www.dewalotto.com

www.dewalotto.com
Bandar Online Terbesar Terbonafit Terpercaya dengan Permainan Terlengkap All You Can Play in Dewalotto

Minggu, 15 Oktober 2017

Prediksi Togel Minggu 15 Oktober 2017....

>>> SINGAPOREPOOLS <<<

ANGKA MAIN : 5 2 3 7
Top 2D : 05 13 27 35 42
Cadangan 2D : 53 67 72 85 93
TOP SHIO : Kerbao Anjing Kuda
COLOK BEBAS :  2 3 5
AS : 0 1 4
           KOP : 6 8 9            
KEPALA : Kecil / Ganjil
EKOR : Besar / Ganjil


Ditinggal mati oleh isteri di umur 39 tahun bukan hal yg menyenangkan. Namaqu Ardy, berasal dari kawasan Timur Indonesia, tinggal di Surabaya. Isteriku Lia yg terpaut lima tahun dariku sudah dipanggil menghadap hadirat penciptanya. Tinggal aqu seorang diri dgn dua orang anak yg masih membutuhkan perhatian penuh.

Aqu harus menjadi ayah sekaligus ibu bagi mereka. Bukan hal yg mudah. Sejumlah kawan menyarankan untuk menikah lagi agar anak-anak memperoleh ibu baru. Anjuran yg bagus, namun aqu tak ingin anak-anak mendapat seorang ibu tiri yg tak menyaygi mereka. Karena itu aqu sangat hati-hati.

Kehadiran anak-anak jelas merupakan hiburan yg tak tergantikan. Anita kini berumur sepuluh tahun dan Marko adiknya berumur enam tahun. Anak-anak yg lucu dan pintar ini sangat mengisi kekosonganku. Namun kalau anak-anak lagi berkumpul bersama kawan-kawannya, kesepian itu senantiasa menggoda. Ketika hari sudah larut malam dan anak-anak sudah tidur, kesepian itu semakin menyiksa.

Sejalan dgn itu, nafsu birahiku yg tergolong besar itu meledak-ledak butuh penyaluran. Beberapa kawan mengajakku mencari perempuan panggilan namun aqu tak berani. Resiko terkena penyakit mengendurkan niatku. Terpaksa aqu bermasturbasi. Sesaat aqu merasa lega, namun sesudah itu keinginan untuk menggeluti tubuh seorang perempuan selalu muncul di kepalaqu karena rasa kesepian.

Tak terasa tiga bulan sudah berlalu. Perlahan-lahan aqu mulai menaruh perhatian ke perempuan-perempuan lain. Beberapa kawan kerja di kantor yg masih lajang kelihatannya membuka peluang. Namun aqu lebih suka memiliki mereka sebagai kawan.

Karena itu tak ada niat untuk membina hubungan serius. Di saat keinginan untuk menikmati tubuh seorang perempuan semakin meningkat, kesempatan itu datang dgn sendirinya. Senja itu di hari Jumat, aqu pulang kerja. Sepeda motorku santai saja kularikan di sepanjang Jalan Darmo. Maklum sudah mulai gelap dan aqu tak terburu-buru.

Di depan hotel Mirama kulihat seorang perempuan kebingungan di samping mobilnya, Suzuki Baleno. Rupanya mogok. Kendaraan-kendaraan lain melaju lewat, tak ada orang yg peduli. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, tak tahu apa yg hendak dilaqukan. Rupanya mencari bantuan. Aqu mendekat.

“Ada yg bisa aqu bantu, Mbak?” tanyaqu sopan.

Ia terkejut dan menatapku agak curiga. Aqu memahaminya. Akhir-akhir ini banyak kejahatan berkedok tawaran bantuan seperti itu.

“Tak usah taqut, Mbak”, kataqu.”Namaqu Ardy. Boleh aqu lihat mesinnya?”

Walaupun agak segan ia mengucapkan terima kasih dan membuka kap mesinnya. Ternyata hanya problema penyumbatan slang bensin. Aqu membetulkannya dan mesin dihidupkan lagi. Ia ingin membayar namun aqu menolak. Kejadian itu berlalu begitu saja.

Tak kuduga hari berikutnya aqu bertemu lagi dgnnya di Tunjungan Plaza. Aqu sedang menemani anak-anak berjalan-jalan ketika ia menyapaqu. Kuperkenalkan dia pada anak-anak. Ia tersenyum manis kepada keduanya.

“Sekali lagi terima kasih untuk bantuan kemarin sore”, katanya,”Namaqu Meywan. Maaf, kemarin tak sempat berkenalan lebih lanjut.”

“Aqu Ardy”, sahutku sopan.

Harus kuaqui, mataqu mulai mencuri-curi pandang ke seluruh tubuhnya. Perempuan itu jelas turunan Cina. Kontras dgn pakaian kantor kemarin, ia sungguh menarik dalem pakaian santainya. Ia mengenakan celana jeans biru agak ketat, dipadu dgn kaos putih berlengan pendek dan leher rendah.

Pakaiannya itu jelas menampilkan keseksian tubuhnya. Buah dadanya yg ranum berukuran kira-kira 38 menonjol dgn jujurnya, dipadu oleh pinggang yg ramping. Pinggulnya bundar indah digantungi oleh dua bongkahan bokong yg besar.

“Kok bengong”, katanya tersenyum-senyum,”Ayo minum di sana”, ajaknya.

Seperti kerbau dicocok hidungnya aqu menurut saja. Ia menggandeng kedua anakku mendahului. Keduanya tampak ceria dibelikan es krim, sesuatu yg tak pernah kulaqukan. Kami duduk di meja terdekat sembari memperhatikan orang-orang yg lewat.

“Ibunya anak-anak nggak ikut?” tanyanya.

Aqu tak menjawab. Aqu melirik ke kedua anakku, Anita dan Marko. Anita menunduk menghindari air mata.

“Ibu sudah di surga, Tante”, kata Marko polos. Ia memandangku.

“Isteriku sudah meninggal”, kataqu. Hening sejenak.

“Maaf”, katanya,”Aqu tak bermaksud mencari tahu”, lanjutnya dgn rasa bersalah.

Pokok pembicaraan beralih ke anak-anak, ke sekolah, ke pekerjaan dan sebagainya. Akhirnya aqu tahu kalau ia manajer cabang satu perusahaan pemasaran tekstil yg mengelola beberapa toko pakaian. Aqu juga akhirnya tahu kalau ia berumur 32 tahun dan sudah menjanda selama satu setengah tahun tanpa anak.

Selama pembicaraan itu sulit mataqu terlepas dari bongkahan dadanya yg menonjol padat. Menariknya, sering ia menggerak-gerakkan tubuhnya sehingga buah dadanya itu dapat lebih menonjol dan kelihatan jelas bentuknya. Beberapa kali aqu menelan air liur membaygkan nikmatnya menggumuli tubuh bahenol nan seksi ini.

“Nggak berpikir menikah lagi?” tanyaqu.

“Rasanya nggak ada yg mau sama aqu”, sahutnya.

“Ah, Masak!” sahutku,”Aqu mau kok, kalau diberi kesempatan”, lanjutku sedikit nakal dan memberanikan diri.”Kamu masih cantik dan menarik. Seksi lagi.”

“Ah, Ardy bisa aja”, katanya tersipu-sipu sembari menepuk tanganku. Tapi nampak benar ia senang dgn ucapanku.

Tak terasa hampir dua jam kami duduk ngobrol. Akhirnya anak-anak mendesak minta pulang. Meywan, perempuan Cina itu, memberikan alamat rumah, nomor telepon dan HP-nya. Ketika akan beranjak meninggalkannya ia berbisik,

“Aqu menunggu Ardy di rumah.”

Hatiku bersorak-sorak. Lelaki mana yg mau menolak kesempatan berada bersama perempuan semanis dan seseksi Meywan. Aqu mengangguk sembari mengedipkan mata. Ia membalasnya dgn kedipan mata juga. Ini kesempatan emas. Apalagi sore itu Anita dan Marko akan dijemput kakek dan neneknya dan bermalam di sana.

“OK. Malam nanti aqu main ke rumah”, bisikku juga, “Jam tujuh aqu sudah di sana.” Ia tersenyum-senyum manis.

Sore itu sesudah anak-anak dijemput kakek dan neneknya, aqu membersihkan sepeda motorku lalu mandi. Sembari mandi imajinasi seksualku mulai muncul. Bagaimana tampang Meywan tanpa pakaian? Pasti indah sekali tubuhnya yg bugil. Dan pasti sangatlah nikmat menggeluti dan menyetubuhi tubuh semontok dan selembut itu.

Apalagi aqu sebetulnya sudah lama ingin menikmati tubuh seorang perempuan Cina. Tapi apakah ia mau menerimaqu? Apalagi aqu bukan orang Cina. Dari kawasan Timur Indonesia lagi. Kulitku agak gelap dgn rambut yg ikal.

Tapi.. Peduli amat. Toh ia yg mengundangku. Andaikata aqu diberi kesempatan, tak akan kumur-siakan. Kalau toh ia hanya sekedar mengungkapkan terima kasih atas pertolongaqu kemarin, yah tak apalah. Aqu tersenyum sendiri.

Jam tujuh lewat lima menit aqu berhasil menemukan rumahnya di kawasan Margorejo itu. Rumah yg indah dan mewah untuk ukuranku, berlantai dua dgn lampu depan yg buram. Kupencet bel dua kali. Selang satu menit seorang perempuan separuh baya membukakan pintu pagar. Rupanya pembantu rumah tangga.

“Pak Ardy?” ia bertanya, “Silahkan, Pak. Bu Meywan menunggu di dalem”, lanjutnya lagi.

Aqu mengikuti langkahnya dan dipersilahkan duduk di ruang tamu dan iapun menghilang ke dalem. Selang semenit, Meywan keluar. Ia mengenakan baju dan celana santai di bawah lutut. Aqu berdiri menyambutnya.

“Selamat datang ke rumahku”, katanya.

Ia mengembangkan tangannya dan aqu dirangkulnya. Sebuah ciuman mendarat di pipiku. Ini ciuman pertama seorang perempuan ke pipiku sejak kematian isteriku. Aqu berdebaran. Ia menggandengku ke ruang tengah dan duduk di sofa yg empuk. Mulutku seakan terkunci. Beberapa saat bercakap-cakap, si pembantu rumah tangga datang menghantar minuman.

“Silahkan diminum, Pak”, katanya sopan, “Aqu juga sekalian pamit, Bu”, katanya kepada Meywan.

“Makan sudah siap, Bu. Aqu datang lagi besok jam sepuluh.”

“Biar masuk sore aja, Bu”, kata Meywan, “Aqu di rumah aja besok. Datang saja jam tiga-an.”

Pembantu itu mengangguk sopan dan berlalu.

“Ayo minum. Santai aja, aqu mandi dulu”, katanya sembari menepuk pahaqu.

Tersenyum-senyum ia berlalu ke kamar mandi. Di saat itu kuperhatikan. Pakaian santai yg dikenakannya cukup memberikan gambaran bentuk tubuhnya. Buah dadanya yg montok itu menonjol ke depan laksana gunung. Bokongnya yg besar dan bulat berayun-ayun lembut mengikuti gerak jalannya. Pahanya padat dan mulus ditopang oleh betis yg indah.

“Santai saja, anggap di rumah sendiri”, lanjutnya sebelum menghilang ke balik pintu.

Dua puluh menit menunggu itu rasanya seperti seabad. Ketika akhirnya ia muncul, Meywan membuatku terkesima. Rambutnya yg panjang sampai di punggungnya dibiarkan tergerai. Wajahnya segar dan manis. Ia mengenakan baju tidur longgar berwarna cream dipadu celana berenda berwarna serupa.

Namun yg membuat mataqu membelalak ialah bahan pakaian itu tipis, sehingga pakaian dalemnya jelas kelihatan. BH merah kecil yg dikenakannya menutupi hanya sepertiga buah dadanya memberikan pemandangan yg indah. Celana dalem merah jelas memberikan bentuk bokongnya yg besar bergelantungan. Pemandangan yg menggairahkan ini spontan mengungkit nafsu birahiku. Kemaluanku mulai bergerak-gerak dan berdenyut-denyut.

“Aqu tahu, Ardy suka”, katanya sembari duduk di sampingku, “Siang tadi di TP (Tunjungan Plaza) aqu lihat mata Ardy tak pernah lepas dari buah dadaqu. Tak usah khawatir, malam ini sepenuhnya milik kita.” Cerita Sex

Ia lalu mencium pipiku. Nafasnya menderu-deru. Dalem hitungan detik mulut kami sudah lekat berpagutan. Aqu merengkuh tubuh montok itu ketat ke dalem pelukanku. Tangaqu mulai bergerilya di balik baju tidurnya mencari-cari buah dadanya yg montok itu. Ia menggeliat-geliat agar tanganku lebih leluasa bergerak sembari mulutnya terus menyambut permainan bibir dan lidahku. Lidahku menerobos mulutnya dan bergulat dgn lidahnya.

Tangannya pun aktif menyerobot T-shirt yg kukenakan dan meraba-raba perut dan punggungku. Membalas gerakannya itu, tangan kananku mulai merayapi pahanya yg mulus. Kunikmati kehalusan kulitnya itu. Semakin mendekati pangkal pahanya, kurasa ia membuka kakinya lebih lebar, biar tanganku lebih leluasa bergerak.

Peralahan-lahan tanganku menyentuh gundukan kemaluannya yg masih tertutup celana dalem tipis. Jariku menelikung ke balik celana dalem itu dan menyentuh bibir kemaluannya. Ia mengaduh pendek namun segera bungkam oleh permainan lidahku. Kurasakan tubuhnya mulai menggeletar menahan nafsu birahi yg semakin meningkat.

Tangannyapun menerobos celana dalemku dan tangan lembut itu menggenggam batang kemaluan yg kubanggakan itu. Kemaluanku tergolong besar dan panjang. Ukuran tegang penuh kira-kira 15 cm dgn diameter sekitar 4 cm. Senjata kebanggaanku inilah yg pernah menjadi kesukaan dan kebanggaan isteriku. Aqu yakin senjataqu ini akan menjadi kesukaan Meywan. Ia pasti akan ketagihan.

“Au.. Besarnya”, kata Meywan sembari mengelus lembut kemaluanku.

Elusan lembut jari-jarinya itu membuat kemaluanku semakin mengembang dan mengeras. Aqu mengerang-ngerang nikmat. Ia mulai menjilati dagu dan leherku dan sejalan dgn itu melepaskan bajuku. Segera sesudah lepas bajuku bibir mungilnya itu menyentuh puting susuku. Lidahnya bergerak lincah menjilatinya.

Aqu merasakan kenikmatan yg luar biasa. Tangannya kembali menerobos celanaqu dan menggenggam kemaluanku yg semakin berdenyut-denyut. Aqu pun bergerak melepaskan pakaian tidurnya. Rasanya seperti bermimpi, seorang perempuan Cina yg cantik dan seksi duduk di pahaqu hanya dgn celana dalem dan BH.

“Ayo ke kamar”, bisiknya, “Kita tuntaskan di sana.”

Aqu bangkit berdiri. Ia menjulurkan tangannya minta digendong. Tubuh bahenol nan seksi itu kurengkuh ke dalem pelukanku. Kuangkat tubuh itu dan ia bergayut di leherku. Lidahnya terus menerabas batang leherku membuat nafasku terengah-engah nikmat.

Buah dadanya yg sungguh montok dan lembut menempel lekat di dadaqu. Masuk ke kamar tidurnya, kurebahkan tubuh itu ke ranjang yg lebar dan empuk. Aqu menariknya berdiri dan mulai melepaskan BH dan celana dalemnya.

Ia membiarkan aqu melaqukan semua itu sembari mendesah-desah menahan nafsunya yg pasti semakin menggila. Sesudah tak ada selembar benangpun yg menempel di tubuhnya, aqu mundur dan memandangi tubuh telanjang bulat yg mengagumkan itu.

Kulitnya putih bersih, wajahnya bulat telur dgn mata agak sipit seperti umumnya orang Cina. Rambutnya hitam tergerai sampai di punggungnya. Buah dadanya sungguh besar namun padat dan menonjol ke depan dgn puting yg kemerah-merahan. Perutnya rata dgn lekukan pusar yg menawan.

Pahanya mulus dgn pinggul yg bundar digantungi oleh dua bongkah bokong yg besar bulat padat. Di sela paha itu kulihat gundukan hitam lebat bulu kemaluannya. Sungguh pemandangan yg indah dan menggairahkan birahi.

“Ngapain hanya lihat tok,” protesnya.

“Aqu kagum akan keindahan tubuhmu”, sahutku.

“Semuanya ini milikmu”, katanya sembari merentangkan tangan dan mendekatiku.

Tubuh bugil polos itu kini melekat erat ditubuhku. Didorongnya aqu ke atas ranjang empuk itu. Mulutnya segera menjelajahi seluruh dada dan perutku terus menurun ke bawah mendekati pusar dan pangkal pahaqu. Tangannya lincah melepaskan celanaqu. Celana dalemku segera dipelorotnya.

Kemaluanku yg sudah tegang itu mencuat keluar dan berdiri tegak. Tiba-tiba mulutnya menangkap batang kemaluanku itu. Kurasakan sensai yg luar biasa ketika lidahnya lincah memutar-mutar kemaluanku dalem mulutnya. Aqu mengerang-ngerang nikmat menahan semua sensasi gila itu.

Puas mempermainkan kemaluanku dgn mulutnya ia melepaskan diri dan merebahkan diri di sampingku. Aqu menelentangkannya dan mulutku mulai beraksi. Kuserga buah dada kanannya sembari tangan kananku meremas-remas buah dada kirinya. Bibirku mengulum puting buah dadanya yg mengeras itu.

Buah dadanya juga mengeras diiringi deburan jantungnya. Puas buah dada kanan mulutku beralih ke buah dada kiri. Lalu perlahan namun pasti aqu menuruni perutnya. Ia menggelinjang-linjang menahan desakan birahi yg semakin menggila. Aqu menjilati perutnya yg rata dan menjulurkan lidahku ke pusarnya.

“Auu..” erangnya, “Oh.. Oh.. Oh..” jeritnya semakin keras.

Mulutku semakin mendekati pangkal pahanya. Perlahan-lahan pahanya yg mulus padat itu membuka, menampakkan liang surgawinya yg sudah merekah dan basah. Rambut hitam lebat melingkupi liang yg kemerah-merahan itu. Kudekatkan mulutku ke liang itu dan perlahan lidahku menyuruk ke dalem liang yg sudah basah membanjir itu.

Ia menjerit dan spontan duduk sembari menekan kepalaqu sehingga lidahku lebih dalem terbenam. Tubuhnya menggeliat-geliat seperti cacing kepanasan. Bokongnya menggeletar hebat sedang pahanya semakin lebar membuka.

“Aaa.. Auu.. Ooo..”, jeritnya keras.

Aqu tahu tak ada sesuatu pun yg bakalan menghalangiku menikmati dan menyetubuhi si canting bahenon nan seksi ini. Tapi aqu tak ingin menikmatinya sebagai orang raqus. Sedikit demi sedikit namun sangat nikmat. Aqu terus mempermainkan klitorisnya dgn lidahku.

Tiba-tiba ia menghentakkan bokongnya ke atas dan memegang kepalaqu erat-erat. Ia melolong keras. Pada saat itu kurasakan banjir cairan vaginanya. Ia sudah mencapai orgasme yg pertama. Aqu berhenti sejenak membiarkan ia menikmatinya. Sesudah itu mulailah aqu menjelajahi kembali bagian tersensitif dari tubuhnya itu.

Kembali erangan suaranya terdengar tanda birahinya mulai menaik lagi. Tangannya terjulur mencari-cari batang kejantananku. Kemaluanku sudah tegak sekeras beton. Ia meremasnya. Aqu menjerit kecil, karena nafsuku pun sudah diubun-ubun butuh penyelesaian.

Kudorong tubuh bahenon nan seksi itu rebah ke kasur empuk. Perlahan-lahan aqu bergerak ke atasnya. Ia membuka pahanya lebar-lebar siap menerima penetrasi kemaluanku. Kepalanya bergerak-gerak di atas rambutnya yg terserak.

Mulutnya terus menggumam tak jelas. Matanya terpejam. Kuturunkan bokongku. Batang kemaluanku berkilat-kilat dan memerah kepalanya siap menjalankan tugasnya. Kuusap-usapkan kemaluanku di bibir kemaluannya. Ia semakin menggelinjang seperti kepinding.

“Cepat.. Cepat.. Aqu sudah nggak tahan!” jeritnya.

Kuturunkan bokongku perlahan-lahan. Dan.. BLESS!

Kemaluanku menerobos liang senggamanya diiringi jeritannya membelah malam. Tetangga sebelah mungkin bisa mendengar lolongannya itu. Aqu berhenti sebentar membiarkan dia menikmatinya. Lalu kutekan lagi bokongku sehingga kemaluanku yg panjang dan besar itu menerobos ke dalem dan terbenam sepenuhnya dalem liang surgawi miliknya.

Ia menghentak-hentakkan bokongnya ke atas agar lebih dalem menerima diriku. Sejenak aqu diam menikmati sensasi yg luar biasa ini. Lalu perlahan-lahan aqu mulai menggerakkan kemaluanku. Balasannya juga luar biasa.

Dinding-dinding liang kemaluannya berusaha menggenggam batang kemaluanku. Rasanya seberti digigit-gigit. Bokongnya yg bulat besar itu diputar-putar untuk memperbesar rasa nikmat. Buah dadanya tergoncang-goncang seirama dgn genjotanku di kemaluannya.

Matanya terpejam dan bibirnya terbuka, berdesis-desis mulutnya menahankan rasa nikmat.

Desisan itu berubah menjadi erangan kemudian jeritan panjang terlontar membelah udara malam. Kubungkam jeritannya dgn mulutku. Lidahku bertemu lidahnya. Sementara di bawah sana kemaluanku leluasa bertarung dgn kemaluannya, di sini lidahku pun leluasa bertarung dgn lidahnya.

“OH..”, erangnya, “Lebih keras sayg, lebih keras lagi.. Lebih keras.. Oooaah!”

Tangannya melingkar merangkulku ketat. Kuku-kukunya membenam di punggungku. Pahanya semakin lebar mengangkang. Terdengar bunyi kecipak lendir kemaluannya seirama dgn gerakan bokongku. Di saat itulah kurasakan gejala ledakan magma di batang kemaluanku. Sebentar lagu aqu akan orgasme.

“Aqu mau keluar, Meywan”, bisikku di sela-sela nafasku memburu.

“Aqu juga”, sahutnya, “Di dalem sayg. Keluarkan di dalem. Aqu ingin kamu di dalem.”

Kupercepat gerakan bokongku. Keringatku mengalir dan menyatu dgn keringatnya. Bibirku kutekan ke bibirnya. Kedua tanganku mencengkam kedua buah dadanya. Diiringi geraman keras kuhentakkan bokongku dan kemaluanku membenam sedalem-dalemnya. Spermaqu memancar deras. Ia pun melolong panjang dan menghentakkan bokongnya ke atas menerima diriku sedalem-dalemnya.

Kedua pahanya naik dan membelit bokongku. Ia pun mencapai puncaknya. Kemaluanku berdenyut-denyut memuntahkan spermaqu ke dalem rahimnya. Inilah orgasmeku yg pertama di dalem kemaluan seorang perempuan sejak kematian isteriku. Dan ternyata perempuan itu adalah Meywan yg cantik bahenol dan seksi.

Sekitar sepuluh menit kami diam membatu mereguk semua detik kenikmatan itu. Lalu perlahan-lahan aqu mengangkat tubuhku. Aqu memandangi wajahnya yg berbinar karena birahinya sudah terpuaskan. Ia tersenyum dan membelai wajahku.

“Ardy, kamu hebat sekali, sayg”, katanya, “Sudah lebih dari setahun aqu tak merasakan lagi kejantanan lelaki seperti ini.”

“Meywan juga luar biasa”, sahutku, “Aqu sungguh puas dan bangga bisa menikmati tubuhmu yg menawan ini. Meywan tak menyesal bersetubuh dgnku?”

“Tak”, katanya, “Aqu malah berbangga bisa menjadi perempuan pertama sesudah kematian isterimu. Mau kan kamu memuaskan aqu lagi nanti?”

“Tentu saja mau”, kataqu, “Bodoh kalau nolak rejeki ini.” Ia tertawa.

“Kalau kamu lagi pingin, telepon saja aqu,” lanjutnya, “Tapi kalau aqu yg pingin, boleh kan aqu nelpon?”

“Tentu.. Tentu..”, balasku cepat.

“Mulai sekarang kamu bisa menyetubuhi aqu kapan saja. Tinggal kabarkan”, katanya.

Hatiku bersorak ria. Aqu mencabut kemaluanku dan rebah di sampingnya. Kurang lebih setengah jam kami berbaring berdampingan. Ia lalu mengajakku mandi. Lapar katanya dan pingin makan. Malam itu hingga hari Minggu siang sungguh tak terlupakan. Kami terus berpacu dalem birahi untuk memuaskan nafsu.

Aqu menyetubuhinya di sofa, di meja makan, di dapur, di kamar mandi dalem berbagai posisi. Di atas, di bawah, dari belakang. Pendek kata hari itu adalah hari penuh kenikmatan birahi.

Dapat ditebak, pertemuan pertama itu berlanjut dgn aneka pertemuan lain. Kadang-kadang kami mencari hotel namun terbanyak di rumahnya.


Sesekali ia mampir ke tempatku kalau anak-anak lagi mengunjungi kakek dan neneknya. Pertemuan-pertemuan kami selalu diisi dgn permainan birahi yg panas dan menggairahkan.

Sabtu, 14 Oktober 2017

Prediksi Togel Sabtu 14 Oktober 2017...

>>> SINGAPOREPOOLS <<<

ANGKA MAIN :  6 9 2 8
Top 2D : 06 19 28 32 46
Cadangan 2D : 59 62 78 86 99
TOP SHIO : Tikus Ayam Babi
COLOK BEBAS :  6 8 9
AS : 0 1 3
            KOP : 4 5 7            
KEPALA : Kecil / Genap
EKOR : Besar / Genap


Toni adalah pria awal 30-an berpenghidupan lumayan dgn pekerjaan sebagai seorang pialang di suatu perusahaan sekuritas sedang. Tidak ada yang aneh dgn kehidupannya. Semua berjalan lancar. Bila ada tekanan-tekanan dlm pekerjaan bahkan membuatnya merasa bergairah untuk menjalaninya. Ini hidup katanya dlm hati. Kehidupan seks-nya juga demikian, hampir tidak ada masalah. Ia bisa mendapatkan apabila ia mau, tentunya dgn proses yang wajar, sebab Toni sangat menghindari ‘sex shopping’ atas alasan-alasan tertentu. “Biar cinta berjalan semestinya, ” yakinnya.

Sore itu market mendekati closing hours. Ia menjauhi mejanya, berjalan sebentar meregangkan otot. Hari ini ia sangat puas. Pasar sangat bersahabat dgnnya. Sejumlah keuntungan berhasil dibuatnya dlm one day trade. Sebagian masuk ke dlm rekening pribadinya. “Aku memang patut mendapatkan, ” pikirnya, tidak ada yang merugikan atau dirugikan, kepuasan seperti ini selalu membuatnya terangsang secara seksual.

Dipandangnya sekitarnya. Ada beberapa wanita rekan kerja yang masih berkutat. Ia segera memalingkan wajahnya. Perlu beberapa tahapan untuk mengajak salah seorang dari mereka ke tempat tidur, dan itu menyita waktu dan emosinya. Lebih baik aku pulang batinnya. Ada sesuatu yang mengingatkan untuk menunda jam kepulangannya, ia tidak mempedulikan. “Cerita Sex: Rani Gadis Pelajar SMU ”

Dikemudikan mobilnya keluar dari basement perlahan-lahan. Beberapa anak pelajar SMU tampak bergerombol di halte dekat gedung kantornya. “Ahh..” kernyitnya. Ia terjebak di kemacetan rutin sore hari. Dirinya sdh mengingatkan supaya menunda. “Instingku semakin bagus saja, ” senyumnya kecut. Dilihatnya ke luar jendela mobil. Antrean mobil sepanjang kira-kira 200-an mobil tidak bergerak sama sekali. Dilihatnya ke belakang dgn putus asa. Keadaan di belakang sama buruknya dgn pemandangan di depannya.

Toni menarik nafas dalam-dalam. Digerakkan cermin di atas ke wajahnya. “Tenang Ton, ini bukan alasan yang bagus untuk merusak 1 hari tenangmu, ” katanya sambil membenarkan letak rambutnya. Tiba-tiba seseorang berseragam LLAJR mengetuk kaca mobilnya. Dgn segan ditekannya switch jendelanya. Petugas itu memberitahu kalau terjadi kecelakaan beruntun di depan dan mungkin lalu lintas baru dapat lancar paling cepat 30 menit.

Dihempaskan tubuhnya ke kursi mobil. “Bagus!” ia menutup wajahnya. Itulah alasan yang paling tepat untuk merusak moodnya. Dibukanya TV mobil. Dipilihnya satu film porno kesayangannya di remote. Ditatapnya adegan-adegan itu dgn hambar. “Huh! Di tengah kemacetan nonton film porno malah menambah masalah, ” sungutnya sambil mematikan. Toni menyerah. Dimatikan mesin mobil sembari menatap ke arah kiri.

Tampak di luar gadis-gadis berseragam SMU masih bergerombol menunggu bis kota. Beberapa di antaranya duduk di trotoar. Diperhatikannya satu persatu. “Dasar gadis remaja, mereka tidak mempedulikan cara duduknya, ” katanya dlm hati. Tiba-tiba darahnya berdesir. Tungkai-tungkai indah itu milik gadis yang sangat muda. Diperhatikannya lagi lebih seksama. Ada yang bertumpu dgn tangannya di belakang sesampai dadanya membusung ke depan. Wajahnya begitu bersih dan muda. Rambutnya sebahu dgn leher yang jenjang. Toni mulai termakan fantasinya sendiri. Ia memang tidak pernah bercinta dgn gadis belia. Itukah yang dimaukannya saat ini? “Tidak, ” sahutnya sendiri, “Itu terlalu gila. ” sambil menatap ke depan ia tak dapat menahan diri untuk melihat kembali ke arah kirinya. Diperhatikan dgn seksama lekukan pantat yang padat itu dgn lutut indah dan kulit yang bersih. Segala gerakan gadis itu ditangkap matanya dan dialirkan ke otaknya dlm format gerakan erotis.

Tiba-tiba salah seorang dari mereka tersingkap roknya. Toni bersorak dlm hati. Diperhatikannya dgn seksama paha bagian dlmnya.. begitu kencang, dan perlahan ia mulai ereksi. Kaca film mobilnya membuatnya sangat aman dlm bereksplorasi. Ia mulai menurunkan reitsleting celananya. Dibelainya lembut batang kejantanannya tanpa melepaskan pandangan dari gadis itu. Jantungnya berdetak kencang. Imajinasinya meluapkan perasaan baru yang sangat dahsyat, bercinta dgn belia. Butir keringat mengalir ke lehernya. Ditariknya beberapa lembar tissue apabila ia orgasme nanti.

Tiba-tiba para gadis itu berdiri dan berjalan menjauhi halte sebab beberapa orang berkulit gelap berbadan besar memasuki halte itu. Toni meraung keras sekali. “Arrgh!” Ditatapnya para lelaki itu. Mereka menyerupai segerombolan kera besar daripada manusia. Dilemparnya box tissue ke belakang. Ia percaya bahwa saat itu kecepatan batang kejantanannya menyusut lebih cepat dari cahaya. Dgn mengumpat ia merapatkan reitsleting celananya kembali. Langit semakin gelap. Rupanya awan berkumpul membentuk sebuah awan gelap besar. Kilat dan guntur bersahutan, diakhiri oleh curahan air yang berirama semakin cepat dan lebat.

Di dlm mobil Toni tampak melambai-lambaikan tissue putih di atas kepalanya, tanda menyerah kepada nasib buruknya. Para gerombolan kera itu bergerak melewati depan mobilnya menyeberang ke seberang jalan. Salah seorang dari mereka memukul kap mobilnya. Toni membalas dgn mengacungkan jari tengahnya. Ia merasa aman. Toh mereka takkan melihatnya.

Dinyalakannya mesin mobilnya sebab kaca mulai mengembun. Dinyalakan stereo mobilnya sambil memandang ke kiri. Toni hampir memekik girang. Salah seorang dari gadis SMU itu ada di sana dlm keadaan basah kuyup. Toni memutar kepalanya untuk mencari yang lain. Ah, tampaknya ia sendirian, sesal Toni. Tapi tunggu.. dlm keadaan basah semua lekuk tubuh gadis itu menjadi tercetak jelas. Rambutnya yang basah, pakaian putihnya melilit erat tubuhnya yang sintal, payudaranya menggelembung indah dgn pantat yang bundar, Toni kembali ereksi.

Bibirnya bergetar menahan nafsu birahinya yang melintas menabraknya berulang-ulang.

Matanya terasa panas. Dibukanya pintu mobilnya setelah itu ia berlari mendekati gadis itu.

Sengaja ia berdiri di belakangnya supaya leluasa menatap tubuh gadis itu. Betapa belianya gadis ini, tubuh yang belum pernah tersentuh oleh lelaki. Payudaranya sangat penuh menyesaki branya sekitar 34. Pinggul yang ramping dgn pantat bundar yang berisi ditopang oleh lutut dan tungkai yang indah dan bersih. Gadis itu memutar tubuhnya dan berhadapan dgnnya yang sedang menjadi Juri festival foto bugil. Toni tergagap dan secara refleks menyapanya. Gadis itu tersenyum sambil memeluk tasnya menutupi seragamnya yang transparan.

Dgn berdalih bosan di mobilnya, Toni mendapatkan banyak alasan dan obrolan ringan di halte itu. Gadis itu bernama Rani, kelas satu SMU swasta berumur 16 tahun. Toni tak menghiraukan secara detail percakapannya sebab suara Rani terdengar sangat merangsangnya.

“Kita ngobrol di mobil yuk, capek berdiri nih, ” kata Toni.

Rani menatap ragu. Toni menangkap maksud pandangan itu.

“Ok, begini.. Kamu nggak perlu takut. Ini dompet saya. Ini kunci mobil. Di dlmnya ada semua kartu identitas saya. Kalo saya berniat jahat dgn kamu, kamu boleh buang kunci ini dan bawa dompet saya ke polisi, ok?” Rani tersenyum riang menerima dompet itu, lalu mereka bersama-sama memasuki mobil.

Di dlm mobil Rani merasa gugup. Baru kali ini ia manuruti orang asing, laki-laki lagi. Sekilas teringat pesan ibunya untuk menjaga diri, dan bayangan pacarnya yang tidak menjemputnya. Rani menjadi kesal. Rani membuka dompet itu, terdapat beberapa credit card dan kartu identitas. Diambilnya KTP lalu diselipkan di saku bajunya.

“Ini cukup, ” ujarnya.

Dgn tersenyum acuh Toni menerima dompetnya kembali sambil menyalakan stereo setnya.

“Kamu kedinginan? saya punya kemeja bersih. Kamu bisa ganti baju di belakang. Saya janji tidak akan menengok ke belakang, ” tanya Toni penuh harap.

Rani menggelengkan kepalanya. Obrolan sore itu menjadi lancar didukung suasana gelap mendung dan derasnya hujan. Bahkan Rani pun mulai berani menceritakan dirinya. Mata Toni mencuri pandang untuk menatap paha Rani yang tersingkap. Toni menceritakan dirinya, pacarnya dan secara halus iapun menceritakan pengalaman seksualnya, bagaimana ia melakukan foreplay. Ia ceritakan dgn lancar dan halus sampai Rani tidak tersinggung. Toni menangkap beberapa kali Rani menarik nafas panjang, sepertinya Rani terangsang mendengar cerita Toni. Wajahnya mulai memerah, jemarinya memilin ujung tali tasnya.

“Tampaknya ini tak cukup, ” kata Toni.

Lalu ia menawarkan Rani untuk menonton VCD kartun kesayangannya. Rani berseru gembira. Lalu Toni membuka TVcar-nya dan berkata,

“Kamu tunggu di sini. Kunci pintunya. Saya mau keluar beli permen di sebelah halte itu. ” Rani mengangguk pelan dan matanya menatap layar TV kecil penuh harap.

Toni keluar mobil sambil membawa remote lalu menyalakan VCD changer dari luar mobil dgn film yang sama ia tonton sebelum hujan tadi. Ia berlari ke pedagang asongan pinggir jalan dan melirik jamnya.. 5 menit dari sekarang! sambil membicarakan cuaca ke pedagang asongan itu. Rani menatap adegan di mini TV itu. Lelaki sedang menjilati seluruh tubuh wanita pasangannya. Jantungnya berdegub. Ia memejamkan mata, tetapi suara lenguhan dan desisan membuatnya kembali ke layar. Dilihatnya keluar. Ia tak bisa menemukan Toni dari dlm mobil itu. Kembali ke layar, tertegun ia melihat lelaki itu menjilati puting susu. Tangannya menjadi dmau. Lelaki itu sekarang menjilati paha. Rani menyilangkan kaki kirinya di atas kaki kanannya. Lalu lelaki dlm film itu mulai menjilati liang kewanitaan wanita itu. Rani merasa seluruh tubuhnya gemetar, nafasnya terengah-engah. Iapun heran mengapa nafasnya begitu.

“Sorry rada lama, nggak ada kembalian. Terpaksa saya nunggu pedagangnya tukar uang, ” sembur Toni.

Rani tersentak dan memalingkan wajahnya. Toni pura-pura terkejut sambil cepat-cepat mematikan stereonya dan menutup layarnya.

“Aduh, maaf.. kenapa bisa ini.. maaf Ran, ” kata Toni tergagap.

Lalu ia membuka CD changer dan mengambil piringan porno itu lalu mematahkan menjadi dua dan membuangnya ke luar mobil. Rani sangat terkejut melihat itu lalu berkata,

“Udah deh Ton nggak pa-pa.. sorry juga aku nggak bisa matiinnya, ” katanya sambil memegang lengan Toni.

Toni menoleh pelan sambil menatap mata Rani.

“Sorry?” Rani menyahut pelan.

“Nggak pa-pa, ” nafasnya masih terengah-engah. Inilah saatnya, batin Toni. Now or never.

Dipegangnya lengan Rani. Ditariknya mendekat, disingkirkan tas di hadapannya. Melihat seragam putih yang masih basah dgn bra membayang itu Toni kehilangan kontrol. Bibirnya langsung mengecup bibir Rani. Rani tersentak ke belakang kaget. Toni memburunya. Dikulumnya bibir bawah Rani yang masih terengah-engah itu, sambil menurunkan posisi kursi mobilnya sesampai Rani tampak seperti berbaring. Dilepasnya bibir, dilanjutkan ke telinga. Lidahnya menggelitik belakang telinga Rani sambil sesekali menyeruak masuk ke lubang telinganya. Bau harum rambut Rani memancarkan bau alami gadis belia tanpa parfum, mengundang Toni untuk berbuat lebih jauh.

Dibukanya kancing seragam sekolah Rani sambil mengulum mulut Rani. Rani menggelengkan kepalanya perlahan. Toni mengangkat kepala sejenak melihat gundukan daging padat dan kenyal terbungkus bra berkain lembut. Betapa muda dan tak berdosanya. Biarkan aku menikmati tubuh beliamu, merasakan dgn seluruh indraku untuk membuatmu menjadi ternoda. Aku mau menyetubuhimu, menghinakan tubuh sucimu, sebab aku pantas mendapatkan tubuhmu, hati Toni berteriak. Dibukanya bra itu lalu dgn rakus dijilat puting kiri Rani sambil meremas payudara kanannya. Dikulumnya semua daging payudaranya, seakan hendak ditelannya. Rani mengerang. Kakinya menjejak-jejak lantai mobil. Lalu Toni memindahkan tubuhnya ke atas Rani. Dgn kasar dipegangnya celana dlm Rani. Rani tak sanggup berkata dan bergerak, semuanya begitu ketakutan.

Kemautahuan dan kenikmatan berbaur, muncul silih berganti menggempur hati, otak dan nalurinya. Saat ia merasa takut dgn perbuatan Toni, sedetik setelah itu ia merasa jiwanya melayang, sedetik setelah itu otaknya memerintahkan tubuhnya supaya bersiap menunggu kejutan berikutnya begitu berulang-ulang. Rani meneriakkan kata jangan sewaktu Toni dgn kasar melepas celana dlmnya, lalu ia didudukkan di atas kursi mobil bagian atas. Toni berpindah tempat dgn cepat ke bawah tubuhnya dan mulut Toni mulai menjilati liang kewanitaannya seperti hewan yang kehausan. Dicengkeramnya pegangan pintu, kakinya diangkat oleh Toni ke atas.

Rani tak tahu apa yang dilakukan Toni, tapi ia merasa ada sesuatu di dlm dirinya. Perasaan yang aneh, dimulai dari jantungnya yang berdetak lebih keras lebih cepat menjalar ke pinggulnya, sementara denyutan liang kewanitaannya membentuk impuls yang semakin kuat, semakin cepat, kakinya mengejang, pandangannya mengabur, jiwanya serasa terhempas keatas-bawah. Namun tiba-tiba semua itu berkurang. Dibukanya matanya. Tampak Toni sedang mengamatinya dgn matanya yang menyala oleh birahi. Toni mengambil nafas sejenak. Ditatapnya liang kewanitaan Rani dgn rambut kemaluan yang tumbuh tak beraturan. Setelah itu dilanjutkannya lagi jilatan sekitar klitoris Rani. Begitu muda, ditatapnya sebentar, liang kewanitaan belia sekarang milikku. Aku menjilatinya, aku menghisapnya.

Sekarang aku bahkan menggigitnya. Liang kewanitaan ini milikku, akan kunodai sesukaku, dgn caraku, dgn nafsuku. Akan kubuat tubuh suci ini ternoda oleh tubuhku, oleh nafsuku. Akan kutaburi tubuhnya dgn spermaku. Akan kuberi cairanku yang akan menyatu dgn dirinya sesampai ia akan selalu terkotori oleh nodaku. Toni semakin liar dan segera menghentikan tindakannya saat Rani mulai mengejang. Dibukanya cepat celananya, digosokkan batang kejantanannya ke permukaan liang kewanitaan Rani. Dgn mudah dimasukkannya batang kejantanannya perlahan-lahan senti demi senti, sambil mengulum dan meremas payudara kenyal Rani. Lalu dibenamkan semua batang kejantanannya. Betapa hangat, betapa nikmat. Lalu mulai digerakkan maju-mundur, semakin lama semakin cepat. Toni mendengar suara Rani hanya,

“Ssh.. sh..” terputus-putus. Lalu diangkatnya pinggul Rani. Dipercepat gerakan pinggulnya sendiri sampai tubuh Rani melengkung kaku. Kini saatnya.. Toni mengeluarkan spermanya sambil menekan dlm-dlm.

15 menit sesdh itu.. Rani menggigit ujung seragamnya yang lusuh, sementara Toni merapikan rambutnya. Oh puas, dan aku sekarang benci sekali dgn gadis ini, gadis belia yang ternoda. Diambil KTP dari saku Rani lalu sambil diselipkan ke dompet ia mengeluarkan 3 lembar seratus ribu rupiah sambil mencium pipi Rani. “Ini buat kamu. ” Rani menolak sambil terkaget- kaget.

“Aku bukan gadis bayaran Ton..” katanya sambil mulai menangis.

“Aku sayang kamu Tonii..” sambil terisak-isak.

“Tapi aku tidak sayang kamu, ” kata Toni sambil meletakkan uang itu di dlm tas Rani, lalu Toni keluar.

Dlm guyuran hujan ia membuka pintu mobil, lalu menarik Rani keluar.

“Lalu lintas akan lancar. Aku harus pulang, kamu juga. Kita pisah di sini. Eh Ran.. thanks ya?!” Rani berteriak histeris sambil lari keluar.


Toni kembali ke mobilnya mengunci pintu dan tersenyum melihat mobil di depannya bergerak ke depan.

Kamis, 12 Oktober 2017

Prediksi Togel Kamis 12 Oktober 2017....

Kamis 12 Oktober 2017

>>> SINGAPOREPOOLS <<<

ANGKA MAIN : 7 1 5 4
Top 2D : 07 11 25 34 45
Cadangan 2D : 57 65 71 84 91
TOP SHIO :  Kelinci Anjing Harimau
COLOK BEBAS :  1 4 7
AS : 0 2 3
           KOP : 6 8 9            
KEPALA : Besar / Ganjil
EKOR : Kecil / Genap


Indah dengan paras cantik dan menggoda suatu hari ia mendapat pengalaman yang tak mengenakan yang merenggut kewanitaannya dari beberapa orang yang tak di kenalnya , suatu hari indah sehabis pemotretan model , sewaktu dia turun dari kendaraan beroda empat dengan suaminya dari depan ada mobil jeep yang membuat mata silau mereka.

Kemudian dengan cepat keluarlah orang orang yang tak di kenal dia menyerbu indah dia menarik tangan dan tubuh indah terus di masukan ke dalam jeep, setelah masuk ke dalam jeep dia langsung tancap gas dan meninggalkan suaminya yang sudah di buat pingsan.

Di dalam kendaraan beroda empat, indah melihat ada lima orang yang bertampang beringas yang pertama dipanggil Boss oleh yang lain, ada juga yang Gundul, yang satu lagi bermuka Bopeng & di sampingnya ada salah satu matanya ditutup kain hitam ala bajak laut. Sedangkan di depan ada lagi yang berambut Jabrik.

“Lepaskan! Apa-apaan ini?! Tolong!” teriak indah sambil meronta-ronta, sementara ada tangan-tangan penculiknya menggerayangi tubuhnya.

Ada yang meremas pinggulnya, mengelus pahanya, & yang membikin indah menjerit kesakitan adalah Boss & Botak yang meremas payudaranya keras-keras.

“Aaah, jangan! Jangan! Lepaskan saya! Tolong!” erang indah sambil berontidak tanpa hasil.

Para penculik tersebut membikin indah seperti boneka selama perjalanan ke markas penculik tersebut yang berada dibalik bukit.

Akhirnya Jeep tersebut berhenti & dengan dipegangi oleh 4 orang masing-masing di tangan & kaki, indah yang sudah kelelahan meronta selama perjalanan digotong masuk ke sebuah ruangan. Dalam ruangan itu hanya ada satu ranjang & lemari besi.

“Ikat ia!” Boss menyuruh 4 anak buahnya mengikat tangan & kaki indah ke sudut-sudut ranjang, sehingga tubuh indah membentuk huruf X, kaki & tangannya membuka lebar.

“Gimana kini Boss?” tanya Jabrik sambil menjilati bibirnya. ia sudah sangat terangsang, kontol kemaluannya sudah menegang dari tadi pengen rasanya menusuk.

pemerkosaan bejat, cerita sex pemerkosaan sadis, cerita seks dewasa ngentot wanita, pemerkosaan ramai ramai, kisah mesum cewek di perkosa, cerita pemerkosaan paksa, kisah cinta pemerkosaan nyata, pemerkosaan panas, cerita bergambar gangbang

“Kita giliran! Pertama aku, trus selanjutnya kau gantian!” putus sang Boss, “Kini kau semua telanjangin aja dulu dia.”

“Jangan! Jangan! Lepaskan!” indah mulai meronta-ronta lagi ketika Gundul, Mata Satu, & yang lainnya mendekatinya & langsung merobek-robek bajunya sampai ia telanjang bulat.

indah menangis sekeras-kerasnya sambil terus berusaha melepaskan diri.

“Wow, bodinya oke banget” seru Gundul, “Gila, bunder ama sih kau. aku taruhan pasti enak banget ngisep puting susu kau!”

Setelah itu mereka semua langsung melepas pakaiannya masing-masing. indah menggigil ketakutan melihat ukuran kejantanan mereka yang luar biasa besarnya.

Sementara anak buahnya menggerayangi tubuh indah dari pinggir ranjang, sang Boss langsung naik ke atas ranjang & mengambil posisi di atas indah.

“Gimana? kau udah siap kan Sayang? Tenang aja kau bakal ngerasain yang belon pernah kau rasain lewat suami kau!” kata si Boss sambil mengocok kontol kemaluannya agar benar-benar tegang.

“Jangan! Lepaskan saya! Saya janji tidak lapor polisi!” mohon indah sambil menangis.

“Hush! Kita di sini mau senang-senang Sayang! Masa kau mau pergi dulu!” kata si Boss sambil mulai mengarahkan kontol kejantanannya ke liang senggama indah.

“Jangan.. jangan.. saakkit, jaangaakkhh” indah berteriak-teriak ketika si Boss mulai mendorong masuk kontol kejantanannya.

“Buset! Sempit amat memek kau.. kau seminggu maen berapa kali sih ama suami kau?!” dengus si Boss sambil terus mendorong kontol kejantanannya yang baru bisa masuk sampai kepala,

Sementara indah menjerit sejadi-jadinya, karena selain masih sempit, liang kewanitaannya juga kering sekali sehingga setiap si Boss mendorong kontol kejantanannya sakitnya bukan main.

“Jangan! Ampun! Sakit sekali! Saya nggak kuat! Ampuungghh” indah kembali mendengus kesakitan ketika si Boss mulai mendorong-dorong kontol kejantanannya lagi.

“Dorong sekalian aja Boss!” saran Bopeng sesaat waktu ia berhenti mengisap-isap puting susu indah.

“Oke Sayang! kau siap ya! aku mau dorong kau sekali lagi”, si Boss bersiap sambil mengusap keringat di dadanya, indah merintih-rintih ketika sodokan si Boss berhenti sejenak.

“Sakit sekkhh.. Aaarrgghh.. aakkhh..” si Boss mendorong keras-keras kontol kejantanannya sambil memegangi pinggul indah.
Hasilnya seluruh kontol kejantanannya bisa masuk sambil diiringi jeritan indah yang melengking tinggi.

Setelah itu mulailah si Boss bergerak maju mundur perlahan, setiap tarikan & dorongan semuanya diiringi oleh erangan indah.

Akhirnya setelah 15 menit maju mundur, si Boss mulai bergerak makin cepat. indah yang sudah kelelahan mengerang & lemas, mulai merasakan sakit yang menggigit liang kewanitaannya, sementara si Boss makin cepat maju mundur sampai seluruh ranjang berguncang-guncang.

“Sakitt! Aaah, ampuun! Ampuun..” indah tidak berdaya, tubuhnya juga terbanting-banting di ranjang seirama dengan gerakan si Boss.

Tubuh indah juga kini berkilau karena air liur yang dari lidah-lidah penculiknya yang menjilati tubuhnya dari paha sampai wajahnya.

Kini si Mata Satu sedang mengigiti puting susunya sementara si Bopeng menjilati wajahnya. Si Jabrik meremas-remas susunya & si Botak meraba sisa tubuh indah yang lain.

“Eeeggh, aku mau keluar Sayang, eegh.. eegh.. eegh..” dengus si Boss “Yaa.. ya.. aku keluarin Sayang, akk.. eaah.. eaahh..” tubuh si Boss mengejang sesaat sambil mendorong kontol kejantanannya masuk ke liang kemaluan indah.

Dari kontol kejantanannya keluar sperma yang saking banyaknya sampai menetes keluar.

“Aaah! aku puas bener nih! Gimana dengan kau Sayang?” perlahan si Boss menarik keluar kontol kejantanannya yang lemas.

“Ampun, sakit sekali! Saya mohon, ampun..” erang indah lirih karena kesakitan & kecapaian diperkosa si Boss selama 20 menit lebih.

“Oke kini giliran kau semua, jangan rebutan, ia udah jadi milik kita kini! aku mau duduk dulu biar ****** aku bisa istirahat!” si Boss berkata sambil bersila di lantai,

“kamu semua tunjukin aku kalo kau jantan oke?!”

“Beres Boss”, seru mereka serempak.

“Kini aku duluan!” si Jabrik naik ke atas ranjang.

“Halo indah sayang! Kita mulai aja ya! aku jamin punya aku lebih besar dari Boss!” indah kembali membelalakkan mata sambil berteriak.

Tidak lama kemudian ****** besar milik si Jabrik sudah menyodok liang kewanitaan indah yang sudah tidak karuan bentuknya & sodokan ganas ini membikin indah meneteskan air matanya. Berjam-jam lamanya indah mesti menerima siksaan dari laki-laki yang sudah lapar akan seks & tubuh indah yang sangat seksi & menggairahkan itu.

Setelah mereka semua puas menyemprotkan cairan kenikmatan mereka ke dalam liang kemaluan Indah.

Mereka menampar indah sehingga indah menjadi pingsan & ketika ia sadar, ia sudah berada di sebuah hutan yang ia sendiri tidak pernah mengenalnya sebelumnya.

Tidak lama kemudian, indah melihat sebuah cahaya lampu senter di kejauhan & ia berpikir bahwa sebentar lagi ia bisa melaporkan kejadian yang baru saja ia alami ke polisi. Tetapi sayang sekali karena dugaan ia salah sama sekali.

Cahaya cahaya lampu itu berasal dari pemuda-pemuda desa & ketika mereka melihat tubuh indah yang seksi & panas itu, mereka tidak menolong indah tetapi mereka malah memperkosa indah.

Sungguh pedih hati indah menerima kenyataan bahwa ia harus melayani 7 pemuda pemuda sekaligus.


Ada beberapa pemuda yang menjilati payudaranya yang gempal, ada yang memasukkan kejantanannya ke dalam liang kewanitaan indah yang penuh dengan sperma yang sudah tidak tahu lagi milik siapa sperma itu & ada pula yang menancapkan kontolannya ke dalam anus indah & mulut indah yang indah kini mesti melayani kontol kemaluan dari 3 pemuda & ia mesti menjilatinya satu persatu sehingga tidak lama kemudian wajah cantik indah sudah dihiasi oleh sperma pemuda-pemuda itu.

Rabu, 11 Oktober 2017

Prediksi Togel Rabu 11 Oktober 2017....

>>> SINGAPOREPOOLS <<<

ANGKA MAIN :  5 2 9 6
Top 2D : 05 12 29 36 45
Cadangan 2D : 52 69 76 85 96
TOP SHIO :  Tikus Kuda Monyet
COLOK BEBAS :  5 6 9
AS : 0 1 3
           KOP : 4 7 8            
KEPALA : Besar / Ganjil
EKOR : Besar / Genap


Aku adalah mahasiswa arsitektur tingkat akhir di sebuah universitas swasta di kota Bandung, dan sudah saatnya melaksanakan tugas akhir sebagai prasyarat kelulusan. Beruntung, aku kebagian seorang dosen tang santai dan kebetulan adalah seorang ibu. Asna namanya, usianya 30 thn cerdas dan cantik

Cukup sulit utk menggambarkan kejelitaan sang ibu. Bersuami seorang dosen pula yg kebetulan adalah favorit anak-anak karena moderat dan sangat akomodatif. Singkat kata banyak teman-temanku yg sedikit iri mengetahui aku kebagian pembimbing Ibu Asna.

“Dasar lu… enak amat kebagian ibu yg cantik jelita…” Kalau sudah begitu aku hanya tersenyum kecil, toh bisa apa sih pikirku.

Proses asistensi dengan Ibu Asna sangat mengasyikan, sebab selain beliau berwawasan luas, aku jg disuguhkan kemolekan tubuh dan wajah beliau yg diam-diam kukagumi. Makanya dibanding teman-temanku termasuk rajin berasistensi dan progres gambarku lumayan pesat. Setiap asistensi membawa kami berdua semakin akrab satu sama lain. Bahkan suatu saat, aku membawakan beberapa kuntum bunga aster yg kutahu sangat disukainya. Sambil tersenyum dia berucap,

“Kamu mencoba merayu Ibu, Ben?”

Aku ingat wajahku waktu itu langsung bersemu merah dan utk menghilangkan grogiku, aku langsung menggelar gambar dan bertanya sana-sini. Tp tak urung kuperhatikan ada binar bahagia di mata beliau. Setelah kejadian itu setiap kali asitensi aku sering mendapati beliau sedang menatapku dengan pandangan yg entah apa artinya, beliau makin sering curhat tentang berbagai hal. Asistensi jadi ngelantur ke bermacam subyek, dari masalah di kantor dosen hingga anak tunggalnya yg baru saja mengeluarkan kata pertamanya. Sesungguhnya aku menyukai perkembangan ini namun tak ada satu pun pikiran aneh di benakku karena hormat kepada beliau.

Hingga… pada saat kejadian. Suatu malam aku asistensi sedikit larut malam dan beliau memang masih ada di kantor pukul 8 malam itu. Yg pertama terlihat adalah mata beliau yg indah itu sedikit merah dan sembab. “Wah, saat yg buruk nih”, pikirku. Tp dia menunjuk ke kursi dan sedikit tersenyum jadi kupikir tak apa-apa bila kulanjutkan. Setelah segala proses asistensi berakhir aku membeAsnakan diri bertanya, “Ada apa Bu? Kok kelihatan agak sedih?”

Kelam menyelimuti lagi wajahnya meski berusaha disembunyikannya dengan senyum manisnya.

“Ah biasalah Ben, masalah.”

Ya sudah kalau begitu aku segera beranjak dan membereskan segala kertasku. Dia terdiam lama dan saat aku telah mencapai pintu, barulah…

“Kaum Pria memang selalu egois ya Beni?”

Aku berbalik dan setelah berpikir cepat kututup kembali pintu dan kembali duduk dan bertanya hati-hati.

“Kalau boleh saya tahu, kenapa Ibu berkata begitu? Sebab setahu saya perempuan memang selalu berkata begitu, tp saya tdk sependapat karena certain individual punya ego-nya sendiri-sendiri, dan tdk bisa digolongkan dalam suatu stereotype tertentu.”

Matanya mulai hidup dan kami beradu argumen panjang tentang subyek tersebut dan ujung-ujungnya terbukalah rahasia perkawinannya yg selama ini mereka sembunyikan. Iya, bahwa pasangan tersebut kelihatan harmonis oleh kami mahasiswa, mereka kaya raya, keduanya berparas good looking, dan berbagai hal lain yg bisa membuat pasangan lain iri melihat keserasian mereka. Namun semua itu menutupi sebuah masalah mendasar bahwa tdk ada cinta diantara mereka. Mereka berdua dijodohkan oleh orang tua mereka yg konservatif dan selama ini keduanya hidup dalam kepalsuan. Hal ini diperburuk oleh kasarnya perlakuan Pak Indra (suami beliau) di rumah terhadap Bu Asna (fakta yg sedikit membuatku terhenyak, ugh betapa palsunya manusia sebab selama ini di depan kami beliau terlihat sebagai sosok yg care dan gentle).

Singkat kata beliau sambil terisak menumpahkan isi hatinya malam itu dan itu semua membuat dia sedikit lega, serta membawa perasaan aneh bagiku, membuat aku merasa penting dan dekat dengan beliau. Kami memutuskan utk jalan malam itu, ke Lembang dan beliau memberi kehormatan bagiku dengan ikut ke sedan milikku. Sedikit gugup kubukakan pintu untuknya dan tergesa masuk lalu mengendarai mobil dengan ekstra hati-hati. Dalam perjalanan kami lebih banyak diam sambil menikmati gubahan karya Chopin yg mengalun lembut lewat stereo.

Kucoba sedikit bercanda dan menghangatkan suasana dan nampaknya lumayan berhasil karena beliau bahkan sudah bisa tertawa terbahak-bahak sekarang.

“Kamu pasti sudah punya pacar ya Beni?”

“Eh eh eh”, aku gelagapan.

Iya sih emang, bahkan ada beberapa, namun tentu saja aku tak akan mengakui hal tersebut di depannya.

“Nggak kok Bu… belum ada… mana laku aku, Bu…” balasku sambil tersenyum lebar.

“Huuu, bohong!” teriaknya sambil dicubitnya lengan kiriku.

“Cowok kayak kamu pasti playboy deh… ngaku aja!”

Aku tdk bisa menjawab, kepalaku masih dipenuhi fakta bahwa beliau baru saja mencubit lenganku. Ugh, alangkah berdebar dadaku dibuatnya. Beda bila teman wanitaku yg lain yg mencubit.

Larut malam telah tiba dan sudah waktunya beliau kuantar pulang setelah menikmati jagung bakar dan bandrek berdua di Lembang. Daerah Dago Pakar tujuannya dan saat itu sudah jam satu malam ketika kami berdua mencapai gerbang rumah beliau yg eksotik.

“Mau nggak kamu mampir ke rumahku dulu, Ben?” ajaknya.

“Loh apa kata Bapak entar Bu?” tanyaku.

“Ah Bapak lagi ke Kupang kok, penelitian.”

Hm… benakku ragu namun senyum manis yg menghiasi bibir beliau membuat bibirku berucap mengiyakan. Aku mendapati diriku ditarik-tarik manja oleh beliau ke arah ruang tamu di rumah tersebut akan tetapi benakku tak habis berpikir,

“Duh ada apa ini?”

Sesampainya di dalam,

“Sst… pelan-pelan ya… Detty pasti lagi lelap.” Kami beringsut masuk ke dalam kamar anaknya dan aku hanya melihat ketika beliau mengecup kening putrinya yg manis itu pelan.

Kami berdua bergandengan memasuki ruang keluarga dan duduk bersantai lalu mengobrol lama di sana. Beliau menawarkan segelas orange juice. “Aduh, apa yg harus aku lakukan”, pikirku.

Entah setan mana yg merasuk diriku ketika beliau hendak duduk kembali di karpet yg tebal itu, aku merengkuh tubuhnya dalam sekali gerakan dan merangkulnya dalam pangkuanku. Beliau hanya terdiam sejenak dan berucap,

“Kita berdua telah sama-sama dewasa dan tahu kemana ini menuju bukan?” Aku tak menjawab hanya mulai membetulkan uraian rambut beliau yg jatuh tergerai dan membawa tubuh moleknya semakin erat ke dalam pelukanku, dan kubisikkan di telinganya, “Beni sangat sayang dan hormat pada Ibu, oleh karenanya Beni tak akan berbuat macam-macam.” Ironisnya saat itu sesuatu mendesakku utk mengecup lembut cuping telinga dan mengendus leher hingga ke belakang kupingnya.

Kulihat sepintas beliau menutup kelopak matanya dan mendesah lembut.

“Kau tahu aku telah lama tdk merasa seperti ini Ben…” Kebandelanku meruyak dan aku mulai menelusuri wajah beliau dengan bibir dan lidahku dengan sangat lembut dan perlahan.

Setiap sentuhannya membuat sang ibu merintih makin dalam dan beliau merangkul punggungku semakin erat. Kedua tanganku mulai nakal merambah ke berbagai tempat di tubuh beliau yg mulus wangi dan terawat.

Aku bukanlah pecinta ulung, infact saat itu aku masih perjaka namun cakupan wawasanku tentang seks sangat luas.

“Tunggu ya Ben… ibu akan bebersih dulu.” Ugh apa yg terjadi, aku tersadar dan saat beliau masuk ke dalam, tanpa pikir panjang aku beranjak keluar dan segara berlari ke mobil dan memacunya menjauh dari rumah Ibu Ir. Asna dosenku, sebelum segalanya telanjur terjadi. Aku terlalu menghormatinya dan… ah pokoknya berat bagiku utk mengkhianati kepercayaan yg telah beliau berikan jg suaminya. Sekilas kulihat wajah ayu beliau mengintip lewat tirai jendela namun kutegaskan hatiku utk memacu mobil dan melesat ke rumah Vani.

Sepanjang perjalanan hasrat yg telah terbangun dalam diriku memperlihatkan pengaruhnya. Aku tak bisa konsentrasi, segala rambu kuterjang dan hanya dewi fortuna yg bisa menyebabkan aku sampai dengan selamat ke pavilyun Vani. Vani adalah seorang gadis yg aduhai seksi dan menggairahkan, pacar temanku. Namun sejak dulu dia telah mengakui kalau Vani menyukaiku. Bahkan dia telah beberapa kali berhasil memaksa utk bercumbu denganku. Hal yg kupikir tak ada salahnya sebagai suatu pelatihan buatku. Aku mengetuk pintu kamar paviliunnya tanpa jawaban, kubuka segera dan Vani sedang berjalan ke arahku,

“Sendirian?” tanyaku. Vani hanya mengangguk dan tanpa banyak ba bi bu, aku merangsek ke depan dan kupagut bibirnya yg merah menggemaskan.

Kami berciuman dalam dan bernafsu. “Kenapa Ben?” di sela-sela ciuman kami, Vani bertanya, aku tak menjawab dan kuciumi dengan buas leher Vani, hingga dia gelagapan dan menjerit lirih. Tangan kananku membanting pintu sementara tangan kiriku dengan cekatan mendekap Vani makin erat dalam pelukanku. “Brak!” kurengkuh Vani, kuangkat dan kugendong ke arah kasur.

“Ugh buas sekali kamu Ben…” Sebuah senyum aneh menghiasi wajah Vani yg jelita.

Kurebahkan Vani dan kembali kami berpagutan dalam adegan erotis yg liar dan mendebarkan. Aku bergeser ke bawah dan kutelusuri kaki Vani yg jenjang dengan bibirku dan kufokuskan pada bagian paha dalamnya. Kukecup mesra betis kanannya. Vani hanya mengerang keenakan sambil cekikikan lirih karena geli. Kugigit-gigit kecil paha yg putih dan mulus memikat itu sambil tanganku tak henti membelai dan merangsang Vani dengan gerakan-gerakan tangan dan jari yg memutar-mutar pada payudaranya yg seksi dan ranum. Dengan sekali tarik, piyama yg dikenakannya terlepas dan kulemparkan ke lantai, sementara aku bergerak menindih Vani.

Kami saling melucuti hingga tak ada sehelai benang pun yg menjadi pembatas tarian kami yg makin lama makin liar. “Beni ahhh… Beni… Beni…” Vani terus berbisik lirih ketika kukuakkan kedua kakinya dan aku menuju kewanitaannya yg membukit menantang. Kusibakkan rambut pubic-nya yg lebat namun rapih dan serta merta aromanya yg khas menyeruak ke hidungku. Bentuknya begitu menantang sehingga entah kenapa aku langsung menyukainya. Kuhirup kewanitaan Vani dengan keras dan lidahku mulai menelusuri pinggiran labia minora-nya yg telah basah oleh cairan putih bening dengan wangi pheromone menggairahkan. Kubuka kedua labia-nya dengan jemariku dan kususupkan lidahku pelan diantaranya menyentuh klitorisnya yg telah membesar dan kemerahan.

“Aaagh…” Vani menjerit tertahan, sensasi yg dirasakannya begitu menggelora dan semakin membangkitkan semangatku.

Detik itu jg aku memutuskan utk melepas status keperjakaanku yg entah apalah artinya. Sejenak pikiranku melambung pada Ibu Asna, ah apa yg terjadi besok? Kubuang jauh-jauh perasaan itu dan kupusatkan perhatianku pada gadis cantik molek yg terbaring pasrah dan menantang di hadapanku ini. Vani pun okelah. Malam ini aku akan bercinta dengannya. Dengan ujungnya yg kuruncingkan aku menotol-notolkan lidahku ke dalam kewanitaan Vani hingga ia melenguh keras panjang dan pendek.

Lama, aku bermain dengan berbagai teknik yg kupelajari dari buku. Benar kata orang tua, membaca itu baik utk menambah pengetahuan. Kuhirup semua cairan yg keluar darinya dan semakin dalam aku menyusupkan lidahku menjelajahi permukaan yg lembut itu semakin keras lenguhan yg terdengar dari bibir Vani. Aku naik perlahan dan kuciumi pusar, perut dan bagian bawah payudaranya yg membulat tegak menantang. Harus kuakui tubuh molek Vani, pacar temanku ini sungguh indah. Lidahku menjelajahi permukaan beledu itu dengan penuh perasaan hingga sampai ke puting payudaranya yg kecoklatan. Aku berhenti, kupandangi lama hingga Vani berteriak penasaran,

“Ayo Ben… tunggu apa lagi sayang.”

Aku berpaling ke atas, di hadapanku kini wajah putih jelitanya yg kemerahan sambil menggigit bibir bawahnya karena tak dapat menahan gejolak di dadanya. Hmm… pemandangan yg jarang-jarang kudapat pikirku. Tanganku meraih ke samping, kusentuh pelan putingnya yg berdiri menjulang sangat menggairahkan dengan telunjukku.

“Aaah Ben… jangan bikin aku gila, please Ben…” Dengan gerakan mendadak, aku melahap puting tersebut mengunyah, mempermainkan, serta memilinnya dengan lidahku yg cukup mahir.

(Aku tahu Vani sangat sensitif dengan miliknya yg satu itu, bahkan hanya dengan itupun Vani dapat orgasme saat kami sering bercumbu dulu). Vani menjerit-jerit kesenangan. Kebahagian melandanya hingga ia maju dan hendak merengkuh badanku.

“Eit, tunggu dulu Non… jangan terlalu cepat sayang”, aku menjauh dan menyiksanya, biar nanti jg tahu rasanya multi orgasme.

Nafas Vani yg memburu dan keringat mengucur deras dari pori-porinya cukup kurasa. Aku bangkit dan pergi ke dapur kecil minum segelas air dingin.

“Jaaahat Beni… jahaat…” kudengar seruannya.

Saat aku balik, tubuhnya menggigil dan tangannya tak henti merangsang kewanitaanya. Aku benci hal itu, dan kutepis tangannya,

“Sini… biar aku…” Aku kembali ke arah wajahnya dan kupagut bibirnya yg merah itu dan kami bersilat lidah dengan semangat menggebu-gebu. Kuraih tubuh mungilnya dalam pelukanku dan kutindih pinggulnya dengan badanku.

“Uugh…” dia merintih di balik ciuman kami. Kedua bibir kami saling melumat dan menggigit dengan lincahnya, seolah saling berlomba.

Birahi dan berbagai gejolak perasaan mendesak sangat dahsyat. Sangat intensif menggedor-gedor seluruh syaraf kami utk saling merangsang dan memuaskan sang lawan. Kejantananku minta perhatian dan mendesak-desak hingga permukaannya penuh dengan guratan urat yg sangat sensitif. Duh… saatnya kah? aku bimbang sejenak namun kubulatkan tekadku dan dengan segera aku menjauh dari Vani. Tanpa disuruh lagi Vani meregangkan kedua pahanya dan menyambut kesediaanku dengan segenap hati. Punggungnya membusur dan bersiap. Sementara aku menyiapkan penisku dan membimbingnya menuju ke pasangannya yg telah lumer licin oleh cairan kewanitaannya.

Oh my God… sensasi yg saat itu kurasakan sangat mendebarkan, saat-saat pertamaku. Gigitan bibir bawah Vani menunjukkan ketdksabarannya dan dengan kedua betisnya dia mendesak pinggulku utk bergerak maju ke depan. Akhirnya keduanya menempel. Kubelai-belaikan permukaan kepala kejantananku ke klitorisnya dan Vani meraung, masa sih begitu sensasional? Biasa sajalah. Kudesak ke depan perlahan (aku tahu ini merupakan hal pertama bagi dia jg) sial… mana muat? Ah pasti muat. Kusibakkan dengan kedua jemariku sambil pinggulku mendesak lagi dengan lembut namun mantap. Membelalak Vani ketika penisku telah menyeruak di antara celah kewanitaannya.

Sambil matanya mendelik, menahan nafas dan menggigit-gigit bibir bawahnya, Vani membimbing dengan memegang penisku, “Hmm… Ben? jangan ragu sayang…” Dengan mantap aku menghentakkan pinggulku ke depan agar Vani menjerit. Loh sepertiganya telah amblas ke dalam. Hangat, basah, ketat sangat sensasional. Pinggang kugerakkan ke kiri dan ke kanan.

Sementara Vani kepedasan dan air matanya sedikit mengintip dari ujung matanya yg berbinar indah itu.

“Kenapa sayang?” tanyaku.

“Nggak pa-pa Ben… terusin aja sayang… Aku adalah milikmu, semuanya milikmu…”

“Sungguh…”

Aku tahu pastilah mengharukan bagi gadis manapun meski sebandel Vani, apabila kehilangan keperawanannya. Maka utk menenangkannya aku merengkuh tubuhnya dan kuangkat dalam pelukan, proses itu membuat penisku semakin dalam merasuk ke dalam Vani. Dia mendelik keenakan, matanya yg indah merem melek dan bibirnya tak henti mendesah,

“Ben sayaaang… ugh nikmatnya.” Saat itu aku sedang memikirkan Ibu Asna.

Aneh, mili demi mili penisku menghujam deras ke dalam diri Vani dan semakin dalam serta setiap kali aku menggerakkan pinggulku ke kiri dan ke kanan sekujur tubuh Vani bergetar, bergidik menggelinjang keras, lalu kudesak ke dalam sambil sesekali kutarik dan ulur. Vani menjerit keras sekali dan kubungkam dengan ciumanku, glek… kalau ketahuan ibu kost-nya mampus kami. Aku tak menygka sedemikian ketatnya kewanitaan Vani, hingga penisku serasa digenggam oleh sebuah mesin pemijat yg meski rapat namun memberikan rasa nyaman dan nikmat yg tak terkira. Pelumasan yg kulakukan telah cukup sehingga kulit permukaannya kuyakin tdk lecet sementara perjalanan penisku menuju ke akhirnya semakin dekat. Hangat luar biasa, hangat dan basah menggairahkan, tulang-tulangku seakan hendak copot oleh rasa ngilu yg sangat bombastis. Perasaan ini rupanya yg sangat diimpikan berjuta pria.

“Eh… Vani sayang… kasihan kau, kelihatan sangat menderita, meski aku tahu dia sangat menikmatinya”. Wajahnya bergantian mengerenyit dan membelalak hingga akhirnya telah cukup dalam, kusibakkan liang kemaluan Vani-ku tersayang dengan penisku hingga bersisa sedikit sekali di luarnya.

Vani merintih dan membisikkan kata-kata sayang yg terdengar bagai musik di telingaku. Aku mendenyutkan penisku dan menggerakkannya ke kiri dan ke kanan bersentuhan dengan hampir seluruh permukaan dalam rahimnya, mentokkah? Berbagai tonjolan yg ada di dalam lubang memeknya kutekan dengan penisku, hingga Vani akan menjerit lagi, namun segera kubungkam lagi dengan ciuman yg ganas pada bibirnya.

Kutindih dia, kutekan badannya hingga melesak ke dalam kasur yg empuk dan kusetubuhi dirinya dengan nafsu yg menggelegak. Dengan mantap dan terkendali aku menaikkan pinggulku hingga kepala penisku nyaris tersembul keluar. Ugh, sensasinya dan segera kutekan lagi, oooh pergesekan itu luar biasa indah dan nikmat. Gadis seksi yg ranum itu merem melek keenakan dan ritual ini kami lakukan dengan tenang dan santai, berirama namun dinamis. Pinggulnya yg montok itu kuraih dan kukendalikan jalannya pertempuran hingga segalanya makin intens ketika sesuatu yg hangat mengikuti kontraksi hebat pada otot-otot kewanitaannya meremas-remas penisku, serta ditingkahi bulu mata Vani yg bergetar cepat mendahului aroma orgasme yg sedang menjelangnya. Aku pernah membaca hal ini.

“Shhs sayang Vani… jangan dulu ya sayang ya…”

“Shhh… Beni… nggak tahan aku… Beennn… shhhh…”

“Cup cup… kalem sayang…” kukecup lembut matanya, bibirnya, hidungnya, dan keningnya.

Vani mereda, aku berhenti.

“Beni… kamu tega ih…” Vani cemberut sambil menarik-narik bulu dadaku.

“Sshhh sayangku… biar aja, entar kalau udah meledak pasti nikmat deh… minum dulu yuk sayang…”

Aku menarik keluar penisku, aku tak mau Vani tumpah, meski demikian saat aku menarik penisku, ia memelukku dengan kencang hingga terasa sakit menahan sensasi luar biasa yg barusan dia rasakan. Kalian para pembaca wanita yg pernah bercinta pasti pernah merasakan hal itu. Sembari minum aku menarik nafas panjang dan meredakan pula gejolak nafsuku, aku mau yg pertama ini jadi indah utk kami berdua. Sial, ingatanku kembali melayg ke Ibu Asna. Apa yg sekarang dia lakukan? Bagaimana keadaan dia? Ah urusan besok sajalah. Dengan melompat aku merambat naik lagi ke tubuh Vani yg sedang tersenyum nakal.

“Minum sayang…” dia memberengut dan minum dengan cepat.

“Ayo Beni… jangan jahat dong…”

Dengan satu gerakan cepat aku menyelipkan diri di antara kedua kakinya seraya membelainya cepat dan meletakkan penisku ke perbukitan yg ranum itu. Cairan putih yg kental terlihat meleleh keluar.

Kusibakkan kewanitaannya, dan dengan cepat kutelusupkan penisku ke dalamnya. Ugh, berdenyut keduanya masuklah ia, dengan mantap kudorong pinggulku mengayuh ke depan. Vani pun menyambutnya dengan suka cita. Walhasil dengan segera dia telah masuk melewati liang yg licin basah dan hangat itu ke dalam diri Vani dan bersarang dengan nyamannya. Maka dimulailah tarian Tango itu. Menyusuri kelembutan beledu dan bagai mendaki puncak perbukitan yg luar biasa indah, kami berdua bergerak secara erotis dan ritmis, bersama-sama menggapai-gapai ke what so called kenikmatan tiada tara. Gerakan batang kejantananku dan pergesekannya dengan ‘diri’ Vani sungguh sulit digambarkan dengan kata-kata. Kontraksi yg tadi telah reda mulai lagi mendera dan menambah nikmatnya pijatan yg dihasilkan pada penisku. Tanganku menghentak menutup mulutnya saat Vani menjerit keras dan melenguh keenakan. Lama kutahan dengan mencoba mengalihkan perhatian kepada berbagai subyek non erotis.

Aku tiba-tiba jadi buntu, Yap… Darwin, eksistensialist, le corbusier, pilotis, doppler, dan Thalia. Hah, Thalia yg seksi itu loh. Duh… kembali deh ingatanku pada persetubuhan kami yg mendebarkan ini. Ah, nikmati saja, keringat kami yg berbaur seiring dengan pertautan tubuh kami yg seolah tak mau terpisahkan, gerakan pinggulnya yg aduhai, aroma persetubuhan yg kental di udara, jeritan-jeritan lirih tanpa arti yg hanya dapat dipahami oleh dua makhluk yg sedang memadu cinta, perjalanan yg panjang dan tak berujung.

Hingga desakan itu tak tertahankan lagi seperti bendungan yg bobol, kami berdua menjerit-jerit tertahan dan mendelik dalam nikmat yg berusaha kami batasi dalam suatu luapan ekspresi jiwa. Vani jebol, berulang-ulang, berantai, menjerit-jerit, deras keluar memancarkan cairan yg membasahi dan menambah kehangatan bagi penisku yg jg tengah meregang-regang dan bergetar hendak menumpahkan setampuk benih. Kontraksi otot-otot panggulnya dan perubahan cepat pada denyutan liang memeknya yg hangat dan ketat menjepit penisku. Akh, aku tak tahan lagi.

Di detik-detik yg dahsyat itu aku mengingat Tuhan, dosa, dan Ibu Asna yg telah aku kecewakan, tp hanya sesaat ketika pancaran itu mulai menjebol tak ada yg dibenakku kecuali… kenikmatan, lega yg mengawang dan kebahagiaan yg meluap. Aku melenguh keras dan meremas bahu dan pantat sekal Vani yg jg tengah mendelik dan meneriakkan luapan perasaannya dengan rintihan birahi. Berulang-ulang muncrat dan menyembur keluar tumpah ke dalam liang senggama sang gadis manis dan seksi itu.

Geez… nikmat luar biasa. Lemas yg menyusul secara tiba-tiba mendera sekujur tubuhku hingga aku jatuh dan menimpa Vani yg segera merangkulku dan membisikkan kata-kata sayang.

“Enak sekali Beni, duh Gusti…” Aku menjilati lehernya dan membiarkan penisku tetap berbaring dan melemas di dalam kehangatan liang kewanitaannya (ya ampun sekarang pun aku mengingat kemaluan Vani dan aku bergidik ingin mengulang lagi).

Denyut-denyut itu masih terasa, membelai penisku dan menidurkannya dalam kelemasan dan ketentraman yg damai. Kugigit dan kupagut puting payudara Vani dengan gemas. Vani membalas menjewer kupingku, meski masih dalam tindihan tubuhku.

“Beni sayang… kamu bandel banget deh… gimana kalau Rian tahu nanti Ben…”

“Iya… dan gimana Vina-ku ya?” dalam hatiku.

Ironisnya lagi, kami selalu melakukannya berulang-ulang setiap ada kesempatan. Bagai tak ada esok, dengan berbagai gaya dan cara tak puas-puasnya. Di lantai, di dapur, di kasur, di bath tub, bahkan di kedinginan malam teras belakang paviliun sambil tertawa cekikikan. Rasa khawatir ketahuan yg diiringi kenikmatan tertentu memacu adrenalin semakin deras, yg segalanya membuat gairah.

Tak kusangka kami terkuras habis, lelah tak tertahan namun pagi telah menjelang dan aku harus bertemu dengan Ibu Asna. Aku bergerak melangkah menjauhi tempat tidur meskipun dengan lutut lemas seperti karet dan tubuhku limbung. Kamar mandi tujuanku. Segera saja aku masuk ke dalam bath tub dan mengguyur sekujur tubuh telanjangku dengan air dingin. Brrr… lemas yg mendera perlahan terangkat seiring dengan bangkitnya kesadaranku. Sambil berendam aku mengingat kembali kilatan peristiwa yg beberapa hari ini terjadi.

Semenjak saat itu asistensiku dengan Ibu Asna berlangsung beku, dan dia terlihat dingin sekali, sangat profesional di hadapanku. Beliau kembali memangilku dengan anda, bukan panggilan manja Beni lagi seperti dulu. Aku serba salah, tdk sadarkah dia kalau aku pulang malam itu karena menghormati dan menyayginya? Hingga dua hari menjelang sidang akhir, dan keadaan belum membaik, gambarku selesai namun belum mendapat persetujuan dari Bu Asna.

Kuputuskan utk berkunjung ke rumahnya, meski aku tak pasti apakah Pak Indra ada di sana atau tdk.

Hari itu mobilku dipinjam oleh teman dekatku, sementara siangnya hujan rintik turun perlahan. Ugh, memang aku ditakdirkan utk gagal sidang kali ini. Bergegas kucegat angkot dan dengan semakin dekatnya kawasan tempat tinggal beliau, semakin deg-degan debar jantungku. Kucoba mengingat seluruh kejadian semalam saat aku dan Vani bercinta utk kesekian kalinya, utk mengurangi keresahanku.

Aku turun dari angkot dalam derasnya hujan dan dengan sedikit berlari aku membuka gerbang dan menerobos ke dalam pekarangan. Basah sudah bajuku, kuyup dan bunga Aster yg kubawakan telah tak berbentuk lagi. Kubunyikan bel dan menanti. Bagaimana kalau beliau keluar? bagaimana kalau Pak Indra ada di rumah? dan beratus what if berkecamuk sampai aku tak menyadari kalau wajah jelita dan tubuh molek Ibu Asna telah berdiri beberapa meter di depanku. Saat aku sadar senyumnya masih dingin, tp ada rasa kasihan terbesit tampak dari wajah keratonnya yg selama ini selalu menghiasi mimpi-mimpiku. Aku hanya bisa menyodorkan bunga yg telah rusak itu dan berkata,

“Maafkan saya…”

Tubuhku yg menggigil kedinginan dan kuyup itu sepertinya menggugah rasa iba di hati beliau dan aku mendapati beliau tersenyum dan berkata,

“Sudah Beni, cepat masuk, ganti baju sana… dua hari lagi kamu sidang loh… entar kalau sakit kan Ibu jg yg repot.” Uuugh, leganya beban ini telah terangkat dari dadaku, dan aku menghambur masuk.

“Maaf Bu, saya basah kuyup.” Beliau masuk ke dalam dan segera membawakan handuk utkku.

“Sana ke kamar dan ganti baju gih, pake aja kaus-kaus Bapak.” KubeAsnakan diri, mendoyongkan tubuh dan mengecup keningnya, “Terima kasih banyak Bu…” Sang ibu sedikit terperangah dan kemudian menepis wajahku.

“Sudah sana, masuk… ganti baju kamu.” Dengan sedikit cengengesan aku masuk ke dalam dan mengeringkan tubuhku, dan mengganti baju dengan kaus yg sungguh pas di badanku.

Segera aku keluar dan mencari Ibu Asna. Beliau sedang berada di dapur mencoba membuatkan secangkir teh panas utkku. Aduuh, aku sedikit terharu. Dengan beringsut aku mendekatinya dan merangkul beliau dari belakang. Dengan ketus beliau menepis tubuhku dan menjauh.

“Beni… kamu pikir kamu bisa seenaknya saja begitu.” Aku terdiam.

“Saya minta maaf Bu, waktu itu saya pergi karena Beni tak sanggup Bu… Ibu, orang yg paling saya hormati dan sayangi, mungkin Beni butuh waktu, Bu…” sambil berkata demikian aku mendekatinya dan memegang pundak kanan beliau dan memberi sedikit pijatan lembut. Beliau tergetar dan tampak sedikit melunak.

Aku mendekat lagi, “Ibu mau maafin Beni?” sambil kutatap tajam matanya, kemudian perlahan aku mendekatkan wajahku ke wajah ayu sang ibu.

“Tp Ben…”

Beliau kelihatan bingung, namun kecupan lembutku telah bersarang lembut pada keningnya. Kurengkuh Asna yg ranum itu dalam pelukanku dan kuusap-usapkan kelopak bibirku pada bibirnya dan kukecup dan kugigit-gigit bibir bawahnya yg merah merekah itu. Nafas Asna sedikit memburu dan bibirnya merekah terbuka.

Semula sedikit pasif ciuman yg kuterima, kemudian lidahku menelusup ke dalam dan menyentuh giginya yg putih, mencari lidahnya. Getar-getar yg dirasakannya memaksa Asna utk memerima lidahku dan saling bertautlah lidah kami berdua, menari-nari dalam kerinduan dan rasa sayang yg sulit dimengerti. Bayangkan beliau adalah dosenku yg kuhormati, yg meskipun cantik jelita, putih dan mempesona menggairahkan, namun tetap saja adalah orang yg seharusnya kujunjung tinggi.

“Jangan di sini Ben, Fitri bisa datang kapan saja.”

Kutebak Fitri adalah nama pembantu mereka.

“Bapak?”

“Ah biarkan saja dia”, kata dosen pujaanku itu.

Ditariknya tanganku ke arah kamarnya yg mereka rancang berdua.

“Buu… Bapak di mana?”

Wanita matang yg luar biasa cantik itu berbalik bertanya, “Kenapa, kamu takut? Pulang sana, kalau kamu takut.”

Ah, kutenangkan hatiku dan yakin dia pasti jg tdk akan membiarkan ada konfrontasi di rumah mereka. Jadi aku medahului Asna (sekarang aku hanya memanggil beliau dengan nama Asna atas permintaannya. Di samping itu, Asna pun tak berbeda jauh umur denganku) dan dalam satu gerakan tangan, Asna telah ada dalam pondonganku, kemudian kuciumi wajahnya dengan mesra, lehernya, dan sedikit belahan di dadanya. Menjelang dekat dengan tempat peraduan, Asna kuturunkan dan aku mundur memandanginya seperti aku memandanginya saat pertama kali. Semula Asna sedikit kikuk.

“Kenapa? Aku cantik kan?”

Asna bergerak gemulai seolah sedang menari, duh Gusti… cantik sekali. Ia mengenakan daster panjang berwarna light cobalt yg menerawang.

Kupastikan Asna tdk mengenakan apa-apa lagi di baliknya. Payudaranya bulat dan penuh terawat, pinggulnya selalu membuat para mahasiswi iri bergosip dan mahasiswa berdecak kagum. Aku sekonyong-konyong melangkah maju dan dengan lembut kutarik ikatan di belakang punggungnya, hingga bagaikan adegan slow motion daster tersebut perlahan jatuh ke lantai dan menampilkan sebuah pemandangan menakjubkan, luar biasa indah. Tubuh telanjang Ir. Asna yg menggairahkan. Tanpa tunggu lebih lama aku kembali melangkah ke depan dan kami berpagutan mesra, lembut dan menuntut.

Mendesak-desak kami saling mencumbu. Ciuman terdahsyat yg pernah kualami, sensasinya begitu memukau. Lidahnya menerobos bibirku dan dengan penuh nafsu menyusuri permukaan dalam mulutku. Bibirnya yg mungil dan merah merekah indah kulumat dengan lembut namun pasti. Impian yg luar biasa ini, saat itu aku bahkan hendak mencubit lengan kiriku utk meyakinkan bahwa ini bukanlah mimpi. Asna melucuti pakaianku dan meloloskan kaosku, sambil sesekali berhenti mengagumi gumpalan-gumpalan otot pada dadaku yg cukup bidang dan perutku yg rata karena sering didera push-up.

Kami berdua sekarang telanjang bagai bayi. Ada sedikit ironi pada saat itu, dan kami berdua menyadarinya dan tersenyum kecil dan saling menatap mesra. Aku menggenggam kedua tangannya dan mengajaknya berdansa kecil, eh norak tp romantis. Asna tergelak dan menyandarkan kepalanya ke dadaku dan kami ber-slow dance di sana, di kamar itu, aku dan Asna, tanpa pakaian. Penisku tanpa malu-malu berdiri dengan tegaknya, dan sesekali disentil oleh tangan lentik Asna. Dengan perutnya ia mendesak penisku ke atas dan menempel mengarah ke atas, duh ngilu namun sensasional.

Saat itu cukup remang karena hujan deras dan cuaca dingin, namun rambut Asna yg indah tergerai wangi tampak jelas bagiku. Kucium dan kubelai rambutnya sambil kubisikkan kata-kata sayang dan cinta yg selalu dibalasnya dengan… gombal, bohong dan cekikikan yg menggemaskan. Aku semakin sayang padanya.

Ah, aku tak tahan lagi. Kudesak tubuh Asna ke arah pinggiran peraduan, kubaringkan punggungnya sementara kakinya tergolek menjuntai ke arah lantai. Aku berlulut di lantai dan mengelus-elus kaki jenjangnya yg mulus. Dan mulai mencumbunya. Kuangkat tungkai kanannya sambil kupegang dengan lembut, kutelusuri permukaan dalamnya dengan lidahku, perlahan dari bawah hingga ke arah pahanya. Pada pahanya yg putih mulus aku melakukan gerakan berputar dengan lidahku. Asna merintih kegelian.

“Ben, it feel so good, aku pengen menjerit jadinya…” Saat menuju ke kewanitaannya yg berbulu rapi dan wangi, aku menggunakan kedua tanganku utk membelai-belai bagian tersebut hingga Asna melenguh lemah.

Lalu sambil menyibakkan kedua labianya, aku menggigit-gigit dan menjepit klitorisnya yg tengah mendongak, dengan lembut sekali. “Aduuuh Ben, aku sampai sayang…” Sejumlah besar cairan kental putih meluncur deras keluar dari dalam liang kewanitaaannya dan dengan segera aroma menyengat merasuk hidungku. Dengan hidungku aku mendesak-desak ke dalam permukaan kewanitaannya. Asna menjerit-jerit tertahan.

“Beniiii… nggghh… Ben… aduhh…” Asna sontak bangkit meraih dan meremas rambutku kemudian semakin menekannya ke dalam belahan dirinya yg sedang menggelegak.

Kuhirup semua cairan yg keluar dari-nya, sungguh seksi rasanya. Aku mengenali wangi pheromone ini sangat khas dan menggairahkan. Asna-ku tersayang jg menyukainya, sampai menitikkan sedikit air mata. Aku naik ke atas dan menenangkan kekasih dan dosenku itu. Dengan wajah penuh peluh Asna tetaplah mempesona.

“Aduh Ben, Asna udah lama nggak banjir kayak gitu… mungkin perasaan Asna terlalu meluap ya sayang ya…” Dengan manja ibu yg sehari-harinya tampil anggun itu melumat bibirku dan menciumi seluruh permukaan wajahku sambil cekikikan.

Aduuuh, aku sayang sekali sama dosenku yg satu ini. Kudekap Asna dalam pelukanku erat demikian jg dibalasnya dengan tak kalah gemasnya, sehingga seolah-olah kami satu.


Aku ingin begini terus selamanya, mendekap wanita yg kusayangi ini sepanjang hayatku kalau bisa, tp nuAsnaku berbisik bahwa aku tdk dapat melakukannya. Akhirnya kuliahku telah usai dan nilai yg memuaskan telah kuraih, wisuda telah lama lewat, dan sekarang aku telah menjadi entrepeneur muda.