengaja membuka semua baju luarnya.

Akhirnya yang tertinggal hanya BH dan celana dalamnya. “Pak Kuntoro, silakan Bapak meraba-raba saya… terserah Bapak mau meraba bagian tubuh saya yang mana… nanti kita lihat berapa menit waktu yang Bapak perlukan untuk ejakulasi…” perintahnya. Tentu saja aku mau melakukannya dengan senang hati. Wong yang di depanku, tubuh dokter itu begitu mulus dan putih.

Payudaranya saja begitu menonjol ke depan. Mungkin ukuran 36B, seperti hendak meloncat keluar dari penutupnya. Dengan pelan kuelus wajah dokter itu, lalu lehernya yang jenjang. Kemudian tangan kananku turun ke bukit kembarnya. Kuraba pelan dan kuremas-remas. Lalu tangan kiriku bergerak menuju CD-nya. Namun, sekonyong-konyong ada sesuatu yang mau meledak dalam tubuhku. Aku buru-buru menghentikan rabaan-rabaanku.

Aku berusaha segera membuka celana panjang yang kukenakan. Namun terlambat sudah. Penis andalanku sudah menyemprot dengan derasnya. Aku hanya bisa mengepalkan tangan sambil menutup mata. “Sialan!” ujarku. Celana panjangku terutama di bagian pangkal paha tentu saja basah tidak karuan.
“Cuma dua menit kurang 25 detik… saya rasa keadaan ini masih bisa disembuhkan, Pak… Sebelumnya ada pasien saya yang lebih buruk keadaannya… asal Bapak mau telaten berobat tiap hari ke sini…” Dokter Amy Yip menimpali setelah melihat arloji yang dikenakannya.

Hari itu terapi seks yang harus kujalani selesai sudah. Setelah mengenakan pakaiannya kembali dan kami kembali duduk di meja kerjanya, dokter itu lalu berkata, “Mohon diingat ya, Pak… apa yang kita lakukan barusan hanyalah sebatas untuk terapi… bukan untuk dilakukan di luar jam kerja saya…” Oh, aku mengerti maksudnya.

Ia tidak mau kuajak kencan di luar praktek terapinya. Itu peraturannya. Ah tidak apa-apa bagiku. Toh aku orangnya setia pada isteriku. Walau Lilian lebih galak dari dokter ini, namun ia kan isteriku dan mantan pacarku. Iya kan?

Keesokan harinya, masih dengan terapi yang sama. Cuma Dokter Amy kini tidak mengenakan BH. Benar adanya, kedua bukit kembarnya itu begitu besar, kencang dan amat menantang. Putingnya berwarna merah kecoklatan seperti tegak siap untuk disedot.

Ia berkata, “Silakan Bapak mau meremas atau mengulum atau menjilat payudara saya… terserah… saya hanya ingin tahu Bapak bisa tahan berapa absolutist untuk tidak ejakulasi.” Tanpa menunggu perintah selanjutnya, aku langsung saja meraba dan meremas kedua bukit kembarnya. Kemudian kuarahkan mulutku untuk merasakan nikmatnya payudara itu.

Aku menghisap, menjilat dan mengulum putingnya. Ia tampak merem-melek menikmatinya. Ternyata dua menit berlalu. Dan kembali aku mengalami ejakulasi. Spermaku tersemprot hebat.

Untunglah kali ini aku masih sempat membuka reitsleting celanaku dan mengarahkan penisku yang sudah tegang dan membesar itu ke ember khusus untuk hasil sperma terapi. “Dua menit lebih 5 detik… hari ini ada peningkatan, Pak…” jawabnya sambil menyunggingkan senyum setelah semuanya selesai.


“Besok kita lanjutkan lagi. Jangan kuatir, Pak… Perkiraan saya pada hari keempat nanti… waktu Bapak untuk tahan tidak ejakulasi pasti lebih dari sepuluh menit. Saya jamin, Pak.” Lalu hari itu kami pun berpisah. Aku pulang ke auberge tempatku menginap dengan berbagai pikiran tentang harapan kesembuhan selanjutnya yang akan kualami serta terapi apa yang akan dilakukannya besok terhadap diriku.

Hari ketiga… Kali ini kami berdua benar-benar telanjang bulat. Dokter Amy kini yang mengambil inisiatif. Ia sengaja yang membuka pakaian yang kukenakan sampai aku benar-benar bugil. Lalu kemudian ia membuka pakaiannya sendiri.

Saat ia melakukannya, matanya tak lepas dari memandang senjataku. Entah apa yang ada di benaknya. Yang pasti saat itu senjataku belum tegang bahkan hingga ia membuka CD-nya. Ketegangan dalam diriku mungkin sedikit banyak tidak membantu dalam merangsang penis yang kumiliki.

Lalu ia duduk di pinggir ranjang. Kali ini dengan sengaja ia meraih senjataku lalu dikocok-kocoknya dengan pelan tapi pasti. Sementara tanganku diperbolehkan meraba apa saja yang ada di tubuhnya.

etelah kocokannya mulai menampakkan hasil, ia pun menunduk dan mengarahkan penisku ke mulutnya. Dengan telaten ia menjilat, menghisap dan mengulum penis ajaibku. Wah… hampir saja aku ingin ejakulasi. Tapi aku berusaha untuk menahannya sebab aku ingin mengetahui rasanya bila ia terus mengobok-obok penisku.

Ia lalu menyuruhku untuk mengubah posisi. Kini aku disuruhnya untuk menghisap klitorisnya, sedangkan ia dengan penuh semangat terus menghisap dan menjilat-jilat penisku. Karena tidak tahan menghadapi kuluman dan hisapan mulutnya, aku terpaksa harus melepaskan sesuatu yang seperti akan meledak dalam diriku.

Dan benar.. “Crot.. crot.. crot.. crot..” Dengan derasnya maniku tertumpah di dalam mulut dokter itu. Entah sengaja atau tidak, Dokter Amy Yip tidak mau melepaskan penisku dari mulutnya. Wah..! Setelah semprotan maniku habis, dan penisku dibersihkan dengan tisu di tepi ranjang, kembali ia memberikan evaluasi terapi yang kujalani. “Lumayan…” katanya sambil melirik jam tangan.

“Sepuluh menit lebih dua detik… Bapak pasti akan sembuh… Saya rasa pada terapi kita yang terakhir akan benar- benar terbukti bahwa kondisi ketahanan penis Bapak untuk tidak terlalu cepat berejakulasi saat berhubungan intim adalah normal- accustomed saja. Bagaimana, Pak… apa Bapak mau melanjutkan terapi yang terakhir besok?”

Tentu saja aku mau melanjutkannya. Wong disuruh berhubungan intim dengan chargeless saat terapi, siapa yang nggak mau? Aku pun kemudian mengiyakan sarannya itu. Seperti yang kuduga ternyata keesokan harinya Dokter Amy Yip tidak lagi mengenakan apa-apa di balik baju prakteknya.

Aku pun segera membuka semua pakaianku. Lalu dengan ganas kuserbu tubuhnya yang sudah berbaring menantang di atas ranjang. Pertama kucium keningnya, lalu turun ke bibir, pipi, leher hingga payudaranya yang amat kenyal itu. Di sana kujilat dan kupelintir putingnya yang merah kecoklatan. Ia pun merem-melek.
Kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri. Kemudian kepalaku bergerak menuju pangkal pahanya. Di sana kembali kujilati bibir vagina dan klitorisnya. Kujulurkan lidahku ke dalam vaginanya sambil tangan kananku terus meremas-remas payudaranya.

Setelah beberapa menit, ternyata penisku sudah berdiri tegang dan mengeras. Tanpa menunggu diperintah lagi, kuarahkan penisku ke liang kewanitaannya. Dengan sekali sentak, masuklah penisku dengan mudahnya.

Rupanya ia sudah tidak perawan. Tanpa susah payah aku terus menggenjot dan memompa penisku agar bisa benar-benar memuaskan dirinya. Saat itu aku lupa segalanya, terapi, isteriku yang sedang menunggu dengan harap cemas di Surabaya, pekerjaan di kantor yang menumpuk, dll..

Pokoknya kesempatan ini tidak bisa dilewatkan. Sementara itu Dokter Amy Yip terus saja menggoyang-goyangkan pantatnya dengan lembut. Ia mencoba untuk mengimbangi serangan gencarku.

Sekitar lima belas menit berlalu. Dan tiba-tiba saja perasaanku seperti melayang. Aku merasakan kenikmatan luar biasa. “Aku ingin keluar, Dok… sebaiknya di dalam atau…” tanyaku di tengah-tengah kenikmatan yang kurasakan.

“Di dalam saja Pak… biar nikmat…” jawabnya seenaknya. Rupanya ia pun akan mengalami orgasme. Dan benar, beberapa saat kemudian ia orgasme. Kemaluanku seperti disemprot dalam liang vaginanya. Sementara itu spermaku pun dengan derasnya mengalir ke dalam liang vaginanya.

Aku pun akhirnya jatuh tertidur di atas tubuhnya. Ternyata dokter itu masih ingat bahwa apa yang kami lakukan adalah terapi. Ia segera melirik arlojinya dan segera membangunkanku.

“Lima belas menit sepuluh detik… selamat Pak Kuntoro… kondisi Anda kembali normal… bahkan sangat normal..” ujarnya sambil mengenakan pakaiannya kembali dan menyalamiku. Aku yang baru saja keletihan melayani nafsu seksnya dengan cara berhubungan intim tentu saja tertegun. Lima belas menit? Wah hebat. Aku sembuh, Lilian! Aku sembuh! Hampir saja aku meloncat-loncat.

Setelah membereskan semuanya, aku pun segera pulang ke Surabaya malam itu juga. Betapa bahagianya aku sekarang. Pasti Lilian akan gembira menyambut kesembuhanku. Dan benar dugaanku.

Saat ini sudah tiga bulan kejadian itu berlalu. Lilian pun mulai menunjukkan tanda-tanda kehamilan. Menstruasinya sudah terlambat seminggu.