www.dewalotto.com

www.dewalotto.com
Bandar Online Terbesar Terbonafit Terpercaya dengan Permainan Terlengkap All You Can Play in Dewalotto

Rabu, 10 Oktober 2018

Prediksi togel - Rabu 10 Oktober 2018


>>>SINGAPOREPOOLS<<<


ANGKA MAIN : 7 5 9 8
TOP 2D : 07 15 29 38 47
CADANGAN 2D : 57 65 79 88 97
TOP SHIO : Kerbau Kelinci Kambing
COLOK BEBAS : 5 7 8  
AS : 0 1 2 
KOP : 3 4 5
KEPALA : Besar / Ganjil
EKOR : Besar / Genap



Pertama kali aku pacaran yaitu pada saat semester pertama di kuliahku di sebuah perguruan tinggi swasta di kota Y. Memang aku agak telat untuk pacaran, semasa SMA dulu dimana sekolahku adalah sekolah homogen yg muridnya lelaki semua kawan-kawanku kebanyakan telah pada punya pacar sementara aqu masih betah sendirian. Bukannya aqu tak laqu atau bagaimana , tetapi memang aku-nya yg belum mau untuk membina suatu hubungan di samping nasihat dari orangtua yg
menganjurkan aku untuk sekolah dulu sampai selesai baru pacaran. Tetapi ketika aku masuk ke
bangku perkuliahan nasihat dari orangtuaku jadi tak mempan ketika aku naksir seorang perempuan sekelas yg cantik, seksi, pintar dan merupakan “bunga” kampus di angkatanku, Sabrina
namanya dan biasa dipanggil Sabri Dia perempuan yg mempunyai darah keturunan dari Jawa Timur
– Manado – Belanda, jadi masih bau-bau indo gitu.

Langsung aku putar otak untuk mencari cara mendekatinya, maklum baru kali itu aku mencoba
untuk melamar perempuan untuk jadi pacar. Singkat kata akhirnya aku dapatkan Sabri menjadi
pacarku. Awal-awal kita pacaran berjalan biasa-biasa saja dalam arti normal saja, seperti layaknya
remaja lain yg berpacaran. Tetapi ketika suatu saat aku ajak Sabri keluar untuk merayakan
Valentines Day dia menagih janji yg aku ucapkan saat di jalan. Memang saat itu aku beri dia kejutan
seikat mawar merah tanda cintaku padanya, kelihatan dia surprise sekali dan bertanya “Wah, kamu
ini senengnya kok bikin kejutan sih sayg. Masih ada kejutan lagi tak nanti?” Aku jawab saja
sekenaku, “Oh, pasti ada doong..” sambil otakku berputar kerana memang aku tak ada kejutan lagi
untuknya. Ketika di mobil masih di parkiran sebuah rumah makan yg tempatnya memang agak gelap
setelah kita selesai makan dan akan pulang, Sabri kembali menagih janjiku itu “Mana doong,
katanya ada kejutan lagi buat aku?” rajuknya manja. Aku terhenyak bingung, belum sempat aku
berpikir tanpa kusadari aku menyorongkan wajahku ke wajah cantiknya untuk mencium pipinya.
Tapi ternyata perempuanku itu malah menyambutnya dgn bibir sensualnya hingga bibir kita
saling beradu. Aku sempat kaget juga, maklum baru kali itu aku mencium bibir perempuan.

Tapi kerana ketika SMA aku sering baca buku dewasa dan liat film BF maka aku pun segera mencoba
untuk mengimbangi perempuanku dgn memainkan bibirku di bibirnya. Tak lama kita
berciuman, mungkin dia merasakan aku yg begitu canggung dalam berciuman, alamak.. malu sekali
aku. Memang bagi Sabri, aku ini adalah pacarnya yg ketiga setelah putus dgn pacar-pacarnya yg
terdahulu jadi dia telah berpengalaman dalam urusan cium-mencium dan seks dibandingkan dgn
aku yg hanya tahu teorinya saja. Tapi inilah awal dari semua cerita indah kita saat berpacaran.

Sejak saat itu kemudian aku jadi ketagihan untuk mencium bibir sensual wanitaku itu, bahkan malah
dia yg membimbing tanganku untuk membelai-belai bagian badannya. Pada suatu ketika saat kita
berciuman di suatu lembah yg sepi di pinggir sawah aku kembali dibuat malu oleh Sabri kerana saat
itu memang aku hanya mencium bibirnya saja sedangkan tanganku anteng hanya memeluk pinggul
atau punggungnya. Dibimbingnya tanganku menuju buah dadanya yg berukuran 36B itu, dan
kembali aku terhenyak kerana kekenyalan bukit indah kembar tersebut. Tanganku menelungkupi
buah dada itu walau masih tertutup baju, tapi ada rasa nikmat dan senjataku jadi tegang.

Lalu aku lepaskan ciumanku sambil menatapnya tapi tanganku masih memegangi buah dadanya “Ada apa sayg?” tanya Sabri Aku tersipu malu, kemudian Sabri bertanya, “Mau pegang ini hh..?” sambil
matanya melirik ke buah dadanya yg indah itu. “Boleh..?” tanyaku, tanpa menjawab Sabri langsung
menarik tanganku masuk ke kaos ketatnya sampai ke BH-nya dan kemudian dipelorotkan satu tali
BH-nya sehingga buah dadanya menyembul keluar. Tanganku pun kembali menelungkupi buah
dadanya yg montok dan kenyal itu hanya bedanya sekarang tak ada penghalang sehingga
putingnya yg bulat dan keras itu terasa di telapak tanganku. Sabri mendesah dan kembali kita
berciuman, senjataku pun menjadi semakin tegang dan mengembang dalam celana jeansku.

Kerana nafsuku telah sampai ubun-ubun kugesekkan kemaluanku ke perutnya, Sabri semakin
mendesah merasakan besarnya senjataku. Semua itu kita lakukan sambil berdiri bersandar pada
sebuah pohon. Kerana tempat itu agak terbuka akhirnya kita akhiri cumbuan kita kerana takut
ketahuan warga sekitar. Tetapi setelah itu aku jadi semakin berani dan pintar dalam bercumbu,
sering kita melakukan di rumahku di saat mengerjakan tugas kampus berdua, didukung suasana
rumah yg sepi kerana kedua orangtuaku bekerja dan adikku saat itu masih sekolah hanya ada
pembantu yg menyambi buka warung kelontong di garasi rumahku. Kadang juga kita bercumbu
saat di bioskop, di mobil, sampai di kamar kecil kampus bahkan saat kita berdua berboncengan naik
motor Sabri sering meremas-remas dan memainkan gagang kemaluanku dari belakang. Di atas sofa
saat di rumahku kita bercumbu dgn hot-nya, aku buka kaos ketat Sabri yg memakai resleting di
depan sebagai kancing (sengaja aku belikan kaos itu untuknya supaya mudah dibuka saat ingin
bercumbu). Aku buka BH-nya sehingga tampaklah buah dadanya yg menyembul indah di hadapanku.
Kemudian aku remas-remas dgn gerakan memutar dari luar menuju ke dalam.



Sementara itu aku melumat bibir sensualnya, kemudian turun ke lehernya. Aku jilati lehernya sampai ke telinganya, Sabri mendesah pelan pertanda dia mulai terangsang. Jilatanku turun terus sampai kemudian ke buah dadanya. Aqu jilati dan caplok buah dada itu, kusedot-sedot, lalu kujilati putingnya. Sabri meremas rambutku sambil menekan kepalaqu ke dadanya. Terus kulakukan itu terhadap buah dada yg satu lagi. Jilatanku turun ke perut, kujilati perutnya Sabri menggelinjang kegelian. Tapi jilatanku tak bisa turun lagi kerana terhalang celana panjang katunnya. Nafsuku semakin memuncak, kemaluanku tegang sekali ingin mencari lubang kenikmatannya untuk
kumasuki.

Kurebahkan dia di sofa itu kemudian kugulung ke atas sampai ke paha celana katunnya. Terlihat
betis indahnya menantang serta paha mulusnya yg putih itu seakan memanggilku untuk
mengelusnya. Langsung saja kucium, jilati, dan elus mulai betis indahnya sampai ke pahanya.
Memang aku selalu tertarik dgn perempuan yg cantik seksi dan mempunyai sepasang kaki yg indah
dan panjang seperti Sabri perempuanku itu. Gagang kemaluanku telah tambah tegang di dalam
celana pendekku yg kukenakan dan aku tak tahan lagi, kemudian aku tindih badan Sabri sambil
mengepaskan kemaluanku yg tegang itu di lobang kemaluannya yg masih tertutup celana katun itu.
Sabri memelukku dan kemudian kugesek-gesekkan gagang kemaluanku di situ sambil tanganku tak
henti mengelus betis mulus dan meremas pahanya. pojok dewasa 17+

“Ssh.. ah.. ah.. ah.. ehm.. sayg, I want it real baby.. ehm.. ehmm.. ssh..” desah Sabri di kupingku.

Aku tak peduli dgn kata-katanya, gesekanku kupercepat buah dada Sabri bergerak-gerak kerana
desakanku di badannya. Sabri semakin tak karuan gerakannya, sambil menggigit bibir bawahnya
dia terus mendesah dan aqu semakin terangsang oleh desahannya itu.



Tak lama kemudian Sabri memperketat pelukannya sambil membenamkan wajahnya ke dadaqu yg berbulu dan berteriak tertahan (takut ketahuan pembantuku soalnya), “Aaahh.. sayaangg.. oohh.. aku keluar baby.. eehh..

hhmm..” Kuhentikan gesekanku di kemaluannya, dan Sabri melepaskan pelukannya sambil
mengecup bibirku dan berkata “Kamu huebat sayg..” dgn matanya yg indah mengerjap-ngerjap
seakan masih menikmati orgasmenya itu. Sekarang tinggal aqu yg belum tuntas, Sabri seakan
mengerti keinginanku kemudian bangkit dan membuka celanaku kemudian meraih gagang
kemaluanku yg berdiri tegak itu, dielusnya perlahan kemudian dikocoknya lalu dikulumnya gagang
kemaluanku. Geli sekali rasanya, tapi enak sekali! Lain sekali rasanya apabila aku onani sendiri
menggunakan guling yg selama ini sering aku lakukan.

Disedot-sedot oleh mulutnya kemaluanku, tapi kemudian aku tarik kepalanya dan kusuruh Sabri
untuk tengkurap di sofa. Setelah tengkurap kupandangi bokongnya yg padat bulat itu lalu kuremas-
remas. Aku lalu mengangkanginya dan menggesekkan gagang kemaluanku mula-mula di betis
indahnya lalu di paha putih mulusnya kemudian berakhir di bokong bulatnya yg masih tertutup
celana katun itu. Kugesekkan, ooh.. nikmat sekali bokongnya sambil tanganku meremas-remas
buah dadanya dan kuciumi pipi dan lehernya. Gesekanku di bokongnya semakin kupercepat, sampai
Sabri terdorong ke depan kerana gerakanku. Akhirnya penantianku hampir sampai, “Oh.. Sabri
.bokongmu enak sekali.. uuh.. aku mau keluar sayg.. aah..” dan, “Creet.. croot.. croot..” air maniku
memancar keluar di dalam celana dalamku. Aku terkulai lemas menindih Sabri yg masih tengkurap
sementara gagang kemaluanku masih di bokongnya yg bulat itu.

Setelah itu kita merapikan baju dan kembali mengerjakan tugas kuliah kita. Nah, maka ketika kita
dapat tugas dalam kuliah, kita senang soalnya dapat kesempatan untuk bercumbu ria, untuk
memperlancar itu aku dan Sabri selalu berdua membentuk kelompok sendiri (maklum, kita berdua
memang sama-sama punya nafsu yg besar).

Tetapi itu belum seberapa, puncaknya saat mahasiswa angkatanku akan mengadakan study tour ke
Jakarta, tentu saja aku serta Sabri jadi panitia inti dan kerana aku menjabat sebagai sekretaris
Himpunan Mahasiswa Jurusan. Maka otomatis rumahku jadi base camp anak-anak panitia untuk
membuat surat-surat kunjungan ke instansi-instansi di Jakarta dan perijinan serta membuat buletin
study tour. Nah, sebelum teman-teman datang Sabri pagi-pagi sekali telah datang di rumahku, tak
lain tujuannya untuk bercumbu mesra itu tadi. Tetapi bukan itu yg akan kuceritakan, kerana ada
pengalaman lain yg tak terlupakan buatku untuk kuceritakan di sini.

Singkat cerita study tour kita berjalan sempurna, aqu dan Sabri telah punya rencana.

Sabri untuk memisahkan diri dari rombongan setelah kunjungan terakhir di sebuah kantor
organisasi dunia di Jakarta. Kita berdua sepakat untuk tak mengikuti rombongan yg sebelum pulang
ke Y akan mampir rekreasi di Dunia Fantasi, kerana nantinya ternyata kita berdua membuat dunia
fantasi kita sendiri. Untuk mengelabui dosen dan teman-teman lainnya, kita pamit memisahkan diri
dari rombongan dgn tujuan masing-masing. Sabri akan ke rumah kakak perempuannya di Bekasi
sedangkan aku akan ke rumah Pakde di Jakarta Selatan. Tetapi setelah aku telepon ke Pak De
ternyata beliau sekeluarga sedang ada di Puncak selama 3 hari dan di rumah hanya ada pembantu
saja. Mendengar itu Sabri langsung mengajakku ke rumah kakaknya saja, aku menurut saja kerana
aku tak begitu tahu kota Jakarta.

Setelah sampai di rumah kakak perempuannya, aku dikenalkan dgn suaminya. Tak berapa lama aku
semakin akrab dgn keluarga muda tersebut. Mereka belum mempunyai momongan dan tinggal di
perumahan dgn satu pembantu. Kerana kakak ipar Sabri adalah pekerja yg sibuk, beliau seorang
manager di suatu perusahaan konstruksi alat berat, maka sampai di rumah telah capai dan langsung
tertidur di kamar. Sedangkan kakak Sabri seorang ibu rumah tangga biasa. Aku diberi kamar tidur yg
terpisah dari kamar Sabri, tetapi pada suatu malam Sabri menyelinap ke kamar yg kutempati.

Mula- mula kita hanya ngobrol-ngobrol saja membicarakan rencana Sabri kepulangan kita berdua, tapi lama-kelamaan kita semakin merapat dan langsung berciuman. Memang selama study tour kita “puasa” tak bercumbu, maka kesempatan itu tak kita sia-siakan apalagi kakak Sabri dan suaminya telah
tertidur di kamar atas dan pembantu telah molor sejak jam sembilan malam. “Sayang! tolong buka
bajuku doong.. biar enak,” kata Sabri Lalu kita bergulingan di kasur saling menindih menuntaskan
hasrat yg tertahan.

Di sela-sela bercumbu terdengar suara benda jatuh di teras depan. Aku melepaskan ciumanku dan
keluar memeriksa, ternyata hanya seekor kucing yg menyenggol pot tanaman. “Sial..!” gerutuku,
“gangguin orang lagi seneng aja tuh kucing.” Tapi untungnya seisi rumah tak ada yg terbangun gara-
gara kucing buluk itu. Lalu kembali aku masuk ke kamar melanjutkan permainanku dgn Sabri Mulai
kulumat bibirnya, kumainkan lidahku di mulutnya, kucium lehernya dan kujilati telinganya. “Aaah..
sayg, kamu.. hh.. kangen tak sam.. sama aku?” tanya Sabri sambil terengah-engah menahan
rangsanganku. Aku tak menjawab kerana mulutku sibuk menciumi lehernya. Tanganku melepas BH-
nya, tapi Sabri merajuk dan memakai kembali BH itu. “Enngg.. sayg jangan pakai tangan doong..
ngelepasnya pake mulut kamu dong yaang.. please..” edan tenan, baru kali ini Sabri minta yg aneh-
aneh sama aku. Tapi aku turuti kemauannya. Kugigit tali BH-nya lalu kupelorotkan sampai ke lengan,
sementara itu untuk membuka cup BH-nya kugigit pinggirannya dan kupelorotkan ke bawah hingga
hidungku menyenggol putingnya yg telah tegak mengeras itu. “Aaauuw.. geli sayg, teruss.. sayg yg
satunya lagi..” pinta Sabri manja.

Kembali aku melakukan hal yg sama terhadap buah dada yg satunya hingga menyembul, keluarlah
dua bukit kembar yg montok, besar dan indah itu di depan mataku. Dgn buas langsung kucaplok
buah dada kirinya, kusedot-sedot dan kujilati putingnya sementara tangan kiriku meremas-remas
buah dada kanannya. Kemudian bergantian kucaplok buah dada kanan sementara buah dada kiri
kuremas-remas sambil kumainkan putingnya (kerana buah dada kiri Sabri yg paling sensitif terkena
rangsangan). Buah dadanya sekarang basah oleh air liurku sehingga tampak mengkilat diterpa
cahaya lampu kamar 5 Watt. Jilatanku turun ke arah perutnya, tanganku sibuk mengelus-elus betis
indah dan paha putih mulus Sabri Lalu kupelorotkan celana pendek yg dikenakan Sabri sehingga
sekarang dia hanya memakai celana dalam saja. Aqu turun ke bawah untuk menciumi betis Sabri lalu
naik ke atas menciumi pahanya sampai ke paha bagian dalam hingga ciumanku sampai di
selangkangannya tepat di lobang kemaluan dan klitorisnya yg masih tertutup celana dalam. Terlihat
telah basah celana dalam Sabri saat itu. “Auuw sayg enak.. ehmm.. teeruzz sayg.. lepas aja celanaku..
ooh..” ceracau Sabri

Mendengar itu tanpa disuruh untuk yg kedua kalinya langsung kutarik celana dalam Sabri sampai
lepas. Aku tertegun melihat kemaluan Sabri yg sekitarnya ditumbuhi bulu-bulu lembut itu, sumpah
baru kali ini aqu melihat yg aslinya. Ternyata lebih indah daripada yg ada di gambar dewasa di
internet kerana bisa langsung disentuh dan dijilati. Aku masih terpana Sabri dan bingung melihatnya, lalu aku teringat sebuah adegan di film BF yg pernah kutonton. Maka aku pun segera meniru adegan itu, pertama-tama kusentuh bibir kemaluan Sabri, “Eeeh.. hhmm..” desah Sabri Lalu kujulurkan lidahku dan mulai menjilati bibir kemaluannya, terasa asin dan berbau khas keperempuanan Sabri tetapi semakin membuatku bernafsu. Kemudian lidahku menjilati klitorisnya yg mulai membengkak itu, “Aaauw.. sayg, kamu apain anuku?” tanya Sabri Tetapi belum sempat kujawab, Sabri berkata, “Lagii doongg..” memintaqu untuk menjilati klitorisnya lagi. “Oouw.. enak sekali.. ehmm.. aduh.. sayy.. aanngg.. ehh..” ceracau Sabri sementara kujilati klitorisnya. Cairan kenikmatan semakin deras keluar dari lobang kemaluan Sabri dan tanpa ragu kujilati, terasa asin dan baunya yg khas sungguh
merangsangku.

Lalu kemudian aku bangkit dan mengangkangi badan Sabri lalu kuletakkan gagang kemaluanku di
lembah antara kedua bukit kembarnya (setelah kulepas baju dan celanaku tentunya). Kutekan dgn
tangan kedua buah dadanya untuk menjepit gagang kemaluanku itu, sambil merem melek
kugesekkan gagang kemaluanku sampai menyentuh dagu Sabri Kemudian aqu minta Sabri untuk
mengulum gagang kemaluanku, belum sempat dia siap aku telah menyorongkan gagang
kemaluanku ke dalam mulutnya hingga masuk setengahnya. Sabri hanya diam, tapi aku segera
menarik dan menyorongkan kemaluanku bolak-balik. Mungkin kerana Sabri tak siap dia hanya pasif
saja sehingga kutarik gagang kemaluanku. Setelah bosan dgn gaya itu kemudian aku merangkak
turun sambil tanganku mengelus-elus kemaluan Sabri yg semakin basah.

Kerana aku telah tak tahan menahan nafsu untuk menyebadani Sabri apalagi melihat pandangan
Sabri yg sayu yg juga telah sama-sama nafsu, kuarahkan gagang kemaluanku yg mengacung tegak itu
ke arah lobang kemaluannya. Tetapi apa yg terjadi, ketika nyaris ujung kemaluanku mengenai bibir
kemaluannya, Sabri menahan perutku dgn tangannya, “Sayg kamu mau ngapain? Mau dimasukin
yah.. jangan doong.. aku kan masih perawan!” Busyet! edan tenaann, aku seakan-akan disambar
geledek mendengar pengakuan Sabri dgn setengah tak percaya. mungkin Sabri yg menjadi
pembimbingku dan begitu pintar dalam hal seks yg notabene telah berpacaran sebanyak tiga kali itu
masih perawan? “Please.. sayg.. tolong dong ngertiin aku.. kita nikmatin itu nanti kalo kita telah
nikah aja ya sayaangg..” lanjut Sabri Mendengar itu aku luluh juga, kerana aku sendiri berprinsip tak
akan merusak wanita cantikku ini sebelum menikah. Tapi bagaimana dong, kemaluanku yg masih
tegang itu masa cuma dianggurin saja. Lalu kubelai rambut Sabri yg masih kukangkangi itu sambil
berkata, “Oke saygku, aku tak akan maksa kamu.. tapi kita lanjutin dong acara kita. Masa telah di
puncak kok tertahan, kita main seperti biasa aja, gesek-gesekan okey?” sambil kukecup kening dan
bibirnya. Setelah itu tangan Sabri yg menahan perutku dilepasnya sehingga dgn cepat kuarahkan
gagang kemaluanku untuk kugesekkan di bibir kemaluannya.

“Cepak.. cepok.. cepak.. cepok..” bunyi gesekan kemaluanku dgn bibir kemaluan Sabri yg telah
sangat basah itu. Untungnya kasur itu hanya digelar di atas tikar di lantai sehingga tak ada bunyi
derit ranjang gara-gara gerakan kita yg liar. Sabri hanya merem melek sambil sesekali mengerang
nikmat menerima perlakuanku. Semakin lama kelihatan Sabri semakin menikmati permainan kita itu
dgn menggoyg-goygkan pinggulnya, sehingga membuat aku nekad mengarahkan kepala kemaluanku
ke lubang kemaluannya. Kutekan sedikit sehingga agak masuk ke dalam, yah.. kira-kira hanya kepala
kemaluanku saja, terasa hangat. Kutarik dan kutekan berkali-kali secara hati-hati agar tak merusak
keperawanan Sabri Kuhentikan gerakanku kemudian kucium bibir Sabri Terasa kemaluanku dijepit
ketat, rasanya ngilu tapi enak sekali. “Sayg, kamu masukin ya?” tanya Sabri sambil dadanya naik
turun kerana napasnya tersengal-sengal menahan nafsu. “Enggak kok, cuma digesekin di luar aja,”
aku berkelit (padahal sih iya walau cuma sedikit). pojok 17+ cerita dewasa

Setelah itu kuganti gaya, seperti biasanya Sabri kusuruh tengkurap langsung kemaluanku kugesekkan
di bokongnya yg empuk-empuk padat itu. Ehhm.. nikmat sekali rasanya. Hampir saja aku mau keluar
di bokong Sabri tapi dgn segala daya upaya kutahan. Kubalikkan badan Sabri dgn lembut kukecup
bibirnya, buah dadanya, perutnya lalu kugesekkan kemaluanku di betis indah Sabri Woouuwww..
semakin tegang dan nikmaat. Apalagi aku paling nafsu dgn betis mulus dan indah milik perempuan.
Gesekanku bergantian di kedua betis indahnya, begitu juga dgn paha mulus putihnya, hingga terasa
telah di ujung air maniku ingin keluar dari “tempatnya”. Kembali gagang kemaluanku kugesekkan di
bibir kemaluan Sabri, belum lima kali gesekan aku pun keluar dgn suksesnya, “Aaah.. Sabri sayg..
uuh.. aqu keluar ahh.. enaakk..”

“Croot.. creet.. craat.. criit..”

Air maniku pun muncrat di perut Sabri dan sebagian di pangkal pahanya. Sabri terperanjat kaget, lalu
segera bangkit dan meraih celana dalamku yg kebetulan berserakan di dekat badannya dan segera
melap kemaluannya dari air maniku. Aku maklum melihatnya dan membantu membersihkan, lalu
aku gandeng dia ke kamar mandi untuk mencuci kemaluannya dgn sabun antiseptik supaya air
maniku tak masuk ke rahimnya. Terus terang kita belum siap kalau Sabri hamil duluan. Setelah
dikeringkan dgn handuk, aku peluk badan bugil seksinya dan kukecup kening dan bibirnya sembari
kubelai rambut wanginya. Dia mencubit dada berbuluku, sambil berkata, “Iiih.. kamu bandel banget
siih sayg, nanti kalo aqu hamil gimana hayoo!” Mata bulat indahnya mendelik ke arahku, tetapi
bukannya aku menyesal tapi malah gemas melihat wajahnya ketika sedang marah gitu jadi tambah
kelihatan cantik sekali. Alhasil aku rengkuh badannya ke dalam pelukanku dan kemaluanku kembali
tegang.

Setelah keluar dari kamar mandi kita merapikan diri dan Sabri kembali ke kamarnya lagi setelah mencium bibirku dgn lembut lalu aqu tertidur kecapaian. Hingga keesokan harinya aku terbangun sinar matahari telah terang menembus kamar dan mataku tertumbuk pada noda merah agak tak jelas dan masih sedikit basah di seprei kasurku. Ya ampuun, kalau benar itu noda darah berarti memang Sabri masih perawan dan akulah yg mengambil keperawanannya walaupun aku tak bermaksud demikian. Barulah aku percaya memang Sabri adalah wanita baik-baik, sehingga
membuatku tambah cinta. Maafkan aku sayang, aku telah berprasangka buruk sama kamu, ohh wanita
cantikku ternyata masih ada perempuan seperti kamu yg masih menjaga kesuciannya. Tapi kejadian
itu malah tak membuat kita berdua kapok, bahkan malam berikutnya kita melakukan lagi di kamarku
setelah sebelumnya Sabri bilang padaku kalau lobang kemaluannya linu kusodok dgn gagang
kemaluanku. “Tapi kamu jangan kapok lho sayaang.. nanti malam lagi yaah..” bisiknya manja saat
kita jalan-jalan di Mall. Sampai kemudian kita pulang ke Y di atas kereta dgn sembunyi-sembunyi kita
saling cium bibir dan remas bagian badan kita yg peka rangsangan. Pojok 17

Nah, itulah pengalaman pribadiku yg tak bisa kulupakan sampai sekarang walaupun saat ini aku dan
Sabri telah berpisah kerana banyak halangan seperti hal yg sangat prinsip buat kita berdua yg
menghadang hubungan kita. Dgn sadar dan berat hati walaupun terasa pedih dan sakit di dada, kita
akhiri hubungan kita, dan telah semenjak putus dgn Sabri empat tahun lalu di akhir tahun 96, aku
belum menemukan pengganti Sabri sebagai belahan jiwaku. Sabri, aku selalu dan tetap mencintaimu walaupun kita tak bisa bersatu, kamu tetap ada di hatiku sebagai bagian dari memori indah hidupku selama ini. Maafkan atas semua perbuatanku kepadamu selama kita memadu kasih dan kudoakan semoga kamu bahagia bersanding dgn orang yg benar-benar bisa membimbing dan mencintaimu untuk selamanya. Aku akan turut bahagia bila kamu juga merasakan bahagia permaisuriku. Terimakasih atas segala perhatianmu dan kasih sayangmu kepadaku yg telah kau berikan dan jangan kau lupakan aku sayang.

Senin, 08 Oktober 2018

Prediksi togel - Senin 08 Oktober 2018


 >>>SINGAPOREPOOLS<<<


ANGKA MAIN : 8 2 3 0
TOP 2D : 08 12 23 30 48
CADANGAN 2D : 58 62 73 80 98                    
TOP SHIO : Naga Babi Ular 
COLOK BEBAS : 0 2 3  
AS : 3 4 5 
KOP : 7 8 9
KEPALA : Kecil  / Ganjil
EKOR : Kecil / Ganjil



Satu weekend, aku lagi browsing parfum disalah satu mal besar. aku memang ditugaskan kantor buat nyari parfum yang akan dihadiahkan buat para istri customer besar perusahaan, jadi belinya gak sedikit. Budget untuk beli parfum dah di approve, list alternatif merek parfum juga sudah ditangan, jadi tinggal nyari parfumnya dan tentu saja spgnya. Wah spgnya cantik dan sexy semuanya, sampe aku binun milihnya, akhirnya lis alternatif merek parfum a kantongin, aku milih spgnya yang paling ok aja dan mo ngasi aku bonus ekstra mengingat aku ordenya gede banget.

Karena cape juga muterin konter parfum tapi belum nemu spg yang sesuai selera, aku numpang duduk di konter salah satu kosmetik. Spg kosmetik tu tipe ibu2 banget, jadi aku gak selera, biar disana ada juga dijual parfum yang semerk dengan kosmetiknya. Si embak spg si diem aja ketika aku bilang mo numpang duduk. Tiba2 dari belakangku ada seorang yang nyodorin kertas kecil beraroma parfum, aku menoleh, wah kaget juga aku. Spgnya cantik, aku suka banget liat wajahnya, bodinya maknyus banget. pakeannya seksi banget deh, tank top ketat sepinggang dan celana ketat juga, sehingga aku bisa melihat lekuk liku bodynya yang proporsional dan mengundang selera lelaki yang melihatnya, termasuk aku. “Wah kamu seksi sekali, sampai pusernya kelihatan, mangnya gak pake seragam ya”. Karena tank topnya sepinggang, maka kalau dia bergerak pinggangnya tersingkap dan nampaklah pusernya. Dia hanya tersenyum saja : “Kita gak disuru pake seragam kok om, cobain om parfumnya”, sambil menyodorkan kertas kecil yang beraoma parfum yang ditawarkan. “Buat dicium2”. “Kalo mo nyium yang nawarin bole gak”. “Ih si om belon blanja dah genit”. “Kalo dah blanja bole genit?” “Tergantung blanjanya om, kita ke kounterku yuk, gak enak nawarin dikonter orang”. Di konternya aku memberikan daftar alternatif merek parfum yang harus kubeli. “Wah banyak banget om, beli merk aku aja ya om, ntr aku kasi bonus deh”. “Bonusnya apaan?” “Kan tadi om pengen nyium”. “Cuma nyium doangan”. “Itu permulaannya kan om, masak langsung to the point apartment. aku baru off jam 5an om, ntar jemput aku ya”. Wah dah pro ni spg urusan bonus rupanya. “Nama kamu sapa”. “Ampe lupa, aku Ana om”. “Ya udah, nanti jam 5an aku jemput na disini ya”. Sorenya aku jemput dia, Ana dah nunggu ditempat yang kita sepakati yaitu di warung kopi yang ada di mal itu. “An, teknisnya gimana aku beli parfumnya”. “Gini om, kan ini jumlahnya gede, besok Ana ksi daftar om ke kantor, biar kantor yang kasi penawaran ke kantor, langsung ke nam om aja ya”. “Ok, terus?” “Ya om tinggal kasi SPK nya aja ke Ana, diambil di kantor juga bole om. Kalo dah ada spknya barang tinggal dianter, kasi faktur pembelian dan om bayar deh, gampang kan, dan yang penting Ana dapet komisi gede kalo gol”.

“Makanya ana kan dapet komisi gede, terus bonus buat aku apa”. “Om mo bawa Ana kemana aja, Ana ikut deh om”. “Dah magrib ni, mo makan dulu ya, biar gak usah nyari makan lagi nantinya”. “Mangnya mo all night ya om”. Aku cuma tersenyum dan menggandeng dia keluar wrung kopi menuju ke food court. “An, kamu yang pesenin ya”. “Om sukanya makanan apa”. “apa aja deh sesuka kamu, ni duitnya”. “Ntar juga ditagih ma yang nganter om”. Ana pun keliling memesan makanan dan minuman buat aku dan dia sendiri. Ketika pesanan dateng, aku mebayar semua bonnya. “Suka gak om pilihan Ana”. “Suka banget An, yang pilihin juga aku suka banget kok”. “Ih si om, dah gak sabar ya”. “Ya nih An, dah pengen banget”. “Dah ngaceng ya om”, ana berbisik. “Dari tadi, pertama ngeliat kamu juga udah, abis seragamnya seksi gitu”. “Sengaja kali om, kantor ngebebasin kita berpakean, gak kaya kounter laennya kudu pake seragam. Kan jadi daya tarik sendiri ya om, buktinya ana dapet paus ari ini. Target Ana sebulan langsung gol om kalo order om masuk, pasti jadi kan om”. “Ya pasti lah, kan Ana dah mo ngasi bonusnya duluan”. “Gak apa lah om, kalo spk dah ditangan, Ana mau kok ngasi bonus ulangan ma om”. “Sampe segitunya An”. “Daripada pausnya jatuh ketangan yang laen”. “Yang laen gak ada yang sesuai seleraku kok An”. Dia tersenyum mendengarnya. “Kamu selalu ngasi bonus kaya gini ke cistomer lelaki ya An”. “Ya tergantung besar order dan orangnya Ana suka pa enggak. Ada yang minta mentahnya juga kok om”. “Apanya yang mentah?” Duit dari diskonnya”. “Ooo”. “O tu taun ini dah gak bulet lagi lo om, kotak2” katanya sembari tertawa berderai. “Bisa aja kamu. Jadi kamu suka toh ma aku”. Ana hanya tersenyum. ana memang menyenangkan untuk diajak ngobrol, mudahan juga menyenangkan diranjang, mana orangnya cantik dan seksi lagi. Selesai makan, kami beranjak k gedung parkir. Dimobil dia bertanya, “Om, Ana mo dibawa ke aman?” “Ke apartmen ya An’.

“Wah asik dong”. “Mangnya biasanya kalo ngasi bonus ke customer dibawa kemana An”.

“Ke hotel lah om, maennya ya paling diranjang, disofa atawa di kamar mandi. Kalo diapartmen kan bisa dimana ya om”.

LIar juga fantasi ni anak. Mobil meluncur menuju ke apartmen yang letaknya gak jauh dari mal tadi. Sesampai di aprtmen mobil langung masuk ke basement dan parkir di tempat yang menjadi hak ku. Aku menggandeng Ana ke lift, di dalam lift aku memeluknya. “om sering ya ke apartment ini, suka bawa abg ya”, tanyanya sambil tersenyum. “Sekarang lagi bawa abg”, jawabku. “Kamu kan masih tergolong abg juga kan”.

Di apartment, kami duduk di sofa, aku mengambilkan minuman dan menyalakan TV. Kami tak banyak bicara karena perhatian tertuju ke tv. Akhirnya aku pindah duduk di sampingnya, menghadapkan tubuhnya ke arahku dan meletakkan tangan kananku di atas perutnya sambil memasukkan telunjuk ke pusernya yang tersingkap. lehernya kucium, terus menyusur ke pipi. Tubuhku bergeser merapat, bibirnya kulumatnya dengan lembut. Dia juga mengulum bibirku lebih kuat.

Sedang menikmati bibirnya dengan mulutku, tangan kususupkan kedalam tank topnya dan meremas lembut toketnya yang masih terbungkus bra. Dia terengah jadinya, rupanya tindakanku sudah menaikkan suhu napsunya. Bibirku mulai meneruskan jelajahannya, sambil melepaskan tank topnya, lehernya kukecup, kujilat kadang kugigit lembut. sambil terus meremas-remas toketnya. Kemudian tanganku menjalar ke punggungnya dan kulepas kaitan bra nya sehingga toketnya bebas dari penutup. Bibirku terus menelusur di permukaan kulitnya. Dan mulai pentil kirinya kusentuh dengan lidah dan kuhisap. Terus pindah ke pentil kanan. Dan tanganku satunya mulai turun dan memainkan pusernya, dia makin terengah, rupanya napsunya makin berkobar karena elusan tanganku.

Kemudian tanganku turun lagi dan menjamah selangkangannya. Lama hal itu kulakukan sampai akhirnya kubuka ristsluiting celananya dan kutarik celananya ke bawah, Tinggalah CD mininya yang tipis yang memperlihatkan jembutnya yang lebat, saking lebatnya jembutnya muncul di kiri kanan dan dibagian atas dari cd mini itu.

Jembutnya lebih terlihat jelas karena CDnya sudah basah karena cairan no noknya yang sudah banjir. Kubelai celah no noknya dengan perlahan. Sesekali kusentuh i tilnya, ketika kuelus pahanya otomatis mengangkang sehingga aku bisa mengakses daerah no noknya dengan leluasa. Tubuhnya terasa bergetar, kemudian CDnya yang sudah basah itu kulepaskan. Diamengangkat pantatnya agar aku bisa melepas pembungkus tubuhnya yang terakhir. Jariku mulai sengaja memainkan i tilnya. Kemudian masuk ke no noknya. Aku terus bergantian menjilati pentil kiri dan kanan dan sesekali kuhisap, dan terus jilatanku menjalar ke perutnya, akhirnya sampailah ke no noknya.

Kali ini kucium jembutnya yang lebat dan kubuka bibir no noknya dengan dua jari. Kadang bibir no noknya kuhisap, kadang i tilnya, namun yang membuat dia tak tahan adalah saat lidahku masuk di antara kedua bibir no noknya sambil menghisap itilnya. Hanya dalam beberapa menit dia benar-benar tak tahan. Dan.. dia mengejang dan dengan sekuatnya dia berteriak sambil mengangkat pantatnya sehingga i tilnya merapat dengan mulutku. Dia meremas-remas rambutku, rupanya dia merasakan nikmatnya nyampe, hanya dengan bibir dan lidahku.

Aku terus mencumbu no noknya, hingga napsunya bangkit kembali dengan cepat. “om, Ana sudah pengen dien tot.” katanya memohon sambil membuka pahanya lebih lebar. Aku pun bangkit, mengangkat badannya yang sudah lemes dan kubawa ke kamar. Di kamar, dia kubaringkan di tempat tidur ukuran besar dan aku mulai membuka bajuku, kemudian celanaku. Dia nampak terkejut melihat kon tolku yang besar dan panjang nongol dari bagian atas CDku. Kemudian aku juga melepas CDku. Sementara itu dia terbaring menunggu. kon tolku yang besar dan panjang dan sudah maksimal ngacengnya, tegak hampir menempel ke perut. Dan saat aku pelan-pelan menindihnya, dia membuka pahanya makin lebar dan memejamkan matanya. Aku mulai mendekapnya sambil terus mencium bibirnya, kurasakan kon tolku mulai menyentuh bibir no noknya. Sebentar kuusap-usapkan dan pelan sekali bibir no noknya kudesak menyamping dengan kon tol besarku. Mili per mili. Pelan sekali kon tolku terus masuk . Dia mendesah tertahan karena rasa yang luar biasa nikmatnya. Terus.. Terus.. Akhirnya kon tolku menyentuh bagian dalam no noknya, maka secara refleks dia merapatkan pahanya. Aku terus menciumi bibir dan lehernya. Dan tanganku tak henti-henti meremas-remas toketnya. kon tol besarku mulai kuenjot halus dan pelan.

Nafasnya cepat sekali memburu, terengah-engah. Dia rupanya merasakan nikmat luar biasa karena gerakan kon tolku. Aku tahu bahwa dia semakin hanyut. Maka makin gencar kulumat bibirnya, lehernya dan toketnya kuremas makin kuat. Dengan tusukan kon tolku yang agak kuat, kupepet i tilnya dengan menggoyang goyangnya, dia menggelepar, tubuhnya mengejang, tangannya mencengkeram kuat-kuat sekenanya. no noknya terasa menegang, berdenyut dan mencengkeram kuat-kuat. Rupanya dia benar-benar mencapai puncak kenikmatan yang belum pernah dialaminya. “om, Ana nyampe om”, teriaknya dengan kuat. Setelah selesai, pelan pelan tubuhnya lunglai, lemas. Sudah dua kali dia nyampe dalam waktu relatif singkat. Aku membelai rambutku yang basah keringat. Dia membuka matanya, aku tersenyum dan menciumnya lembut sekali, tak henti hentinya toketnya kuremas-remas pelan.

cerita sex,cerita dewasa,cerita mesum,cerita ngentot, ngentot artis, cerita bokep
Tiba tiba, dengan serangan cepat bibirnya kulumat dengan kuat dan diteruskan ke leher serta toketnya kuremas-remas lebih kuat. Napsunya naik lagi dengan cepat, saat kembali aku memainkan kon tolku semakin cepat. Uhh, sekali lagi dia nyampe, yang hanya selang beberapa menit, dan kembali dia berteriak lebih keras lagi. Aku terus memainkan kon tolku dan kali ini aku ikut menggelepar, wajahku menengadah.

Satu tanganku mencengkeram lengannya dan satunya menekan toketnya. Dia makin meronta-ronta tak karuan. Puncak kenikmatan diikuti ngecretnya pejuku dengan kuat di dalam no noknya, menyembur berulang kali. Terasa banyak sekali peju kental dan hangat menyembur dan memenuhi no noknya, peju yang keluar seolah menyembur seperti air yang memancar kuat.

Setelah selesai, aku memiringkan tubuhku sambil tetap meremas lembut toketnya sambil mencium wajahnya. “An, kamu luar biasa, no nokmu peret dan nikmat sekali” pujiku sambil membelai toketnya. “om juga hebat. Bisa membuat Ana nyampe beberapa kali, dan baru kali ini Ana bisa nyampe dan merasakan kon tol raksasa. Hihi..”. “Oo gitu ya An, jadi kamu suka dengan kon tolku?” godaku sambil membelai belai wajahnya. “Ya om, kon tol om nikmat, besar, panjang dan keras banget”, jawabnya. Aku tidak langsung mencabut kon tolku, tapi mengajak mengobrol sembari kon tolku makin mengecil.

Dan tak henti-hentinya aku menciumi nya, membelai rambutnya dan toketnya. Peju yang bercampur dengan cairan no noknya mengalir keluar. Setelah cukup mengobrol dan saling membelai, pelan-pelan kon tol yang telah menghantarkan dia ke awang awang itu kucabut sambil kucium lembut sekali. Tak lama kemudian tertidurlah dia dalam pelukanku.

Dia tidur nyenyak sekali. Ketika dia terbangun, dah sekitar tengah malam. Kubelai rambutnya, kurang lebih setengah jam kami berbaring berdampingan. Aku lalu mengajaknya mandi karena badan kami basah dan lengket karena keringat abis bertempur tadi. . Kubimbing dia ke kamar mandi, saat berjalan masih ada sisa peju yang mengalir di pahanya, mungkin saking banyaknya aku ngecret didalam nonoknya. Dalam bathtub yang berisi air hangat, dia duduk di atas pahaku. Aku mengusap-usap punggungnya. Aku memeluknya sangat erat hingga dadaku menekan toketnya. Sesekali aku menggeliatkan badanku sehingga pentilnya bergesekan dengan dadaku yang dipenuhi busa sabun. Pentilnya mulai mengeras.

Pangkal pahanya yang terendam air hangat tersenggol2 kon tolku. Hal itu menyebabkan napsuku mulai berkobar kembali. Dia kutarik sehingga menempel lebih erat ke tubuhku. Aku menyabuni punggungnya. Sambil mengusap-usapkan busa sabun, tanganku terus menyusur hingga tenggelam ke dalam air. Aku mengusap-usap pantatnya dan kuremas. kon tolku pun mulai tegang ketika menyentuh no noknya. Terasa bibir luar no noknya bergesekan dengan kon tolku.

Dengan usapan lembut, tanganku terus menyusuri pantatnya. Aku mengusap beberapa kali hingga ujung jariku menyentuh lipatan daging antara lubang pantat dan no noknya. “om nakal!” desahnya sambil menggeliat mengangkat pinggulnya. Dia menggeliatkan pinggulnya. Aku mengecup lehernya berulang kali sambil menyentuh bagian bawah bibir no noknya. Tak lama kemudian, aku semakin jauh menyusur hingga akhirnya lipatan bibir luar no noknya kuusap-usap. Aku berulang kali mengecup lehernya. Sesekali kujilat, sesekali menggigit dengan gemas. “Aarrgghh..Sstt.. Sstt..” rintihnya berulang kali. Lalu dia bangkit dari pangkuanku. Tapi ketika berdiri, kedua lututnya goyah. Dengan cepat aku pun bangkit berdiri dan segera membalikkan tubuhnya. Aku tak ingin dia terjatuh. Aku menyangga punggungnya dengan dadaku. Lalu kuusapkan kembali cairan sabun ke perutnya. Keatas, meremas dengan lembut toketnya dan pentilnya kujepit2 dengan jempol dan telunjuk.

Pentil kiri dan kanan kuremas bersamaan. Lalu aku mengusap semakin ke atas dan berhenti di lehernya. “om, lama amat menyabuninya” rintihnya sambil menggeliatkan pinggulnya. kon tolku semakin keras dan besar, makin dalam terselip dipantatnya.

Dia meremas bijiku dengan gemas. Aku menggerakkan telapak kananku ke arah pangkal pahanya. Sesaat aku mengusap usap jembut lebatnya, lalu mengusap no noknya berulang kali. Jari tengahku terselip di antara kedua bibir luar no noknya. Aku mengusap berulang kali. i tilnya pun menjadi sasaran usapanku. “Aarrgghh..!” rintihnya ketika merasakan kon tolku makin kuat menekan pantatnya. Dia jongkok merendam nonoknya ke dalam air. Dibersihkannya celah diantara bibir no noknya dengan mengusapkan 2 jarinya.

Ketika dia menengadah kon tolku telah berada persis didepannya. kon tolku telah ngaceng berat. “om, kuat banget sih om, baru aja ngecret di no nok Ana sekarang sudah ngaceng lagi”, katanya sambil meremas kon tolku, lalu diarahkan ke mulutnya.

Dikecupnya ujung kepala kon tolku. Tubuhku bergetar menahan nikmat ketika dia menjilati kepala kon tolku. Aku meraih bahunya karena tak sanggup lagi menahan napsu. Setelah berdiri, kaki kirinya kuangkat dan kuletakkan di pinggir bath tub. Dia kubuat menungging sambil memegang dinding di depannya dan aku menyelipkan kepala kon tolku ke celah di antara bibir no noknya. “Argh, aarrgghh..,!” rintihnya.

Aku menarik kon tolku perlahan-lahan, kemudian mendorongnya kembali perlahan-lahan pula. Bibir luar no noknya ikut terdorong bersama kon tolku. Perlahan-lahan kutarik kembali kon tolku, aku bertanya “Enak An?”. “Enaak banget om”,jawabnya.

Aku mengenjotkan kon tolku dengan cepat sambil meremas bongkah pantat nya dan juga toketnya. “Aarrgghh..!” rintihnya ketika kon tolku kembali menghunjam no noknya. Dia terpaksa berjinjit karena merasa kon tolku seolah membelah no noknya karena besarnya. Terasa no noknya sesek kemasukan kon tolku yang besar dan panjang itu. Kupegang pinggulnya dengan erat dan kon tol kukeluar masukkan dengan cepat dan keras. Terdengar ‘cepak-cepak’ setiap kali pangkal pahaku berbenturan dengan pantatnya. “Aarrgghh.., om.., Ana nyampe..!” Dia lemas ketika nyampe lagi untuk kesekian kalinya. Aku juga tidak dapat menahan pejuku lebih lama lagi. “Aarrgghh.., An”, kataku sambil menghunjamkan kon tolku sedalam-dalamnya.

“om.., sstt, sstt..” katanya karena berulangkali merasa tembakan pejuku dino noknya. “Aarrgghh.., An, enaknya!” bisikku ditelinganya. “om.., sstt.., sstt..! Nikmat sekali ya dien tot om”, jawabnya. Aku masih mencengkeram pantatnya sementara kon tolku masih nancep dino noknya. Beberapa saat kami diam di tempat dengan kon tolku yang masih menancap di no noknya. Kemudian aku membimbingnya ke shower, menyalakan air hangat dan kami berpelukan mesra dibawah kucuran air hangat.

Setelah selesai aku keluar duluan, sedang dia masih menikmati shower. Selesai mandi, dengan rambut yang masih basah dan masih bertelanjang bulat, dia keluar dari kamar mandi. Aku sudah mengambilkan soft drink dingin dari lemari es. Ditenggaknya sekali abis. “Haus ya An, laper lagi gak?” “Mangnya ada makanan om?” “Ada si piza tapi sisa. Gak apa kan”. “Gak apa om, gak basi kan”. “Ya enggaklah say, aku angetin dulu di micro wave ya, masih banyak kok, cukuplah buat kamu. aku mah gak laper, aus iya”. Aku menyiapkan pizanya. Dia duduk di mejadekat sofa. Dia kupersilakan minum dan makan sambil mengobrol, diiringi lagu lembut. Setelah makan, aku memintanya duduk di pangkuanku. Dia menurut saja.

Sambil mengobrol, dia kumanja dengan belaianku. Akhirnya setelah selesai makan, kuraih dagunya, dan kucium bibirnya dengan hangatnya, dia mengimbangi ciumanku. Dan selanjutnya aku mulai meremas-remas lembut toketnya, kemudian menelusuri antara dada dan pahanya. Dia sadar bahwa sesuatu yang didudukinya terasa mulai agak mengeras. Ohh, dia langsung bangkit. Dia bersimpuh di depanku dan ternyata kon tolku sudah mulai ngaceng, walau masih belum begitu mengeras.

Kepala kon tolku sudah mulai sedikit mencuat keluar dari kulupnya lalu diraihnya, dibelai dan kulupnya ditutupkan lagi. Dia suka melihatnya dan sebelum penuh tegangnya langsung dikulumnya kon tolku. Dia memainkan kulup batang yang tebal dengan lidahnya. Ditariknya kulup ke ujung, membuat kepala kon tolku tertutup kulupnya dan segera dikulum, dimainkannya kulupku dengan lidahnya, dan diselipkannya lidahnya ke dalam kulupku sambil lidahnya berputar masuk di antara kulup dan kepala kon tolku. Enak rasanya. Tapi hanya bisa sesaat, sebab dengan cepatnya kon tolku makin membengkak dan aku mulai menggeliat dan berdesis menahan kenikmatan permainan lidahnya dan membuat mulutnya semakin penuh.

“om, hebat ya sudah ngaceng lagi, kita lanjut yuk om”, katanya, yang juga sudah terangsang.

Aku makin tak tahan menerima rangsangan lidahnya. Maka dia kutarik ke tempat tidur. Kakinya kubuka sambil tersenyum dan aku langsung menelungkup di antara pahanya. “Aku suka melihat no nok kamu An” ujarku sambil membelai jembutnya yang lebat. “Mengapa?” “Sebab jembutmu lebat dan cewek yang jembutnya lebat napsunya besar, kalau dien tot jadi binal seperti kamu, juga tebal bibirnya”. Aku terus membelai jembut dan bibir no noknya. Kadang-kadang kucubit pelan, kutarik-tarik seperti mainan. Bibir no noknya kubuka, dia makin terangsang dan makin banyak keluar cairan dari no noknya. Aku terus memainkan no noknya seolah tak puas-puas, kadang kadang kusentuh sedikit i tilnya. Pinggulnya mulai menggeliat, kemudian diangkatnya pinggulnya, langsung kusambut dengan bibirku.

Kuhisap lubang no noknya yang sudah penuh cairan. Lidahku ikut menari kesana kemari menjelajah seluruh lekuk no noknya, dan saat kuhisapnya i tilnya dengan ujung lidah, dia berteriak.. “Aauuhh!! Ayo dong om, Ana pingin dien tot lagi” ujarnya sambil menarik bantal. Aku langsung menempatkan tubuhku makin ke atas dan mengarahkan kon tol gedeku ke arah no noknya.

Kupegang kon tolku dan kuselipkan di antara bibir no noknya. Pegangan kulepas saat kepala kon tolku mulai menyelinap di antara bibir no noknya dan menyelusup ke lubang no noknya. Pelan-pelan kutekan dan kucium bibirnya lembut. Dia merapatkan pahanya supaya kon tolku tidak terlalu masuk ke dalam. Aku langsung menjepit kedua pahanya hingga terasa sekali kon tolku menekan dinding no noknya. kon tolku semakin masuk.

Belum semuanya masuk, kutarik kembali seolah akan dicabut hingga tak sadar pinggulnya naik mencegah agar tidak lepas. Beberapa kali kulakukan sampai akhirnya dia berteriak-teriak sendiri. Setelah puas menggodanya, dengan hentakan agak keras, kupercepat gerakan memainkan kon tolku. dengan hentakan keras kon tol kugoyang goyangkan, sambil meremas toketnya, kuciumi lehernya. Akhirnya dia mengelepar-gelepar. Dan sampailah dia kepuncak. Dia berteriak. Aku menyerangnya terus dengan dahsyatnya, sehingga tak habis-habisnya dia melewati puncak kenikmatan.

Lama sekali. Dia memohon, tak kuat menerima rangsangan lagi, benar benar terkuras tenaganya dengan orgasme berkepanjangan. Akhirnya aku pelan-pelan mengakhiri serangan dahsyatku. Dia terkulai lemas sekali, keringatnya bercucuran. Tubuhnya kutindih serta lehernya kembali kucumbu. Kupeluk tubuhnya dan kembali kuremas toketnya. Pelan-pelan kon tol mulai kuenjotkan.

Aku terus menelusuri permukaan tubuhnya. Dadaku merangsang toketnya setiap kali bergeseran mengenai pentilnya. Dan kon tol kupompakan dengan sepenuh perasaan, lembut sekali, bibirku menjelajah leher dan bibirnya. Lama kelamaan tubuhnya yang semula lemas, mulai terbakar lagi. Dia berusaha menggeliat, tapi tubuhnya kupeluk cukup kuat, tangannya mulai menggapai apa saja yang bisa didapat. Aku makin meningkatkan cumbuanku dan memompakan kon tolku makin cepat. Gesekan di dinding no noknya makin terasa. Dan kenikmatan makin memuncak. Leherku kugigit agak kuat dan kumasukkan seluruh batang kon tolku serta kugoyang-goyang untuk meningkatkan rangsangan di i tilnya. Maka jebol lah bendungannya, dia mencapai puncak kembali. Kembali dia berteriak sekuatnya menikmati ledakan orgasme yang lebih kuat, dia meronta2. Dia menggigit pundakku.

Sesaat aku menurunkan gerakanku, tapi saat itu kubalik tubuhnya hingga dia yang di atas. Dia terkulai di atas tubuhku. Dengan sisa tenaganya dia mengeluarkan kon tolku dari no noknya. Diraihnya kon tolku. Tanpa pikir panjang, kon tol yang masih berlumuran cairan no noknya sendiri dikulum dan dikocoknya. Pinggulnya kuraih hingga dia telungkup di atasnu dengan posisi terbalik. Kembali no noknya yang berlumuran cairan jadi mainanku, dia makin bersemangat mengulum dan menghisap sebagian kon tolku. Kupeluk pinggulnya hingga sekali lagi dia orgasme. Kuhisap i tilnya sambil ujung lidahku menari cepat sekali. Tubuhnya mengejang dan menjepit kepalaku dengan kedua pahanya dan dirapatkannya pinggulnya agar bibir no noknya merapat ke bibirku. Dia tidak bisa berteriak tapi karena mulutnya penuh, dan tanpa sadar dia menggigit agak kuat kon tolku dan dicengkeramnya dengan kuat saat dia masih menikmati orgasme. “An, aku mau ngecret An, di dalam no nokmu ya”, kataku sambil menelentangkan dia. “Ya, om”, jawabnya. Dia kunaiki dan dengan satu hentakan keras, kon tolku yang besar sudah kembali menyesaki no noknya. Aku langsung memain kon tolku keluar masuk dengan cepat dan keras. Dalam beberapa enjotan saja tubuhkupun mengejang.

Pantatnya dihentakkannya ke atas dengan kuat sehingga kon tolku nancap semuanya ke dalam no noknya dan akhirnya crot .. crot ..crot, pejuku muncrat dalam beberapa kali semburan kuat. Aku menelungkup diatasnya sambil memeluknya erat2. “An, nikmat sekali ngen tot sama kamu, no nok kamu kuat sekali cengkeramannya ke kon tolku”, bisikku. “Ya om, Ana juga nikmat sekali, tentu saja cengkeraman no nok Ana terasa kuat karena kon tol om kan gede banget. Rasanya sesek deh no nok Ana kalau om neken kon tol om masuk semua. Kalau ada kesempatan, Ana dien tot lagi ya om”, jawabnya. “Pasti”, lalu bibirnya kucium dengan mesra.

Minggu, 07 Oktober 2018

Prediksi togel - Minggu 07 Oktober 2018


 >>>SINGAPOREPOOLS<<<


ANGKA MAIN : 7 4 0 1
TOP 2D : 07 10 24 31 47
CADANGAN 2D : 57 60 74 81 97
TOP SHIO : Kerbau Kambing Kelinci
COLOK BEBAS : 0 1 4  
AS : 0  1 2
KOP : 3 5 6
KEPALA : Kecil  / Ganjil
EKOR : Kecil / Ganjil



Membayangkan keduanya lagi bercinta membuat saya terangsang sendiri sehingga saya coba mempercepat pekerjaan saya yang masih setumpuk. Namun baru jam setengah tujuh malam saya bisa merampungkannya. Secepat kilat saya pacu mobil saya menuju rumah. Dibenak saya hanya ada keinginan untuk melakukan threesome dengan istri saya dan Rido. Hari sudah mulai gelap saat saya sampai.

Teras rumah saya sudah terang benderang oleh temaramnya lampu yang dinyalakan. Hana keluar menyambut saya. Ia menyapa saya dengan senyuman yang sangat manis dan manja. Kami berciuman sejenak sebelum saya tarik masuk tubuhnya. Saat itu ia hanya mengenakan gaun tidur model kimono dari bahan satin yang dihiasi renda renda dibagian dadanya. Putting susunya tampak menyembul dan tercetak jelas pada gaun itu sehingga dengan mudah saya tebak kalau ia tidak mengenakan pakaian dalam. Masih tersisa peluh didahinya sebagaimana seseorang yang habis berolah raga atau bekerja keras.

“Habis kerjaaa keras nih!” sindirku.

“Ah, kamu bisa aja” sahutnya dengan pipi yang tersipu.

“Rido dimana, Na?”

“Kayaknya lagi mandi”

Saya tarik tangannya menuju sofa yang ada diruangan tengah. Mengajaknya berciuman sebentar sebelum saya lanjutkan bertanya,

“Lelaki itu hebat, Na?”.

Ia tidak menjawab hanya membeliakkan mata kearah saya.

“Berapa kali kamu klimaks? Enam? delapan?” sambungku yang juga tidak dijawabnya.

Kembali saya lumat bibirnya dan mulai menggerayangi bagian dadanya. Hana menolak dengan halus karena ia ingin saya mandi terlebih dahulu sementara ia akan menyiapkan makan malam. Saya setuju.

Selesai mandi saya keluar menuju ruang tengah dengan mengenakan kimono mandi dan celana dalam saja. Rido dan istri saya sudah ada di meja makan menunggu saya. Kemudian kami bersantap malam sambil berbincang-bincang mengenai banyak topic. Setelah selesai Hana memunguti piring-piring kotor untuk dibawanya kedapur sementara saya dan Rido melangkah ke ruang tengah. Saya duduk di sofa panjang sedang ia duduk disofa single diseberang saya.

“Gimana istriku, Do?” tanya saya dengan nada sengaja saya pelankan agar tidak terdengar oleh Hana yang masih sibuk mencuci piring.

“Luar biasa, Roy! Elu bener-bener suami yang sangat beruntung punya bini secantik dia.“

“Berapa kali kalian ngelakuinnya?”

“Mungkin lima atau enam kali, engga ingat… soalnya “V” bini elu sungguh sangat nikmat kenyal dan pulen. Belum lagi servisnya yang benar-benar luar biasa. Aku jadi ketagihan berat padanya!”

“Sialan kalian! Lagi ngomongin gue yaaa!” omel Hana yang mendadak telah beridiri di samping saya. Ia lalu saya tarik duduk disebelah saya.

“Rido bilang aku suami yang beruntung punya bini sesempurna kamu, Say…” Ujarku.

“Biasa lelaki kalau ada maunya pasti ngumbar rayuan maut”

“Bukan gitu Na, tapi emang kamu istri yang sangat sempurna” lanjutku seraya menempelkan bibir kebibirnya.

Istri saya kembali menolak saya dengan halus karena ia mengusulkan untuk lebih dulu menonton dvd porno yang saya beli tempo hari. Saya kembali setuju. Dan dengan santai kami nikmati adegan-adegan penggugah nafsu itu bertiga. Belum sampai selesai film yang kami tonton ketika saya lihat Hana mulai tidak tenang duduknya. Berkali-kali ia geser-geser dan ubah-ubah posisi kakinya, sepertinya ada sesuatu yang aneh dipangkal pahanya.

Saya ciumi lehernya sambil merabakan tangan pada tonjolan buah dadanya yang masih terbalut kimono satinnya. Kali ini istri saya tidak menolak. Bahkan ia sangat menikmati ciuman dan remasan saya. Putingnya menjadi semakin mengeras dan semakin menyembul. Dengan sangat gampang saya tarik lepas tali pengikat kimononya kemudian menyibakkan ujung-ujungnya kekanan kekiri. Saya tatap dengan penuh kekaguman kedua payudaranya yang montok dan ranum sebelum saya jilat-jilat serta saya hisapi. Ketika saya selipkan tangan pada pangkal pahanya saya temukan sebuah celah yang sudah sangat becek penuh lendir birahi.

“Uuuhhhh…” Desahnya perlahan namun terdengar sangat nikmat.

Hana meraih kepala saya lalu mengiringnya kearah selakangannya. Saya pun menurut. Sembari bergerak saya ciumi setiap bagian tubuhnya yang saya lewati. Perutnya, pusarnya, bulu-bulu kemaluannya yang lebat, dan bongkahan vaginanya yang membulat sempurna bak cangkang penyu. Saya telusuri bibir liang yang telah terkuak lebar itu kemudian saya julurkan lidah menggelitik kelentitnya yang telah sangat menonjol. Istri saya menggerinjal serta melenguh sangat nikmat setiap saya melakukannya.

Rido bangkit mendekati kami dengan tubuh yang sudah bertelanjang bulat. Batang kemaluannya yang hitam panjang dan kekar itu terlihat sudah sangat tegang. Mendongak minta jatah. Ia mengajak istri saya berciuman. Tanganya mulai meremas remas buah dada istri saya sementara tangan istri saya telah menggenggam batang kemaluannya. Saya julurkan lidah dan saya benamkan berulang kali pada liang yang tanpa ujung itu. Saya tusuk-tusukkan sambil menikmati setiap aliran lendir asmaranya. Desah mulut Hana menjadi semakin keras terdengar.

Rido bangkit menyodorkan kemaluannya kemulut Hana. Batang sepanjang dua puluhan centi itu disambut istri saya dengan lidah yang terjulur. Lalu dengan sangat lahap istri saya mulai mengulumnya. Saya sibakkan kimono mandi saya dan memelorotkan celana dalam saya. Saya genggam dan saya urut-urut otot sepanjang lima belas centi yang meyembul diantara paha saya sambil menyaksikan istri saya sedang melumat penis hitam Rido yang panjang itu penuh nafsu. Saya menjadi semakin terangsang dan ingin segera menyetubuhi istri saya. Saya angkat kedua kakinya kemudian saya dorong batang kemaluan saya kedepan membenamkannya dengan penuh perasaan kedalam liang syahwatnya.

Sambil menikmati setiap gesekan lembut dengan dinding-dinding dalam vaginanya. Inci demi inci. Sekonyong-konyong saya disergap berjuta-juta gelombang kenikmatan selama proses pemasukan itu. Bermula dari ujung penis saya lalu menjalar kebatangnya, lalu menyebar keseluruh bagian tubuh saya. Selanjutnya saya coba mengeksplorasi kenikmatan yang lebih besar dengan tak henti-hentinya menggali, menggali, dan menggali liang itu lebih dalam lagi. Sementara itu istri saya masih asyik mengulum black banana yang ada dalam genggaman tangannya.

Hana terus menerus mengerang nikmat saat tubuhnya bergoyang maju mundur diombang ambingkan gelombang birahi yang saya ciptakan. Kemudian ia mengejan. Seluruh otot ditubuhnya berkontraksi hebat saat dirinya dilanda puncak ketegangan. Ia menjerit panjang pada saat badai orgasme tiba-tiba meledak dan menyambar dirinya!. Cairan kenikmatannya memancar dan melumasi seluruh batang kemaluan saya yang masih terbenam disana.

Kami berganti posisi. Saya duduk disofa sedangkan Hana menyodorkan mukanya keselangkangan saya, ia menghisapi dengan lahap batang kemaluan saya yang masih basah kuyub oleh lendir orgasmenya. Giliran Rido yang menyetubuhi istri saya dari belakang. Benda sepanjang sembilan inci itu digerakkan keluar masuk dengan sangat cepat. Terdengar suara “plok! plok! plok!” setiap kali zakar Rido menepuk nepuk pantat istri saya.

“Ooouughttt… ooochh…” desah istri saya tanpa melepaskan batang kemaluan saya dari mulutnya.

Dan setiap kali istri saya mendesah lebih keras Rido melesakkan batang kemaluannya lebih dalam lagi. Rido tidak membiarkan dirinya segera mencapai puncak. Ia menarik diri lalu menelentangkan tubuh istri saya diatas sofa. Ia buka kedua kaki istri saya lalu menaikkannya keatas bahunya sambil membenamkan kembali batang kemaluannya. Keduanya bergerak dalam irama yang selaras melaju dengan pasti menuju ke puncak tertinggi. Istri saya tampak begitu menikmati setiap hujaman kemaluan Rido. Ia menyambut dengan goyangan pinggulnya yang menghentak-hentak. Denyutan nikmat yang diciptakan Hana membuat Rido tambah bersemangat. Ia percepat gerakan keluar masuknya seperti sedang memacu seekor kuda balap. Terdengar napas keduanya terengah engah saling mengerang dan melenguh penuh nikmat.

Beberapa menit kemudian istri saya kembali memekik penuh kepuasan sambil mendekap erat tubuh Rido. Sementara itu Rido masih memompa dengan sangat cepat berusaha secepatnya mencapai klimaks. Beberapa detik sebelum terjadinya pancaran klimaks, Rido mencabut penisnya kemudian menghampiri wajah istri saya. Ia merancap dengan sangat cepat sampai terdengar lenguhannya yang keras ketika ujung batang kemaluannya menyemburkan cairan kental berwarna putih pekat yang sengaja diarahkan kebibir Hana. Setelah mereda, istri saya kembali menjilati ujung kemaluan Rido sampai bersih.

Saya sejak tadi hanya bisa berdiri menyaksikan pergulatan keduanya sambil mengurut-urut batang kemaluan saya sendiri. Melihat celah vagina Hana yang menganga dan mengkilap karena lendir birahinya membuat saya sangat terangsang dan ingin memasukinya. Selanjutnya saya tancapkan dengan sangat bernafsu. Meskipun liang senggama itu kini terasa sedikit longgar namun tetap saja mampu memberi rasa nikmat yang luar biasa. Saya lumat liang itu dengan sangat bergairah.

Hana kembali menggoyang pinggulnya membuat liang vaginanya bertambah nikmat ribuan kali. Saya semakin kesetanan saat menyetubuhinya. Apa yang saya lakukan rupanya menyebabkan menyalanya kembali gairah istri saya. Sehingga kini kami berdua saling menuntut kepuasan puncak dengan saling menggesek dan meraba. Sekian menit kemudian saya percepat gerakan pinggul saya saat terasa desakan sangat kuat diujung penis saya. Istri saya memekik dengan keras ketika ia lebih dahulu sampai di puncak. Nyaris bersamaan saya rasakan ujung penis saya bergetar hebat. Sehingga saya coba menekan pinggul lebih dalam lagi. Akhirnya batang kemaluan saya menggelepar-gelepar sembari memuntahkan cairan kenikmatan dalam jumlah yang sangat banyak diantara himpitan liang vagina Hana. Saking banyaknya hingga meluber keluar dan meleleh diatas sofa.

Setelah membersihkan diri, kami melanjutkan permainan didalam kamar. Secara bergantian saya dan Rido menggarap vagina Hana. Malam itu belasan kali istri saya mencapai klimaks disertai jeritan panjang penuh kepuasan.


Sabtu, 06 Oktober 2018

Prediksi togel - Sabtu 06 Oktober 2018


>>>SINGAPOREPOOLS<<<


ANGKA MAIN : 3 0 6 2
TOP 2D : 03 10 26 32 43
CADANGAN 2D : 53 60 76 82 93
TOP SHIO : Monyet Tikus Ular
COLOK BEBAS : 0 2 3 
AS : 3 5 6
KOP : 7 8 9
KEPALA : Besar / Genap
EKOR : Kecil / Genap



Siang itu, ponselku berbunyi, dan suara merdu dari seberang sana memanggil.
“Di, kamu ke rumahku duluan deh sana, saya masih meeting. Dari pada kamu kena macet di jalan, mendingan jalan sekarang gih sana.”
“Oke deh, saya menuju rumah kamu sekarang. Kamu meeting sampai jam berapa?”
Yah, sore sudah pulang deh, tunggu aja di rumah.
Meluncurlah aku dengan motor Honda ke sebuah rumah di salah satu kompleks di Jakarta. Vina memang kariernya sedang naik daun, dan dia banyak melakukan meeting akhir-akhir ini. Aku sih sudah punya posisi lumayan di kantor. Hanya saja, kemacetan di kota ini begitu parah, jadi lebih baik beli motor saja dari pada beli mobil. Vina pun tak keberatan mengarungi pelosok-pelosok kota dengan motor bersamaku.
Kebetulan, pekerjaanku di sebuah biro iklan membuat aku bisa pulang di tengah hari, tapi bisa juga sampai menginap di kantor jika ada proyek yang harus digarap habis-habisan. Vina, pacarku, mendapat fasilitas antar jemput dari kantornya. Jadi, aku bisa tenang saja pergi ke rumahnya tanpa perlu menjemputnya terlebih dulu.
Sesampai di rumahnya, pagar rumah masih tertutup walau tidak terkunci. Aku mengetok pagar, dan keluarlah Marta, kakak Vina, untuk membuka pintu.
“Loh, enggak kerja?” tanyaku.
“Nggak, aku izin dari kantor mau ngurus paspor,” jawabnya sambil membuka pintu pagarnya yang berbentuk rolling door lebar-lebar agar motorku masuk ke dalam.
“Nyokap ke mana?” tanyaku lagi.
“Oh, dia lagi ke rumah temannya tuh, ngurusin arisan,” kata Marta, “Kamu mau duduk di mana Dodi? Di dalam nonton TV juga boleh, atau kalau mau di teras ya enggak apa juga. Bentar yah, saya ambilin minum.”
Setelah motor parkir di dalam pekarangan rumah, kututup pagar rumahnya. Aku memang akrab dengan kakak Vina ini, umurnya hanya sekitar dua tahun dari umurku. Yah, aku menunggu di teras sajalah, canggung juga rasanya duduk nonton TV bersama Marta, apalagi dia sedang pakai celana pendek dan kaos oblong.
Setelah beberapa lama menunggu Vina di teras rumah, aku celingukan juga tak tahu mau bikin apa. Iseng, aku melongok ke ruang tamu, hendak melihat acara televisi. Wah, ternyata mataku malah terpana pada paha yang putih mulus dengan kaki menjulur ke depan. Kaki Marta ternyata sangat mulus, kulitnya putih menguning.
Marta memang sedang menonton TV di lantai dengan kaki berjelonjor ke depan. Kadang dia duduk bersila. Baju kaosnya yang tipis khas kaos rumah menampakkan tali-tali BH yang bisa kutebak berwarna putih. Aku hanya berani sekali-kali mengintip dari pintu yang membatasi teras depan dengan ruang tamu, setelah itu barulah ruang nonton TV. Kalau aku melongokkan kepalaku semua, yah langsung terlihatlah wajahku.
Tapi rasanya ada keinginan untuk melihat dari dekat paha itu, biar hanya sepintas. Aku berdiri.
“Ta, ada koran enggak yah,” kataku sambil berdiri memasuki ruang tamu.
“Lihat aja di bawah meja,” katanya sambil lalu.
Saat mencari-cari koran itulah kugunakan waktu untuk melihat paha dan postur tubuhnya dari dekat. Ah, putih mulus semua. Buah dada yang pas dengan tubuhnya. Tingginya sekitar 160 cm dengan tubuh langsing terawat, dan buah dadanya kukuh melekat di tubuh dengan pasnya.
“Aku ingin dada itu,” kataku membatin. Aku membayangkan Marta dalam keadaan telanjang. Ah, ‘adikku’ bergerak melawan arah gravitasi.
“Heh! Kok kamu ngeliatin saya kayak gitu?! Saya bilangin Vina lho!,” Marta menghardik.
Dan aku hanya terbengong-bengong mendengar hardikannya. Aku tak sanggup berucap walau hanya untuk membantah. Bibirku membeku, malu, takut Marta akan mengatakan ini semua ke Vina.
“Apa kamu melotot begitu, mau ngancem?! Hah!”
“Astaga, Marta, kamu.. kamu salah sangka,” kataku tergagap. Jawabanku yang penuh kegamangan itu malah membuat Marta makin naik pitam.
“Saya bilangin kamu ke Vina, pasti saya bilangin!” katanya setengah berteriak. Tiba-tiba saja Marta berubah menjadi sangar. Kekalemannya seperti hilang dan barangkali dia merasa harga dirinya dilecehkan. Perasaan yang wajar kupikir-pikir.
“Marta, maaf, maaf. Benar-benar enggak sengaja saya. saya enggak bermaksud apa-apa,” aku sedikit memohon.
“Ta, tolong dong, jangan bilang Vina, kan cuma ngeliatin doang, itu juga enggak sengaja. Pas saya lagi mau ngambil koran di bawah meja, baru saya liat elu,” kataku mengiba sambil mendekatinya.
Marta malah tambah marah bercampur panik saat aku mendekatinya.
“Kamu ngapain nyamperin saya?! Mau ngancem? Keluar kamu!,” katanya garang. Situasi yang mencekam ini rupanya membuatku secara tidak sengaja mendekatinya ke ruang tamu, dan itu malah membuatnya panik.
“Duh, Ta, maaf banget nih. Saya enggak ada maksud apa-apa, beneran,” kataku.
Namun, situasi telah berubah, Marta malah menganggapku sedang mengancamnya. Ia mendorong dadaku dengan keras. Aku kehilangan keseimbangan, aku tak ingin terjatuh ke belakang, kuraih tangannya yang masih tergapai saat mendorongku. Raihan tangan kananku rupanya mencengkeram erat di pergelangan tangan kirinya. Tubuhnya terbawa ke arahku tapi tak sampai terjatuh, aku pun berhasil menjaga keseimbangan. Namun, keadaan makin runyam.
“Eh! kamu kok malah tangkep tangan saya! Mau ngapain kamu? Lepasin enggak!!,” kata Marta.
Entah mengapa, tangan kananku tidak melepaskan tangan kirinya. Mungkin aku belum sempat menyadari situasinya. Merasa terancam, Marta malah sekuat tenaga melayangkan tangan kanannya ke arah mukaku, hendak menampar. Aku lebih cekatan. Kutangkap tangan kanan itu, kedua tangannya sudah kupegang tanpa sengaja. Kudorong dia dengan tubuhku ke arah sofa di belakangnya, maksudku hanya berusaha untuk menenangkan dia agar tak mengasariku lagi. Tak sengaja, aku justru menindih tubuh halus itu.
Marta terduduk di sofa, sementara aku terjerembab di atasnya. Untung saja lututku masih mampu menahan pinggulku, namun tanganku tak bisa menahan bagian atas tubuhku karena masih mencengkeram dan menekan kedua tangannya ke sofa. Jadilah aku menindihnya dengan mukaku menempel di pipinya. Tercium aroma wangi dari wajahnya, dan tak tertahankan, sepersekian detik bibirku mengecup pipinya dengan lembut.
Tak ayal, sepersekian detik itu pula Marta meronta-ronta. Marta berteriak, “Lepasin! Lepasin!” dengan paraunya. Waduh, runyam banget kalau terdengar tetangga. Yang aku lakukan hanya refleks menutup mulutnya dengan tangan kananku. Marta berusaha memekik, namun tak bisa. Yang terdengar hanya, “Hmm!” saja. Namun, tangannya sebelah kiri yang terbebas dari cengkeramanku justru bergerak liar, ingin menggapai wajahku.
Hah! Tak terpikir, posisiku ini benar-benar seperti berniat memperkosa Marta. Dan, Marta sepertinya pantas untuk diperkosa. Separuh tubuhnya telah kutindih. Dia terduduk di sofa, aku di atasnya dengan posisi mendudukinya namun berhadapan. Kakinya hanya bisa meronta namun tak akan bisa mengusir tubuhku dari pinggangnya yang telah kududuki. Tangan kanannya masih dalam kondisi tercengkeram dan ditekan ke sofa, tangan kirinya hanya mampu menggapai-gapai wajahku tanpa bisa mengenainya, mulutnya tersekap.
Tubuh yang putih itu dengan lehernya yang jenjang dan sedikit muncul urat-urat karena usaha Marta untuk memekik, benar-benar membuatku dilanda nafsu tak kepalang. Aku berpikir bagaimana memperkosanya tanpa harus melakukan berbagai kekerasan seperti memukul atau merobek-robek bajunya. Dasar otak keparat, diserang nafsu, dua tiga detik kemudian aku mendapatkan caranya.
Tanpa diduga Marta, secepat kilat kulepas cengkeraman tanganku dari tangan dan mulutnya, namun belum sempat Marta bereaksi, kedua tanganku sudah mencengkeram erat lingkaran celana pendeknya dari sisi kiri dan kanan, tubuhku meloncat mundur ke belakang.
Kaki Marta yang meronta-ronta terus ternyata mempermudah usahaku, kutarik sekeras-kerasnya dan secepat-cepatnya celana pendek itu beserta celana dalam pinknya. Karena kakinya meronta terus, tak sengaja dia telah mengangkat pantatnya saat aku meloncat mundur. Celana pendek dan celana dalam pink itu pun lolos dengan mudahnya sampai melewat dengkul Marta.
Astaga! Berhasil!
Marta jadi setengah bugil. Satu dua detik Marta pun sempat terkejut dan terdiam melihat situasi ini. Kugunakan kelengahan itu untuk meloloskan sekalian celana pendek dan celana dalamnya dari kakinya, dan kulempar jauh-jauh. Marta sadar, dia hendak memekik dan meronta lagi, namun aku telah siap. Kali ini kubekap lagi mulutnya, dan kususupkan tubuhku di antara kakinya. Posisi kaki Marta jadi menjepit tubuhku, karena dia sudah tak bercelana, aku bisa melihat vaginanya dengan kelentit yang cukup jelas. Jembutnya hanya menutupi bagian atas vagina. Marta ternyata rajin merawat alat genitalnya.
Pekikan Marta berhasil kutahan. Sambil kutekan kepalanya di sandaran sofa, aku berbisik,
“Marta, kamu sudah kayak gini, kalau kamu teriak-teriak dan orang-orang dateng, percaya enggak orang-orang kalau kamu lagi saya perkosa?”
Marta tiba-tiba melemas. Dia menyadari keadaan yang saat ini berbalik tak menguntungkan buatnya. Kemudian dia hanya menangis terisak. Kubuka bekapanku di mulutnya, Marta cuma berujar sambil mengisak,
“Dodi, please.. Jangan diapa-apain saya. Ampun, Di. saya enggak akan bilang Vina. Beneran.”
Namun, keadaan sudah kepalang basah, syahwatku pun sudah di ujung tanduk rasanya. Aku menjawabnya dengan berusaha mencium bibirnya, namun dia memalingkan mukanya. Tangan kananku langsung saja menelusup ke selangkangannya. Marta tak bisa mengelak.
Ketika tanganku menyentuh halus permukaan vaginanya, saat itulah titik balik segalanya. Marta seperti terhipnotis, tak lagi bergerak, hanya menegang kaku, kemudian mendesis halus tertahan. Dia pun pasti tak sengaja mendesah.
Seperti mendapat angin, aku permainkan jari tengah dan telunjukku di vaginanya. Aku permainkan kelentitnya dengan ujung-ujung jari tengahku. Marta berusaha berontak, namun setiap jariku bergerak dia mendesah. Desahannya makin sulit ditutupi saat jari tengahku masuk untuk pertama kali ke dalam vaginanya. Kukocokkan perlahan vaginanya dengan jari tengahku, sambil kucoba untuk mencumbu lehernya.
“Jangan Dod,” pintanya, namun dia tetap mendesah, lalu memejamkan mata, dan menengadahkan kepalanya ke langit-langit, membuatku leluasa mencumbui lehernya. Dia tak meronta lagi, tangannya hanya terkulai lemas. Sambil kukocok vaginanya dan mencumbui lehernya, aku membuka resleting celanaku. “Adik”-ku ini memang sudah menegang sempurna sedari tadi, namun tak sempat kuperlakukan dengan selayaknya. Karena tubuhku telah berada di antara kakinya, mudah bagiku untuk mengarahkan penisku ke vaginanya.
Marta sebetulnya masih dalam pergulatan batin. Dia tak bisa mengelak terjangan-terjangan nafsunya saat vaginanya dipermainkan, namun ia juga tak ingin kehilangan harga diri. Jadilah dia sedikit meronta, menangis, namun juga mendesah-desah tak karuan. Aku bisa membaca situasi ini karena dia tetap berusaha memberontak, namun vaginanya malah makin basah. Ini tanda dia tak mampu mengalahkan rangsangan.
Penisku mengarah ke vaginanya yang telah becek, saat kepala penis bersentuhan dengan vagina, Marta masih sempat berusaha berkelit. Namun, itu semua sia-sia karena tanganku langsung memegangi pinggulnya. Dan, kepala penisku pun masuk perlahan. Vagina Marta seperti berkontraksi. Marta tersadar,
“Jangan..” teriaknya atau terdengar seperti rintihan.
Rasa hangat langsung menyusupi kepala penisku. Kutekan sedikit lebih keras, Marta sedikit menjerit, setengah penisku telah masuk. Dan satu sentakan berikutnya, seluruh penisku telah ada di dalam vaginanya. Marta hanya memejamkan mata dan menengadahkan muka saja. Ia sedang mengalami kenikmatan tiada tara sekaligus perlawanan batin tak berujung. Kugoyangkan perlahan pinggulku, penisku keluar masuk dengan lancarnya. Terasa vagina Marta mengencang beberapa saat lalu mengendur lagi.
Tanganku mulai bergerilya ke arah buah dadanya. Marta masih mengenakan kaos rumah. Tak apa, toh tanganku bisa menyusup ke dalam kaosnya dan menyelinap di balik BH dan mendapati onggokan daging yang begitu kenyal dengan kulit yang terasa begitu halus. Payudara Marta begitu pas di tanganku, tidak terlalu besar tapi tidak juga bisa dibilang kecil. Kuremas perlahan, seirama dengan genjotan penisku di vaginanya. Marta hanya menoleh ke kanan dan ke kiri, tak mampu melakukan perlawanan. Pinggulnya ternyata mulai mengikuti goyangan pinggulku.
Aku buka kaos Marta, kemudian BH-nya, Marta menurut. Pemandangan setelah itu begitu indah. Kulit Marta putih menguning langsat dengan payudara yang kencang dan lingkaran di sekitar pentilnya berwarna merah jambu Pentil itu sendiri berwarna merah kecokelatan. Tak menunggu lama, kubuka kemejaku. Aktivitas ini kulakukan sambil tetap menggoyang lembut pinggulku, membiarkan penisku merasai seluruh relung vagina Marta.
Sambil aku bergoyang, aku mengulum pentil di payudaranya dengan lembut. Kumainkan pentil payudara sebelah kanannya dengan lidahku, namun seluruh permukaan bibirku membentuk huruf O dan melekat di payudaranya. Ini semua membuat Marta mendesah lepas, tak tertahan lagi.
Aku mulai mengencangkan goyanganku. Marta mulai makin sering menegang, dan mengeluarkan rintihan, “Ah.. ah..”
Dalam goyangan yang begitu cepat dan intens, tiba-tiba kedua tangan Marta yang sedang mencengkeram jok kursi malah menjambak kepalaku.”Aaahh,” lenguhan panjang dan dalam keluar dari mulut mungil Marta. Ia sampai pada puncaknya. Lalu tangan-tangan yang menjambak rambutku itu pun terkulai lemas di pundakku. Aku makin intens menggoyang pinggulku. Kurasakan penisku berdenyut makin keras dan sering.
Bibir Marta yang tak bisa menutup karena menahan kenikmatan itu pun kulumat, dan tidak seperti sebelum-sebelumnya, kali ini Marta membalasnya dengan lumatan juga. Kami saling berpagut mesra sambil bergoyang. Tangan kananku tetap berada di payudaranya, meremas-remas, dan sesekali mempermainkan putingnya.
Vagina Marta kali ini cukup terasa mencengkeram penisku, sementara denyut di penisku pun semakin hebat.
“Uhh,” aku mengejang. Satu pelukan erat, dan sentakan keras, penisku menghujam keras ke dalam vaginanya, mengiringi muncratnya spermaku ke dalam liang rahimnya.
Tepat saat itu juga Marta memelukku erat sekali, mengejang, dan menjerit, “Aahh”. Kemudian pelukannya melemas. Dia mengalami ejakulasi untuk kedua kalinya, namun kali ini berbarengan dengan ejakulasiku. Marta terkulai di sofa, dan aku pun tidur telentang di karpet. Aku telah memperkosanya. Marta awalnya tak terima, namun sisi sensitif yang membangkitkan libidonya tak sengaja kudapatkan, yaitu usapan di vaginanya.
Ternyata, dia sudah pernah bercinta dengan kekasihnya terdahulu. Dia hanya tak menyangka, aku-pacar adiknya malah menjadi orang kedua yang menyetubuhinya.
Grreekk. Suara pagar dibuka. Vina datang! Astaga! aku dan Marta masih bugil di ruang tamu, dengan baju dan celana yang terlempar berserakan..